
Bima merebahkan tubuhnya ke atas ranjangnya dan matanya menerawang menatap ke langit-langit kamarnya. Semua yang terjadi di dalam hidupnya beberapa tahun terakhir ini kembali berkelebat di pikirannya.
POV BIMA
Aku benar-benar tidak menyangka kalau sebentar lagi aku akan menikah dengan Ayunda, wanita yang awalnya memang aku anggap perempuan paling aneh, paling menyebalkan dan suka membuatku sakit kepala. Namun, mungkin karena sudah terbiasa dengan sikap Ayunda, lama-lama aku justru merasa aneh kalau tidak mendapat gangguan dari wanita itu. Entah kenapa aku menganggap kalau kicauan wanita itu adalah lagu yang selalu ingin aku dengarkan, gangguannya merupakan olah raga hati yang membuat jantung dan hatiku sehat.
Masih teringat jelas bagaimana kesalnya aku ketika di acara perpisahan SMA dulu, Ayunda bersikap cuek padaku dan mengatakan kalau dia akan berhenti mengganggu dan mencintaiku. Bahkan dengan lantangnya Ayunda saat itu mengatakan akan mencari kekasih yang lebih tampan dariku.
Apa kalian tahu bagaimana perasaanku saat mendengar ucapannya itu? saat itu ingin rasanya aku marah dan membungkam mulut Ayunda dengan bibirku. Aku ingin berteriak kencang kalau aku tidak akan pernah mengizinkan dia untuk mencintai orang lain Karena hanya dirikulah yang harus dicintai oleh Ayu. Tapi, alih-alih mengatakan hal itu, justru aku mengatakan sesuatu yang menyakitkan seakan aku sedang meremehkannya.
"Kamu mau berhenti mencintaiku? apa kamu mampu? kalau mampu coba saja! karena aku sama sekali tidak yakin kalau kamu mampu," itulah kata-kata yang aku sesali saat itu.
Aku pergi meninggalkannya begitu saja saat itu, tapi sebenarnya aku tidak benar-benar ingin pergi. Aku pergi karena aku takut ... aku takut kalau aku tidak kuat kalau melihat dia menangis. Aku takut kalau aku masih di dekatnya aku akan memeluknya dengan erat.
Aku sebenarnya tidak benar-benar pergi meninggalkannya. Tapi aku memantaunya dari jauh karena aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya.
Saat itu aku melihat, sosok pria yang sudah aku anggap kakak kandungku, menghampiri Ayunda. Aku melihat dia begitu perhatian pada Ayu, dan aku akui aku merasa sakit melihatnya. Tapi, bukankah itu keinginanku sendiri?
Ya, itulah alasan sebenarnya, kenapa aku berusaha menghindari Ayu dan selalu bersikap tidak baik pada wanita itu, bahkan aku sampai tega melontarkan kata-kata yang sangat menyakitkan padanya. Semuanya itu, ya demi melihat kakakku itu bisa dekat dengan Ayunda, karena aku tahu kalau kakakku itu menyukai Ayu.
Aku hanya bisa melihat dari jauh dengan sebuah senyuman miris ketika Kak Tristan berinisiatif mengantarkan Ayu untuk pulang. Kalau dikatakan aku tidak cemburu? bisa dipastikan itu bohong. Tapi lagi-lagi aku mengingat tujuanku di awal. Yang aku memang ingin menyatukan mereka berdua.
Di saat aku mendengar dia sudah pergi ke luar Negri bahkan sebelum pengumuman kelulusan, tidak ada yang tahu kalau aku ke bandara untuk mengetahui dia pergi ke mana. Aku menemukan dia pergi ke Amerika dan tidak ada yang tahu bagaimana senangnya aku saat itu karena memang dari awal aku punya tujuan untuk kuliah di sana juga. Tapi, ternyata semuanya itu hanya trik untuk mengelabuiku. Ternyata dia tidak ada di Amerika dan aku tidak tahu dia ada di mana. Aku memang ingin menyatukan kak Tristan dan Ayu, tapi aku juga ingin selalu tetap bisa melihatnya walaupun dari jauh, aneh kan?
Hampir setahun aku tidak tahu di mana keberadaan Ayu, tapi ada satu Negara yang aku curigai yaitu Inggris, kota London. Mengingat di mana Kak Tristan juga sangat ingin ke sana. Ya, ternyata benar dugaanku, dia memang ternyata ada di London. Aku mengetahui karena aku menciptakan sebuah aplikasi media sosial yang langsung berkembang pesat dan Ayu termasuk pengguna media sosial itu. Aku akhirnya meretas media sosialnya dan bahkan nomor ponsel yang dia gunakan. Aku juga menciptakan beberapa game yang langsung banyak diminati oleh pengguna internet. Salah satunya game yang digandrugi oleh banyak wanita dan itu menggunakan nama Ayu, itu karena aku tahu kalau dia menyukai yang namanya fashion dan aku tahu kalau game itu akan banyak membantu Ayu untuk mengembangkan bakatnya di bidang fashion.
