Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Akhir


Hari berlalu begitu cepat tidak terasa sudah 5 bulan berlalu semenjak Bimo dan Michelle menikah. Sekarang usia kandungan Ayunda sudah memasuki usia 7 bulan.


Hari ini wajah Ayunda terlihat berbinar-binar. Bagaimana tidak? hari ini adalah hari syukuran 7 bulan kehamilannya. Di mana dalam usia 7 bulan, akan banyak doa dan harapan buat ibu dan anak yang dikandungnya, di antaranya agar bayi yang dikandungnya lahir dengan lancar, sehat, tidak kurang suatu apapun dan dijauhkan dari segala marabahaya, serta calon ibu sehat dan selamat dalam proses persalinan nantinya.


Tamu sudah mulai berdatangan tidak terkecuali Dito. Ya, semenjak kejadian lima bulan lalu, dan mendengar ucapan demi ucapan dari Tristan, Dito seketika merasa tertampar dan tersadar kalau memang yang dikatakan oleh putranya itu benar. Di saat dia bermaksud menyerahkan dirinya ke polisi, Bara malah memilih memaafkannya dan itu semakin membuat dirinya benar-benar menyesal. Akhirnya pria itu memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, hidup seadanya dengan bertani. Sekarang dia memang sengaja hadir karena diundang dan kebetulan Tristan juga akan menikah dua bulan lagi. Dia juga begitu bahagia setelah dia berubah, Tristan perlahan-lahan sudah memanggilnya papa.


Rentetan acara demi acara berjalan dengan lancar dan hikmat sampai tiba diakhir acara.


Keluarga besar dari kedua belah pihak juga tidak lupa mengundang anak yatim piatu dan memberikan santunan pada mereka.


Kediaman Bima kini sudah mulai sepi, para tamu sudah kembali ke rumah masing-masing. Yang tersisa hanyalah keluar besar dan orang-orang terdekat.


"Yu, kamu ikut kita yuk!" ajak Michelle, sahabatnya.


" Ikut kemana?" Ayunda mengrenyitkan keningnya.


"Ikut aja dulu, nanti kamu juga bakal tahu." Michelle tersenyum misterius.


"Ya udah, aku izin ke Bima dulu,ya. Kalau dia mengizinkan, aku ikut, tapi kalau nggak, aku nggak bakalan bisa pergi." tutur Ayunda sambil beranjak berdiri dan berjalan menemui suaminya yang sedang asik bercengkrama dengan keluarga besar.


"Sayang, aku diajak pergi sama Michelle, boleh?" tanya Ayunda dengan sangat hati-hati.


"Hmm, ya udah! tapi kamu hati-hati ya!" sahut Bima yang dengan mudahnya memberikan izin, tidak seperti biasanya.


"Tumben, kamu langsung kasih izin, biasanya kan sulitnya minta ampun," celetuk Ayunda dengan alis bertaut tajam, curiga.


"Wanita memang aneh, giliran tidak dikasih izin marah, bilang kita tidak pengertian, giliran dikasih izin, malah dipertanyakan," Bima berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sabar, Bima! wanita memang seperti itu!" Timpal Bara sembari melirik ke arah Clara.


Setelah mendapatkan Izin, Ayunda pun berpamitan pada semua keluarga besarnya, dan berlalu pergi bersama Michelle dan Salena.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kita mau kemana sih? kok dari tadi muter-muter di daerah ini aja?" tanya Ayunda mulai kesal. Karena mobil yang dikemudikan oleh Michelle dari tadi berjalan sangat lamban dan seperti jalan di tempat.


"Sabar Yu, bentar lagi kita sampai kok." sahut Michelle dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.


"udah sampai!" seru Salena tiba-tiba dengan wajah yang berbinar-binar.


"Hah? ini kan rumah Papa Bara? dan bukannya tadi kita sudah melewati tempat ini? kenapa kembali ke sini lagi? Kalian mau ngerjain aku ya? lagian kita ngapain ke sini? mama dan papa ada di rumahku kan?" cecar Ayunda beruntun. Wajah wanita itu sudah terlihat tidak bersahabat karena merasa jengkel.


Michelle dan Salena terkekeh melihat raut wajahnya Ayunda yang chubby terlihat semakin lucu saat bibir wanita hamil itu mengerucut.


"Kakak jangan marah-marah dong! ibu hamil itu gak boleh marah-marah, pamali, nanti bayinya cepat tua!" ucap Salena yang disambut gelak tawa oleh Michelle.


"Cih, mana ada istilah begitu. Yang ada ,nanti kamu cepat tua, bukan bayi yang cepat tua." cetus Ayunda dengan bibir yang semakin mengerucut.


"Sudah, sudah! ayo kita turun!" Michelle membuka pintu mobil dan menuntun Ayunda untuk keluar dari dalam mobil.


"Lho, kok mobil Bima, papa Bara, Papa dan Tristan sudah ada di sini? dan itu juga mobil Om Dimas kan?" Ayunda menunjuk ke arah mobil yang terparkir di depan rumah mertuanya dan Michelle.


" Bukannya mereka tadi masih di rumahku ya?" lanjut Ayunda lagi, bertanya penuh kebingungan sekaligus penasaran.


"Kalau mau tahu, sebaiknya kita masuk dulu!" Michelle meraih tangan Ayunda dan menuntun wanita itu masuk ke dalam rumah.


"Surprisee!" teriak semua orang yang ternyata sudah berkumpul di rumah Bara.


Kedua mata Ayunda seketika meneteskan air mata melihat kejutan yang dia dapatkan dari keluarga besarnya, di mana di depannya dia melihat ruangan itu sudah disulap dengan dekorasi yang dipenuhi banyak balon. Ternyata di rumah Bara itu diadakan pesta Gender reveal, yaitu, pesta kejutan untuk menebak jenis kelamin bayi.


