
Kelulusan akhirnya sudah diumumkan. Seperti yanh sudah diyakini,Bima dan Bimo lulus, sebagai siswa yang mendapat nilai sempurna. Tristan, Ayunda dan Michelle juga lulus, dengan nilai tinggi walaupun memang tidak sesempurna Bima dan Bimo.
Langit yang tadinya berwarna jingga kini berganti menjadi gelap. Ini pertanda kalau malam sudah kembali datang menyapa.
Di kediaman keluar Prayoga tampak meja makan sudah diisi oleh semua anggota keluarga tanpa terkecuali. Di atas meja makan juga sudah tersaji banyak makanan yang istimewa, untuk merayakan kelulusan Tristan,Bima dan Bimo.
"Selamat ya,anak-anak Mama! Kalian bertiga akhirnya lulus dengan prestasi yang memuaskan. Makanan ini sengaja mama masak untuk merayakan kelulusan kalian semua. Tapi, mama juga tetap akan berpesan agar kalian jangan langsung puas dengan apa yang kalian peroleh sekarang. Karena apa yang kalian peroleh sekarang bukan akhir dari perjuangan kalian, justru ini adalah awal perjuangan. Walaupun kalian semua pewaris perusahaan-perusahaan Papa, bukan berarti kalian bisa bermalas-malasan. Kalian bertiga tahu kan maksud, mama?" Clara buka suara, sebelum mereka menyantap makan malam itu.
" Iya, Ma!" sahut ketiganya bersamaan.
Clara menyunggingkan seulas senyuman manis, mendengar tanggapan ke tiga putranya. Raut wajah wanita itu benar-benar terlihat bangga atas pencapaian mereka. Walaupun prestasi Tristan tidak sesempurna Bima dan Bimo, tapi wanita itu sama sekali tidak pernah membanding-bandingkan pencapaian anak angkatnya itu dengan kedua anak kandungnya.
"Sudahkan bicaranya? Bisa kita makan sekarang? Aku banar-benar sudah lapar!" Bara buka suara membuat tawa semua ya ada di tempat itu kecuali Bima,pecah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Makan malam kini sudah selesai. Semuanya kini berkumpul di ruang keluarga atas permintaan Bara.
"Sekarang kalian semua sudah lulus SMA, itu berarti kalian semua harus melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Sekarang, Papa mau tanya, kalian mau kuliah di dalam negri atau mau ke luar negri?" Bara buka suara, memulai pembicaraan.
Bima, Bimo dan Tristan tidak ada yang buka suara. Mereka bertiga justru saling silang pandang, sama-sama tidak ingin buka suara lebih dulu.
"Bima, kamu dulu ...papa mau tanya, kamu mau melanjutkan kuliah di mana?" mata Bara menatap Bima,menuntut jawaban.
"Kenapa harus aku lebih dulu yang papa tanya. Bukannya, masih ada kak Tristan selaku sulung di rumah ini?"
Tristan sontak menatap Bima dengan tatapan haru. Dia tidak menyangka, walaupun dia hanya sebatas anak angkat, Bima dan Bimo tetap menganggap dia sulung di antara mereka bertiga.
"Oh,baiklah! Bagaimana Tristan? Kamu mau kuliah di mana?" kini pandangan Bara mengarah ke arah Tristan.
"Maaf, Pa. Aku belum bisa memutuskan," sahut Tristan.
"Emm, begitu ya? Ya sudah, kamu pikirkan dulu! Setelah kamu memutuskan, kamu langsung kasih tahu papa dan mama," Tristan dengan mantap menganggukkan kepalanya. Padahal, sebenarnya pemuda itu bukan tidak punya pilihan. Hanya saja, dia menunggu pilihan Bima dan Bimo lebih dulu, baru dia bisa memutuskan. Karena dia akan kuliah di tempat yang berbeda dengan kedua adiknya itu.
Bara kemudian kembali mengalihkan tatapannya pada Bima dan Bimo. "Kalian dengar sendiri kan, kalau kakak kalian belum bisa memutuskan, jadi sekarang papa mau dengar pendapat kalian lebih dulu,"
"Aku ikut kak Bima saja deh," celetuk Bimo, mantap.
"Kamu tenang saja, kata Michelle dia akan ikut kemanapun nanti aku kuliah,yang penting ada jurusan kedokterannya. Kalau aku tetap di Indonesia katanya, dia akan ikut juga," sahut Bimo penuh percaya diri,membuat Bima mendengus.
"Sudah,sudah! Kalian tolong berhenti berdebat. Sekarang siapapun di antara kalian yang lebih dulu, tolong katakan sama Papa, kalian akan melanjutkan kuliah di mana?" Bara kembali buka suara menghentikan perdebatan kedua putranya.
