
"Kamu tidak mau memeluk mamamu ini sekali lagi, Nak?"
Clara bergeming, sama sekali tidak bergerak dari tempat dia berdiri. Kedua tangan serta kakinya berasa kaku, hingga dia terlihat seperti patung. Clara masih benar-benar bingung dengan apa yang terjadi padanya.
"Peluklah, Nak! dia memang benar-benar mama kandungmu, karena semua yang dikatakan Nak Arumi itu benar!" celetuk seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari arah pintu masuk. Wanita itu tidak lain adalah Munah, wanita yanga dipanggil bude oleh Clara. Di samping wanita itu, tampak berdiri Karin putrinya, beserta si kembar Bima dan Bimo.
Ya, Bima dan Bimo tanpa sepengetahuan Bara dan dibantu oleh Satya, memerintahkan anak buah papanya itu untuk menerbangkan mereka ke kampung halaman Clara menggunakan helikopter, untuk menjemput nenek Munah dan Karin. Setelah sampai di Jakarta, dibantu oleh Jono, mereka langsung diantarkan kekediaman Teguh.
"Bude, aku tidak bermimpi kan? jadi, mereka benar-benar orang tua kandungku?" tanya Clara memastikan.
Air mata Clara sontak semakin banyak keluar, begitu melihat Munah menganggukkan kepala mengiyakan.
Tanpa basa-basi lagi, Clara sontak memeluk Chintya dengan sangat erat dan menangis sesunggukan. "Pantas saja, aku merasa tenang dan ada rasa ingin memelukmu, Ma ketika pertama kali aku melihatmu," ucap Clara di sela-sela tangisnya.
"Apa tadi kamu bilang? kamu memanggilku, Mama? bisa kamu ulang lagi, Nak?" pinta Chintya.
"Mama," ucap Clara sembari menarik cairan yang keluar dari hidungnya.
Tangis Chintya semakin keras. Wanita itu kembali memeluk Clara dengan sangat erat dan berkali-kali menciumnya pipi dan puncak kepala Clara.
Sementara itu, Teguh yang bisanya jarang mengeluarkan air mata, karena dia selalu mengatakan kalau laki-laki pantang menangis,kali ini sudah tidak bisa mempertahankan prinsipnya itu lagi. Mata pria itu tampak sembab dan pipinya sudah sangat basah.
"Apa, aku masih pantas mendapat pelukanmu dan dipanggil papa juga, Clara?" celetuk pria itu dengan suara bergetar.
Clara sontak melepaskan pelukan Chintya dan menoleh ke arah Teguh.
"Kenapa tidak pantas, Pa? Papa itu, Papaku kan? jadi tidak ada yang bisa mengatakan kalau papa itu tidak layak mendapat panggilan itu? apa aku boleh memeluk, Papa juga?" dengan suara lembut dan juga bergetar, justru Clara yang berinisiatif untuk meminta izin memeluk Teguh.
Tanpa basa-basi, Teguh meraih tubuh Clara dan memeluk putrinya itu.
"Maafkan, Papa Nak, yang sempat menganggap kamu sebagai perebut kebahagiaan Tania. Maafkan Papa atas ucapan-ucapan Papa yang pasti menyakiti hatimu!" ujar Teguh dengan sesunggukan.
Clara menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali menarik masuk cairan yang keluar dari hidungnya. "Papa tidak perlu minta maaf. Papa sama sekali tidak salah. Itu Papa lakukan, karena papa membela Tania yang memang sudah Papa besarkan sejak kecil. Itu juga Papa lakukan karena Papa tidak tahu kalau aku ini putrimu. Lagian, Papa sama sekali tidak pernah memakiku secara langsung kan? jadi aku sama sekali tidak pernah sakit hati ke Papa!" tutur Clara, panjang lebar dan lugas.
Sementara itu, Chintya menoleh ke arah Theo putranya yang raut wajahnya sangat sukar untuk dibaca. Yang jelas pria itu terlihat berdiri mematung dengan ekspresi datar. Chintya kemudian melangkah, menghampiri putranya itu dan mengelus-elus pundaknya.
"Theo, kamu ingat kan Nak. Ketika mama bertanya apa kamu jatuh cinta dengan Clara? kamu dengan cepat menjawab,kalau kamu sama sekali tidak tahu. Kamu bilang, pertama kali melihatnya, ada rasa ingin melindungi Clara yang muncul di hatimu. Sekarang kamu pasti sudah tahu jawabannya, kenapa perasaan seperti itu bisa muncul kan? itu karena ikatan darah kalian berdua sangat kental," tutur Chintya dengan sangat lembut. Dia yakin kalau sekarang putranya itu benar-benar bingung dengan apa yang terjadi.
Mendengar ucapan mamanya, Theo seketika tersadar dan sontak mengembuskan napasnya dengan sangat keras. Seulas senyuman seketika terbit di bibir pria itu.
"Ya, Mama benar. Mungkin karena itulah, aku merasa seperti ingin selalu melindunginya. Ternyata itu adalah perasaan seorang kakak laki-laki pada adik perempuannya" ucap Theo.
Kemudian Theo, mengayunkan kakinya, mendekati Clara yang masih ada di pelukan papanya.
"Clara, apa kamu juga tidak mau memeluk kakakmu ini?" ucap Theo begitu sudah berdiri di dekat Clara.