Budaya ini makin tren setelah ada tes DNA baru yang memungkinkan si ibu hamil mengetahui jenis kelamin bayi di awal 9 – 10 minggu kehamilan, walau memang melalui USG pun bisa mengetahui jenis kelamin bayi.


Cara kerja tes DNA ini melalui analisis darah, mencari sel bebas DNA, di mana DNA tersebut bukan bagian dari inti sel.


Sebelum mengadakan pesta, dokter kandungan akan menuliskan jenis kelamin bayi di secarik kertas, Ibu hamil dan pasangan tidak boleh mengetahuinya. Lalu kertas tersebut diberikan kepada toko kue.


Di hari H, warna kue atau icing yang muncul merupakan kejutan bagi si ibu hamil dan keluarga yang hadir, apakah biru atau pink.


"I-ini semua kamu yang buat, Sayang?" Tanya Ayunda pada Bima di sela-sela rasa kagetnya.


"Emm, sebenarnya tidak. Ini semua rencana Michelle dan Salena. Tapi untuk DNA aku yang meminta dokter mengambilnya diam-diam sewaktu kamu USG," jelas Bima, tersenyum.


"Semuanya penasaran Sayang, dengan jenis kelamin kedua anak kita. Kita memang memutuskan untuk mengetahuinya di saat mereka lahir tapi sejujurnya aku juga penasaran. Sumpah aku juga belum lihat hasil test DNAnya. Apa kedua anak kita laki-laki atau perempuan," jelas Bima, lugas.


Ayunda dan Bima memang rutin untuk melakukan USG, tapi mereka sengaja tidak mau menanyakan apa jenis kelamin ke dua anak mereka, karena mereka ingin kelamin anak mereka menjadi sebuah kejutan


"Ahh, kalian semua ...." Ayunda tidak bisa berkata-kata lagi. Wanita itu langsung memeluk Michelle dan Salena dengan air mata yang kembali menetes. "Jadi, kamu sengaja membawa mobil mutar-mutar tadi, supaya semuanya sampai duluan ke sini?" tanya Ayunda lagi, begitu mengingat perjalanan mereka menuju rumah ini.


Michelle dan Salena saling silang pandang dan mengangukkan kepala, mengiyakan.


Tidak menunggu lama, Bima dan Ayunda pun mulai memegang balon di tangan masing-masing. Bima kemudian diarahkan untuk memecahkan balon di tangan Ayunda, demikian juga sebaliknya.


Setelah mendengar aba-aba dari Michelle, Bima dan Ayunda memecahkan balon di tangan pasangan masing-masing menggunakan jarum. Dari balon yang dipegang oleh Bima keluar berwarna pink sedangkan dari balon Ayunda berwarna biru.


"Yee, laki-laki perempuan!" sorak semua yang berada di tempat itu.


"Akhirnya, pecah telor juga, keluar Prayoga ada anak perempuan," sorak Bara dengan wajah berbinar dan mata yang berembun.


"Sebenarnya, aku juga punya kejutan," celetuk Michelle setelah suara riuh sudah mereda.


Semua mata kini menatap ke arah Michelle dengan tatapan penuh tanya.


Michelle meraih sebuah kotak kecil dari dalam tasnya, lalu melangkah menghampiri Bimo. Kemudian wanita itu menyerahkan kotak itu ke tangan suaminya itu.


"Apa ini, Sayang?" tanya Bimo dengan kening berkerut.


"Coba kamu buka dan lihat sendiri," Michelle tersenyum misterius.


Bimo pun akhirnya membuka kotak itu dengan sangat hati-hati. Begitu berhasil dia buka mata pria itu membesar dengan sempurna sembari menatap ke arah Michelle.


"Kamu hamil?" tanya Bimo memastikan. Karena m ternyata yang ada di dalam kotak itu ada testpack yang menunjukkan garis dua dan dilengkapi dengan hasil USG.


Michelle tidak menjawab sama sekali, tapi wanita itu mengangukkan kepalanya, mengiyakan.


Tanpa bisa Bimo hindari, air mata pria itu pun akhirnya menetes saking terharu dan bahagia. Pria itu kemudian menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya. "Terima kasih, Sayang, terima kasih! sebentar lagi aku juga akan jadi seorang ayah," Bimo memberikan kecupan berkali-kali ke puncak kepala Michelle, kemudian turun ke perut istrinya itu.


"Wah, cucu kita akan tambah lagi, Sayang," sorak Bara sembari memeluk Clara.


"Tristan, dua bulan lagi kamu menikah dengan Salena. Rencana untuk menunda anak itu batalkan saja. Karena Om juga mau cepat dapat cucu," celetuk Satya papanya Salena, membuat tawa semua yang berada di ruangan itu, pecah.


"Oh ya, Bara, nanti kalau semua cucumu sudah lahir, kamu harus jaga kepalamu ya! takutnya saking berisiknya kepalamu sakit, dan kamu pun jadi amnesia lagi," sambung Satya lagi, membuat orang-orang kembali tertawa.


Tamat


Akhirnya season 2 nya tamat juga. Aku memutuskan untuk menamatkan karena memang sudah waktunya tamat. Semuanya sudah mendapatkan kebahagian. Kalau dilanjut pun, paling akan berkutat di kehidupan sehari-hari dan pasti membosankan.


Terima kasih Author ucapkan buat semuannya yang sudah setia mengikuti dan mendukung sampai akhir cerita ini. Maaf kalau masih banyak kekurangannya.


Untuk cerita Renata dan Arya, sudah terbit ya, guys. Judulnya 'Jodoh Pilihan Mama'. Bagi yang berkenan, aku harap mampir. Aku tunggu kehadiran kalian semua di sana.