Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Clara sadar


Clara mengerjap-erjapkan matanya, pertanda kalau wanita itu akan siuman. Benar saja,mata wanita itu mulai terbuka yang diiringi dengan suara lenguhan lirih.


"Ma,Mama sudah bangun?" tanya Bima dengan ekspresi wajah lega.


Clara tidak menjawab sama sekali. Wanita itu justru mengusap-usap matanya, menatap Bima dan Bimo bergantian kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar. Pikiran wanita itu masih mengambang, jadi ketika dia melihat ada Bara, Elva di rumahnya merasa kalau dirinya sedang berhalusinasi.


"Kenapa apa dua Bima? kenapa aku melihat ada wajah mas Bara dan Tante Elva di sini? aku sebenarnya lagi di mana? ini rumahku kan?" tanya Clara beruntun dengan mata yang memicing melihat ke sekitar.


Plakk


Saking gemasnya, Arumi melayangkan tangannya, memberikan pukulan di lengan Clara.


"Arumi, kenapa kamu memukulku?" protest Clara sembari mengelus-elus lengan,bekas di mana sahabatnya itu memukul.


"Makanya, sadar dong! ya, ini tentu saja di rumahmu,dan memang ada Bara dan Tante Elva. Buka matamu lebar-lebar!"Arumi mendorong kening Clara dengan pelan.


Mata Clara sontak membesar, mendengar ucapan Arumi. Wanita itu sontak kembali menoleh kembali ke arah Bara yang tersenyum tipis ke arahnya. Lalu tatapannya juga beralih ke arah Elva yang menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah. Namun, rasa kagetnya hanya bertahan beberapa saat. Detik berikutnya, ingatan Clara sontak mengingat kalau tadi dia melihat ada dua wajah anak kecil yang memiliki wajah yang sama. Tanpa menunggu lama, pandangan Clara langsung beralih ke arah si kembar.


"Bima ... kenapa kamu bisa ada dua?" tanya Clara pada Bimo. Clara tentu saja mengenal dari pakaian yang dipakai oleh Bimo ketika keluar dengan Arumi tadi.


"Maaf, Ma. Mama salah orang. Aku Bima bukan dia!" celetuk Bima yang asli.


Clara bergeming, beralih menatap ke arah anak kecil yang mengaku bernama Bima.


"Kamu jangan mencoba mempermainkanku! aku mengenal betul anakku. Dia Bima bukan kamu. Ini adalah pakaian yang aku beli, dan aku sama sekali tidak pernah membeli pakaian seperti yang kamu pakai itu!" Clara menunjuk ke arah pakaian yang dipakai oleh Bima.


Bima menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara.


"Mada Mama mengenal anak mama hanya dari pakaian saja? berarti mama tidak mengenal dengan dalam, anak mama sendiri, tapi hanya mengenal pakaian saja. Bagaimana kalau seandainya kami bertukar pakaian? apa Mama tetap tidak bisa mengenal yang mana Bima dan yang mana Bimo?" ucap Bima yang dengan sengaja menyebut nama Bimo.


"Tu-tunggu! tadi kamu sebut nama siapa? Bi-Bimo?" suara Clara terdengar bergetar.


Bima menganggukkan kepalanya, mengiyakan. "Iya,Bimo. Mama tahu, anak yang Mama panggil Bima itu adalah Bimo, sedangkan aku Bima," ucap Bima tegas dan lugas.


Clara tercenung dengan mulut yang sedikit terbuka. Mata wanita itu, dengan perlahan mulai bergerak untuk menatap ke arah Bimo.


"Ka-kamu benar-benar Bimo?" tanya Clara memastikan dengan suara yang bergetar dan mata yang sudah berembun.


Bimo sama sekali tidak menjawab. Anak kecil itu, hanya menganggukkan kepala mengiyakan.


Kedua tangan Clara terulur dan bergetar untuk menyentuh wajah Bimo. Air mata yang tadinya berusaha dia tahan, akhirnya berhasil lolos membasahi pipi putihnya.


"Ka-kamu masih hidup,Nak?" lagi-lagi Bimo menganggukkan kepalanya.


Clara sontak meraih tubuh Bimo,mendekap tubuh anak itu dengan sangat erat dan berulang kali mencium pipi,. puncak kepala Bimo dengan bertubi-tubi.


"Kamu tahu mama selama ini mencarimu,Nak. Mama tidak pernah berhenti berdoa dan berharap agar kamu baik-baik saja dan Mama bisa bertemu denganmu Sekarang doa mama terkabul, kamu benar-benar ada di depan Mama sekarang," Clara kembali memeluk erat tubuh Bimo setelah dia menyelesaikan ucapannya.


"Aku sudah bersama dengan mama, selama hampir sebulan ini,tapi Mama sama sekali tidak menyadarinya," ucapan Bimo barusan sontak membuat Clara tersentak kaget.


"Ma-maksudnya apa?" tanya Clara dengan nada suara yang terbata-bata.


