Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Bima dan Ayunda's wedding


Hari berganti hari, tidak terasa hari ini adalah hari di mana Bima dan Ayunda akan merubah status mereka berdua menjadi suami istri.


Dari dalam gedung terdengar tepuk tangan dari para tamu undangan dan keluarga, yang menyaksikan kalau kedua insan itu sudah sah menjadi suami istri secara hukum dan agama.


Adrian bahkan sampai menitikkan air mata,melihat putri kecilnya yang dia manja, dan dia lindungi selama ini, kini sudah mempunyai laki-laki lain yang akan menggantikannya tugasnya. Dia berharap kalau Bima bisa menjadi pelindung buat Ayunda putrinya.


"Kita akhirnya jadi besanan juga, Ian." bisik Bara yang langsung mendapat anggukan kepala dari Adrian.


Senyuman di bibir mereka menandakan kalau mereka benar-benar bahagia sekarang.


Demikian juga dengan Clara dan Tiara. Jemari mereka terlihat saling bertaut, bergenggaman tangan. Sesekali mata mereka saling silang pandang, dan senyuman yang mengembang sempurna selalu setia bertengger di bibir kedua wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Langit sudah mulai berganti warna menjadi jingga, pertanda hari sudah mulai senja dan matahari sudah hendak kembali ke peraduannya. Lampu-lampu sudah mulai dinyalakan, sebagai pengganti cahaya matahari untuk menerangi malam.


Bima sudah terlihat tampan dengan balutan tuxedo berwarna hitam. Pria itu kemudian melirik ke arah jam di di pergelangan tangannya yang ternyata hampir menunjukkan pukul 7 malam. Itu pertanda acara resepsi pernikahanya akan segera dimulai.


Bima kini terlihat sudah berdiri di depan sebuah pintu yang tertutup, menunggu Ayunda keluar dari ruangan tempat wanita yang sudah sah menjadi istrinya, keluar.


Tidak perlu menunggu lama, pintu terbuka dan tampak Ayunda keluar dari dalam dengan balutan gaun penggantin berwarna putih yang terlihat sederhana tapi tidak bisa menutupi kemewahan pada setiap detail design di gaun itu. Bima untuk sesaat terpaku saat menatap Ayunda yang benar-benar sangat cantik di matanya. Sementara itu, Ayunda tampak terkesan takut-takut saat keluar.



"Kenapa kamu masih diam di sana? ayo, acara sebentar lagi akan dimulai!" Bima mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Ayunda.


Dengan tangan gemetar, Ayu menyambut tangan pria itu. Setelah tangan Ayunda sudah berada di genggamannya, Bima kemudian mulai melangkah dengan perlahan, karena dia tahu kalau istrinya itu menggunakan sepatu heels yang lumayan tinggi.


Selama berjalan menuju tempat acara, keduanya tidak ada terlibat pembicaraan apapun. Namun, ekor mata Ayunda sesekali melirik ke arah Bima yang pandangannya fokus ke depan.


"Apa ada yang ingin kamu katakan? kenapa dari tadi kamu melirikku?" celetuk Bima yang membuat warna merah di pipi Ayu semakin terang menyala.


"Ti-tidak ada!" sahut Ayunda, gugup.


"Oh, apa kamu bisa berjalan lebih cepat lagi? soalnya acara benar-benar sudah akan dimulai?" Bima kembali buka suara, karena menurutnya jalan wanita di sampingnya benar-benar sangat lambat.


"Ta-tapi aku ... ahh!" teriak Ayunda kaget karena belum sempat ia selesai bicara, Bima sudah menggendongnya.


"Kamu kelamaan jalannya!" ujar Bima sembari kembali melangkah. Bima bisa mendengar jelas detak jantung wanita itu yang berdetak tidak karuan. Tapi, pria itu tidak mau menyinggungnya karena dia tidak mau istrinya itu nanti malu dan kesal padanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Acara resepsi dilakukan di gedung hotel milik Bima yaitu sky hotel.


Setelah dipanggil oleh MC, Bima dan Ayunda berjalan masuk bersama dengan tangan Ayunda yang menggelayut di lengan pria yang sudah jadi suaminya itu dan diiringi dengan lagu I wanna grow old with you yang dipopulerkan boyband asal Irlandia yakni West life dan juga tepuk tangan meriah dari para tamu undangan.