Clara sontak melerai pelukannya dari sang Papa. Bibir wanita itu sontak tersenyum manis ke arah Bara. Tanga wanita itu seketika terentang hendak memeluk Theo, yang ternyata kakak kandungnya. Namun, bukan tubuh Theo yang dipeluknya, melainkan tubuh Bara yang ternyata dengan sigap berdiri di tengah dua kakak beradik itu.
"Hei, kenapa kamu menghalangi Clara memelukku?" protes Theo dengan nada yang sangat kesal.
"Dia itu adikku. Kamu sudah tahu kan akan hal itu?" suara Theo, meninggi.
"Aku tahu! tapi kamu jangan lupa kalau, kamu pernah menginginkan dia jadi istrimu. Jadi,aku yakin kalau kali ini kamu hanya ingin mengambil kesempatan untuk bisa memeluk Clara. Jangan kira aku tidak bisa membaca niat jelekmu itu!" Bara merangkul pundak Clara dengan sangat erat dan menatap tajam ke arah Theo yang terlihat berusaha menahan emosi.
"Kamu memang benar-benar gila! Cemburumu tidak masuk akal. Kamu sudah tahu kalau dia itu adik kandungku,tapi dengan bodohnya, kamu menuduhku mengambil kesempatan. Sepertinya kamu butuh dokter jiwa!" umpat Theo yang semakin kesal.
"Hei, beraninya kamu mengatakan aku butuh dokter jiwa. Kamu kira aku sakit jiwa? aku pikir yang sakit jiwa itu kamu karena terlalu lama sendiri," Bara tidak mau kalah.
"Sialan kamu! Sakit jiwa tidak ada hubungannya dengan lamanya hidup sendiri. Kalau begitu, kamu juga sedang mengatai asisten pribadimu itu. Bukannya dia juga sudah lama hidup sendiri?"
Mendengar ucapan Theo, membuat Satya yang merupakan asisten Bara, tersentak kaget. "Lho, kok jadi bawa- bawa aku?" gumam Satya dengan kening berkerut, hingga membuat Arumi berusaha menahan tawa.
"Jangan tertawa! kamu pun sama!" cetus Satya yang membuat Arumi terdiam dengan bibir mengerucut.
"Kalian semua bisa diam nggak sih? telingaku sakit mendengar kalian berisik!" Clara kembali buka suara. "Kalau kalian masih berisik, aku lebih baik pergi," lanjut Clara lagi.
"Baguslah, kalau kamu mau pergi, karena aku juga mau pergi!" sahut Bara, justru menyetujui ucapan Clara.
"Enak saja! dia itu adikku. Kamu tidak punya hak untuk membawa dia pergi," ucap Theo dengan tegas.
"Dia itu calon istriku!" Bara menatap Theo dengan sangat tajam.
"Masih calon istri, belum jadi istri. Lagian kalau aku tidak setuju kamu mau bilang apa?" Theo balik menatap tajam ke arah Bara.
Bara mengepalkan tangannya dengan kencang, dan menggeram. "Aku tidak butuh persetujuanmu, karena bagaimanapun aku dan Clara akan tetap menikah, ada ataupun tidak ada persetujuanmu. Kalau kamu berniat menghancurkan pernikahanku nanti, siap-siap aja, perusahaanmu hancur," ancam Bara.
Melihat perseteruan antara pria yang dicintainya dengan kakak laki-lakinya itu, membuat Clara menghela napas, berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Teruslah kalian berdua berdebat. Aku capek!" pungkas Clara sembari melangkah menghampiri Chintya dan Teguh yang juga hanya bisa mengangkat bahu.
Sementara itu, tampak Bima dan Bimo masuk kembali ke dalam rumah dengan batu di tangan masing-masing. Ternyata, sewaktu Bara dan Theo masih asik berdebat, Bima dan Bimo sempat keluar sebentar.
Bima dan Bimo melangkah mendekat ke arah Bara dan Theo. Bima meraih tangan Bara dan meletakkan batu yang dia bawa dari luar ke tangan Bara. Demikian juga Bimo melakukan hal yang sama pada Theo.
"Bima, untuk apa batu ini?" tanya Bara dengan kening yang berkerut.
"Untuk bisa Papa dan Om gunakan. Daripada kalian beradu mulut,kan lebih baik lempar-lemparan batu sekalian, biar terlihat lebih jantan. Kalau adu mulut kan, kerjaan perempuan. Kalian berdua jangan Maruk, mengambil keahlian perempuan," sindir Bima, dengan sarkastik.
"Dasar anak laknat!"
"Dasar keponakan, laknat!" umpat Bara dan Theo bersamaan.
Tanpa mereka semua sadari ada sepasang mata kecil yang mengintip dari dalam sebuah kamar. Siapa lagi pemilik mata itu, kalau bukan Tristan. Tadinya, dia sempat bahagia melihat kehadiran Bara. Dia mengira pria yang sampai sekarang masih dia anggap papanya itu, datang ingin menjemputnya, tapi begitu mendengar semuanya, anak itu sangat kecewa dan takut. "Berarti aku bukan cucu kakek Teguh dan Nenek Chintya. Jadi sekarang aku harus kemana?" batin anak kecil itu, terisak.
Tbc