
"Sayang, kenapa rumah sepi ya? Mama dan Papa pergi kemana?" tanya Ayunda sembari mengedarkan ke segala penjuru untuk mencari keberadaan kedua mertuanya itu.
"Aku tidak tahu, Sayang. mungkin mama dan Papa keluar jalan-jalan. Mumpung papa sudah tidak terlalu aktif lagi di kantor,"
Ayunda mengangguk-anggukan kepalanya, merasa kalau yang diucapkan suaminya itu ada benarnya.
"Ya udah, kita berangkat aja Sekarang aja ya!" Bima mengandeng tangan istrinya keluar dari rumah. Dia lalu membukakan pintu mobil untuk Ayunda, lalu menutupnya kembali setelah istrinya itu sudah duduk dengan sempurna di dalam mobil.
"Sayang kita sebenarnya mau kemana sih?" tanya Ayunda setelah 20 menit berada di dalam mobil, tapi belum ada tanda-tanda Bima akan berhenti. Apalagi mereka sudah melewati gedung mall yang sering mereka kunjungi.
"Nanti kamu akan tahu sendiri, Sayang. Kamu tenang saja Dan ikut saja!" Bima menoleh sekilas ke arah Ayunda dan tersenyum penuh makna.
10 menit kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Bima berhenti di depan sebuah rumah yang sangat mewah dengan arsitektur kontemporer yaitu rumah yang berfokus pada sisi estetika maupun elemen yang sedang tren atau bersifat kekinian tanpa merusak alam.
"Rumah siapa ini, Sayang?" kedua netra Ayunda tampak berbinar-binar dan menatap takjub rumah yang ada di hadapannya.
"Ayo kita turun dulu! nanti kamu akan tahu ini rumah siapa," ucap Bima yang membuat Ayunda semakin kebingungan.
Bima keluar dari dalam mobil, setelah itu dia mengitari mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Ayunda. Pria itu meraih tangan istrinya itu dan membantu untuk keluar.
Kemudian, dengan menggandeng tangan sang istri, Bima melangkah menuju pintu masuk.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? kamu harusnya tekan bel dulu, atau ketuk pintu. Jangan main buka saja!" tegur Ayunda ketika Bima mengulurkan tangannya hendak membuka sendiri pintu rumah itu.
Bima menyunggingkan seulas senyuman dan tetap membuka pintu yang ternyata tidak dikunci sama sekali. Bima benar-benar tidak mengindahkan ucapan Ayunda.
"Selamat datang!" sorak beberapa orang, begitu pintu terbuka, hingga membuat Ayunda terjengkit kaget.
Mata wanita itu sontak membesar sempurna begitu melihat sudah ada mama dan papanya di dalam, begitu juga dengan kedua mertuanya.
"Sa-sayang ini maksudnya apa?" tanya Ayunda, dengan suara bergetar.
"Ini rumah baru kita, sayang.Ini lah alasan kenapa selama ini kita masih tinggal di rumah Papa dan mama. Aku sedang membangun rumah kita sendiri. Akhirnya sekarang sudah selesai, dan sudah bisa kita tinggali," ucap Bima sambil membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"I-ini benar-benar rumah kita?" dari sudut mata Ayunda, kini sudah terlihat cairan bening yang sudah merembes keluar. Dia tidak menyangka, kalau dia akan mendapat kejutan seindah ini dari suaminya.
"Tentu saja. Kamu pikir ini rumah siapa? bukannya ini rumah idaman kamu?" Bima kembali tersenyum.
Ayunda kembali menghambur memeluk Bima dan menyusupkan kepalanya di dada suaminya itu.
"Terima kasih ya, Sayang!" ucap Ayunda sembari tersenyum ke arah Bima
"Terima kasihnya harus disertai yang lain dong! masa cuma terima kasih saja!" ucap Bima sembari mengerlingkan matanya.
" Emangnya kamu mau apa?" tanya Ayunda dengan raut wajah yang terlihat bingung.
"Aku mau kamu malam ini,sekalian mau coba suasana baru di rumah baru kita!" ucap Bima yang membuat wajah Ayunda langsung memerah.
"Kalian berdua kapan masuknya sih? kami sudah lama menunggu!" celetuk Adrian, pura-pura memasang wajah kesal.
"Kita masuk yuk!" Bima kembali meraih tangan Ayunda dan melangkah masuk.
?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menunggu beberapa menit, pintu pun terbuka. Tampak seorang pria paruh baya keluar dari dalam dengan sebuah tas kumal yang tersampir di bahunya.
Mata Tristan dan pria paruh baya itu untuk beberapa saat saling menatap dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Hai, Om Dito. Selamat, Om sudah bebas!" Tristan kini sudah berdiri tepat di depan pria paruh baya yang ternyata adalah Dito, papa kandungnya yang mendapat hukuman 20 tahun penjara atas percobaan pembunuhan, penipuan dan pencemaran nama baik.
