
Tania kembali histeris begitu dua polisi langsung menyergapnya, dan yang lainnya menangkap Dito.
"Mas Bara, Mama! tolong jangan minta polisi ini untuk tidak menangkap aku! maafkan aku kali ini!" teriak Tania sembari berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan dua polisi itu.
Namun, sekencang apapun dia berteriak, yang dimintai tolong tidak bergerak sama sekali dari tempat mereka berdiri dan malah memberikan isyarat pada polisi-polisi itu untuk membawa dua orang itu segera. Hanya Tristan yang berteriak sembari menangis memohon agar mamanya dilepaskan.
"Pa, jangan tangkap mamaku! kasihani aku, aku!" mohon Tristan sembari menarik-narik pakaian seragam polisi. Tapi, polisi itu, menepis tangan kecil Tristan hingga terlepas.
"Tristan, kamu jangan ikut mama, Nak! kamu masuk ke rumah!" titah Tania yang akhirnya tidak bisa untuk tidak menangis. Karena sejahat-jahatnya seorang ibu, kalau berurusan tentang anak yang dilahirkannya, sisi keibuannya pasti akan tetap keluar.
Polisi yang mencengkram kuat tangan Tania, mendorong tubuh Tania masuk ke dalam mobil polisi. Setelah itu mobilpun langsung melaju membawa Tania dan Dito.
"Mama! jangan tinggalkan Tristan! Aku mau ikut Mama! di sini pasti tidak akan ada yang menerimaku!" Tristan semakin histeris dan berlari mengejar mobil polisi itu sampai anak kecil itu terjatuh terjerembab dan lututnya tergores.
Di saat Tristan menangis tiba-tiba ada dua tangan kecil yang terulur ke arahnya. Tristan menatap ke arah tangan yang terulur itu setelah itu dengan hati-hati menatap wajah si pemilik tangan, yang ternyata adalah si kembar, Bima dan Bimo.
"Ayo,aku bantu kamu berdiri!" ucap salah satu si pemilik wajah yang tidak lain adalah Bimo, sembari tersenyum ke arah Tristan.
Tristan menggeleng-gelengkan tangannya dan menatap si kembar dengan tatapan takut. Dia benar-benar takut kalau dia anak kecil itu akan melukainya, mengingat apa yang dia lakukan selama ini pada Bimo.
"Ayolah. Kamu tenang saja, kami tidak akan melukaimu! kami tidak sejahat itu!" kali ini Bima yang buka suara. Namun berbeda dengan Bimo, si kembar satu ini sama sekali tidak melemparkan senyum, bahkan terkesan datar saja.
"Sepertinya, yang benar-benar menduplikat sikapmu itu, Bima dan kalau Bimo sepertinya lebih ke Clara," celetuk Satya dari tempat mereka berdiri, yaitu tidak terlalu jauh dari Bima dan Bimo.
Bukannya senang mendengar ucapan Satya, Bara justru menatap Satya dengan tatapan yang sangat tajam, bak sebilah pisau belati yang siap menghujam jantung.
"Jangan bilang kamu sudah bertemu dengan Clara? berani kamu menyukainya, habis kamu!"
Satya sontak terhenyak mendengar ancaman Bara yang menurutnya sangat berlebihan.
"Kamu apaan sih? cemburu tidak jelas! aku sama sekali belum pernah bertemu dengan Clara!" ucap Satya, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau kamu belum pernah bertemu dengannya, bagaimana kamu bisa mengetahui karakternya yang mirip ke Bimo?" alis Bara bertaut tajam, masih curiga, karena dia sama sekali belum percaya sepenuhnya kalau Satya belum bertemu dengan Clara.
"Sumpah demi apapun, aku sama sekali belum pernah bertemu dengan Clara. Aku tadi hanya sekedar menebak saja. Lagian kalau aku suka pada Clara, kan gak masalah sama sekali. Toh kalian berdua kan bukan suami istri lagi," ucap Satya yang dengan sengaja menggoda Bara.
Mata Bara sontak memerah, rahangnya mengeras dan napasnya pun sudah memburu pertanda kalau pria itu sudah sangat marah, mendengar ucapan Satya.
"Berani kamu mendekatinya,aku tidak akan segan-segan membunuhmu!" tegas Bara, dengan tatapan yang berkilat-kilat, membuat Satya bergidik ngeri.
"Bar, Bara, aku hanya bercanda! aku hanya menggodamu saja, jangan terlalu serius dong!"pungkas Satunya akhirnya, supaya Bara tidak semakin marah.
"Candaan kamu sama sekali tidak lucu!" ucap Bara sembari kembali menatap ke arah dua putranya yang ternyata sudah berhasil membujuk Tristan untuk berdiri. Bahkan sekarang Bima sedang mengobati luka Tristan yang ada di lutut dengan sangat telaten.
"Bara, sekarang aku mau tanya, bagaimana dengan Tristan? apa yang akan kamu lakukan padanya?" Satya sudah kembali ke mode serius.
Bara menghela napasnya dengan sekali hentakan dan cukup berat. "Aku juga belum tahu. Karena melihat dia seperti itu, aku juga tidak tega. Tapi, mungkin aku akan mengembalikannya ke orang tua Tania," ucap Bara sembari melangkah menghampiri si kembar, disusul oleh Satya, Arumi dan Elva dari belakang.
Melihat Bara yang berjalan ke arah mereka, sontak membuat wajah Tristan berubah pucat. Anak kecil itu sontak berdiri kembali dengan kaki gemetar dan bersiap-siap hendak pergi.
"Tristan, kamu mau kemana?" panggil Bara, begitu melihat anak itu hendak berbalik.
