
"Ahhh, jadi kalian semua sudah merencanakan ini? kalian tega membuat aku dua hari ini hidup segan mati tidak mau. Kalian tega buat senyumku hilang selama dua hari ini!" ucap Michelle membuat tawa semua orang yang ada di tempat itu pecah.
"Sayang nih bunga untuk kamu! Sekarang kamu mau kan menerimanya? Bimo kembali menyodorkan bunga yang dari tadi masih belum berpindah tangan.
Walaupun masih kesal, Michelle tetap saja menerima bunga dari tangan Bimo.
Kemudian Bimo merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu yang merupakan sebuah kotak kecil berwarna merah, yang bisa dipastikan berisi cincin. Lalu pria itu berlutut, membuka kotak cincin itu dan mengarahkan ke arah Michelle, tanpa melihat isinya lebih dulu.
Alih-alih merasa takjub seperti kebanyakan reaksi wanita-wanita yang dilamar, Michelle justru terlihat mengrenyitkan keningnya melihat ke arah kotak cincin.
"Michelle, mungkin bagimu ini terlalu lama, sama seperti yang kurasakan. Sebenarnya aku juga tidak ingin berlama-lama untuk menjadikanmu sebagai pendamping hidupku, tapi seperti yang kamu sudah ketahui, aku hanya ingin bisa membuktikan kemampuanku sendiri dulu sebelum melamarmu. Tahukah kamu? Satu-satunya orang yang memenuhi syarat untuk menjadi istriku adalah kamu. karena, syarat pernikahan yang langgeng adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama dan itu aku rasakan padamu.Ada nama yang selalu tertulis di dalam hati. tapi, belum tentu ia tertulis di atas akte nikah. Dan aku ingin kamu tertulis di keduanya.Will you marry me, Michelle?" ucap Bimo dengan kata-kata yang sedikit puitis.
Plak ...
Bukannya menjawab lamaran Bimo, tangan Michelle justru melayang seketika memukul kepala pria itu.
"Chell, kenapa kamu memukulku? kamu masih marah ya?" tanya Bimo dengan tatapan bingung.
"Bagaimana aku tidak memukulmu? mana cincinnya? masa hanya kotak saja?"
"Heh? masa tidak ada cincinnya?" Bimo terkesiap kaget dan langsung melihat isi kotak itu. Benar saja, tidak tampak benda bulat berkilau di dalam kotak itu.
"Kemana perginya tuh cincin? tadi sewaktu di rumah masih ada kok," ucap Bimo dengan raut wajah panik. Rasa paniknya tiba-tiba berubah menjadi raut wajah kesal begitu mendengar suara tawa cekikikan dari arah yang tidak terlalu jauh darinya. Siapa lagi yang tertawa cekikikan itu kalau bukan Bima.
"Bima,kamu yang ambil cincinnya kan? ayo ngaku!" pekik Bimo sembari menatap tajam saudara kembarnya itu.
"Mana ada! kamu jangan asal menuduh!" sangkal Bima berusaha menahan tawanya.
"Bima, jangan bohong! mana cincinnya!" teriak Bimo, benar-benar kesal dengan sikap kembarannya yang semenjak menikah mulai menyebalkan. Sepertinya sikap Ayunda sudah menular pada pria dingin itu.
"Sayang, kasih cincinnya! kasihan Bimo. Kamu ini benar-benar keterlaluan, usil, tidak di waktu yang tepat," Ayunda buka suara menatap Bima dengan tatapan mengintimidasi.
"Iya, iya, aku kasih cincinnya." Bima kemudian merogoh sakunya untuk mengeluarkan cincin yang memang sengaja dia ambil diam-diam tadi sewaktu masih di rumah.
Sewaktu merogoh sakunya, Bima tiba-tiba merasa kalau sakunya itu kosong. Wajahnya akhirnya berubah panik, karena setelah berulang-ulang diperiksa, itu cincin tetap tidak ada.
"Mana cincinnya Bima? jangan main- main deh!" Bimo mulai tidak sabar.
"Tu-tunggu. Aku coba cek lagi ya!" Bima kembali merogoh semua sakunya, tapi dia tetap menemukan benda berkilau itu.
