Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Hukuman buat Viona dan Rini.


Sementara itu Viona dan Rini yang merasa diri mereka ada dalam bahaya, terlihat adu mulut saling menyalahkan.


"Ini semua gara-gara kamu Viona! Aku sudah mengingatkanmu untuk tidak macam-macam, tapi kamu tetap tidak mau dengar!"


"Hei, jangan menyalahkanku! Kamu juga bersemangat kan tadi malam?" Viona tidak mau disalahkan sendiri.


"Tapi tetap saja ini salahmu! coba kalau kamu tidak punya ide itu, kita tidak akan seperti ini!" suara Rini,mulai meninggi.


"Diam!" bentak Michelle dengan suara yang tinggi. Untuk pertama kalinya Bimo melihat Michelle marah dan mendengar suara Michelle yang keras.


"Astaga, ternyata dia cukup menyeramkan kalau marah!" batin Bimo, sembari bergidik.


Sementara itu, Viona dan Rini juga sontak terdiam bergutu mendengar suara bentakan Michelle.


"Kalian berdua jangan saling menyalahkan! Kalian sama- sama salah! kamu Rini, kalau kamu awalnya tidak mau, kamu berhak menolak ide gilanya Viona, tapi ini tidak. Kamu malah tetap ikut kerja sama kan?"


Rini, diam tidak berkutik. Wanita itu sontak menundukkan kepalanya, merasa ngeri melihat tatapan tajam Michelle.


beberapa saat kemudian, tiba-tiba ponsel Viona berbunyi. Viona melirik ke arah kasur tempat di mana ponselnya tergeletak. Wanita itu melihat kalau papanya sedang menghubunginya.


"Pa-papa?" gumam Viona dengan raut wajah ketakutan.


"Angkat!" Michelle menggerakkan matanya,menunjuk ke arah ponsel Viona yang masih berkedip-kedip.


Sembari menelan ludah dan tangan yang bergetar, Viona meraih ponselnya.


"Ha-"


"Vionaaaaa, apa yang sudah kamu lakukan, hah!" belum sempat Viona menyelesaikan sapaannya, sudah terdengar suara yang menggelegar dari ujung sana, hingga membuat wanita itu harus menjauhkan ponsel dari telinganya.


"A-ada apa, Pa? Kenapa Papa marah?" suara Viona terdengar bergetar.


"Kamu masih berani bertanya ada apa? asal kamu tahu, kamu sudah mempermalukan Papa. Kenapa kamu begitu bodoh, melakukan hal menjijikan itu pada putrinya Pak Dimas, hah?!" lagi-lagi suara papanya Viona menggelegar. Sumpah demi apapun, baru kali ini Viona mendengar suara kemarahan papanya. Biasanya sang papa selalu berbicara dengan lembut semarah apapun pria itu padanya. Bahkan Viona selalu mendapatkan apa yang dia mau.


Tanpa menanggapi kemarahan papanya itu, Viona justru memutuskan panggilan secara sepihak dan menatap Michelle dengan tatapan yang sangat tajam.


"Brengsek kamu Michelle! Kenapa sih kamu selalu menggunakan kuasa papamu? Asal kamu tahu, itu menandakan kamu lemah dan pengecut. Kamu selalu menggunakan nama besar papamu untuk mengancam orang. Apa kamu tidak ada cara lain, hah! Dasar pencundang!"


Plakkk ...


tangan Michelle tiba-tiba melayang memberikan pukulan di pipi Viona.


"Beraninya kamu!" tangan Viona terangkat hendak membalas pukulan, Michelle. Namun, dengan sigap Michelle menangkap tangan Viona.


"Aku kan sudah pernah bilang, kalau aku tidak akan membawa nama besar papaku untuk menjatuhkan kalian berdua, tapi kalau sudah keterlaluan jangan salahkan kalau papaku akan bertindak. Apa kalian mengira kalau ucapanku itu hanya gertakan sambal?" Michelle menyeringai sinis.


"Kamu harusnya bersyukur aku masih baik membujuk papaku untuk tidak memcat papamu,karena aku kasihan kalau kalian akan jadi gembel. Tapi emang sih jabatannya diturunkan jadi pegawai biasa dan paling bawah. Dan kalian pasti tahu kan kalau jabatan turun itu berarti gaji juga turun. Tapi,ya lumayanlah dari pada jobless," lanjut Michelle lagi masih dengan tersenyum miring.


"Apa? Beraninya kamu! kalian benar-benar pemilik perusahaan yang tidak profesional. Kesalahan anaknya kalian limpahkan pada orangtuanya yang tidak bersalah sama sekali. Benar-benar pemimpin yang otoriter!" Viona masih saja belum bisa menerima kabar kalau papa yang selalu dia banggakan sudah menjadi pegawai biasa lagi. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang yang selalu dia ejek dulu karena memiliki papa yang tidak hebat seperti papanya.


