
Salena dan Renata berjalan di koridor sekolah hendak menuju pintu gerbang, karena memang sudah saatnya mereka untuk pulang.
"Sebulan lagi kita akan lulus dari sekolah ini, kamu rencananya akan kuliah di mana, Ren?" tanya Salena, basa-basi
Renata terdiam. Wajah wanita cantik itu tiba-tiba sendu, karena ada sesuatu hal yang membuatnya sedih.
"Ren, kenapa kamu diam?" tanya Salena dengan kening berkerut.
"Oh, a-aku belum tahu mau kuliah di mana, Len. Soalnya kamu tahu sendiri kondisi keluargaku bagaimana,"
"Emm, bukannya kamu sudah ikut seleksi untuk mendapatkan Bea siswa?" tanya Salena lagi.
" Iya, sudah! tapi kan hasilnya belum keluar,"
"Iya, ya! tapi aku yakin kalau kamu akan lulus seleksi. Kamu tetap semangat ya?"
Renata tersenyum dan mengangukkan kepalanya. "Amin, terima kasih ya, Len!" ucap Renata, tulus.
"Walaupun aku bisa mendapatkan Bea siswa itu, mungkin aku tetap tidak akan bisa melanjutkan kuliahku, Salena," ucap Renata yang hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.
Salena tersenyum manis dan mengangukkan kepalanya, mengiyakan.
"Kalau kamu sendiri akan melanjutkan kuliah di mana? pasti di luar negri kan?" tebak Renata dan Salena menggelengkan kepalanya.
"Aku tetap di Indonesia karena kata Papa aku akan menikah dengan Kak Tristan," mata Salena, berbinar, membayangkan pernikahannya.
" Apa? menikah!" Renata tiba-tiba berhenti melangkah saking kagetnya mendengar ucapan sahabatnya itu.
" Iya, emangnya kenapa? apa ada yang salah?" Salena sebenarnya sudah bisa menebak akan mendapatkan reaksi kaget dari Renata sahabatnya, makanya dia tetap santai.
"Tidak ada yang salah sih. Tapi bukannya kamu merasa kalau kamu itu masih terlalu muda untuk menikah?" nada bicara Renata kembali normal dan dia pun kembali melangkah.
"Emm, iya sih. Tapi menurutku Kak Tristan adalah pria yang tepat, jadi tidak ada gunanya lagi aku menunda. Lagian, kalau sudah menikah, kami juga tidak akan langsung buru-buru untuk punya anak. Setelah aku lulus kuliah, baru kami akan memikirkan untuk punya anak," tutur Salena, kembali tersenyum.
Renata kini tidak menyahut lagi karena dia yakin kalau sahabatnya itu pasti sudah memperhitungkan semuanya, makanya dia berani untuk mengambil keputusan untuk menikah.
"Benar juga sih? Kak Tristan itu sudah mapan, baik, lembut, perhatian. Kalaupun mereka menikah nanti, mereka juga tidak akan pernah ribut karena masalah ekonomi kan? Lagian, mereka juga sepertinya sudah memikirkan untuk menunda anak, jadi mental Salena akan tetap terjaga, sampai dia siap menjadi seorang ibu nantinya," bisik Renata pada dirinya sendiri.
Jarak pintu pagar lebih kurang tinggal 5 langkah lagi, tapi langkah kedua gadis itu harus berhenti tiba-tiba karena dua orang yang sangat ingin dihindari oleh Salena menghadang jalan mereka. Siapa lagi ke dua orang itu kalau bukan Reno mantan pacarnya dan Farah.
"Ada apa lagi? urusan kita sudah selesai bukan?" Salena menatap sinis ke arah Reno dan Farah.
"Salena, aku tahu kalau apa yang aku lakukan itu sangat keterlaluan, tapi tolong maafkan aku! aku melakukannya karena kamu melukai harga diriku. Aku tanpa sengaja mendengar kalau kamu menerima pernyataan cintaku, karena kasihan dan kamu tidak ingin mempermalukanku di depan teman-temanku. Aku juga kesal, karena kamu itu pacarku tapi kita seperti tidak sedang berpacaran. Kita tidak pernah nge-date, kita jarang beduaan, dan berbagi cerita seperti layaknya orang pacaran. Setiap berbicara di telepon juga, belum Lima menit kamu sudah bosan. Aku benar-benar kesal akan hal itu, Salena!" ucap Reno, panjang lebar dan wajah memelas.
"Oh, jadi menurutmu karena hal itu, apa yang hampir saja kamu lakukan padaku itu bisa dibenarkan? itu benar-benar bejat, Reno!"
"Aku tahu ... aku tahu kalau itu bejat, Salena. Tapi aku mohon tolong maafkan aku!" mohon Reno.
"Aku sudah memaafkanmu, tapi, maaf sekali ... walaupun aku sudah memaafkanmu, tetap saja aku tetap tidak mau berhubungan dengan kamu lagi. Jadi, tolong menyingkir dari depanku, karena aku mau pulang!" suara Salena terdengar tegas dan penuh tekanan.
"Salena, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi, tapi aku mohon, tolong minta pada papamu agar meminta perusahaan Prayoga, kembali berinvestasi ke perusahaan papaku. Setiap hari, aku dikatakan anak pembawa sial, oleh Papa dan mamaku Salena. Mereka mengatakan karena ulahku, perusahaan papaku, berada di ambang kehancuran. Banyak perusahaan yang tidak mau bekerja sama lagi dengan perusahaan papaku. Aku mohon Salena, tolong bujuk papa kamu!" Reno benar-benar sudah tidak peduli dengan harga dirinya lagi. Pria itu memelas sembari menangkupkan kedua tangannya.
