Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
AKCA Season 2


Bima dan Bimo, si Kembar yang sudah berusia 18 tahun dan memiliki paras tampan, turun dari motor masing-masing setelah tiba di sekolah. Setelah itu dari arah pintu pagar, tampak sebuah motor besar yang sama persis dengan milik Bima dan Bimo masuk dan langsung diparkirkan di samping motor si kembar. Siapa lagi si pemilik motor itu kalau bukan Tristan,kakak angkat yang sudah mereka anggap seperti kakak kandung.


Seperti biasa, kedatangan ketiga orang itu selalu menarik perhatian, terlebih para kaum hawa. Namun, para kaum hawa itu hanya bisa mengagumi mereka dari jauh, karena sikap dingin ke tiganya, terlebih Bima yang memiliki sikap jauh lebih dingin dari Bimo dan Tristan.


"Kenapa kamu baru sampai?" tanya Bima pada Tristan, setelah pria itu meletakkan helmnya di atas motor.


"Karena aku tidak seperti kalian berdua yang mengemudikan motor dengan kecepatan tinggi. Lain kali,aku mau kalian jangan seperti itu lagi. Jalanan itu bukan hanya milik kalian berdua!" sahut Tristan yang sekaligus memberikan nasehat pada kedua adik kembarnya itu.


"Ya, ya ... ayo kita masuk!" pungkas Bima yang tidak ingin membantah ucapan kakaknya itu.


Ketiga pria tampan itu kemudian mengayunkan kaki untuk menuju kelas masing-masing. Bima dan Bimo mengambil jurusan IPA, sedangkan Tristan lebih memilih untuk mengambil jurusan IPS.


Di saat mereka berjalan menuju kelas masing-masing, ada yang sangat janggal, di mana banyak yang menyapa Bimo dan Tristan tapi tidak ada satupun para perempuan yang berani menyapa Bima, bahkan untuk melemparkan senyum ke arah pria itu juga tidak. Karena apa? jawabannya tentu saja karena Ayunda. Gadis yang merupakan tunangan Bima, dan yang terkenal dengan kegalakannya,pada perempuan-perempuan yang sengaja ingin menarik perhatian Bima.


Dalam satu sisi, Bima merasa beruntung dengan kondisi itu karena dia merasa tidak kesulitan untuk mengatasi rayuan para siswi di sekolah. Namun di sisi lain, Bima juga merasa risih karena Ayunda memperlakukannya seperti hak milik yang tidak ingin dibagi pada siapapun.


"Pagi, Bima!" terdengar suara seorang wanita memekik dengan riangnya. Dari suaranya, Bima sudah tahu siapa pemilik suara itu. Siapa lagi dia kalau bukan Ayunda.


Bima menoleh ke arah datangnya suara, dan sesusai dengan dugaannya, sangat benar kalau si pemilik suara itu adalah Ayunda, wanita yang benar-benar sangat menyebalkan baginya. Di samping wanita itu berdiri sosok gadis cantik lainnya yang tidak lain adalah Michelle.


"Bima, nih aku bawakan makanan buat kamu. Aku masak sendiri lho," ucap Ayunda dengan begitu bangganya sembari menyodorkan kotak makanan berwarna pink ke arah Bima.


Bima tidak langsung menerima kotak makanan yang diberikan oleh gadis itu. Pemuda itu justru menatap ke arah kotak makanan kemudian kembali ke wajah Ayunda derita tatapan datar yang sangat sukar untuk dibaca.


"Bima, kenapa tidak diterima? ambil dong!" Michelle buka suara.


Pandangan Bima kini mengarah ke arah Michelle dan tersenyum tipis ke arah gadis itu. Senyum yang sangat dibenci oleh Ayunda karena senyuman itu bukan untuknya.


"Aku sudah sarapan. Jadi, makanan itu lebih baik kamu kasih pada orang yang belum sarapan. Lagian, aku tidak yakin kalau makanan itu layak makan karena dimasak oleh orang yang baru belajar masak," sahut Bima, lembut tapi tetap menyelipkan sebuah sindiran.


