
Hari sudah berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah satu minggu sejak peristiwa Tristan diskors.
Hari ini adalah hari pertama anak laki-laki itu akan sekolah, namun dari tadi tidak tampak ada tanda-tanda kalau anak itu akan turun dari kamarnya.
"Tania, Kenapa Tristan dari tadi tidak turun dari kamarnya? bukannya harusnya hari ini dia sudah harus sekolah ya?" tanya Elva sembari melirik ke arah pintu.
Raut wajah Tania terlihat pucat, bahkan wanita itu tampak kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.
"Emm, hari ini Tristan belum bisa masuk sekolah, Ma. Karena badannya tiba-tiba panas," sahut Tania dengan nada suara yang sedikit bergetar.
Elva tampak panik mendengar Tristan cucunya sakit, tapi tidak demikian dengan Bara. " Tristan sakit? kalau begitu kamu cepat habiskan sarapan kamu. Jangan santai seperti itu. Setelah itu, nanti kita harus membawanya ke rumah sakit. Mama tidak mau terjadi apa-apa dengan cucu Mama," ucap Elva di sela-sela rasa paniknya.
Bukannya merasa bahagia mendengar perhatian mertuanya, Raut wanita Tania terlihat semakin pucat.
"Ti-tidak perlu, Ma. Tadi aku sudah kasih obat demam. Sebentar lagi pasti akan baik-baik saja," tolak Tania dengan cepat.
Elva yang hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, langsung mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali sendok di tangannya ke piring.
"Apa kamu yakin?" tanya Elva memastikan.
"Iya, Ma tentu saja aku yakin," sahut Tania, mantap.
"Dia benar-benar sakit, atau karena tugasnya belum selesai, Tante?" celetuk Bima tiba-tiba setelah meneguk satu gelas air minumnya.
Mendengar celetukan Bima, mata Elva dan Bara, sontak menoleh ke arah Tania, dengan tatapan penuh tanya, meminta penjelasan.
"Sial, kenapa dia bisa bertanya seperti itu? apa karena dia tahu kalau tugas Tristan memang belum selesai? kalau saja buku yang berisi tugasnya itu tidak hilang, pasti aku tidak akan gugup sekarang," Tania menggerutu dalam hati.
"Tania, kenapa kamu diam? harusnya kamu menjawab apa yang ditanya oleh Bimo. Apa karena tugas-tugas Tristan belum selesai makanya dia tidak sekolah?" ulang Elva lagi, untuk memastikan.
"Emm, te-tentu saja tidak, Ma. Tristan memang benar-benar sedang sakit sekarang. Buat apa aku berbohong?" sahut Tania dengan suara yang bergetar.
"Tapi, kenyataannya Tante sedang berbohong. Tristan sama sekali tidak sakit, tapi buku tugasnya hilang entah di mana. Aku tahu Tan, Tante membawa buku tugas itu dan membayar seseorang untuk menyelesaikannya. Tante terlalu senang, akhirnya karena tugas-tugas Tristan selesai, tapi saking senangnya, Tante lupa menaruhnya di mana," tutur Bima panjang lebar, tanpa jeda dan membuat wajah Tania berubah pucat seketika.
"Kamu jangan asal bicara! kamu benar-benar sudah terlalu jauh ikut campur. Jangan asal bicara kalau kamu tidak punya bukti," bentak Tania dengan sengaja meninggikan suaranya.
Bima tersenyum, dan merogoh ponselnya. Kemudian anak laki-laki itu, menunjukkan video rekaman di mana dia sedang dalam keadaan panik mencari-cari buku Tristan tadi malam dan saat itu, wanita itu keceplosan melontarkan kata, di mana dia merasa rugi sudah membayar orang mahal-mahal untuk menyelesaikan tugas-tugas Tristan.
"Tania! apa-apaan ini? kamu benar-benar bukan seorang ibu yang baik! kamu tahu tidak, yang kamu lakukan itu justru membuat Tristan semakin bodoh. Harusnya kamu mengarahkan dia ke arah yang baik!" Elva terlihat benar-benar murka.
