
Bagai petir di siang bolong, Tania benar-benar kaget mendengar ucapan Bara. Wajah wanita itu sekarang benar-benar pucat seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali.
"M-Mas ... A-aku ....
"Jangan mencoba menyangkal lagi!" sambar Bara lagi, sebelum Tania kembali menyangkal.
"Aduh, kenapa ingatannya bisa pulih? bukannya setiap hari dia terus mengkonsumsi obat yang aku siapkan?" batin Tania dengan perasaan yang tidak tenang sama sekali.
"Bara,kamu benar-benar sudah ingat semuanya, Nak?" ulang Elva memastikan.
"Iya, aku sudah ingat. Dan aku sangat menyesalkan, kebohongan Mama yang mengatakan kalau aku dan Tania menikah karena saling mencintai," sindir Bara.
"Maafkan Mama. Hari itu yang Mama hanya ingin memberikan kesempatan pada Tania untuk dekat denganmu dan akhirnya kamu bisa mencintainya, dan ketika ingatan kamu kembali, kamu sudah benar-benar mencintainya," ucap Elva dengan nada sendu.
"Tapi,Nak apa maksud perkataanmu tadi? kenapa kamu mengatakan kalau Tristan bukan anakmu,apa yang kamu katakan itu benar?"
"Iya,Ma. Selama dua bulan menikah dengannya,aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Sekarang mama tanya saja anak siapa Tristan sebenarnya," ujar Bara dengan mata yang menatap Tania dengan tatapan tajam.
Elva, kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Tania yang terlihat semakin ketakutan. Wanita itu benar-benar tidak menyangka kalau mimpi indahnya berubah menjadi mimpi buruk.
"Tania, sekarang jelaskan anak siapa Tristan?" nada bicara Elva sekarang benar-benar sangat dingin hingga membuat aura di ruangan itu sangat mengerikan.
"Ma,apa Mama tidak percaya padaku? Tristan benar-benar anak kandung mas Bara. Hari itu Mas Bara mabuk, jadi dia tidak ingat apa yang dia lakukan," Tania masih berusaha untuk memberikan alibi.
"Tante Tania, kamu masih berani mau menyangkal. Tante benar-benar tidak tahu malu. Sudah aku katakan tadi, sebaiknya Tante mengaku sebelum aku mengeluarkan bukti-bukti yang aku punya," Bima yang dari tadi diam saja, menikmati wajah panik Tania kini buka suara kembali.
"Hei, anak pungut! kamu benar-benar anak haram! kamu pasti ingin mencoba ingin mempengaruhi semua di rumah ini. Sikap kamu ini menunjukkan kalau kamu benar-benar anak haram!" pekik Tania.
Bima lagi-lagi tersenyum miring.
"Aku yang anak haram atau Tristan anak anda! kali ini Bima tidak memanggil Tania dengan sebutan Tante lagi. "Lagian aku ingin mengatakan, tidak ada namanya anak haram. Tidak pantas seorang anak yang tidak tahu apa-apa, menyandang sebutan anak haram atas perbuatan orang tuanya yang haram. Jadi dengan kata lain, Perbuatan kedua orangtuanya lah yang haram, seperti yang anda lakukan dengan papa kandung Tristan. Apa Tante mau aku menyebutkan siapa papa kandung Tristan di sini?"
Tania semakin terlihat pucat hingga seluruh badannya tampak bergetar.
"Oh, iya sekarang tolong anda panggil orang suruhan Tante yang sepertinya masih menungguku di depan sekolah. Kasihan mereka kalau masih menungguku," ucap Bima, dengan sudut bibir yang membentuk senyum sinis membuat Tania semakin ketakutan.
"Bimo,apa maksudmu? oh iya, seharusnya kamu masih di sekolah kan sekarang? kenapa kamu bisa berada di sini?kamu bolos ya?". tanya Bima yang baru menyadari kehadiran Bima yang masih di jam belajar.