"Baiklah, Pa, aku mau melanjutkan kuliah di Harvard University di Amerika. Aku mau mengambil jurusan bisnis di sana," akhirnya Bima buka suara lebih dulu.
"Wah, aku tahu kenapa kamu memilih kuliah ke Amerika. Pasti karena kamu tahu kan kalau Ayunda juga di Amerika?"
"Jangan sok tahu kamu! aku memang dari dulu kan mau melanjutkan kuliah di negara itu? Bahkan kamu tahu jelas kalau aku sebenarnya sangat ingin melanjutkan kuliah di Massachusetts Institute Of Technology, karena aku sangat tertarik dengan ilmu sains dan penelitian teknology, tapi sayangnya aku juga ingin mempelajari bisnis dan di universitas itu tidak ada jurusan itu. Jadi, aku akhirnya memutuskan untuk di Harvard saja yang memiliki jurusan Bisnis. jadi, jangan mengatakan kalau aku ke sana gara-gara Ayu, aku bahkan tidak tahu kalau Ayu ada di America," tutur Bima panjang lebar tanpa jeda.
Bimo, mengulas sebuah senyuman mengejek mendengar penuturan Bima kakak kembarnya itu. Wajah pemuda itu benar-benar menunjukkan kalau dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Bima.
"Kamu tidak usah munafik lagi deh Bima. Kamu ke bandara kan, menanyakan daftar penumpang atas nama Ayundan terbang ke negara mana? Aku tahu, Bima. Kamu mau tahu, kenapa aku bisa tahu? Itu karena aku dam Michelle juga ke sana, tapi ketika aku bertanya, malah pegawainya itu bilang, 'lah kok nanya lagi, Mas? Tadi kan sudah nanya dan sudah aku kasih tahu,' siapa lagi coba yang mirip wajahnya denganku selain kamu," Bimo lagi-lagi tersenyum mengejek.
"Kamu jangan mengada-ngada. Aku sama sekali tidak pernah ke bandara. Apa kamu pikir aku ini kurang kerjaan?" Bima kembali menyangkal, kali ini sambil menatap Bimo dengan sangat tajam.
"Haish,masih saja kamu menyangkal. Ya udah deh, kalau tidak mau ngaku. Tapi aku sangat yakin kalau kamu memang ke Bandara," tegas Bimo. "Tapi, yang aku herankan, apa kamu tidak berpikir kalau benua Amerika itu luas dan terdiri dengan bermacam-macam negara bagian? Ada california, Newyork, San Fransisco dan banyak lagi. Emangnya nanti kamu mau menjelajahi semua universitas di Amerika untuk mencari Ayu?" kembali Bimo meledek.
"Sudah aku katakan, kalau aku ke sana bukan untuk mencari perempuan itu! Aku ke sana murni untuk belajar bisnis! Jangan pancing aku untuk marah Bimo!" suara Bima mulai meninggi.
"Kalau kamu marah, berarti dugaanku benar!" Bimo terlihat sama sekali tidak takut dengan kemarahan saudara kembarnya itu.
"Diam!" suara Bara menggelegar, menghentikan perdebatan keduanya, apalagi ketika melihat raut wajah Bima yang mulai memerah.
"Kalian aku minta untuk memilih tempat kuliah bukan untuk bertengkar!" bentak Bara membuat Bima dan Bimo terdiam. Namun, walaupun keduanya diam, sudut mata Bima tetap melirik Bimo dengan lirikan tajam sementara pemuda yang dilirik atau Bimo, tetap mengulas senyum mengejek ke arah Bima.
"Baiklah, Bima sudah memutuskan untuk ke Harvard university dan itu berarti kalau Bimo juga akan ke sana. Oh ya, Bima kalau kamu merasa dirimu mampu, kamu juga bisa mengambil kuliah di Massachusetts Institute Of Technology. Itupun kalau kamu mampu. Atau kamu bisa dengan cepat menyelesaikan kuliah dia Harvard lalu lanjut ke Massachusetts Institute Of Technology. Semuanya terserah kamu. Papa dan mama hanya mendukung saja," Bara, mengembalikan pembicaraan ke topik awal.
"Sekarang, kamu bagaimana, Tristan? Apa keputusanmu?" tatapan Bara kini beralih ke arah Tristan.
"Terima kasih, Pa. Tapi, aku berbeda dengan Bima dan Bimo. Aku mau melanjutkan kuliah di London, Inggris! Boleh kan, Pa?"
Bima dan Bimo sontak mengrenyitkan kening, penuh tanda tanya, kenapa Tristan malah memilih kuliah terpisah dengan mereka.
Tbc