
Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah Dua bulan lamanya semenjak Satya dan Arumi memutuskan untuk menikah.
Ya, tentu saja hubungan mereka berdua langsung mendapat restu dari kedua orang tua dua belah pihak. Bukan karena usia anak-anak mereka yang memang sudah sepantasnya menikah, tapi lebih dari itu yaitu karena mereka menyukai calon anak masing-masing.
Hari ini adalah hari pernikahan keduanya, dan Arumi sudah tampak terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih dan sebuah mahkota rambut, layaknya seperti seorang ratu. Tentu saja, gaun yang dipakai oleh wanita itu tidak lepas dari pilihan Satya yang sama sekali tidak ingin mengekspos kulit wanitanya itu.
"Wah, kamu sangat cantik, Rum! iya kan Rin?" Clara meminta dukungan Karin yang hari ini terlihat lelah. Bagaimana tidak, wanita itu baru saja tiba tadi pagi di Indonesia setelah pulang bulan madu dengan Theo dari Paris kota impiannya. Ya, wanita itu sudah menikah dengan Theo dua Minggu yang lalu dan langsung berangkat bulan madu dua hari setelah sah menjadi suami istri.
"Iya, kamu benar, Cla." sahut Karin, yang berusaha untuk tetap terlihat semangat.
Walaupun mendapat pujian dari Clara dan Karin, tampak Arumi masih terlihat ragu. Wanita itu mengangkat gaunnya yang cukup panjang dan melangkah menuju cermin.
"Kalian berdua yakin? aku tidak terlihat aneh ya? soalnya ini pilihan Satya," ucap Arumi sembari mematut dirinya di depan cermin.
"Tidak aneh sama sekali, Rumi. Percaya deh, kamu benar-benar cantik!" Clara berusaha meyakinkan sahabatnya itu.
"Ya udah deh, aku percaya kamu! Kalau kamu sudah mengatakan cantik, aku yakin kalau aku memang cantik," Arumi tersenyum lebar dan tentu saja senyumnya itu menular pada orang yang melihatnya, yaitu pada Clara dan Karin.
Namun, senyum Arumi hanya bertahan beberapa saat. Detik berikutnya, wajah wanita cantik itu berubah muram, seperti memiliki beban pikiran yang berat. Tentu saja perubahan itu tidak luput dari perhatian Clara dan Karin.
"Kamu kenapa tiba-tiba sedih, Rum? apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Clara dengan alis yang bertaut.
"Emm, tidak ada kok, Cla." Arumi mencoba untuk menyangkal dengan kembali menyunggingkan senyumnya. Padahal tampak jelas, senyum wanita itu kali ini terlihat terpaksa.
"Rum, kamu jangan berbohong! Aku tahu kalau sekarang ada yang mengganggu pikiranmu,"
Arumi menarik napasnya dan mengembuskannya kembali ke udara dengan cukup berat. Ia sudah yakin kalau Clara sahabatnya, itu pasti tidak akan percaya.
"Sebenarnya aku sedikit ragu dengan pernikahan ini, Cla. Entah kenapa aku merasa kalau Satya menikahiku bukan karena dia mencintaiku, tapi karena memang desakan dari orang tuanya dan karena usianya. Aku merasa seperti hanya pilihan terakhir daripada tidak ada," tutur Arumi dengan wajah sendunya.
Clara dan Karin saling silang pandang. Mereka berdua tidak menyangka kalau Arumi bisa memiliki pemikiran seperti itu.
"Rumi, kenapa kamu bisa berkata seperti itu? aku rasa dengan segala hal yang dilakukan Satya padamu, itu sudah memperlihatkan kalau dia mencintaimu. Mulai dari memilih gaun, bahkan semua dekorasi dibuat sesuai dengan pernikahan impianmu. Jadi kenapa kamu masih meragukannya?" kali ini Karin yang buka suara.
Arumi bergeming, tidak menjawab sama sekali, karena memang tidak ada yang bisa dibantah dari ucapan Karin.
"Sekarang, aku mau tanya ... apa kamu mencintai Satya?" Clara kembali buka suara.
Arumi tidak menjawab, tapi wanita itu menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Awalnya aku memang meragukan perasaanku, Cla. Tapi, jujur saja aku merasa kalau aku kali ini benar-benar takut kehilangan dia. Aku takut, nantinya dia menemukan seseorang yang dia cintai dan meninggalkanku. Karena dia sama sekali belum pernah mengatakan secara langsung kalau dia mencintaiku. Entah kenapa aku merasa kalau hanya aku yang menggunakan hati dalam pernikahan ini," mata Arumi kini terlihat sudah mulai berkaca-kaca, ingin menangis.
Mendengar penuturan Arumi, Clara akhirnya menyadari kalau sahabatnya itu sudah dikuasai oleh pikirannya sendiri yang belum tentu benar adanya.
"Arumi, please jangan berpikir negatif. Kamu harus tetap berpikiran positif. Aku yakin kalau Satya benar-benar sudah mencintaimu, hanya saja dia bukan tipe pria yang suka mengumbar kata-kata romantis. Dia itu tipe pria yang menunjukkan perasaannya, melalui perbuatan-perbuatannya," hibur Clara sembari mengelus-elus lembut pundak wanita itu.
Tanpa mereka sadari, dari tadi ada seorang pria yang tidak lain adalah Satya sendiri, mendengar pembicaraan tiga wanita di dalam ruangan itu.
Sebelum melangkah masuk, Satya menarik napas lebih dulu dan mengembuskannya, berharap rasa groginya ikut terbuang dengan embusan napas itu.
Setelah perasaannya sudah sedikit tenang, Satya mengetuk daun pintu, sehingga tiga wanita di dalam ruangan itu tersentak kaget, dan menoleh ke arah pintu. Tampak Satya berdiri gagah dengan tuxedo putihnya dan di tangannya membawa sebuket bunga.
