Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Jangan kasih tahu Bara


"Ah, sudahlah! Walaupun mereka tidak saling mencintai waktu mereka menikah, aku tetap tidak akan menggangu pernikahannya, karena bagaimanapun mereka berdua punya anak," ucap Clara setelah cukup lama termenung, begitu mengetahui kenyataan kalau Bara dan Tania menikah karena perjodohan.


Mendengar ucapan Mamanya, ingin sekali Bimo berteriak mengatakan kalau anak Tania yang sekarang berada di rumah keluarga Prayoga bukanlah anak kandung Papa Baranya. Namun, anak kecil itu masih berusaha untuk menahan diri, mengingat kalau belum ada izin dari Bima kakaknya untuk mengungkapkan kebenaran itu.


"Tapi,apa kamu rela kalau Bara menikah dengan perempuan seperti itu? kalau aku sih tidak rela," ucap Arumi dengan raut wajah penuh kebencian.


Clara kembali tercenung dan membisu, tidak tahu mau menjawab apa.


"Kenapa Tante tidak menyukai istrinya papaku? bukankah dia sepupu Tante dan adiknya Om Theo?" Bimo menatap Arumi dengan tatapan menyelidik.


Arumi menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya dengan berat.


"Ya, karena dia dari kecil adalah trouble maker. Suka buat drama dan menebar fitnah," nada bicara Arumi terdengar sangat berapi-api.


"Sepertinya Tante sangat dendam padanya?" kepala Bimo, sedikit dimiringkan ke samping, dan mata yang memicing khas seorang anak kecil kalau sedang penasaran.


"Nggak dendam sih, cuma kesal saja dan rasanya ingin melihat dia kapok. Pasti rasanya akan menyenangkan," Arumi memutar bola matanya dan bibirnya tersenyum merasa senang membayangkan kalau apa yang diucapkannya barusan benar-benar terjadi. "Ya, Tuhan membayangkannya saja aku sudah cukup bahagia, apalagi kalau itu benar-benar terjadi. Bisa -bisa aku pasti akan melompat-lompat kegirangan. Dan aku pastikan aku akan mentraktir kalian makan di restoran mahal," lanjut Arumi lagi dengan wajah berbinar.


Plakkk


Tangan Clara sontak melayang ke kepala Arumi, begitu mendengar celotehan sahabatnya itu, hingga membuat Arumi mengaduh kesakitan. "Jahat banget kamu ih. Bisa-bisanya kamu punya pikiran seperti itu ada sepupu sendiri," Clara berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara itu,Bimo hanya terkekeh geli melihat ekspresi sahabat mamanya itu, yang dia tahu satu-satunya orang yang selalu ada untuk membantu mamanya.


"Cih, lebih jahat dia lagi," Arumi mengerucutkan bibirnya. "Asal kamu tahu, kenapa Kak Theo selama ini betah di luar negeri, ya karena Tania. Dia dari dulu selalu mengadu domba om Teguh dengan Kak Theo, hingga hampir tidak pernah akur. Kak Theo mau pulang, ya karena ingin bertemu dengan kamu. Dia itu penasaran dengan kamu karena aku sering bercerita tentang kamu padanya," lanjut Arumi lagi.


Sudahlah! berhenti bicara hal ini. Baiknya sekarang kamu buka kue yang kamu bawa. Kamu ke sini mau kasih kue itu kan bukan buat mau ngegibah," Untuk menghentikan pembicaraan mengenai Tania dan Theo, Clara dengan sengaja mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Eh iya. Aku sampai lupa kalau aku tadi beli kue. Happy birthday ya, Beb!" Arumi memeluk Clara dan mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya itu. Kemudian dia meraih kue yang dia bawa dan bersiap hendak membukanya.


"Tunggu dulu! aku sepertinya tahu bagaimana caranya membuat Tania gila!" sorak Arumi tiba-tiba, hingga niatnya untuk membuka kue itu, tidak jadi.


"Apaan sih, Rumi. Kenapa pembicaraan lagi-lagi kembali ke arah sana ya?" protes Clara dengan bibir yang mengerucut.


"Tapi ini sangat penting,Cla!" seru Arumi dengan penuh semangat.


"Kamu tahu, aku memiliki niat untuk datang ke rumah Bara dan memberitahukan tentang dia yang juga memiliki anak dari kamu. karena aku yakin kalau kenyataan itu akan bisa membuat Tania menjadi gila. Selain bisa membuat Tania gila, bagaimanapun Bima dan adiknya Bimo harus mendapatkan hak mereka sebagai anak Bara juga. Dan dia tidak boleh menyangkal hal itu," terang Clara dengan penuh semangat dan berapi-api.


Raut wajah Clara sontak berubah pucat. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya, menunjukkan kalau dia tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh Arumi.