"Diam! Stop membicarakan kepemimpinan papaku! Asal kamu tahu, apa yang terjadi pada papamu itu bukan hanya karena tindakan kejahatan yang kamu buat padaku, tapi juga karena papamu terbukti melakukan korupsi yang sangat besar. Seharusnya dia dipecat, dan dibuat daftar hitam agar tidak diterima di manapun. Tapi, aku kasihan,kalau papamu tidak ada pengsahilan kalian akan makan apa? Jadi,banyak-banyaklah bersyukur!"


Viona menggeleng-gelengkan kepalanya,tidak percaya dengan ucapan Michelle.


"Kamu bohong kan?"


"Apa wajahku terlihat berbohong? Tidak kan? Kamu tahu kenapa papamu melakukan korupsi? Itu karena ingin memenuhi, kehidupan glamourmu. Papamu terlalu memanjakanmu, sampai melakukan hal yang sangat fatal, demi bisa memenuhi kebutuhanmu. Dan kenapa papamu bisa ketahuan korupsi? Itu karena kamu juga," ucap Michelle ambigu.


"Jangan sembarangan bicara!" bentak Michelle.


"Aku tidak bicara sembarangan. Apa yang aku katakan benar. Kamu mau tahu kenapa aku mengatakan kamulah penyebabnya? Karena dengan kamu bisa kuliah di sini tanpa beasiswa, sewa apertemen mahal, bisa shopping barang-barang branded, menimbulkan kecurigaan, dari mana papamu bisa dapat uang sebanyak itu untuk memenuhi kehidupanmu. Akhirnya papamu diusut dan terbukti korupsi. Jadi, dengan jelas aku tekankan, kalau apa yang menimpa papamu, bukan hanya karena perbuatanmu padaku, tapi karena perbuatan papamu sendiri, yang menyalah gunakan jabatan,"


Viona sontak tersungkur lemas mendengar semua penuturan Michelle. Sementara itu, Rini dari tadi tidak berani untuk menjawab panggilan papanya, karena dia sudah bisa menebak kalau papanya pasti mengalami hal yang sama seperti yang dialami papanya Viona.


"Kenapa kamu tidak menjawab panggilan itu? kamu takut ya?" ledek Michelle.


Rini tidak menjawab sama sekali, karena menurutnya sudah tidak ada gunanya.


"Dimana Viona dan Rini?" dari arah pintu terdengar suara seorang pria. Dari nada suaranya bisa disimpulkan kalau si pemilik suara itu sedang marah.


Semua mata sontak menoleh ke arah datangnya suara. Tampak di ambang pintu berdiri seorang pria yang tidak lain adalah William. Di belakang pria itu tampak dua orang berseragam polisi, membuat wajah Viona dan Rini semakin pucat dan ketakutan.


"Oh,ternyata kalian ada di situ!" William,melangkah menghampiri Viona dan Rini yang terlihat gemetaran.


"Kalian benar-benar sudah keterlaluan. Kalian sudah membuat aku tidak bisa menikmati pestaku sendiri dan kalian hampir saja membuatku mati kepanasan, karena obat yang kalian berikan. Kalian tidak tahu, berurusan dengan siapa. Kalian berani menyinggung William, putra tunggal pemilik Smith group, kalian akan rasakan akibatnya. Perbuatan kalian berdua benar-benar tidak dapat dikasih ampunan!" ucap William dengan raut wajah yang sangat dingin dan aura ingin membunuh.


"Maafkan kami William! Kami berjanji tidak akan melakukannya lagi. Kami rela melakukan apapun, asal jangan masukkan kami ke dalam penjara!" mohon Viona dan Rini sembari berlutut di kaki pria itu.


"Bukannya aku sudah mengatakan kalau perbuatan kalian tidak bisa dikasih ampun? Tidak ada gunanya kalian lagi memohon. Kalian akan tetap dibawa ke penjara hari ini dan secepatnya kalian akan dideportasi, pulang ke negara kalian dan dilarang masuk ke negara ini, dengan kurun waktu yang belum bisa aku katakan. Semuanya tergantung keputusan hukum. Dan perbuatan kalian berdua juga sudah masuk ke dalam berita internasional. Kalian terima saja sanksi sosial di negara kalian,"


Viona dan Rini sontak terduduk lemas dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana malunya nanti mereka pada semua orang. Mereka pasti akan dicemooh dan bisa dipastikan akan mendapat penghinaan dari orang-orang yang pernah mereka hina.


"Sebenarnya aku juga ingin memberikan hukuman pada kalian berdua. Tapi aku rasa,hukuman kalian sudah lebih dari cukup," Bima yang dari tadi diam saja, buka suara.


Tbc