"Satya, sejak kapan kamu berdiri di sana?" tanya Arumi, gugup.
Arumi terdiam, serta wajahnya berubah memerah, malu mendengar kata suami dari mulut pria yang memang sudah menjadi suaminya itu. "Suami? ternyata aku sudah menjadi seorang istri?" bisik Arumi pada dirinya sendiri.
"Cla, Karin, bisa tidak kalian berdua meninggalkan aku dan istriku? aku ingin berbicara empat mata dengan istriku, sebelum kami masuk ke tempat acara resepsi?" lagi-lagi Arumi, tersipu malu mendengar Satya memanggilnya 'istriku'. Perasaan Arumi benar-benar sangat berbunga-bunga, di tengah-tengah detak jantungnya yang tidak beraturan.
"Baiklah! Sepertinya kalian berdua memang perlu, bicara berdua! ayo, Karin!". Clara meraih tangan Karin, yang kini sudah menjadi kakak iparnya itu untuk keluar dari ruangan itu.
Satya menatap kepergian Clara dan Karin sampai hilang di balik pintu. Setelah memastikan kedua wanita itu sudah benar-benar pergi, Satya kembali menatap Arumi yang seketika menunjukkan kepalanya.
"Kenapa kamu menunduk? apa lantai itu lebih menarik dibandingkan aku?"
Mendengar ucapan Satya, Arumi sontak mengangkat wajahnya dan menatap Satya.
"Nih, bunga untukmu!" Satya menyerahkan bunga yang ada di tangannya ke Arumi yang tentu saja langsung menerimanya dengan hati yang berbunga-bunga.
"Tadi, aku sudah mendengar apa yang kalian bicarakan. Aku sebenarnya ingin marah mendengar kamu meragukanku, Rumi. Apa yang aku lakukan selama ini, tidak cukup untuk membuatmu mengerti dengan perasaanku? apa segala sesuatu itu harus diucapkan?"
Arumi tidak menjawab sama sekali, karena wanita itu bingung mau memberikan jawaban.
"Usiaku memang sudah sepantasnya untuk menikah, tapi aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menikah karena pertimbangan usia. Aku juga tidak mau menikah hanya karena sebuah desakan, tapi aku menikah karena aku memang merasa kalau aku sudah menemui wanita yang aku cari. Jadi, stop berpikir hal seperti ini lagi! Asal kamu tahu, ketika kamu mengatakan kalau semua pesan-pesan yang dikirim dari nomormu itu bukan dari kamu,aku benar-benar kecewa, karena aku memang berharap kalau pesan-pesan itu semua dari kamu. Aku selalu tersenyum bahagia bila ada pesan masuk dari nomormu,dan merasa kesal kalau tidak ada pesan yang masuk ke nomorku dari nomormu." Satya diam sejenak, untuk mengambil jeda sekaligus untuk mengisi kembali udara pada rongga paru-parunya yang mulai kosong.
"Aku mengakui kalau selama ini, Bima dan Bimo juga berusaha meyakinkanku kalau kamu itu wanita yang sangat cocok untukku dan mengatakan kalau aku pasti akan menyesal kalau kamu diambil orang. Awalnya aku, merasa kalau itu hanya bualan anak kecil yang sama sekali tidak mengerti soal cinta, tapi begitu aku melihat kalau ada pria lain yang sangat menginginkanmu, aku benar-benar marah. Kalau tidak ada hukum, aku ingin sekali mematahkan tangan dokter brengsek itu, yang sempat menyentuh tanganmu," lanjut Satya lagi panjang lebar.
"Sebenarnya inti dari semua ucapanmu tadi apa?" tanya Arumi, memancing.
"Segitu panjangnya ucapanku tadi, kamu tidak bisa menyimpulkannya?" Satya terlihat kesal.
"Maaf, aku terlalu bodoh untuk bisa menarik kesimpulan. Kamu katakan saja langsung kesimpulannya, karena saat ini kita tidak lagi ujian,"
"Aku mencintaimu! Kamu tidak bisa mengerti kalau aku mencintaimu!" pekik Satya, berapi-api.
"Aku juga mencintaimu!" ucap Arumi, tersenyum lebar.
Mendengar ucapan Arumi, Satya sontak terdiam. Wajah pria itu seketika memerah karena baru menyadari betapa berapi-apinya dia tadi.
"Kamu sengaja ya, pura-pura bodoh?"
" Menurutmu?" Arumi tersenyum meledek.
"Kamu ya, benar-benar ...." Satya dengan sigap langsung mengangkat tubuh Arumi, membuat wanita itu tersentak kaget. Pria itu kemudian mengayunkan kakinya hendak melangkah keluar.
"Sat, turunkan aku!" pinta Arumi dengan pipi yang memerah.
"Jangan panggil namaku lagi. Panggil aku 'sayang'!"
"Nggak mau! kamu saja panggil aku nama saja. Jadi aku juga harus begitu!" tolak Arumi, menantang.
"Mulai sekarang kamu jangan memanggilku nama saja ya ,Sayang!" nada bicara Satya terdengar sangat lembut, dan senyum pria itu juga kali ini benar-benar sangat manis. Sementara itu, wajah Arumi sontak memerah mendengar pria yang sudah menjadi suaminya itu, memanggilnya 'sayang'.
"Baiklah, Sat eh, Sayang!" ucap Arumi dengan malu-malu. "Sekarang, tolong kamu turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri!" imbuh Arumi.
"Biarkan saja begini. Bukannya kamu ingin aku bersikap romantis? jadi aku akan menggendongmu sampai ke pelaminan,"
tbc