
Pagi kini sudah kembali menjelang, Bimo sudah terlihat tapi dan sangat tampan dengan balutan kemeja berwarna putih dan tuxedo berwarna navy. Pria itu sudah siap untuk menghadapi hati ini.
Bimo hari ini sengaja tidak sarapan di restaurant hotel tapi lebih memilih untuk memesan makanan agar diantar ke kamarnya.
Baru saja pria itu memasukkan suapan ke tiganya, tiba-tiba telepon di kamarnya itu berbunyi. Jadi, mau tidak mau Bimo meninggalkan sarapannya dan memilih untuk menjawab telepon.
"Halo, good morning!" sapa Bimo dengan sopan.
"Morning, Sir. Sorry to bother you. I just want to say, there is someone who wants to talk to you, Sir (maaf mengganggu.Saya hanya ingin menyampaikan, ada seseorang yang ingin berbicara dengan anda,Tuan)" ucap seorang wanita yang bisa dipastikan berasal dari meja resepsionis.
"man or woman?( pria atau wanita?)" tanya Bimo, singkat dan was-was.
"Man, sir!"
"Ok, just give him the phone!"
"Bimo, ini Om Dimas," telephone kini sudah berpindah tangan dan memperdengarkan suara pria yang sangat familiar di telinga Bimo.
"Oh,iya, Om! ada apa?"
" Aku tidak bisa menghubungi nomor kamu, makanya aku minta resepsionis yang menghubungi kamar kamu."
"Maaf, Om. Handponeku dalam mode pesawat makanya tidak bisa dihubungi," sahut Bimo, jujur. Karena memang ponselnya tetap hidup hanya nomornya saja dia nonaktifkan.
"Oh, seperti itu. Om tidak tahu apa alasanmu melakukan hal itu, tapi, sekarang , Om minta kamu turun ke bawah dan langsung ke ruangan tempat biasa berkumpul!" titah Dimas, yang langsung meletakkan kembali telephone ke tempatnya tanpa menunggu jawaban dari Bimo.
"Emm, ada apa? kenapa nada bicara Om Dimas, sangat dingin?" bisik Bimo pada dirinya sendiri.
"Ah, aku sebaiknya langsung turun saja Dan cari tahu," Bimo meraih tas kerjanya dari atas ranjang dan langsung keluar dari kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bimo masuk ke dalam ruangan, seperti yang dikatakan oleh Dimas papanya Michele. Ketika dia masuk, Semua mata langsung menatap sinis ke arahnya, dan di depan sana tampak Silvi wanita yang berniat menggodanya tadi malam, sedang menangis terisak-isak. Di samping wanita itu tampak atasan Silvi yang terlihat berang dan langsung berdiri dari tempat duduknya. Dari situasi itu, Bimo sudah bisa memastikan kalau perkumpulan mereka di kondisi pagi seperti ini, pasti ada hubungannya dengan kejadian tadi malam.
"Itu dia orangnya! dia benar-benar tidak bermoral! beraninya dia melecehkan sekretarisku, aku tidak terima sama sekali!" pekik pria bertubuh tambun itu dengan suara menggelegar. Dia sengaja menggunakan bahasa Inggris agar semua yang ada di ruangan itu mengerti.
"Hei, diam! bukannya aku sudah mengatakan kalau dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu? aku sangat mengenalnya, dan aku bisa pastikan kalau dia tidak akan berbuat seperti itu! aku justru lebih yakin kalau sekretaris kamu ini yang berusaha merayu, Bimo!" terdengar suara Dimas, yang meninggi dan tegas. Tampaknya pria paruh baya itu, sudah dari tadi bersitegang dengan pria tambun itu.
"Kamu jangan fitnah! dan jangan membela orang yang salah! kamu bisa lihat sendiri kan bagaimana tertekannya sekretarisku. Tapi kamu masih begitu tega mengatakan hal seperti itu. Kamu masih punya hati nggak sih?"
Bimo yang masih berdiri di ambang pintu, seketika tersenyum mendengar ucapan pria bertubuh tambun itu. Ada sesuatu yang membuat pria itu senang ketika mendapati kalau Dimas papanya Michele terlihat membelanya. Dan itu sudah cukup baginya.
Tidak tampak sama sekali rasa gentar di raut wajah Bimo. Pria itu justru mengayunkan kakinya, menghampiri meja panjang.
"Ada apa ini? kenapa anda terlihat marah, Tuan Surya?" tanya Bimo santai.
Bimo kembali tersenyum dan duduk di kursi kosong.
"Hei, kamu masih berani ya, bersikap santai!" Surya terlihat sangat geram dan kesal, merasa disepelekan.