"Kamu kenapa sih? seharusnya kamu mendukung rencanaku itu." nada bicara Arumi terdengar kesal.


"Itu karena aku tahu tujuanmu sebenarnya. Kamu itu hanya ingin membuat sepupumu itu stres, karena kalau dia stress merupakan kebahagiaan untukmu. Tapi, apa kamu tidak memikirkan resikonya yang bisa saja membuatku rugi?" ucap Clara, ambigu.


"Rugi? rugi bagaimana maksud kamu, Cla?" Arumi mengrenyitkan keningnya. Namun Clara tidak memberikan jawaban apapun.


"Ok,aku akui salah satu tujuanku memang ingin melihat Tania merasa kesal dan tidak sombong lagi, karena selama ini merasa kalau anaknya adalah pewaris tunggal kekayaan Prayoga. Tapi, sebenarnya hal yang paling aku inginkan itu, anak-anak kamu memiliki indentitas, Clara. Bagaimanapun mereka itu anak-anak Bara dan mereka punya hak untuk mendapatkan pengakuan!" imbuh Arumi lagi, untuk mematahkan asumsi Clara yang sepertinya menganggap kalau tindakannya hanya demi kepuasannya melihat ekspresi kesal Tania.


Clara sontak bergeming tidak bisa membantah ucapan Arumi yang memang benar adanya.


"Cla, kamu itu harus memikirkan masa depan anakmu. Bagaimanapun kalau__"


"Maksud kamu, dengan hanya hidup denganku, anak-anakku tidak punya masa depan?" sela Clara dengan cepat, sebelum Arumi menyelesaikan ucapannya.


"Astaga, kamu jangan salah paham dulu! aku sama sekali tidak__"


"Aku masih mampu memberikan masa depan yang baik untuk anak-anakku, Rumi. Bahkan jika seandainya Bimo aku temukan, aku juga sanggup memberikan masa depan yang baik buat keduanya, tanpa harus mengandalkan kekayaan mas Bara," lanjut Clara lagi dengan nada yang berapi-api, tidak memberikan kesempatan pada Arumi untuk melanjutkan ucapannya.


Arumi berdecak, kemudian menghela napasnya dengan sekali hentakan. Dia merasa kalau Clara benar-benar sudah salah paham dengan apa yang diucapkannya.


"Cla, aku tahu kamu mampu, karena aku tahu kalau kamu itu wanita yang kuat. Tapi, apa kamu tidak merasa kalau sikap kamu sekarang termasuk sikap yang egois?" Bima dan Bimo juga perlu mengenal papa mereka, Clara,"


Mata Clara sontak berkaca-kaca. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia memang mengakui kalau sikapnya yang terus-terusan menyembunyikan tentang keberadaan anak-anaknya dari Bara termasuk sebuah keegoisan. Tapi, dia memiliki alasan untuk itu.


"Rumi, yang kamu katakan memang benar. Tapi, kenapa aku memiliki tekad kuat untuk menyembunyikannya? itu karena aku punya alasan. Aku tidak mau, dianggap wanita yang gila akan harta dengan memunculkan mereka ke depan mas Bara dan Tante Elva. Tante Elva pasti akan mengira alasanku memunculkan mereka, itu karena aku menginginkan harta kekayaan mereka. Selain itu, aku juga tidak ingin membuat anak-anakku merasa sakit kalau nantinya mereka seperti tidak dianggap di keluarga itu."


Arumi mengembuskan napasnya dengan cukup berat. Dia tidak habis pikir kenapa bisa sahabatnya itu bisa berpikir sampai ke arah sana. "Cla, kenapa kamu bisa berpikir ke arah sana?" nada suara Arumi terdengar melembut.


"Kenapa bisa aku berpikir begitu? itu karena aku yakin kalau Tante Elva pasti tidak akan mengakui kalau Bima dan Bimo adalah anaknya Mas Bara di depan orang banyak.Takutnya dia akan mengatakan kalau anak-anakku hanyalah anak angkat, karena menurutnya itu bisa membuat reputasi keluarga Prayoga akan jelek di mata orang-orang. Karena yang orang-orang tahu kalau mas Bara hanya menikah sekali dan itu dengan Tania. Coba bayangkan bagaimana sakitnya nanti perasaan anak-anakku, jika itu sampai terjadi?" tutur Clara panjang lebar tanpa jeda dan raut wajah sendu.


"Clara, kamu benar-benar terlalu jauh berpikir seperti itu. Hal yang kami takutkan itu belum tentu terjadi. Tante Elva itu sebenarnya __"


"Sudahlah, Rumi. Untuk sekarang aku mohon agar kamu jangan menemui Mas Bara dan menceritakan tentang Bima dan Bimo pada mereka. Aku benar-benar belum siap untuk hal itu." pungkas Clara sembari beranjak meninggalkan Arumi dan Bimo yang sedari tadi tidak mau buka suara.


Tbc