
"Bima, tunggu dulu!" Michelle berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Bima yang panjang.
Merasa Michelle memanggilnya,Bima sontak menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh ke arah Michelle.
"Ada, Chel?" nada suara Bima benar-benar berbeda kalau sedang berbicara dengan Michelle. Sangat jauh berbeda dibandingkan dengan Ayunda.
"Kamu kenapa sih tidak bisa bersikap lembut pada Ayu? kamu tidak seharusnya memperlakukannya seperti tadi
Menurutku tidak ada salahnya kalau kamu menerima makanan yang sudah susah payah dia masak untukmu. Kalaupun kamu belum bisa mencintainya, setidaknya kamu hargai usahanya," tutur Michelle panjang lebar, tanpa jeda.
Mendengar penuturan Michelle, Bima menghela napasnya dengan sekali hentakan dan cukup berat. Pemuda itu kemudian kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ruang kelasnya.
"Bima, kamu mendengar ucapanku nggak sih?" pekik Michelle, kesal merasa diabadikan kembaran Bimo itu.
Bima lagi-lagi menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Michelle.
"Chell,aku tidak bisa bermuka dua. Aku mengatakan dan menunjukkan sikap sesuai dengan yang aku rasakan. Aku tidak pintar, bahkan mungkin tidak bisa berpura-pura seakan-akan aku menyukai sikap Ayunda yang menurutku berlebihan dan menyebalkan. Jadi, maaf kalau sikapku membuatmu ikutan kesal!" sahut Bima, akhirnya.
"Tapi, setidaknya kamu hargai usaha Ayunda, Bima. Aku rasa itu bukan hal yang berat,"
"Mungkin tidak berat untukmu tapi cukup berat untukku. Aku pusing dan merasa terganggu dengan sikapnya yang seakan-akan sudah mempatenkan kalau aku ini benar-benar miliknya." Bima diam sejenak untuk mengambil jedah sekaligus untuk mengambil napas.
"Ah, sudahlah! sekarang kamu lebih baik kembali ke kelasmu, karena sebentar lagi proses belajar akan dimulai. Kamu nanti bisa telat masuk kelas kalau kamu masih mengurusi Ayunda!" lanjut Bima kembali sembari beranjak pergi meninggalkan Michelle.
Di saat bersamaan, tanpa mereka sadari ada dua pasang telinga yang mendengar semua yang mereka bicarakan. Pemilik dua pasang telinga itu adalah dua orang wanita, satu kelas dengan Ayunda dan bisa dipastikan kalau dua wanita itu sangat membenci Ayunda.
Sudut bibir salah satu dari wanita itu terlihat sedikit naik ke atas, membentuk senyuman sinis.
"Ternyata, Bima sama sekali tidak menyukai wanita belagu itu. Dia ternyata murahan, yang seenak jidatnya mengklaim Bima miliknya. Dasar perempuan tidak tahu diri!" umpat wanita itu, masih dengan lengkungan bibir yang sinis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bel tanda jam istirahat sudah berbunyi. Tampak Ayunda memasukkan buku-bukunya ke dalam tas,dan bersiap hendak pergi ke kantin karena dia yakin kalau Bima pasti aka. ke kantin bersama dengan Bimo dan Tristan.
"Ayo, Chel!" ajak Ayunda pada Michelle yang merupakan teman satu mejanya.
"Iya, sebentar! aku masukan buku-buku dulu ke dalam tas!" Sahut Michele dengan tangan yang cekatan menyimpan buku-buku yang baru saja selesai digunakannya.
Di saat Michelle sudah hampir selesai menyimpan buku-bukunya, tiba-tiba dua orang wanita yang juga merupakan teman sekelas mereka, berdiri di depan Michelle dan Ayunda.
"Wah, wah, pasti perempuan murahan ini mau ke kantin mau nemuin Bima. Iya kan? padahal sama sekali tidak pernah digubris. Kasihan!" ledek salah satu dari wanita itu yang memiliki nama Viona itu.
"Maksud kamu apa?" mata Ayunda menatap Viona dengan tatapan yang sangat tajam.
"Cih, masih juga berpura-pura tidak mengerti. Aku yakin, kalau kamu sudah tahu apa maksudku?" Viona berdecih dan mendengkus, menatap Ayunda dengan tatapan sinis dan merendahkan.