Di saat berjalan masuk, Ayunda berdecak kagum melihat keindahan dekorasi yang terlihat mewah dan elegant.


Walaupun Ayunda tidak ikut serta mengurus semua persiapan pernikahannya, karena semuanya diserahkan pada dua wanita paruh baya yaitu Clara dan Tiara. Namun dia terlihat sangat puas dengan dekorasi yang dirancang oleh kedua wanita itu.


Acara resepsi berjalan begitu lancar dan acara itu dihadiri oleh banyak tamu yang tentu saja berasal dari kolega dua keluarga dan juga kolega Bima.


"Apa kamu tidak capek berdiri?" tanya Bima, khawatir melihat Ayunda yang sudah cukup lama berdiri.


"Emma, ti-tidak," sahut Ayunda, berbohong. Sebenarnya kakinya sudah sangat pegal karena heels yang dia pakai.


"Kenapa kamu harus berbohong? dari wajahmu bisa terlihat jelas kalau kamu berbohong. Kalau kamu capek, sebaiknya kamu duduk saja." suara Bima terdengar datar, tapi terselip ketegasan di dalam ucapannya. Sehingga Ayunda cepat-cepat duduk dari pada nanti pria yang sudah menjadi suaminya itu, marah.


"Bima, selamat ya! ternyata kamu lebih dulu yang melepaskan masa lajang, di antara kita bertiga." Bimo mengulurkan tangannya dan langsung merangkul saudara kembarnya itu. Hal yang sama juga dilakukan oleh Tristan. Sementara itu, di samping Bimo, tampak Michelle berdiri dengan raut wajah tidak bersahabat. Namun anehnya wajah tidak bersahabatnya itu hanya ditunjukkan pada Bimo tidak pada yang lain. Buktinya dia tersenyum lebar saat mengucapkan selamat pada Bima dan Ayu.


"Sayang, kamu kenapa sih dari tadi cemberut saja ke aku?" bisik Bimo. Pria itu benar-benar tidak merasa nyaman dengan sikap wanita yang dicintainya itu.


"Kamu pikir aja sendiri!" cetus Michelle sembari beranjak pergi.


"Sayang, tunggu!" dengan sedikit berlari Bimo pun mengejar Michelle.


"Kak Bima tolong jaga kakak saya baik-baik! kalau kamu menyakitinya, jangan kira aku tidak bisa memukulmu, walaupun kamu kakak iparku!" celetuk Arya yang ikut mengucapkan selamat. Ucapan pria itu terdengar tegas dan penuh penekanan.


"Apa kamu sedang mengancamku? berani sekali kamu!" Bima menghunuskan tatapannya, berpura-pura tidak suka dengan ancaman Arya.


"Untuk hal lain aku tidak berani mengancammu, tapi hal yang berkaitan dengan Kak Ayunda tentu saja aku berani." Arya tidak gentar dan justru balik membalas tatapan tajam Bima.


"Turunkan pandanganmu, Arya! tatapan Bima semakin tajam.


"Emangnya kamu benar-benar berani pada kak Bima? sekali tanganmu melayang ke dia, belum nyampe aja, tanganmu sudah patah," terdengar suara seorang wanita menyeletuk. Suara itu berasal dari gadis remaja yang tidak lain adalah Salena.


"Tentu saja aku berani," Arya tersenyum manis ke arah Salena, dengan tangan yang juga mengacak-acak rambut gadis itu.


"Kak Arya, jangan berantakin rambutku!" Salena mengerucutkan bibirnya, hingga terlihat menggemaskan dan membuat tangan Arya terulur hendak mencaplok bibir itu. Namun, belum juga tangannya menyentuh bibir Salena, tubuh gadis itu sudah ditarik oleh seseorang yang tidak lain adalah Tristan.


"Jangan aneh-aneh di sini!" ujar pria itu dengan nada yang sangat dingin.


Sikap Tristan barusan tentu saja langsung menarik perhatian Bima dan menimbulkan tanda tanya baginya.


tbc