Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Kamu cukup berdoa.


"Salena, ayo aku antar kamu pulang!" tiba-tiba saja Arya datang seperti biasa. Kali ini dia merasa kalau dia akan berhasil mengajak Salena untuk pulang bersamanya.


Salena menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Matanya mengedarkan untuk mencari keberadaan orang -orang mencurigakan yang bisa jadi diminta oleh Tristan untuk mengawasinya selama pria itu ada di Bali.


"Kak Arya, maaf sekali. Aku tidak bisa. Aku akan ikut dengan Pak Sandi. Kemungkinan Pak Sandi sebentar lagi akan datang," akhirnya Salena memberanikan diri untuk menolak secara halus.


"Untuk masalah Pak Sandi kamu tenang saja. Tadi, aku sudah meminta beliau untuk pulang, karena aku mengatakan kalau aku sendiri yang akan mengantarkanmu pulang," Arya memasang senyum termanisnya.


"Emm, kenapa Kakak meminta Pak Sandi untuk pulang tanpa bertanya lebih dulu padaku sih?" Salena mulai menunjukkan rasa kesalnya.


"Maaf, aku kira kamu tidak akan mempermasalahkannya, makanya aku berinisiatif untuk memintanya pulang. Kamu jangan marah ya. Sekarang kamu masuk saja ke mobil. Sebagai permintaan maaf, nanti aku akan membelikan kamu Es krim," bujuk Arya dengan senyum yang tidak pernah memudar dari bibirnya.


"Ternyata dia bisa senyum juga. Aku kirain dia selama ini beruang kutub yang saking dinginnya, susah untuk tersenyum," batin Renata , menatap Arya dengan tatapan sinis.


"Maaf sekali kak, aku tetap tidak bisa!" senyum di bibir Arya seketika langsung menyurut mendengar penolakan Salena yang kesekian kalinya.


"Kenapa? apa kamu membenciku?" Arya mengrenyitkan keningnya.


"Bu-bukan, Kak!" Salena mengibaskan-ngibaskan tangannya di depan wajah Arya. "Tidak ada jalannya aku membenci kakak. Aku hanya tidak ingin Kak Tristan marah kalau aku pulang bersama Kakak," akhirnya Salena jujur.


Raut wajah Arya seketika langsung berubah kecewa mendengar ucapan Salena.


"Kenapa kamu harus takut padanya. Emangnya dia siapa berhak mengatur hidupmu?" cetus Arya dengan nada kesal.


"Ya, aku rasa Kak Tristan berhak marah dan melarangku, karena dia itu calon suamiku!"


Bagai petir yang menyambar di siang bolong tanpa adanya angin dan hujan, Arya membesarkan matanya, tersentak kaget mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Salena. Bukan hanya Arya yang kaget, tapi juga Renata.


"Calon suami? gumamnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.


"Iya, dia calon suamiku," sahut Salena, menegaskan.


Ya, sebenarnya di hari pertama Tristan datang ke rumahnya dan berniat untuk mengantar dan menjemputnya, saat dia turun dengan terburu-buru, dia mendengar semua pembicaraan pria itu dengan papanya. Namun, dia berpura-pura tidak tahu.


"Apa kamu bercanda, Salena? kamu itu masih SMA, masa sudah dijodohkan dengan pria yang usianya sangat jauh darimu. Aku tidak percaya, Om Satya bisa melakukan hal seperti itu," ucap Arya dengan penuh percaya diri.


"Tapi, kenyataannya memang seperti itu, Kak. Aku ini calon istri Kak Tristan. Tapi memang, katanya kami tidak akan langsung menikah setelah aku lulus SMA. Kak Tristan bahkan menunggu sampai aku lulus kuliah dulu. Tapi, aku rasa enak juga kalau nikah muda," Salena dengan polosnya berkata seperti itu tidak menyadari kalau ucapannya itu sudah membuat hati Arya patah.


"Udah ya, Kak, itu Pak Sandi sudah datang. Aku pulang dulu!" Salena kemudian menoleh ke arah Renata dan berpamitan juga dengan sahabatnya itu.


Arya menatap kepergian Salena dengan raut wajah sendu dan Renata hanya diam di tempat dia berdiri, tidak mau menegur pria yang dia tahu sedang patah hati itu.