"Dan selama itu kamu merahasiakannya dari Mama? kenapa kamu tega, Nak? padahal kamu tahu sendiri kalau aku sangat merindukanmu,"


"Maaf, Ma. Sebenarnya aku ingin kasih tahu, tapi aku dan Bima memutuskan tutup mulut untuk sementara karena ada sesuatu hal yang harus kami lakukan. Oh ya,saat itu Mama bilang kalau Mama berharap Bimo berada di orang yang tepat kan Ma? Ya Bimo benar-benar berada di tangan orang yang tepat Ma. Mama tahu siapa orang itu?"


Clara menggelengkan kepalanya perlahan.


"Aku berada di tangan papaku sendiri. Papa yang menemukanku di taman dan memutuskan untuk merawatku," terang Bimo kembali membuat Clara semakin tersentak kaget.


Setelah rasa kagetnya sedikit lega, Clara mengalihkan tatapannya ke arah Bara yang senyumnya tidak pernah memudar.


"Bimo benar. Aku yang menemukannya dulu dan aku memutuskan untuk membesarkannya. Aku sama sekali tidak tahu Kalau dia anak kandungku sampai akhirnya__"


"Tu-tunggu, jadi kamu sudah tahu kalau mereka anak kandungmu?" belum selesai Bara bicara, Clara sudah lebih dulu menyela dengan ekspresi panik yang bercampur dengan rasa takut.


Clara tiba-tiba menarik tubuh Bima dan Bimo, ke arahnya dan langsung memeluk keduanya dengan sangat erat ketika melihat Bara menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Jadi,apa maksudmu datang ke sini? kamu tidak akan mengambil mereka dariku kan? kamu ke sini ingin mengembalikan Bimo padaku kan? tolong kembalikan Bimo dan jangan ambil mereka dariku. Kamu punya harta berlimpah,kamu juga sudah punya istri dan anak, jadi tolong jangan ambil mereka dariku. Jangan pisahkan aku lagi dengan Bimo!" cerocos Clara tiada henti tanpa memberikan kesempatan pada Bara untuk bicara.


"Cla, kamu tenang dulu! Aku tidak akan__"


Bara berhenti bicara, karena tiba-tiba Clara sudah berdiri di depannya dan mencengkram tangannya dengan erat.


"Aku mohon, Mas,jangan ambil mereka. Kamu sudah punya segalanya sedangkan aku ... yang kupunya hanya mereka. Aku janji tidak akan meminta apapun darimu dan tidak akan menuntut hak mereka. Aku juga berjanji kalau aku akan tetap menyekolahkan mereka di sekolah yang bagus. Aku sanggup untuk itu. Percayalah!" Clara terus saja berceloteh, membuat Bara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Clara kemudian melepaskan tangan Bara dan menghambur ke arah Elva. "Tante ... Tante tidak akan mengambil Bima dan Bimo dariku kan? aku bisa terima dan kuat ketika harus bercerai dengan mas Bara, tapi aku tidak bisa jamin kalau aku bisa kuat, kalau nantinya Tante mengambil Bima dan Bimo dariku. Aku bisa gila dan mati, Tante. Hanya mereka hartaku. Tante tidak akan mengambil mereka kan? Tante kan sudah punya cucu dan menantu, Tante bisa punya cucu sebanyak yang Tante mau dan aku juga sudah berjanji tidak akan menggangu rumah tangga mas Bara, tapi tolong jangan ambil dua anakku!" Clara kembali memohonkan dengan air mata, yang tidak berhenti menetes.


Melihat ketakutan Clara, membuat Elva juga akhirnya tidak bisa untuk tidak menangis. Wanita itu menyadari kalau Clara takut untuk kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kali.


"Clara, tenanglah! itu semua tidak akan terjadi!"Arumi mencoba meraih tubuh Clara, tapi Clara dengan cepat menepis tangan sahabatnya itu.


"Jangan pegang aku, Rumi! nanti mereka bisa membawa Bima dan Bimo dariku!"ucap Clara yang semakin ngawur.


"CLARA! DIAMLAH!" bentak Arumi akhirnya dengan suara yang sangat tinggi.


Mendengar suara Arumi yang menggelegar, membuat Clara sontak terdiam.


"Kamu tarik napas dulu dan keluarkan!" titah Arumi dan Clarapun melakukan berkali-kali sesuai arahan Arumi.


"Bagaimana? kamu sudah merasa tenang?" tanya Arumi lagi dan Clara mengangguk, mengiyakan.


"Clara, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak ya! Kamu tidak akan kehilangan si kembar lagi. Mereka berdua akan selalu bersamamu. Bara dan Tante Elva tidak akan mengambilnya darimu," ucap Arumi dengan perlahan setelah melihat sahabatnya itu tenang.


"Dan kalaupun mereka tinggal di rumahku,kamu juga akan ikut dengan kami," celetuk Bara, menimpali ucapan Arumi dengan tegas.


Clara sontak menatap Bara dengan alis bertaut tajam,gagal paham dengan maksud perkataan Bara barusan.


Sementara itu, Bara yang sedikit merasa grogi melihat tatapan Clara, mengalihkan tatapannya ke arah lain. Tanpa sadar mata Bara melihat dua buket bunga yang sangat dia kenal, tergeletak di atas sofa. Sepertinya Clara lupa atau belum memindahkan bunga itu dari kemarin.


tbc