Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Kekagetan Bara dan Clara


"Di sini saja, Pak!" titah Bima, ketika taksi yang dia tumpangi hampir melewati rumahnya.


Mata supir taksi itu sontak membesar, kagum melihat penampakan rumah yang sangat mewah di depan matanya.


"Ini rumah apa istana ya?" gumam supir taksi itu yang masih sempat tertangkap jelas di telinga Bima.


"Ini tentu saja rumah, Pak!" celetuk Bima, membuat supir itu tertunduk malu.


"Ini ongkosnya,kembaliannya bapak ambil saja!" Sebelum turun, Bima memberikan beberapa lembar uang berwarna merah ke tangan supir itu.


"Terima kasih banyak, Tuan!" supir itu terlihat seperti hampir menangis, tidak menyangka akan mendapatkan rejeki yang lumayan besar.


Bima tidak menjawab sama sekali. Pria itu hanya tersenyum dan keluar dari dalam taksi. Sementara itu, supir itu juga ikut keluar untuk membantu menurunkan koper Bima dari bagasi.


"Terima kasih, Pak!" gantian Bima yang mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama, Tuan! Sahut supir itu dengan sopan.


Bima kembali melanjutkan langkahnya, menekan bel pagar, membuat seorang sekurity yang sepertinya ngantuk, terjengkit kaget hingga hampir terjungkal.


"Si-siapa itu?" ucap security di sela-sela rasa kagetnya.


Bima membuka kaca mata hitam yang menutupi matanya, sehingga terlihat jelas wajahnya keseluruhan.


"Ini aku, Pak!" ujar Bima, tersenyum tipis.


"Tu-tuan Bi ...." security yang terlihat sudah mulai menua itu menggantung ucapannya karena bingung mau menyebut nama Bima atau Bimo.


"Ini aku Bima!"


"Eh iya, kamu Tuan Bima!" seru security itu yang langsung sigap membuka pintu pagar dan juga mengambil alih koper Bima.


"Tidak perlu, Pak! Biar aku bawa sendiri kopernya. Mama dan Papa ada, kan?" tanya Bima seraya meraih kembali kopernya.


"Ada,Tuan! Tuan Bara dan Tuan Tristan baru saja pulang,"


Bima mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian pamit untuk masuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di dalam sebuah kamar utama, terdengar suara seorang wanita mengomel tidak jelas. Wanita itu sepertinya tengah marah-marah.


"Sudah aku bilang, jangan taruh handuk di atas kasur kalau sudah selesai mandi. Tuh, lihat kasurnya jadi basah kan?" omel wanita yang tidak lain adalah Clara.


Sementara itu, Bara pria yang menjadi sasaran omelan wanita itu hanya bisa cengengesan dan meraih handuk dari atas kasur.


"Maaf,Sayang! Aku janji, besok tidak akan aku ulangi," sahut Bara, sembari memamerkan gigi ratanya.


"Terus saja berjanji. Setelah itu, lupa lagi dan lagi. Hampir tiap hari selalu begini," Clara masih saja mengomel.


Bara tersenyum lebar dan melangkah mendekati sang istri, lalu memeluk wanita yang dia cintai itu dari belakang.


"Yang penting, janji cinta kita aku tidak lupa, Sayang!" bisik Bara sembari memberikan kecupan di caruk leher Clara.


"Ma, Pa, kalian di dalam!" tanpa mengetuk pintu lebih dulu, pinti sudah dibuka oleh seseorang dan main masuk saja,hingga membuat pasangan paruh baya di dalam sana terjengkit kaget.


"Maaf, aku tidak lihat!" sosok yang baru masuk yang tidak lain adalah Bima itu, berbalik membelakangi Bara dan Clara.


"Hei, siapa kamu? Berani sekali kamu masuk tanpa mengetuk pintu!" teriak Bara dengan suara menggelegar.


"Siapa aku? Ya aku anakmu lah, Pa. Apa karena terganggu, papa jadi lupa kalau punya anak?" ucap Bima, masih membelakangi Bara dan Clara.


