
Hari demi hari berganti begitu cepat. Tidak terasa sudah hampir setahun Bima, Bimo dam Michelle di Amerika. Dan selama itu pula banyak wanita yang berusaha menarik perhatian si kembar, terlebih Bima yang menurut mereka sangat misterius dan sulit ditaklukkan.
Setiap harinya Bima terlihat lebih sering mengasingkan diri di perpustakaan dari pada kumpul-kumpul tidak jelas. Seperti siang ini, pria itu terlihat fokus pada sebuah buku tebal mengenai cara berbisnis yang benar.
"Hai, Bima!" sapa seorang wanita, yang dari suaranya bisa dikenali kalau dia adalah Viona, wanita yang tidak pernah bosan melakukan pendekatan pada Bima.
Bima melirik Viona dan tidak membalas sedikitpun sapaan wanita itu.
"Boleh aku duduk di sini?" Viona yang memang tidak tahu malu, tidak peduli dengan sikap Bima yang jelas-jelas mengabaikannya.
"Ini tempat umum, dan siapaun bebas untuk duduk selagi kursi itu kosong," sahut Bima, dingin. Namun ucapan Bima, Viona anggap kalau pemuda itu sedang memberikan lampu hijau padanya, dengan mengizinkannya duduk.
Wanita itu dengan semangat langsung mendaratkan tubuhnya duduk di samping Bima. Namun di saat bersamaan, Bima justru berdiri dari tempat dia duduk dan melangkah pergi.
"Eh, Bima kenapa kamu malah pergi?" tanya Viona dengan kening berkerut.
"Kamu memang punya hak untuk duduk selagi kursi itu kosong, tapi aku juga punya hak untuk pergi selagi aku merasa kenyamananku terganggu," pungkas Bima seraya berlalu pergi.
"Sial! Lagi-lagi aku dicuekin. Tapi, aku tidak boleh menyerah. Aku harus lebih semangat mendekatinya. Kalau cara baik-baik tidak bisa, sepertinya aku harus menggunakan cara licik," Viona tersenyum licik menatap Bima yang sudah duduk di jarak yang lumayan jauh darinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa? kamu serius mau melakukan hal itu,Vio? Aku tidak mau melakukannya. Kalau kamu mau, kamu lakukan sendiri saja!" pekik Rini, setelah Viona mengungkapkan rencana liciknya.
"Apaan sih Rin? Kenapa kamu jadi pengecut seperti ini? Masa gitu aja kamu nggak berani?" protes Viona dengan raut wajah kesal.
"Itu sangat beresiko,Vio. Kita bisa benar-benar akan hancur kalau kita ketahuan!" Rini terlihat pucat.
"Kamu tenang saja, kali ini pasti akan berhasil. Aku sudah mengatur segalanya dengan baik. Kamu ikuti saja skenarioku,"
"Tapi, Vio ...aku __"
"Iya sih, tapi kan tidak harus dengan cara seperti ini, Vio." tampaknya Rini masih terlihat ragu-ragu.
"Kamu kenapa sih, jadi penakut begini Rin? Kamu tidak mau perjuanganmu kuliah di negara ini jadi sia-sia kan?" Viona mencoba mengingatkan Rini tujuan awal mereka datang ke negara itu.
Rini sontak terdiam beberapa saat, memikirkan ucapan Viona, barusa .
"Kamu benar juga, Vio. Sepertinya kita. Memang harus melakukannya," pungkas Rinj akhirnya setuju.
Senyum Viona sontak mengembang dengan sempurna mendengar kesanggupan Rini untuk melakukan rencana liciknya untuk mendapatkan pemuda idaman mereka masing-masing.
"Nah gitu dong? Jadi sekarang kita tinggal menunggu waktu yang tepat." pungkas Viona dengan wajah yang berbinar bahagia.
"Bagaimana kalau besok malam saja? Karena aku rasa itu adalah waktu yang tepat. Besok kan William mengundang kita ke acara ulang tahunnya. Dan yang aku dengar dia juga mengundang Bima dan Bimo serta perempuan menyebalkan itu!" Rini memasang wajah penuh kebencian dan merasa tidak sudi untuk menyebut nama Michelle.
Mata Viona sontak berbinar bahagia, mendengar saran yang diberikan oleh Rini.
"Itu benar-benar ide bagus, Rin! Di pesta William itu, kita juga bisa sekaligus menjatuhkan Michelle. Pasti akan menyenangkan melihat kehancuran perempuan menyebalkan itu nanti," sudut kanan bibir Viona naik sedikit ke atas membentuk senyuman sinis penuh kebencian.
"Tu-tunggu dulu! Jangan bilang kalau kamu juga ingin membuat jebakan padanya?" Rini tiba-tiba berubah panik.
"Pintar! emang itu rencananya,"
"Please, Viona, jangan bertindak bodoh yang bisa merugikan! Kamu tidak ingat ancaman dia dulu, yang bilang kalau kita sudah keterlaluan, bisa dipastikan papanya akan bertindak. Aku tidak mau papaku dipecat dari jabatannya, Vio. Jadi lebih baik kamu urungkan niat kamu yang satu itu!" belum benar terjadi, wajah Rini sudah benar-benar pucat membayangkan kalau papanya dipecat dari perusahaan papanya Michele.
"Kamu kenapa sih? Kamu tidak perlu panik, karena kita bisa bermain halus. Kamu tahu kan kalau si William itu sebenarnya diam-diam menyukai Michelle dan Michelle tahu benar akan perasaan William. Nah, dengan masalah itu, kita bisa kambing hitamkan William. Bagaimana? Aku pintar kan?" Viona menepuk dadanya, penuh bangga.
Wajah Rini yang tadinya pucat, tiba-tiba berbinar dan mengangguk-anggukan kepalanya. "Iya, kamu benar. Kamu memang benar-benar pintar,Vio! Aku setuju dengan rencanamu!"
Tbc