
Selamat, Pa!"ucap Michelle, lirih. Dengan mendengar kalau papanya memenangkan tender, hilang sudah harapannya untuk bisa menikah dengan Bimo, karena dia tahu bagaimana prinsip Bimo.
"Kenapa kamu terlihat tidak bersemangat? sepertinya kamu tidak iklas papa yang memenangkan proyek besar itu," Dimas, memicingkan matanya, curiga.
"Bukan tidak senang, Pa. Aku senang, hanya saja, kenapa papa tidak mau mengalah saja sih pada orang muda seperti Bimo? Ini proyek Bimo yang pertama, kenapa papa tidak kasih kesempatan padanya?" Michelle sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk mengajukan protesnya.
"Kamu kenapa bisa jadi aneh sih, Nak? sejak kapan papa mau mengalah dalam hal bisnis. Selagi Papa bisa, Papa akan tetap berusaha, bukannya kamu sudah tahu prinsip papa yang ini? seumur-umur Papa itu hanya mengalah sama nenekmu, mamamu dan kamu. Tiga perempuan yang paling berharga dalam hidup, Papa.
"Ihh, Papa jahat!" Michelle menghentakkan kakinya hendak berlalu pergi.
"Kamu mau pergi kemana? tunggu sebentar!" Michelle yang belum sepenuhnya pergi, langsung menyurutkan langkahnya kembali, begitu mendengar panggilan papanya.
"Kenapa kamu sangat menginginkan Bimo yang menang? apa sekarang yang lebih berharga buat kamu itu hanya Bimo? sadar nggak kamu, kalau dengan sikap kamu tadi sudah membuat papa sedih? ternyata sekarang kamu lebih mendukung pria lain daripada papamu sendiri," Dimas memasang wajah sedih membuat Michelle, merasa bersalah.
"Bu-bukan seperti itu, Pa. Aku hanya ... hanya merasa kasihan pada Bimo yang gagal di usaha pertamanya, itu saja. Aku yakin bagi dia ini adalah pukulan terberat," tutur Michelle.
"Kamu salah, untuk seorang pengusaha kegagalan bukan sebuah pukulan, tapi sebagai cambukan, pembelajaran dan sebuah motivasi untuk semakin bisa kedepannya. Kalau sekali saja sudah dia anggap sebagai pukulan dan langsung putus asa, itu bukan pengusaha sejati. Apalagi seperti Bimo yang baru terjun di dunia bisnis," tutur Dimas panjang lebar.
Michelle bergeming diam seribu bahasa. Dia tahu dan mengerti apa yang dikatakan oleh papanya itu. Masalahnya sekarang, yang dia khawatirkan adalah kelanjutan hubungan mereka. Apakah sudah benar-benar berakhir atau masih bisa diperbaiki. Dan satu lagi, entah kenapa Dia merasa kalau dia adalah salah satu penyebab gagalnya Bimo.
"Bimo gagal, pasti gara-gara aku. Dia tidak bisa totalitas lagi, karena patah hati," batin Michelle.
"Michelle, papa tahu kalau kamu mencintai Bimo, tapi jangan karena cinta membuat kamu jadi bodoh. Satu lagi, kalau Papa mengalah demi Bimo bisa menang, apa kamu kira Bimo akan bisa bahagia dengan pencapaiannya yang ternyata hanya sebuah sumbangan? dia tidak akan bahagia, Chell. Justru dia akan merasa kalau itu sudah melukai harga dirinya sebagai laki-laki.Papa yakin kalau kamu sudah tahu bagaimana karakter dia kan? dia itu sama seperti papa dan kakaknya Bima, yang pantang dikasihani," sambung Dimas lagi menjelaskan dengan lugas.
Michelle lagi-lagi terdiam. Dia tidak memberikan jawaban apapun karena dia tahu kalau yang diucapkan papanya itu benar adanya.
"Iya, Pa. Maaf!" ucap Michelle sembari berlalu pergi menuju kamarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua hari sudah berlalu dan dua hari ini pun dilalui Michelle dengan perasaan yang tetap dipenuhi oleh rasa bersalah. Selama dua hari ini, wanita itu benar-benar kehilangan senyumnya. Ingin sekali dia menemui Bimo untuk minta maaf, tapi entah kenapa kakinya sangat berat untuk melangkah menemui pria yang dicintainya itu.
