Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Membawa 6 laki-laki ke kamar


Sesuai janji Bima pada Ayunda istrinya, kalau hari ini pria itu akan pulang cepat, pukul empat sore ia sudah tiba di rumah orangtuanya karena memang untuk sementara dia memutuskan untuk tinggal di rumah itu, sebelum rumah yang dia persiapkan selesai.


Bima terlihat sangat lelah, tapi mengingat kalau sebentar lagi dia akan melihat wajah sang istri, kelelahannya menguap entah kemana, berganti dengan senyum semringah.


"Loh, kamu sudah pulang, Nak?" sapa Clara sembari melihat ke arah jam yang menempel di tembok.


"Iya, Ma. Aku memang sudah janji pada Ayunda kalau aku akan pulang cepat hari ini! Ayunda mana, Ma?" Bima mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan wanita yang dia cinta itu.


Bukannya menjawab, Clara sontak berdecih, dan tersenyum meledek.


"Karena Penggantin baru, maunya tidak bisa lama-lama kalau tidak ketemu, eh kalau sudah lama ujung-ujungnya kaya papamu juga. Sampai sekarang masih sibuk di kantor. Padahal kan, anak-anaknya sudah pada dewasa, harusnya dia sudah bisa di rumah aja,"


Bima sontak terkekeh mendengar keluhan wanita pertama yang dia sayangi itu. "Namanya juga pengantin baru,Ma. Apalagi kami tidak pernah pacaran, jadi kami sekarang ingin membalas waktu yang dulu terbuang percuma,Ma. Kalau mama kan beda. Mama dan papa sudah__"


"Sudah apa? sudah tua maksudmu? apa kalau sudah tua, tidak bisa mesra lagi seperti orang pacaran?" sela Clara dengan cepat membuat Bima kembali tertawa.


"Udah deh, Ma jangan merajuk kaya anak kecil ah. Yakin dan percayalah, cinta papa itu tetap untuk mama, tidak akan berubah!" Bima seperti biasa langsung merangkul mamanya itu.


"Oh ya, Mama dari tadi belum menjawab pertanyaanku ... Ayunda di mana, Ma?" Bima kembali mengulangi pertanyaannya.


"Oh, Ayunda pasti lagi di kamar. Dari tadi pagi, dia membawa beberapa pria ke kamarnya,"


Jawaban Clara mamanya sontak membuat Bima tersentak kaget. "Ma, jangan bercanda! ini benar-benar tidak lucu. Lagian, tidak mungkin Ayu bisa melakukan hal seperti itu!" ujar Bima tidak percaya.


"Siapa yang berbohong? Ayu memang membawa laki-laki ke kamar kalian dan tidak tanggung-tanggung, dia membawa laki-laki sampai 6 orang sekaligus." raut wajah Clara terlihat semakin meyakinkan.


Bima mengepalkan tangannya, dengan sangat kencang. Ingin dia tidak percaya pada ucapan mamanya, tapi dia sudah kenal baik mamanya itu, dan tidak mungkin wanita paruh baya itu membohonginya.


Dengan amarah yang amat sangat,tanpa permisi lagi pada mamanya, Bima langsung naik ke atas dengan sedikit berlari. Sementara Clara pun ikut menyusul dari belakang.


Sesampainya di depan pintu kamar, tanpa mengetuk pintu, Bima langsung membuka pintu itu dengan kasar. Alangkah kagetnya pria itu melihat kondisi kamarnya sekarang yang benar-benar tidak dia sangka-sangka.


"Loh, Sayang kamu sudah pulang?" Ayunda keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut seutas handuk menutupi tubuh mulusnya dan rambut yang masih tertutup handuk.


"Kenapa kamu bengong seperti itu?" Ayunda mengrenyitkan keningnya, bingung melihat Bima yang mematung.Sementara itu, Clara muncul di belakang Bima sembari cekikikan.


"Eh, ada Mama, maaf aku ...." Ayunda langsung berlari menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.


Bima kemudian langsung berbalik dan menoleh ke arah mamanya.


"Ma, apa maksudnya ini, Ma?" tanya Bima dengan napas memburu membuat tawa Clara jadi pecah.


"Ya, seperti yang kamu lihat. Istrimu membawa 6 laki-laki untuk menyulap kamar kalian berdua dengan nuansa warna yang sangat indah ini. Bagus kan?" ujar Clara sembari mengerlingkan matanya.


"Tapi kenapa Mama tadi tidak mengatakan siapa 6 laki-laki itu? aku sempat berpikir kalau Ayu ...." Bima menggantung ucapannya, karena tidak sanggup mengungkapkan apa yang sempat ada di pikirannya tadi.