Mendengar penolakan Bima, Ayunda seketika mengerucutkan bibirnya dan wajahnya juga berubah sendu. "Kamu tenang saja, Bima. Makanan ini tentu saja sangat layak makan, karena kata mama, sangat enak. Aku jamin, kamu tidak akan kecewa," ucap Ayunda, yang kembali memperlihatkan raut wajah yang ceria.


"Tapi, aku khusus memasak untuk kamu. Setidaknya kamu ambil dan coba. Setelah itu kamu kasih penilaian. Kasih tahu aku, di mana kekurangannya. Biar setelah kita menikah nanti, aku sudah bisa memasak untuk kamu," ucap Ayunda yang sama sekali tidak peduli dengan tatapan sinis pemuda itu.


Bima mendengus dan menatap Ayunda dengan tatapan yang semakin dingin.


"Kita masih muda dan perjalanan ke depan masih panjang. Belum tentu kita akan menikah. Jadi stop berbicara masalah pernikahan!"


"Enak saja! aku yakin kalau kita pasti akan tetap menikah. Kamu tidak akan aku izinkan menikah dengan gadis lain!" nada bicara Ayunda terdengar berapi-api. Gadis itu benar tidak suka mendengar ucapan Bima.


"Tetap saja berharap sampai kamu jenuh nantinya. Kalau aku ... jujur saja, aku berharap kalau bukan kamu yang akan jadi pendampingku nantinya," pungkas Bima sembari melanjutkan langkahnya melewati tubuh Ayunda dan Michelle. Pemuda itu benar-benar tidak menerima kotak makanan dari Ayunda.


Ayunda tertunduk lemas. Gadis itu benar-benar kecewa, mendengar ucapan Bima yang memperlihatkan kalau pemuda itu sama sekali tidak menyukainya. Namun, bukan Ayunda namanya kalau dia akan langsung menangis dan larut dalam kesedihan mendengar ucapan sarkas dari mulut Bima. Baginya, sikap Bima sudah merupakan makanan dia sehari-hari.


Ayunda tiba-tiba berlari mengejar Bima dan berjalan di samping pemuda itu.


"Bim, kamu benar-benar tidak mau ambil makanan ini? apa kamu tega?" Ayunda mencoba membujuk Bima kembali, dengan memasang wajah memelas, berharap Bima berubah pikiran.


Bima sontak menghentikan langkahnya dan mengembuskan napas kesal lalu menoleh ke arah Ayunda.


"Sekali lagi aku mau mengatakan dengan jelas. Aku sudah sarapan tadi. Kalaupun aku menerimanya, kemungkinan makanan itu akan berakhir di tong sampah atau aku kasih pada orang lain. Jadi, tolong jangan paksa aku untuk menerimanya!" Bima berbicara dengan suara yang sangat pelan tapi penuh penekanan. Bukan tanpa alasan Bima merendahkan suaranya, itu dia lakukan karena pemuda itu masih menjaga harga diri Ayunda di depan para siswa yang melihat ke arah mereka. Nada bicara Bima memang sangat pelan, tapi benar-benar mampu menusuk hati Ayunda.


"Oh ya, aku mau mengingatkan kamu lagi, tolong berhenti jadi kurir makanan, karena aku sama sekali tidak terbiasa makan masakan yang bukan masakan mamaku!" pungkas Bima, seraya kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Ayunda yang mematung.


Kali ini Ayunda tidak berniat untuk mengejar Bima lagi. Wanita itu melangkah ke arah berlawanan dengan Bima menuju kelasnya sendiri, karena memang mereka berdua tidak satu jurusan.


Sementara itu Michelle yang dari tadi hanya bisa diam saja, tidak mengejar Ayunda. Wanita itu justru melangkah mengejar Bima.


Tbc