Bara dan Clara sontak saling silang pandang, bertanya sati sama lain lewat sorot mata.


"Dia anak kita yang mana?" tanya Bara dengan wajah bodohnya.


Plak


Tiba-tiba tangan Clara melayang memukul pundal Bara. "Selain Tristan anakmu memang siapa lagi?"


"Bima dan Bimo," sahut Bara masih dengan wajah bodohnya.


"Jadi, menurutmu dia siapa?" tanya Clara balik.


"Kalian masih lama tidak diskusinya? Kalau masih lama, aku keluar dulu. Temui aku lagi setelah kalian berdua selesai diskusi," ucap Bima, sembari melangkahkan kakinya.


"Astaga,Bima ini benaran kamu!" Clara langsung menghambur memeluk putra yang dirindukannya itu. "Kenapa kamu pulang tidak kasih kabar lebih dulu? Hah!" Clara memberikan pukulan-pukulan ringan di bahu Bima.


"Maaf, Ma. Aku hanya ingin memberikan kalian kejutan saja," sahut Bima tersenyum lebar, senyum yang seumur-umur hanya ditunjukkan pada wanita yang sudah membawanya ke dunia ini.


Kemudian, Bima beralih memeluk Bara serta melakukan tos andalan mereka.


"Dimana Bimo?" tanya Bara.


"Dia masih di Amerika, masih menemani Michele sampai pendidikan dokternya selesai, Pa." sahut Bima sembari melangkah menuju sofa.


"Dasar anak itu! mau berapa lama lagi dia di sana? Bukanya Michelle masih butuh waktu lama lagi, utuk menyelesaikan pendidikannya?" Raut wajah Bara terlihat kesal.


"Papa sudah benar-benar mau pensiun, dan kalian anak-anak Papa yang menggantikan Papa mengurus perusahaan," lanjutnya lagi.


"Pa, tidak lama lagi kok. Michelle sudah memutuskan kalau dia akan kembali ke Indonesia dua minggu ke depan setelah semua urusannya selesai, karena sebenarnya pendikannya sampai S2 sudah selesai,"


"Oh, seperti itu," Bara mengangguk-anggukan kepalanya.


"Emm, Pa aku mau bicara dengan Papa tentang perusahaan, Papa ada waktu kan?"


Untuk sepersekian detik, Bara mengrenyitkan keningnya, namun detik berikutnya Bara menganggukan kepalanya.


"Kamu mau bicara apa?" tanyanya, memasang wajah serius.


Bima tidak langsung bicara. Pria itu, lebih dulu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara.


"Pa,aku cuma mau mengatakan, biarlah salah satu perusahaan dipimpin oleh Kak Tristan dan kami __"


"Apa maksudmu bicara seperti itu? Papa tidak suka. Kamu boleh menyayangi seseorang, tapi jangan jadi bodoh dan kebablasan. Papa memang tidak berniat membedakan kalian bertiga, tapi bagaimana pun darah tidak bisa berbohong, kalau darah papa mengalir di tubuhmu dan Bimo, itu sama sekali tidak bisa dipungkiri,Bima. Jadi, yang menjadi pewaris perusahaan tetap kamu dan Bimo!"


"Tapi, Pa, Kak Tris__"


"Tunggu dulu, Papa belum selesai bicara!" potong Bara dengan cepat.


"Tapi, walaupun seperti itu, papa bukanlah orang yang kejam. Tristan juga tetap mendapatkan saham dan jabatan yang tinggi di perusahaan," lanjut Bara lagi, tegas dan lugas.