Bima menghela napasnya antara lega kalau 6 laki-laki yang dimaksud mamanya itu ternyata orang yang dibayar untuk mengubah look kamarnya, dan kesal melihat perubahan kamarnya yang dulunya berwarna nuansa abu-abu dan putih kini berubah menjadi warna pink.


"Sayang, bagaimana kamar kita? bagus kan?" tiba-tiba Ayunda sudah muncul kembali dan kini sudah berpakaian lengkap


Bima tidak memberikan jawaban karena dia bingung mau menjawab apa. Mau bilang dia tidak suka, dia merasa kalau istrinya itu pasti akan ngambek. Tapi kalau dia bilang bagus, itu berarti dia sudah membohongi perasaannya yang tidak menyukai warna kesukaan istrinya itu.


"Jawab saja iya,biar istrimu senang. Nanti kalau kamu jawab nggak suka, kamu akan mendapat resiko yang sangat berbahaya," bisik Clara dengan senyum misterius.


"Emangnya, akibat yang berbahaya itu apa,Ma?" Bima balik berbisik.


"Dia tidak akan membiarkanmu menyentuhnya. Bahaya kan?" bisik Clara lagi membuat raut wajah Bima seketika langsung panik.


"Haish, dari pada aku tidak bisa menyentuhnya, lebih baik aku berpura-pura menyukai penampilan baru kamar ini," bisik Bima pada dirinya sendiri.


"Sayang kenapa kamu diam saja? dan tadi kenapa mama dan Bima berbisik-bisik?" Ayunda mengalihkan tatapannya ke arah Clara yang masih berusaha untuk menahan tawanya.


"Sayang, kamu diam saja ... apa itu karena kamu tidak suka dengan penampilan baru kamar ini? bukannya tadi malam kamu yang bilang kalau ini juga kamarku dan terserah aku mau buat apa saja dengan kamar ini?" suara Ayunda terdengar lirih. Manik mata berwarna hitam milik Ayunda juga sepertinya sudah mulai berembun, pertanda wanita itu sedang berusaha menahan tangis.


"Astaga, kamu jangan sedih. Aku sangat menyukai penampilan baru kamar ini. Karena aku memang perlu sebuah perubahan," akhirnya Bima buka suara kembali.


"Yang benar, Sayang?"wajah Ayunda kembali berbinar. Genangan air yang tadi hampir keluar dari matanya, sontak hilang entah kemana. "Tapi kenapa kamu tadi hanya diam saja?" sambung Ayunda lagi dengan wajah yang kembali sendu.


"Iya, Sayang. Tadi aku diam saja, karena aku tercengang dan takjub melihat perubahan kamar yang tiba-tiba sangat indah ini," akhirnya Bima berpura-pura menyukai penampilan baru kamar yang kini berubah dari manly jadi girly.


"Dari pada aku tidak dapat jatah, lebih baik aku berpura-pura menyukai kamar ini. Tidak bisa menyentuhnya, lebih horror dari warna pink ini," bisik Bima pada dirinya sendiri.


Wajah Ayunda kini kembali berbinar. Wanita itu seketika merasa kalau apa yang dilakukannya hari ini tidak sia-sia. Dia sampai meminta 6 laki-laki orang untuk mengerjakannya dan 2 wanita untuk melakukan dekorasi-dekorasi indah lainnya.


"Ehm sepertinya mama sudah bisa keluar nih. Sepertinya ada yang ingin melepas kangen," ledek Clara sembari berlalu pergi meninggalkan kamar Bima dan Ayunda.


Setelah Clara mamanya menghilang di balik pintu, Bima langsung mengunci kamar itu dan berbalik menatap Ayunda dengan tatapan penuh maksud.


"Sayang kenapa menatapku seperti itu?" Ayunda refleks menutup dadanya, karena dia merasa kalau dadanya itu sebentar lagi miliknya itu akan dijadikan mainan oleh sang suami.


"Kamu sudah merubah penampilan kamarku, jadi aku sekarang aku merasa kalau aku ingin memakanmu, dengan suasana baru ini," Bima menatapnya Ayunda dengan tatapan penuh hasrat.


"Sa-sayang, tapi aku kan sudah mandi,"


"Nanti bisa mandi lagi," ucap Bima dan tidak memberikan Ayunda kesempatan untuk buka mulut lagi, bibir Bima kini sudah mendarat di bibir Ayunda istrinya.


Tidak perlu menunggu lama, kamar bernuansa pink itu, kini sudah penuh dengan suara-suara desa*han yang keluar dari mulut pasangan pengantin baru itu.


Tbc