"Kamu jangan coba-coba cari ribut ya! sekarang jelaskan apa maksud ucapanmu tadi?" Ayunda terlihat mulai terpancing.
"Asal kamu tahu, aku sudah tahu kalau Bima sama sekali tidak pernah mencintaimu. Kamu yang kegatelan mendekati dia terus dan mengklaim dia milikmu. Bukannya itu murahan? kamu sudah diabaikan tapi masih tetap nyosor. Sikapmu benar-benar memalukan dan murahan!" ucap Viona dengan raut wajah sinis mengarah ke bengis.
Ayunda menggeram seraya mengepalkan tangannya dengan sangat kencang. Wajah gadis itu terlihat memerah karena amarahnya benar-benar sudah sampai ke ubun-ubun.
"Jaga mulutmu! Beraninya kamu mengatakan aku murahan. Kamu yang murahan! apa kamu sudah tidak sayang wajah dan mulutmu lagi? apa kamu mau, aku membuat wajahmu hancur dan mulutmu robek?" nada bicara Ayunda mulai meninggi dan mulai mendekati Viona.
Melihat kemarahan Ayunda, Michelle dengan sigap langsung menahan tubuh Ayunda sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayu, tolong kendalikan emosimu! jangan terpengaruh dengan ucapan mereka. Anggap saja angin lalu!" ucap Michelle berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Setelah melihat Ayunda yang sudah mulai tenang, Michelle kemudian berbalik menoleh ke arah Viona.
"Kamu masih mau tetap di sini atau tetap di sini? kalau kamu memilih untuk tetap di sini, jangan salahkan aku, kalau aku juga akan turun tangan merobek mulutmu itu!" ucap Michelle dengan nada dingin.
Mendengar ancaman Michelle, Viona dan temannya tadi, mendengus kesal. Tapi, mereka berdua tidak ada yang berani membantah Michelle karena mereka tahu kalau Michelle adalah putri dari pemilik perusahaan tempat papa mereka bekerja. Dengan hati yang sangat dongkol, Vino dan temannya langsung berbalik dan berlalu pergi.
"Mereka sudah pergi, Yu. Ayo kita ke kantin dan jangan dengar ucapan mereka?" ucap Michelle sembari melemparkan senyum manisnya pada Ayunda.
Ayunda sama sekali tidak membalas senyum Michelle. Gadis itu tiba-tiba duduk kembali di kursinya dan kehilangan semangat untuk pergi ke kantin. Raut wajah Ayunda juga tampak sangat sendu, jauh dari sikapnya yang selalu terlihat ceria selama ini. Sikap yang ditunjukkan oleh Ayunda tentu saja membuat Michelle mengerucutkan kening.
"Apa menurutmu, sikapku selama ini memang murahan, Chel? apa salah kalau seorang perempuan mengekspresikan rasa cintanya pada seorang pria? kenapa seorang wanita yang mengekspresikan cintanya lebih dulu pada seorang pria dianggap murahan, Chel? bukannya, cinta itu harus ditunjukkan dan diperjuangkan ya? apa salah kalau seorang wanita yang lebih keras memperjuangkan cintanya?" tanya Ayunda beruntun dengan nada suara yang lirih.
Michelle terdiam, tidak bisa memberikan jawaban, karena wanita itu sendiri juga tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan Ayunda.
"Kenapa kamu diam, Chel? apa itu tandanya kamu juga merasa kalau aku memang murahan dan hanya saja kamu merasa tidak enak untuk mengatakannya?" tanya Ayunda lagi, karena tidak mendapat jawaban dari sahabatnya itu.
Michelle, menggelengkan kepalanya dan terlihat melemparkan seulas senyuman pada Ayunda.
"Kamu jangan berpikir macam-macam,Ayu! Kamu itu tidak murahan kok. Kamu benar, kalau cinta itu memang perlu diperjuangkan, tanpa melihat gender. Semua punya hak!" sahut Michelle dengan bijaksana.
"Tapi, entah kenapa aku merasa sudah lelah untuk berjuang, Chell. Aku merasa, sekeras apapun aku berjuang hasilnya akan sia-sia. Karena kamu tahu sendiri kalau aku sudah sangat lama berjuang, tapi hasilnya selalu nihil. Aku merasa kalau aku sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan cintanya. Aku capek, Chel ... aku benar-benar capek!" tutur Ayunda dengan nada putus asa.
Tbc