Pria itu kemudian mengalihkan tatapannya ke arah seorang pria paruh baya tapi masih sangat berkharisma yang merupakan Tuan rumah atau pengusaha besar di Singapura itu
"Tuan Hansel, sepertinya dia tidak pantas untuk bisa ikut di persaingan seperti ini. Apa anda mau memiliki kolega seorang penjahat kelamin seperti dia? benar-benar memalukan!" Surya mencoba memprovokasi pria pengusaha bernama Hansel itu.
"Percuma saja dia anak Bara. Dia sama sekali tidak mencerminkan sikap papanya yang berwibawa dan sangat menghormati yang namanya wanita. Dia tidak pantas jadi anaknya Tuan Bara!" Surya masih saja tetap berceloteh. Sementara yang lainnya mengangguk-anggukan kepala membenarkan ucapan pria bertubuh tambun itu.
Bimo mengepalkan tangannya dengan kencang, kemudian menarik napasnya dalam-dalam berusaha untuk menahan amarahnya.
"Tuan Surya yang terhormat, dari tadi kamu berusaha memprovokasi semua orang yang ada di sini khususnya Tuan Hansel. Apa menurutmu, Tuan Hansel itu orang bodoh, tidak tahu mana sikap palsu dan mana yang asli," celetuk Dimas, mendahului Bimo yang sebenarnya ingin buka suara melakukan pembelaan.
"Mungkin bagi sebagian orang yang tidak mengfungsikan otaknya dengan baik akan percaya dengan sandiwara yang kamu buat, karena mereka tidak bisa menggunakan logika mereka dengan baik.Tapi, bagi yang fungsi otak mereka baik, pasti tidak akan percaya pada drama anda," Bimo ikut buka suara, menimpali ucapan Dimas.
"Apa maksudmu hah? apa kamu mau mengatakan kalau otak orang-orang di sini tidak berfungsi dengan baik? kamu benar-benar kurang ajar berkata seperti itu!" Surya dengan sengaja meninggikan suaranya, berharap orang-orang di ruangan itu ikut bereaksi mendengar sindiran Bimo.
"Ya, kamu memang kurang ajar! kamu tidak punya sopan santun mengatai otak kami tidak berfungsi dengan baik." beberapa orang sudah mulai bereaksi. Mereka benar-benar terlihat marah Dan itu membuat Surya merasa bahagia.
Bimo lagi-lagi tersenyum.
"Kenapa kalian harus bereaksi berlebihan seperti itu? apa aku ada sebut nama? ingat, kalau yang tersinggung, berarti secara tidak langsung kalau dia merasa. Bukan tanpa alasan aku mengatakan seperti itu. Coba kalian pikir baik-baik dan secara logika ... kalau pada malam kemarin Nona Silvi benar aku lecehkan, pasti dia tidak memegang handpone di tangannya dan tidak sempat untuk mengambil photo, bukan? dan kalau ada photo-photo itu muncul, itu berarti ada yang sengaja mengambilnya bukan? berarti memang sudah direncanakan sejak awal." Tutur Bimo, membuat seisi ruangan itu terdiam seketika, kecuali Dimas dan Hansel yang tersenyum, karena memang pemikiran mereka sama seperti penjelasan Bimo.
Sementara itu, wajah Surya dan Silvi mulai berubah pucat.
"Tuan Surya, aku tahu kalau anda yang mengambil photo dan mengirimkankan ke ponsel Silvi. Makanya photo-photo itu ada di ponsel sekretaris anda," lanjut Bimo lagi.
"Kamu jangan memfitnahku!" pekik Surya mulai panik.
"Aku tidak fitnah, Tuan Surya yang terhormat! tanpa anda sadari aku sudah meretas nomor ponsel sekretaris anda itu tadi malam. Dan apapun pembicaraan kalian berdua sudah aku simpan. Apa anda mau aku menunjukkannya ke Semua orang di sini? Anda benar-benar menggunakan cara licik untuk menyingkirkan saingan-saingan yang anda anggap sebagai saingan terberat anda," wajah Surya semakin pucat mendengar ucapan demi ucapan Bimo.
"Kamu benar-benar salah mencari lawan Tuan Surya!" Dimas kembali buka suara.
"Untuk semakin membuktikan kalau aku tidak pernah melakukan hal yang anda tuduhkan itu, aku juga diam-diam merekam apa yang dilakukan sekretaris anda ini tadi malam," Bimo merogoh ponselnya dan langsung memutar rekaman.
Ya, tadi malam ketika pintu di ketuk, sebelum membuka pintu, dia lebih dulu mengintip siapa di luar. Ketika dia tahu siapa yang datang, Bimo sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Jadi, dia mengantisipasinya dengan merekam pembicaraan mereka.
Semua tatapan sinis kini beralih ke arah Surya dan sekretarisnya dan mengeluarkan kata makian pada dua orang itu.
"Tuan Surya, silakan out dari ruangan ini, sebelum Aku benar-benar murka. Aku tidak sudi bekerja sama dengan orang licik seperti anda!" titah Hansel dengan nada dingin.
tbc