Michelle baru saja hendak bersiap akan tidur. Dia nyaris merebahkan tubuhnya,tapi dia urungkan begitu dirinya dikejutkan dengan bunyi ponsel yang berdering,pertanda ada panggilan yang masuk.
Bibir Tasya sontak melengkung tersenyum ketika melihat nama si pemanggil, yang sampai saat ini belum dia ganti. Di sana masih tertulis my future husband. Siapa lagi pemilik nomor itu kalau bukan Bimo.
Michelle mencoba untuk tidak langsung menjawab agar terkesan tidak terlalu kelihatan kalau dirinya memang sangat menunggu pria itu menghubunginya.
Setelah menunggu beberapa detik, Michelle menekan tombol jawab dan meletakkannya di telinga.
"Hmm, ada apa, Bimo?" tanya Michelle berpura-pura bersikap biasa saja, padahal detak jantungnya sudah berdetak kencang.
"Ini bukan Bimo, aku Bima, Chell. Sekarang aku ada di depan rumahmu." terdengar suara Bima yang terdengar seperti sedang panik.
"Bukannya ini nomor telepon Bimo? tapi kenapa ada di kamu?" Perasaan Michelle berubah menjadi tidak nyaman.
"Iya, ini memang handphonenya Bimo. Tapi, aku datang menjemputmu karena Bimo kecelakaan. Dia dari tadi memanggil-manggil namamu,"
"Apa?" pekik Michelle, panik. "Kamu tidak serius kan?"
"Aku tidak bercanda. Sebaiknya kamu keluar sekarang, takutnya kamu tidak punya waktu lagi untuk bertemu dengannya," Nada bicara Bimo terdengar sangat serius.
"Bima jangan membuat aku takut! Bima ... Bima!" tidak ada sahutan lagi dari saudara kembar Bimo itu Sepertinya pria itu sudah memutuskan panggilan secara sepihak.
Tanpa mengganti pakaian tidurnya, Michelle langsung berlari ke luar dari kamar. Wanita itu, bahkan tidak mengingat untuk pamit pada siapapun.
Di depan pintu pagar rumahnya, Michelle melihat Bima sedang berdiri di samping mobilnya sambil melihat ke arloji di tangannya.
"Bima, apa yang kamu katakan tadi tidak benar kan? kamu bercanda kan? aku yakin kalau tidak terjadi apa-apa pada Bimo," cecar Michelle dengan air mata yang sudah menetes dari tadi membasahi pipinya.
"Menurutmu? apa kamu pikir aku kurang kerjaan bercanda malam-malam begini? daripada bercanda, lebih baik aku tidur memeluk istriku sekarang," sahut Bima dengan raut wajah panik juga.
Michelle hampir tersungkur, tapi Bima dengan sigap menahan tubuh wanita itu.
"To-tolong bawa aku ke Bimo sekarang, Bima!" mohon Michelle sembari sesunggukan.
"Memang itu tujuanku datang ke sini. Ayo masuk ke mobil!" Bima masuk ke dalam mobil disusul oleh Michelle. Kemudian Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan yang terbilang cepat, membelah sepinya malam.
Rumah sakit yang mereka tuju sudah dekat. Namun, tiba-tiba Bima menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti Bima? ayo jalan lagi!" Michelle sudah terlihat tidak sabar.
"Haish, sepertinya bensinnya habis, Chell," Bima berusaha menghidupkan mesin mobilnya, tapi tetap saja tidak bisa.
"Bagaimana ini? Rumah sakit ya sudah tidak jauh, tapi kenapa harus habis bensin sekarang?" air mata Michelle semakin banyak menetes.
"Ini semua gara-gara aku. Bimo kecelakaan pasti karena aku. Aku memutuskan hubungan, lalu dia gagal mendapatkan proyek ... ini semua gara-gara aku. Aku memang pembawa sial!" tangis Michelle semakin menjadi-jadi.
"Sudah jangan menangis! menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Sekarang sebaiknya kita turun dan berjalan ke rumah sakitnya. Ayo!" Bima keluar dari dalam mobilnya, demikian juga dengan Michelle.
"Kamu ikut aku! aku tahu jalan pintas, biar cepat sampai di rumah sakit itu! kita menunggu taksi pun pasti akan lama, baik itu yang offline maupun yang online! Ayo cepat!"
tbc
Guys mau tanya, apa sih obat asam lambung yang mujarab? beberapa hari ini, asam lambungku kumat😭