"Itu karena aku tahu rencana Tante Tania yang membayar orang untuk melenyapkanku,Pa. Sebenarnya sih aku bisa dengan gampang melumpuhkan mereka semua, tapi aku tahu kalau menghadapi mereka, pasti akan memakan waktu. Selain itu aku juga tahu kalau Tante Tania memajukan jam untuk menandatangani surat warisan itu, makanya aku memutuskan untuk tidak berangkat sekolah hari ini dan menunggu jamnya di tempat lain,"
Tania sontak terkesiap kaget mendengar ucapan Bima. Dia bingung kenapa Bima bisa tahu rencananya padahal dia tadi menghubungi orang suruhannya ketika anak itu sudah berangkat sekolah.
"Brengsek kamu! kamu benar-benar ...." Tania menghambur hendak merampas handphone di tangan Bima.
"Eits tunggu dulu!" dengan gerakan cepat Bima berhasil menghindar.
"Tania! kamu benar-benar manusia berhati iblis!" Bara beranjak dari tempat duduknya hendak memberikan pelajaran pada Tania. Pria itu benar-benar marah mendengar cerita Bima tentang wanita itu yang berniat mencelakai putranya.
"Pa, tidak perlu! jangan kotori tangan papa dengan menghajar wanita ini! lagian tidak baik menghajarnya di depan Tristan! kasihan dia yang pasti sangat terpukul!" cegah Bima dengan cepat.
Bara sontak tersadar dan menoleh ke arah Tristan yang sudah sangat ketakutan. Walaupun anak itu bukan anaknya tapi tetap terbersit rasa kasihan melihat wajah ketakutan anak kecil itu.
Setelah melihat kalau papanya sudah tenang,Kemudian, Bima kembali mengalihkan tatapannya ke arah Tania yang tadi sempat beringsut ketakutan.
"Ada lagi, kejutan buat Anda. Mungkin tadi, anda pasti bingung kenapa tiba-tiba ingatan Papa bisa kembali. Anda mau tahu jawabannya? kalau iya dengan senang hati akan aku kasih tahu," ucap Bima ambigu.
"Pak Jono, bawa orang itu ke sini!" titah Bima yang benar-benar aura pemimpinnya semakin terlihat.
Mata Tania sontak membesar dan mulut ternganga begitu melihat sosok dokter yang selama ini dia bayar untuk memberikan obat membuat ingatan Bara sulit untuk kembali.
"Anda pasti mengenalnya kan, Ibu Tania yang terhormat?"
Tania bergeming. Sosok Bima sekarang terlihat sangat menakutkan baginya melebihi setan.
Bima terlihat membisikkan sesuatu pada Jono, dan pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya lalu pergi. Entah apa yang dibisikkan oleh Bima barusan hanya dia dan Jono lah yang tahu.
"Ada apa ini Bimo? kenapa kamu membawa orang ini ke sini? apa hubungannya dengan ingatan papa?" tanya Bara dengan tatapan penuh tanya.
"Iya,Bimo. Apa pria inilah Papa kandung Tristan?" Elva kembali buka suara.
Bima menggeleng-gelengkan kepalanya, menyangkal. "Mengenai pria ini, nanti akan aku ceritakan siapa dia dan hubungannya dengan kembalinya ingatan papa, nanti juga akan aku jelaskan. Oma, untuk masalah siapa papa kandung Tristan, sebentar lagi,Oma juga akan tahu," tutur Bima dengan panjang lebar dan semakin membuat Elva dan Bara kebingungan.
"Iya,Tuan Bara,Bu Elva ada apa memanggilku?" tiba-tiba seorang pria muncul dengan sedikit tergopoh-gopoh dan wajah berbinar. Siapa lagi pria itu kalau bukan Dito.
Ya,tadi Bima membisikkan pada Jono agar memanggil Dito, dengan mengatasnamakan Bara dan Elva agar pria itu bisa cepat datang.
Binar di wajah Dito sontak menyurut berganti dengan kebingungan dan rasa takut begitu melihat sosok dokter yang dimunculkan oleh Bima. Padahal tadi dia merasa bahagia karena dia tahu kalau hari ini impiannya dan Tania akan terkabul.
"Oma, Pa, Kalian berdua ingin tahu kan siapa Papa kandung Tristan? ini dia baru datang!" Bima menunjuk ke arah Dito, membuat pria itu kaget sampai tersungkur sedikit ke belakang.
tbc