"Maaf, hari ini aku tidak bisa memberikan kamu tumpangan. Aku pergi dulu!" celetuk Arya tiba-tiba sembari masuk ke dalam mobilnya.


"Alangkah beruntungnya Salena, mendapatkan cinta dari beberapa pria. Sedangkan aku ... satu pun tidak ada yang menyukaiku," keluh Renata dalam hati, sembari menahan tangis.


"Hush, Renata! kamu tidak boleh iri! Rasa iri akan mendatangkan kebencian yang pastinya akan membuatmu rugi sendiri. Yakinlah suatu saat kamu juga akan mendapatkan kebahagianmu sendiri! " batin Renata, kembali optimis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di lain tempat, tepatnya di butik Ayunda, tampak Michelle yang sibuk melihat-lihat deretan gaun penggantin dengan tatapan sendu. Terlihat jelas kalau wanita itu sedang tidak baik-baik saja.


"Chell, kamu suka gaun itu ya? kalau kamu mau, aku akan buatkan ke kamu, Dan itu gratis!" ucap Ayunda dengan senyum manisnya.


"Aku menyukainya, tapi kalau kamu kasih aku sekarang juga tidak ada gunanya, Yu. Karena aku harus mengubur impianku untuk menjadi seorang pengantin," Michelle tersenyum tipis dan suaranya terdengar sangat lirih.


Ayunda mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan. Dia sudah tahu apa yang sudah terjadi antara sahabatnya itu dengan Bimo dan menurutnya dua orang itu hanya salah paham, dan kesalahpahaman itu terletak pada Michele.


"Chel, sebenarnya aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, aku rasa kamu terlalu cepat untuk mengambil keputusan dengan meminta untuk mengakhiri hubungan. Kalian berdua itu saling mencintai, hanya saja kalian kurang ada keterbukaan. Tadi malam, aku tanpa sengaja mendengar pembicaraan Bima dan Bimo. Ternyata Bimo bukan tidak ada niat untuk melamarmu. Dia sudah merencanakan itu semua jika dia bisa memenangkan tender di Singapura," Ayunda akhirnya menjelaskan apa yang dia dengar tadi malam tanpa mengurangi dan tanpa menambahi.


"Astaga, apa semua yang kamu katakan tadi, benar Yu?" tanya Michelle memastikan.


Wajah wanita itu sontak berubah kusut, ketika melihat Ayunda menganggukkan kepalanya.


"Apa yang sudah aku lakukan, Yu? dia pasti sedang tidak bersemangat sekarang karena kepikiran. Bagaimana kalau karena ini, dia jadi gagal memenangkan tender itu? aku benar-benar bodoh!" Michelle mulai merutuki dirinya sendiri, sampai pipi wanita itu basah karena air mata.


"Sudahlah, kamu jangan berpikir macam-macam! kamu cukup mendoakan saja agar dia bisa bersikap profesional dan masalah ini tidak mempengaruhi kinerjanya, " hibur Ayunda.


"Apa aku menghubungi dia saja sekarang ya! aku bilang aku akan menarik ucapan putusku kemarin," Michele merogoh ponselnya dari dalam tas dan berniat untuk menghubungi nomor Bimo. Namun, ternyata tidak bisa terhubung dan ketika mengirim pesan, pesan yang dikirim juga hanya centang satu.


"Aduh, nomornya gak aktif, Yu. Bagaimana ini?" air mata Michelle semakin tidak terbendung.


"Sabar, Chel! mungkin sekarang dia lagi sibuk makanya dia menonaktifkan nomornya, agar konsekuensinya tidak terbagi. Sekarang kamu cukup berdoa saja ya, Mudah-mudahan dia bisa berhasil.


"Yu, atau aku hubungi papaku saja ya, minta dia berpura-pura tidak profesional agar Bimo bisa menang,"


Ayara dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jangan, Chell! itu justru akan membuat Bimo jadi marah kalau dia tahu.Lagian kalau papamu berpura-pura, eh ternyata malah tidak menang juga dan malah jatuh ke tangan perusahaan lain, bagaimana? kan papamu bisa uring-uringan dan kesal ke kamu? jadi, aku sarankan, agar kamu urungkan niat kamu itu. Intinya, jalan satu-satunya ya berdoa,"


Michelle terdiam, tidak membantah ucapan Ayunda karena apa yang diucapkan sahabatnya itu memang benar adanya.


tbc