
Bara berjalan dengan langkah tegap masuk ke perusahaannya, dengan tangan yang menggandeng tangan Bima.
Semua mata Karyawan yang berada di lobby sontak menoleh ke arah dua pria berbeda usia itu. Mereka sontak terpana melihat ke arah Bima, yang terlihat seperti Bara tapi dari versi kecil.
"Wah, baru kali ini Pak Bara bawa anaknya ke kantor. Anaknya tampan sekali, benar-benar sangat mirip dengan Pak Bara," bisik salah satu karyawan pada teman di sampingnya dan tentu saja temannya itu setuju dengan ucapannya. Dengan sengaja karyawan itu, mengambil photo sang pemilik perusahaan itu dengan Bima, secara diam-diam.
"Ini nih, calon penerus perusahaan ini. Terlihat benar-benar seperti Pak Bara ya? pasti bentukan Pak Bara seperti anaknya itu ketika Pak Bara masih kecil," terdengar lagu bisikan dari karyawan lainnya.
Bara masuk ke dalam Lift demikian juga dengan Bima. Sikap yang ditunjukkan oleh Bima, benar-benar sama persis seperti yang ditunjukkan oleh Bara. Yaitu hanya menganggukkan kepala, tanpa ada senyuman yang menghiasi bibir, ketika ada karyawan yang menyapa.
Setelah tiba di lantai yang dituju, pintu lift terbuka dan kedua laki-laki berbeda usia itu pun keluar dan berjalan menuju ruangan Bara.
Bara membuka pintu ruangannya, dan tampak Satya dengan seorang pria langsung berdiri menyambut kedatangan Bara dan Bima.
"Wah, selamat sore, Bara. Maaf kalau aku mengganggu waktumu," ucap Pria itu sembari mengulurkan tangan menjabat tangan Bara dan memeluk pria itu seakan keduanya sangat dekat. Dan memang kenyataannya begitu. Keduanya memang dekat karena mereka teman kuliah. Kira-kira seperti itulah yang didengar oleh Bara dari cerita Satya. Karena sejujurnya dia juga tidak ingat siapa Adrian sampai sekarang.
"Ya, tidak apa-apa. Adrian. Silakan duduk kembali!" Bara menunjuk ke arah sofa.
"Terima kasih, Bara!" pria yang ternyata bernama Adrian itu, menganggukkan kepala dengan senyum di bibirnya. Sebenarnya dia sedikit kesal dengan sikap Bara yang tidak sehangat dulu ketika mereka masih kuliah. Namun,dia cukup maklum karena ingatan sahabatnya itu masih belum kembali seperti dulu. Kemudian mata pria itu menoleh ke arah Bima.
"Ini anak kamu, Bar? baru kali ini aku melihat anakmu. Ternyata dia sangat mirip denganmu." ucap Adrian menatap Bima dengan tatapan kagum.
"Iya, dia anakku. Ayo silakan duduk, Ian!" sahut Bara seperti biasa, singkat.
Adrian tidak langsung duduk seperti yang diminta oleh Bara. Pria itu justru menatap wajah Bima dengan sangat intens, hingga membuat Bima merasa risih.
"Laki-laki ini kenapa sih? kenapa dia harus melihatku seperti itu?" batin Bima, yang balik menatap Adrian dengan tatapan tajam, seperti menunjukkan kalau dirinya tidak suka dengan cara Adrian menatapnya.
"Ian, kamu kenapa masih berdiri di sana? ayo duduk!" tegur Bara.
"Eh, iya, Bara. Tunggu sebentar. Aku sepertinya pernah lihat anakmu ini," ucap Adrian, seraya kembali menatap wajah Bima yang terlihat semakin risih.