"Bima, jangan bilang kalau cincinnya hilang?" teriak Bimo yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi.
Ayunda yang berada di samping Bima suaminya, akhirnya turun tangan ikut memeriksa saku suaminya itu, dan benar saja, itu cincin sama sekali tidak ada di saku pria itu.
"Di mana cincinnya, Sayang?" tanya Ayunda.
"Bima, tolong jangan main-main deh! please jangan merusak moment ini!" Wajah Bimo kini sudah terlihat memelas, karena merasa rencananya tidak berjaya dengan mulus.
"Aku ke mobil dulu! mungkin terjatuh di mobil," Bima hendak berlari, tapi langsung dicegah oleh Ayunda.
"Hahaha, panik ya? nih cincinnya ada padaku!" Ayunda merogoh tasnya dan mengeluarkan benda yang mereka cari. Ya, Ayunda melihat Bima suaminya ketika mengambil cincin itu, dengan berpura-pura memeluk suaminya itu, Ayunda pun juga mengambil cincin itu dari saku jas suaminya itu.
"Istri edan!" umpat Bima, di sela-sela rasa leganya.
"Kamu juga sama edannya!" kini Bimo yang mengumpat kesal.
"Kalian berdua benar-benar membuat jantungku hampir copot. Sialan kalian!" umpatnya lagi.
Tidak perlu menunggu lama, cincin kini sudah berpindah di tempat seharusnya, yaitu di kotak cincin yang berada di tangan Bimo. Kemudian sekali lagi pria itu berlutut dan mengucapkan kata lamaran yang tadi sudah sempat dia katakan.
Bukannya langsung menerima lamaran Bimo, Michelle justru kini kembali menangis.
" Sayang, jangan menangis lagi dong! aku tahu kamu terharu, tapi tolong sekarang jawab, kamu bersedia tidak menikah denganku?" tanya Bimo lagi, yang merasa yakin kalau wanita yang dia cintai itu menangis karena terharu.
Plak ...
Lagi-lagi Michelle memukul pundak Bimo.
"Kamu benar-benar keterlaluan. Udah buat orang jantungan dengan santainya kamu mengucapkan kata-kata yang sok puitis itu? kamu kira aku akan langsung lompat-lompat kegirangan ya?" Omel Michelle dengan tatapan tajam seperti singa yang ingin menerkam mangsanya.
"Jadi, harus bagaimana lagi?" Bimo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Apa kamu serius melamar aku dengan keadaan seperti ini? biasanya kalau mau dilamar, wanitanya akan didandani cantik dulu, tapi kamu? kamu memang gila Bimo! bagaimana bisa aku tampil jelek dilamar dengan hanya pakai piyama seperti ini? Oh, Tuhan seharusnya momen seperti ini, aku tuh cantik dengan gaun yang anggun, bukan seperti ini. Udah pakai piyama, piyamanya sudah usang lagi," Michelle kembali menggerutu.
"Chell, bagaimanapun keadaanmu, kamu akan tetap terlihat cantik bagiku." Bimo mencoba mengeluarkan kata-kata manisnya.
"Sekarang kamu pakai cincinnya ya! kakiku sudah pegal berlututnya," sambungnya lagi.
"Tidak mau! aku mau pakai gaun cantik dulu baru pakai cincinnya! Michelle mengerucutkan bibirnya dengan tangan bersedekap di dada, membuat Bimo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Kenapa jadinya seperti ini sih? benar-benar di luar ekspektasi. Tadinya aku kira dia akan menangis terharu dan langsung memelukku, tapi ternyata tampilan cantik juga bisa jadi masalah. Mana aku tidak ada menyiapkan gaun lagi," Bimo menggerutu yang tentunya hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Sudah, sudah! aku sudah tahu kalau hal ini pasti terjadi. Jadi, aku sudah menyiapkan gaun untuk Michelle. Ayo Chell, ikut aku!" Celetuk Ayunda.
"Kamu benar-benar yang terbaik, Ayu! sorak Bimo, merasa lega.
tbc
Tbc