Sebenarnya kalau dihitung dari mulai masuknya pria paruh baya itu ke penjara, masih butuh 2 tahun lagi untuk bebas, tapi pria itu mendapatkan remisi, makanya dia bisa bebas sekarang.
Dito berdiri terpaku, tidak menyambut uluran tangan Tristan,. karena dia memang benar-benar tidak terlalu mengenal pria tampan di depannya itu.
"Aku Tristan, Om. Apa Om masih ingat?" akhirnya Tristan menyebutkan namanya, membuat mata pria paruh baya di depannya itu membesar dengan sempurna.
Tidak perlu menunggu lama, cairan bening tiba-tiba menetes membasahi pipi Dito, tidak menyangka kalau pria di depannya itu adalah putra kandungnya, anak laki-laki yang dulunya masih berusia 7 tahun, sekarang sudah dewasa dan bahkan terlihat sangat tampan.
"Ka-kamu, Tristan?" suara Dito terdengar lirih.
Ketika Tristan menganggukkan kepalanya, pria paruh baya itu tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menghambur memeluk putranya itu dengan penuh kerinduan.
"Kamu sudah dewasa dan aku sangat menyesal tidak bisa mendampingimu melalui hari-hari yang pasti tidak menyenangkan bagimu, Tristan!" ucap Dito sembari menyeka air matanya.
"Hari-hariku menyenangkan kok, Om. Aku dibesarkan penuh kasih sayang oleh Papa Bara dan mama Clara," Tristan masih saja memanggil Dito dengan sebutan Om sama seperti ketika dia masih kecil.
Dito sontak terdiam, mendengar ucapan Tristan. Tiba-tiba ada perasaan tidak suka pada pria paruh baya itu mendengar Tristan memanggil Bara dengan sebutan papa sedangkan dirinya tetap dipanggil Om.
"Kenapa kamu masih memanggilku, Om? kenapa tidak Papa? kamu pasti sudah tahu kan kalau aku ini papa kandungmu?"
Tristan terdiam seribu bahasa. Sebenarnya, di saat dia memutuskan untuk menjemput Dito dari penjara, dia sudah berlatih untuk memanggil pria itu dengan sebutan papa. Tapi, entah kenapa, begitu bertatapan muka, bibirnya tiba-tiba berada kelu memanggil pria itu dengan sebutan papa.
"Maaf, Om. Aku memang sudah tahu kenyataannya, tapi aku sepertinya masih butuh waktu untuk bisa memanggilmu, Papa." Tristan akhirnya memilih untuk berkata sesuai dengan apa isi hatinya.
"Tapi, tenang saja, aku tidak akan menelantarkan Om, karena aku tahu, setelah keluar dari penjara, Om pasti tidak memiliki tujuan yang jelas, berhubung karena aku juga sudah cari tahu kalau rumah Om yang dikampung juga sudah roboh. makanya aku memutuskan untuk menjemput Om sekarang," tutur Tristan dengan raut wajah datar tanpa senyum sedikitpun.
Dito tidak menyahut sama sekali, bahkan untuk mengucapkan ucapan terima kasih saja, bibir pria itu seperti enggan untuk melakukannya.
"Ayo, Om, ikut aku! aku akan antarkan Om ke rumah yang bisa Om tempati!" Tanpa menunggu jawaban dari Dito, Tristan langsung melangkah menuju tempat di mana mobilnya terparkir.
Dito yang sebenarnya merasa kurang terima atas panggilan Tristan, mau tidak mau tetap mengikuti langkah Tristan, karena memang dia sudah tidak punya pilihan.
"Apa setelah kamu mengantarkanku, kamu akan langsung pergi?"tanya Dito lagi, setelah keduanya berada di dalam mobil.
"Iya. Karena aku masih harus bekerja," sahut Tristan tanpa menoleh ke arah Dito.
"Kamu sudah bekerja?" Tristan mengangguk, mengiyakan.
"Kamu pasti hanya karyawan biasa di perusahaan Bara kan? tidak mungkin dia membiarkanmu memimpin salah satu perusahaannya bahkan memberikan jabatan di perusahaan itu juga tidak mungkin. Bara pasti melampiaskan dendamnya padaku, melalui perlakuan tidak adil atasmu. Iya kan?"tukas Dito yang mulai memprovokasi Tristan.
Tristan tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak sama sekali, Om. Papa Bara dan mama Clara sangat menyayangiku. Mereka membesarkanku dengan penuh kasih sayang dan sama sekali tidak pernah membeda-bedakanku dengan Bima dan Bimo. Aku juga disekolahkan tinggi-tinggi sampai ke luar negri, dan sekarang aku dipercaya untuk memimpin satu anak perusahaan papa Bara," jelas Tristan yang masih tetap fokus melihat jalanan di depannya.
Bukannya merasa senang mendengar putranya diperlakukan dengan baik, Dito justru semakin bertambah kesal. Karena ada kecemburuan pada pria paruh baya itu, mengingat putranya sendiri lebih menyayangi pria lain yang hanya merupakan papa angkat saja.
Tbc