"Nama kamu Bima kan? kamu teman sekelas anak saya Ayunda,"
Bima terkesiap kaget mendengar ucapan pria di depannya itu. Wajahnya seketika berubah pucat. Namun, dia berusaha untuk tetap bersikap biasa, agar tiga pria dewasa yang ada di ruangan itu tidak menyadari perubahan wajahnya. "Astaga,dia papanya anak yang menyebalkan itu ternyata. Mati aku!" bisik Bima pada dirinya sendiri.
"Om, aku bukan Bima. Om salah orang," sahut Bima di sela-sela rasa kagetnya.
Adrian mencondongkan tubuhnya semakin mendekat ke arah Bima. "Iya ya? tapi kenapa mirip ya? soalnya__"
"Ian, sudahlah. Dia itu Bimo dan dia sekolah di sekolah yang berbeda dengan anakmu. Kamu mungkin salah lihat!" Bara kembali buka suara,menyela ucapan Adrian.
Adrian menarik tubuhnya dari Bima, berdiri tegak. Kemudian dia berbalik dan melangkah ke arah sofa. "Sepertinya sih begitu. Karena memang aku jarang sih menjemput Ayunda. Biasanya yang menjemput itu istriku. Cuma aku pernah sekali diminta istriku menjemput Ayunda. Nah, putriku itu mengadu kalau ada anak laki-laki yang selalu dia dekati tapi selalu mengusir anak saya pergi. Dan aku ingat jelas kalau Ayunda menunjuk ke arah anak yang memang mirip dengan anakmu. Dan nama anak itu Bima. Kenapa namanya bisa mirip dengan nama anakmu ya?" celoteh Adrian setelah duduk dengan sempurna di atas sofa.
Bara sontak bergeming tidak memberikan tanggapan atas cerita Adrian barusan. Karena tiba-tiba dia merasa kalau yang baru diceritakan oleh pria itu cukup aneh juga. Apalagi begitu mengingat kalau putranya itu, adalah anak yang dia temukan dan diangkat jadi anak. "Em,apa mungkin Bimo ini memiliki saudara kembar. Dan karena ibunya tidak sanggup membesarkan dua anak sekaligus, makanya dia memutuskan membuang salah satunya?" Bara mulai menduga-duga dalam hatinya.
"Tapi, kalau tidak mampu, tidak mungkin kan anaknya disekolahkan di sekolah elit? pasti dia cukup mampulah," lagi-lagi Bara bercengkrama pada dirinya sendiri, menyangkal asumsinya yang pertama kali.
"Iya juga kali ya? karena memang saat itu juga aku melihat anak itu bukan dari jarak dekat sih. Mungkin aku salah," pungkas Adrian, akhirnya.
"Iya, mungkin kamu salah.Ya udah, kita jangan berbicara hal itu lagi, mari kita bicarakan kerja sama kita saja. Karena hari sudah semakin sore," ucap Bara akhirnya, membuat Bima mengembuskan napas lega.
"Bima, kamu masuk ke ruangan itu dulu. Di situ ada kamar Papa, untuk tempat papa istirahat. Kamu bisa menonton di situ biar tidak bosan. Papa bekerja dulu!" Bara menunjuk ke arah sebuah ruangan yang pintunya tertutup.
Bima menganggukkan kepalanya, dan melangkah menuju ruangan yang dimaksudkan oleh papanya. Namun, sebelum benar-benar mencapai pintu,anak kecil itu menghentikan langkahnya tepat di dekat Satya.
"Om,papaku sudah menikah dan pun anak. Om Adrian juga. Kalau Om kapan? kasihan sekali, masih sendiri." celetuk Bima, dengan nada meledek sembari berlari masuk ke dalam ruangan.