"Kamu jangan kemana-mana, biar Om Satya mengantarkanmu ke tempat kakek Teguh dan Nenek Chintya," ucap Bara.
"Pa, kenapa dia harus dikirimkan ke sana?" protes Bimo dengan cepat.
"Tidak bisakah dia tetap di sini? kasihan dia! dia sebenarnya tidak tahu apa-apa, semua yang dilakukanya selama ini hanya karena pengaruh dari Tante Tania. Jadi, tolong izinkan dia untuk tetap berada di rumah ini. Aku sama sekali tidak membencinya," imbuhnya lagi.
Bara dan Elva sontak saling pandang, tidak menyangka kalau Bimo memiliki hati yang besar dan pemaaf seperti itu. Mereka berdua tidak menyangka kalau si kembar yang masih berusia kecil itu selain smart tapi juga bijaksana.
"Apa kalian berdua benar-benar tidak masalah dia masih tinggal di rumah ini?" ulang Bara memastikan.
Bima dan Bimo sontak menggelengkan kepala dengan cepat, meyakinkan kalau mereka memang tidak keberatan.
Bara menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara. Pria itu sontak berjongkok dan mengelus rambut kedua putranya itu dengan lembut.
"Untuk kali ini Papa minta maaf, karena papa tidak bisa memenuhi permintaan kalian berdua. Bagaimanapun Tristan punya kakek dan nenek kandung yang berhak atas dia. Jadi, dia harus tetap dikembalikan ke tempat di mana semestinya dia berada. Kita tidak berhak sama sekali atas dia," dengan lembut Bara memberikan pengertian pada kedua putranya itu.
Mendengar penuturan papanya,Bima dan Bimo bergeming tidak bisa membantah sama sekali.
Bara kemudian kembali berdiri dan menoleh ke arah Satya. "Sat, tolong kamu antarkan dia ke rumah orang tua Tania ya! kamu jelaskan saja apa yang sebenarnya terjadi. Untuk pakaiannya, nanti aku akan minta orang mengantarkan ke sana!" titah Bara dan Satya mengangguk,mengiyakan.
Satya kemudian meraih tangan Tristan dan mengajak anak kecil itu masuk ke dalam mobilnya. Namun, sebelum dia menjalankan mobilnya, pria itu masih menyempatkan diri untuk membuka jendela mobil dan mengeluarkan kepalanya.
"Hei wanita cerewet, kamu masih mau tetap di sini? sebaiknya kamu pergi saja. Bukannya urusanmu sudah selesai?" ucap Satya yang tentu saja dialamatkan pada Arumi.
Arumi mendengus dan melototkan matanya ke arah Satya. "Yang sudah selesai itu urusanku denganmu. Mengenai urusanku uang lain, kamu tidak perlu tahu. Sana, kamu pergi saja!" cetus Arumi dengan sangat ketus.
Satya berdecih, sembari menaikkan kembali kaca mobilnya. Lalu menjalankannya dengan kecepatan sedang.
"Pa, sekarang sebaiknya aku pulang ke rumah mama. Mungkin Mama sudah menungguku. Kebetulan aku juga sudah sangat merindukan mama," celetuk Bima setelah mobil yang membawa Tristan hilang dari pandangan.
Mendengar ucapan Bima, sontak membuat rasa penasaran Bara kembali menghampiri.
"Emm, Papa mau tanya, apa Mama kalian sudah tahu kalau kalian berdua sebenarnya bertukar posisi?"
Bima dan Bimo hampir bersamaan menggelengkan kepala. "Tidak sama sekali,Pa. Sama seperti Papa, mama juga belum menyadari kalau sebenarnya anak yang dia cari selama ini, sudah ada bersamanya. Nanti mama pasti kaget melihat ... astaga,aku lupa! Mama tadi lagi bersama Om Theo. Aku takut Om Theo sudah salah paham mengira aku sudah memberikan lampu hijau padanya untuk mendekati mama. Aku juga takut kalau mama luluh, karena mengira aku memang menginginkan seorang ayah," Wajah Bimo tiba-tiba berubah pucat.
Mendengar ucapan Bimo, bukan hanya anak itu yang panik. Bara juga sontak ikutan panik.
"Apa? jadi mama kalian benar-benar didekati pria itu? ayo kita ke sana sekarang!" tanpa basa-basi, Bara langsung berlari menuju mobilnya.
Bima dan Bimo juga bergerak hendak menyusul sang papa. Namun Bima tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Elva. "Oma tidak ikut?" tanya Bimo dengan alis bertaut.
Elva menggelengkan kepalanya. "Oma malu.Mama kalian nanti pasti marah, karena dulu Mama sudah berbohong supaya mama kalian mau menceraikan papa kalian. Bahkan mama dengan tega meminta mama kalian untuk mencari cara sendiri agar membuat papa kalian mau bercerai bahkan sampai meminta cara itu sekaligus membuat papa kalian membenci mama kalian. Oma benar-benar malu bertemu dengan mama kalian berdua, Sayang," Elva, tersenyum getir.
Bimo menerbitkan seulas senyum di bibirnya dan mendekati Elva. "Oma tidak perlu khawatir. Mama itu orang yang baik dan tidak pendendam. Oma tahu ... sebenarnya mama sudah tahu masalah pernikahan papa dan Tante Tania karena perjodohan. Tapi, mama sama sekali tidak marah ke Oma. Karena kata mama, dia maklum kenapa Oma bisa sampai berbohong. Jadi, Oma tenang saja, mama tidak akan makan Oma nanti," ucap Bimo, sembari menyelipkan candaan di balik ucapannya.
"Baiklah, Oma ikut!" pungkas Elva, akhirnya.
Tbc