Aku tahu saat itu ada seorang pria yang sangat ingin mendekatinya karena pria itu sering mengirimkan pesan ke ponsel Ayu, menanyakan kabar, mengajak jalan dan mengirimkan makanan untuk Ayu. Aku tahu kalau kak Tristan sudah berulang kali mengingatkan kalau pria itu tidak baik, tapi Ayu tidak pernah mengindahkannya. Justru Ayu menganggap Tristan sedang membatasi ruang geraknya dan hal itu membuat hubungan mereka tidak baik.
Untuk mempermudah diriku mengetahui informasi aku membuat penanda di ponselku melalui bunyi yang berbeda-beda dan bunyi notifikasi yang berasal dari ponsel Ayu dan pria itu di bunyi yang sangat penting. Jadi, begitu ada bunyi notifikasi aku tidak punya alasan untuk tidak langsung melihat informasi apa yang aku dapat.
Aku ingat jelas malam itu, di saat aku mendengar bunyi notifikasi itu. Tanpa basa-basi aku langsung membukanya dan ternyata si pria brengsek itu sedang mengajak teman-temannya untuk melakukan hal yang tidak baik pada Ayu. Betapa murkanya aku membaca semua interaksi orang-orang bejat itu. Tidak mau kecolongan aku memerintahkan anak buahku yang memang selama ini sudah aku kirimkan ke sana untuk melindungi Ayu. Tapi, sekali lagi, aku mengatasnamakan Kak Tristan. Tujuanku cuma satu, aku ingin hubungan mereka kembali seperti semula. Aku ingin membuat Ayu merasa berhutang budi pada kak Tristan, hingga kalau Kak Tristan mengungkapkan perasaaannya nanti, Ayu akan tidak tega untuk menolak. Tapi, apa yang aku dengar membuatku bingung, Kak Tristan tiba-tiba tidak melanjutkan S2 nya di negara itu, tapi justru pindah ke Singapura. Aku tidak tahu alasan Kak Tristan melakukan hal itu.
Tadi malam di saat reuni tidak ada yang tahu bagaimana detak jantungku berdetak tidak karuan, melihat Ayu untuk pertama kalinya setelah 6 tahun tidak bertemu dan hanya bisa melihat photonya saja. Dia tampak begitu cantik dan anggun saat itu, tapi aku berusaha meredamnya dengan berpura-pura fokus melihat ponselku.
Malam tadi, tidak ada yang tahu bagaimana geramnya aku melihat seorang pria dengan lancangnya menggandeng tangan yang selama ini ingin aku gandeng. Kalau saja tangan Tristan yang menggandengnya, mungkin aku akan lebih iklas.
Ingin rasanya aku mematahkan tangan pria itu saat itu juga. Aku memang tahu kalau pria itu adalah temannya Arya adik Ayunda, yang memang sengaja dibawa oleh Ayu untuk membuktikan kalau dia sudah bisa lepas dariku. Tapi tetap saja aku merasa tidak terima ketika melihat tangan si brengsek itu merangkul pinggang Ayu saat berdansa. Untuk mengalihkan kemarahanku, aku mencoba untuk minum, minuman yang selama ini tidak pernah aku sentuh.
Tidak ada yang tahu, bagaimana takutnya aku ketika Michelle dengan paniknya mengatakan kalau Ayunda diculik. Aku sudah bersumpah dalam hati, akan melenyapkan orang itu kalau saja Ayunda sampai kenapa-napa.
Tapi ternyata Ayu tidak kenapa-napa dan justru orang yang melakukan itu terkesan untuk memancingku masuk ke kamar di mana Ayu disekap.
Aku tidak bisa mengkontrol diriku lagi untuk tidak memeluknya ketika melihat dia menangis ketakutan.
Tadi malam ketika dia tertidur, untuk pertama kalinya aku berani membalikkan tubuhnya ke arahku agar aku bis menatap wajahnya selama yang aku mau. Aku bahkan menarik tubuhnya ke arahku dan mendekapnya dengan erat, sampai akhirnya aku pun tertidur.
POV Bima End.
Sebuah ketokan di pintu, seketika membuat Bima tersentak kaget tersadar dari lamunan panjangnya. Pria itu kemudian bangkit berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu.
Tenggorokan Bima serasa tercekat, bahkan kesulitan untuk meneguk ludahnya sendiri ketika dia melihat sosok Tristan yang berdiri di depannya.
Tbc