"Sialan! beraninya dia meledekku! dia benar-benar persis seperti kamu, Bara. Padahal dia itu hanya anak__"
"Satya, berhenti berceloteh! kamu duduk saja!" sambar Bara dengan cepat, karena dia tahu, apa yang akan diucapkan oleh Satya dan dia sama sekali tidak suka jika ada yang mengucapkan kata-kata itu. Apalagi itu kalau bukan anak angkat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu,di kediaman keluarga Prayoga tampak Tania yang sedang kebingungan karena guru yang dia minta untuk datang ke rumah guna mengajari. Tristan belum juga dari jam yang dijanjikan. Disamping itu, hati wanita itu juga dipenuhi dengan tanda tanya, kenapa anak yang sangat dia benci yang tidak lain adalah Bimo, belum terlihat pulang dari tadi, terlebih dia melihat kalau Jono, supir yang selalu mengantar dan menjemput Bimo seharian ini berada di rumah.
Tania keluar dari rumah, untuk memeriksa apakah guru private yang dia panggil sudah datang atau belum. Namun ternyata hasilnya masih sama seperti sebelumnya. Belum tampak batang hidung guru itu.
Matanya kemudian melihat Jono yang kebetulan berjalan melewatinya. "Pak Jono, tunggu dulu!" panggil Tania yang langsung berjalan mendekati pria paruh baya, yang dia anggap berada di pihaknya.
"Iya, Ibu Tania? ada apa?" tanya Jono dengan nada sopan.
"Kamu kenapa dari tadi tidak pergi menjemput anak sialan itu? bukannya seharusnya dia sudah ada di rumah ya sekarang? kamu sengaja ya tidak menjemputnya agar dia lama menunggu? kamu tidak takut kalau mas bara nanti marah?" tanya Tania dengan beruntun, tidak memberikan kesempatan pada Jono untuk menjawab. Jauh di dalam lubuk hatinya,ingin sekali Tania mendengar jawaban yang bisa membuat dia bahagia. Yaitu, pria paruh baya itu mengiyakan kalau dia memang sengaja tidak menjemput Bima tepat waktu.
"Oh,itu,Bu. Aku tidak menjemput Bimo, itu karena Tuan Bara sendiri yang menjemputnya. Karena katanya hari ini Pak Bara mau mengajak Bimo jalan-jalan," sahut Jono. Jawaban yang benar-benar sangat jauh dari ekspektasi Tania.
"Apa? brengsek! Dia mengajak anak pungut itu jalan-jalan, sedangkan anaknya sendiri tidak pernah punya waktu untuk mengajaknya jalan-jalan. Mas Bara benar-benar keterlaluan!" umpat Tania, mengoceh dengan ekspresi kesal.
Sementara itu,Jono hanya tersenyum tipis dan samar melihat ekspresi wajah wanita di depannya itu. "Cih, dasar wanita ular. Dia tidak sadar diri, kalau anaknya sendiri itu juga bukan anak kandung Tuan Bara," ucap Jono yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.
Dengan perasaan yang sangat kesal, Tania kembali melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan Jono tanpa pamit.
Wanita itu menghempaskan tubuhnya duduk di sofa. Kemudian dia meraih ponselnya dan membuka media sosialnya, untuk memberikan informasi tentang kekesalannya pada Dito.
Namun ketika dia baru saja membuka media sosialnya, matanya langsung melihat sebuah photo, postingan seseorang yang dia tahu merupakan karyawan suaminya. Postingan itu mendapat like dan hati yang sangat banyak serta ribuan komentar dan rata-rata komentarnya memuji anak yang ada di photo itu. Photo apalagi yang membuat Tania kesal itu kalau bukan photo Bara yang menggandeng tangan Bima saat di perusahaan.
Hal yang membuat Tania semakin meradang adalah ketika melihat caption yang tertulis di photo itu. 'Tampannya, pewaris perusahaan keluarga Prayoga' begitulah bunyinya yang diakhiri dengan emoticon love dan peluk.
"Arghh, sialan! Mas Bara bahkan membawa anak itu ke perusahaan. Tristan saja belum pernah dia bawa sama sekali! Harusnya kan Tristan yang dia perkenalkan ke khalayak sebagai anaknya. Pewaris? cuih ... yang pantas menjadi pewaris hanya anakku, bukan anak pungut itu!"
Tbc