"Ayo, Bimo kita harus berangkat sekarang! nanti kamu bisa telat," imbuh Bara lagi sembari beranjak pergi meninggalkan Tania yang mengepalkan tangannya di bawah meja.
Sementara itu, Elva hanya bisa mengembuskan napas, pasrah, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa yang kamu lakukan memang benar-benar sudah tidak bisa ditolerir, Tania. Mama sudah pasrah dan tidak bisa membantu kamu lagi untuk bisa meyakinkan Bara kalau kamu adalah istri yang baik untuknya. Karena selama ini, yang mama lihat kamu tidak punya usaha untuk mengambil hati Bara," ucap Elva. Sementara itu, Tania hanya bisa menundukkan kepalanya, tidak menanggapi ucapan mertuanya.
"Kamu dari dulu tidak pernah sekalipun berusaha untuk membuat sarapan untuk suamimu, kamu juga selalu mengabaikan kepentingan suamimu. Nah, ditambah sekarang, kamu tidak bisa mendidik anak kalian dengan baik. Bagaimana bisa kamu berharap kalau Bara bisa mencintaimu?" imbuh Elva lagi dan Tania masih tetap mendengar dengan kepala yang tertunduk.
"Sudahlah! Mama sudah capek. Mama mau pergi dulu!" pungkas Elva sembari beranjak pergi meninggalkan Tania.
Setelah mama mertuanya pergi, Tania baru mengangkat wajahnya. Tampak raut wajahnya sudah memerah karena sudah dipenuhi dengan amarah.
"Cih, aku bukan pembantu yang harus menyiapkan makanan dan segala keperluan anakmu! enak saja dia," umpat Tania. "Arghhh, ini semua karena anak pungut itu! sepertinya mulai sekarang aku hai lebih hati-hati dalam melakukan tindakan apapun. Dia sepertinya sudah mulai memata-mataiku," gumam Tania lagi, sembari beranjak pergi meninggalkan ruang makan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu baik-baik belajar, nanti Papa akan jemput sesuai janji, Papa," ucap Bara sebelum Bima benar-benar turun dari dalam mobil.
Ya, hari ini Bima meminta papanya itu untuk mengantar dan menjemputnya ke sekolah. Dan karena Bara juga tidak terlalu banyak kesibukan, dengan senang hati mengiyakan permintaan putranya itu.
"Siap, Pa! hati-hati di jalan!" Bara menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan anaknya. Kemudian setelah Bima berjalan memasuki area sekolah, Bara pun menjalankan kembali mobilnya.
Bima melangkah masuk, dengan sangat semangat mengingat akan rencananya hari ini. Saking semangatnya, bibir anak kecil itu tidak berhenti untuk tersenyum.
"Pagi, Bimo! sepertinya kamu sedang senang, apa benar?" sapa Michelle yang dari tadi sudah menunggunya.
"Oh,iya. Pagi juga, Michelle! aku kan memang selalu senang setiap hari?" sahut Bima santai dan senyumnya terlihat lepas tanpa adanya tekanan.
"Tapi hari ini tampak sangat berbeda. Oh ya, di mana Tristan? bukannya seharusnya hari ini dia sudah harus sekolah?" tanya Michelle sembari mengarahkan tatapannya ke arah pintu masuk.
"Oh, seharusnya sih seperti itu. Tapi sepertinya dia masih belum puas untuk menghabiskan waktu di rumah. Hari ini dia tidak masuk," sahut Bima santai.
"Wah, berarti dia senang dengan hukumannya. Kok bisa ya?" Bima mengangkat bahunya, sebagai jawaban atas kebingungan Michelle.
Bima kemudian tersenyum misterius, sembari menaruh tasnya di atas meja. Bagaimana tidak, sebenarnya buku Tristan tidak hilang. Tapi dia yang meminta Pak Jono untuk mengambil buku itu dari dalam mobil Tania, saat wanita itu lupa membawa buku itu masuk ke rumah. Karena sejak awal dia memang sudah tahu akan rencana Tania.
tbc