"Aku juga minta maaf, Salena. Karena kejadian itu, papaku diturunkan dari jabatannya. Papaku tidak tahu menyahut dengan apa yang sudah aku perbuat selama ini, tapi karena aku, semuanya jadi hancur," Farah yang dari tadi diam saja, ikut buka suara menimpali permintaan maaf Reno.
Salena tercenung. Sebenarnya dia merasa kasihan pada dua orang yang memohon-mohon di depannya itu. Tapi, mengingat apa yang hendak mereka lakukan sebulan yang lalu, menurutnya hukuman yang didapat keduanya, itu memang pantas. Karena seandainya Tristan tidak datang tepat waktu, ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada dirinya sekarang.
"Ayo, Renata!" Salena meraih tangan Renata dan mereka berdua kembali melanjutkan langkah mereka.
Baru saja mereka berdua keluar dari pagar, sebuah mobil yang sangat dikenali oleh Renata berhenti tepat di depan mereka. Siapa lagi pemilik mobil itu kalau bukan Arya. Sepertinya pemuda itu masih belum menyerah untuk mendapatkan hati Salena. Dia berprinsip 'sebelum janur melengkung, tidak ada salahnya tetap berusaha'.
"Ayo, Salena naik! aku akan antar kamu pulang!" ucap Arya sembari membuka pintu untuk Salena.
"Maaf, Kak, aku tidak bisa. Seperti biasa aku akan menunggu Kak Tristan," tolak Salena dengan halus.
"Ayolah, nanti kamu bisa hubungi dia ... bilang kalau dia tidak perlu jemput kamu, karena kamu sudah pulang denganku. Aku rasa dia tidak akan masalah dengan hal itu," Arya masih berusaha untuk membujuk.
"Sekali lagi, maaf Kak! aku tidak mau nanti gara-gara aku pulang dengan kakak, aku jadi berantem dengan Kak Tristan,"
"Kenapa kamu harus takut dia marah?"
"Karena dia calon suamiku," ucap Salena tegas.
Arya merasa sesuatu kembali menusuk hatinya mendengar ucapan Salena. Namun, dia masih berusaha untuk bersikap biasa.
"Salena, kamu itu masih sangat muda untuk mengatakan seseorang calon suamimu. Aku rasa kamu lebih baik kuliah dulu dari pada menikah. Karena menikah muda itu__"
"Kak Arya tolong berhenti mencoba untuk merubah pikiranku, karena apapun yang kakak katakan tidak ada pengaruhnya untukku!" potong Salena dengan cepat.
" Aku tahu kalau sebenarnya kakak menyukaiku, tapi maaf sekali, Kak, sepertinya aku harus tegas mengatakan kalau aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada kakak. Hatiku sepenuhnya sudah diisi dengan nama Kak Tristan. Jadi, sekeras apapun Kakak berusaha, itu akan sia-sia. Maaf, sekali lagi, Kak!" sambung Salena kembali, membuat Arya terdiam seribu bahasa. Ketegasan Salena barusan benar-benar menegaskan kalau sepertinya dia memang sudah tidak punya kesempatan lagi.
Bersamaan dengan ucapan tegas Salena, mobil yang dikemudikan oleh Tristan berhenti di dekat mereka.
Tristan keluar dari dalam mobil dan menghampiri Salena, Arya dan Renata.
"Eh, Arya? kamu ngapain di sini?" sapa Tristan, pura-pura tidak tahu.
"Aku mau menjemput Salena, tapi seperti biasa dia menolakku. Aku bingung, apa kurangnya aku dibandingkan kamu," jawab Arya yang merasa tidak ada gunanya untuk berbohong.
Tristan tersenyum tipis dan menepuk-nepuk pundak pemuda yang merupakan adik ipar dari Bima itu. "Jawabannya cuma satu, pesonamu masih kalah dengan pesonaku,"
"Sialan kamu!" umpat Arya, kesal yang disambut dengan tawa kecil oleh Tristan. Sebenarnya dia sedikit kesal melihat Arya yang masih tetap berniat mendekati Salena, walaupun pria itu sudah tahu kalau Salena sudah dijodohkan dengannya, tapi menurutnya tidak ada guna kalau dia marah-marah, karena itu bukan gambaran pria sejati.
Tristan kemudian menoleh ke arah Salena dan tersenyum ke arah gadis itu.
"Salena, maaf ya, Kakak terlambat lagi! kamu mau pulang sekarang?"
Salena balas tersenyum dan mengangukkan kepalanya.
"Ya udah, ayo pulang!" Tristan melangkah ke mobilnya disusul oleh Salena yang tentu saja sudah lebih dulu pamit pada Renata.
Salena kemudian masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah lebih dulu dibuka oleh Tristan. Tidak menunggu lama, mobil yang dikemudikan oleh Tristan itu pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Arya dan Renata.
"Maaf, Kali ini aku tidak bisa mengantarkan kamu pulang!" ucap Arya, dengan nada dingin.
"Dan aku tidak memintamu untuk mengantarkanku pulang!" cetus Renata sembari beranjak pergi meninggalkan Arya yang menggeram kesal.
tbc