"Pa, tapi kali ini aku tetap tidak akan setuju dengan Papa. Aku mohon agar Papa tetap memasukkan nama Kak Tristan di ahli waris karena bagaimanapun dia sudah menyandang nama Prayoga dari dia kecil sampai sekarang dan itu sudah disahkan secara hukum. Akan tidak adil rasanya kalau dia menyandang nama Papa,tapi tidak punya hak sama sekali di harta kekayaan papa. Kalau dia hanya memiliki saham dan jabatan saja, sama saja dia seperti orang lain yang papa pekerjakan. Satu lagi, Pa, menurutku, hubungan kekeluargaan tidak harus dilihat dari darah siapa yang mengalir di tubuh kita." Tutur Bima panjang lebar dan tanpa jeda, membuat Bara terdiam.


"Benar kata Bima,Mas. Lagian perusahaanmu sangat besar dan di berbagai bidang, dan kamu memiliki tiga putra yang kompeten dan siap untuk membuat perusahaanmu, semakin besar dan maju," Clara yang dari tadi hanya diam saja, akhirnya buka suara menimpali ucapan Bima.


"Ma, Pa, maaf kalau ucapanku kali ini akan membuat kalian kaget. Aku juga mau mengatakan kalau sebenarnya aku berencana untuk menyerahkan hak warisku pada Kak Tristan."


"Apa?" pekik Bara dan Clara bersamaan.


"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara! Papa dan mama tenang saja, tentu saja, aku juga akan tetap membantu jalannya perusahaan,"


Tanpa mereka sadari Tristan yang semula hendak menemui Bima, ketika tahu adiknya itu sudah pulang,mendengar semua pembicaraan mereka. Mendengar itu semua membuat Tristan memutuskan untuk tidak jadi menemui Bima sekarang. Pria itu kemudia beranjak pergi kembali ke kamarnya.


"Tidak! Papa tidak setuju dengan keputusanmu. Oke, papa bisa terima dengan yang kamu ucapkan tadi kalau Tristan harus tetap mendapatkan hak yang sama seperti kalian berdua di perusahaan, tapi tidak dengan cara seperti yang kamu katakan tadi. Kalian bertiga mendapatkan hak yang sama, kalian bisa mengurus perusahaan sama-sama, titik, jangan membantah lagi!" pungkas Bara, tegas tak terbantahkan.


"Tapi, Pa, aku mau jujur, kalau sebenarnya aku sudah memiliki perusahaan sendiri yang sudah aku dirikan sendiri, setahun setelah aku kuliah, dan sekarang sudah berjalan 5 tahun,"


Mata Bara dan Clara sontak membesar mendengar pengakuan Bima yang tidak penah mereka duga.


"Ka-kamu punya perusahaan sendiri? Ka-kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya Bara, sulit untuk percaya.


"Maaf, Pa, aku sama sekali tidak bercanda. Aku benar-benar sudah sudah memiliki Perusahaan sendiri yang bergerak di bidang technologi. Khususnya di bidang komunikas dan informasi," sahut Bima, santai.


" Apa nama perusahaanmu?" tanya Bara lagi.


Bima tidak langsung menjawab,karena dia tahu kalau dia kasih tahu, papanya akan semakin terkejut.


"Kenapa kamu diam,Bima?" ulang Bara lagi.


"Hmm, BEP. Company, Pa!" sahut Bima akhirnya


Mendengar ucapan Bima barusan, mata Bima dan Clara kembali membesar, dan kali ini disertai dengan mulut yang terbuka. Bahkan Bara sampai tersandar lemas di tempat dia duduk. Bagaimana tidak, nama perusahaan yang disebutkan putranya tadi adalah perusahaan yang boleh terbilang baru, tapi sudah bisa hampir sama besar dengan perusahaan miliknya. Perusahaan yang dia tahu memiliki pemilik yang misterius dan berusaha dia temui untuk menjalin kerja sama ternyata milik putranya sendiri.


Bara benar-benar tidak menyangka kalau game online yang sangat besar dan selalu diupgrade dengan hal-hal baru setiap bulannya adalah hasil ciptaan putranya itu. Bara juga tidak menyangka kalau, aplikasi media sosial yang banyak digandrugi dan digunakan oleh penggiat media sosial di berbagai negara itu, juga dibuat oleh Bima.


Tbc