Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Kabar baik.


"Sayang!!" teriak Bima sambil menahan tubuh Ayunda.


Semua orang pun menghambur menghampiri Bima, tidak terkecuali sepasang penggantin baru. Bima menepuk-nepuk pipi Ayunda berusaha membangunkan istrinya itu. Wajah Bima benar-benar panik.


"Kenapa dengan Ayunda, Bima?" tanya Clara yang tidak kalah paniknya dengan Bima.


"Gak tau Ma, tadi katanya dia pusing. Aku sudah bilang ke dokter saja, Tapi dia tetap tidak mau, Ma." Sahut Bima.


Plakk


seseorang tiba-tiba memukul kepala Bima.


"Jadi kenapa kamu masih bengong di sini? bawa istri kamu ke rumah sakit, cepat!" bentak Bara. Ya, yang memukul kepalanya adalah Bara, papanya.


Mendengar bentakan papanya, Bima segera tersadar dan sontak mengangkat tubuh istrinya, dan dengan sedikit berlari dia menggendong Ayunda ala bridal style masuk ke dalam mobilnya.


Sementara itu, Bimo dan Michelle langsung menuju kamar pengantin yang sudah dihias dengan sangat indah.


"Sayang, cepat ganti pakaianmu, kita menyusul ke rumah sakit sekarang!" titah Michelle dengan tangan yang fokus mencopot jepitan-jepitan yang ada di rambutnya.


"Kita mau langsung nyusul ke rumah sakit juga, Sayang?" tanya Bimo sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Iya lah! kamu gimana sih? aku khawatir banget sama Ayunda," sahut Michelle yang kini berhasil mengeluarkan semua pernak-pernik yang menghiasi rambutnya.


Bimo menghela napas berat dan duduk kembali. "Sayang kita sebaiknya di sini saja. Kita tunggu saja kabar dari mereka," ucap Bima dengan nada malas.


"Kamu ini bagaimana sih? dia itu selain kakak iparmu juga sahabatnya istrimu. Kamu gak ada khawatir-khawatirnya," protes Michelle sembari mendelik tajam ke arah Bimo.


"Kamu cepat ganti pakaianmu, Dan aku juga mau mengganti pakaiannku," Michelle bergegas hendak masuk ke dalam kamar mandi. Tapi, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, begitu wanita itu menyadari sesuatu.


"Tunggu dulu! apa Ayu sedang hamil ya?" bukannya Ayu pernah cerita juga kalau tingkah Bima belakangan ini juga aneh? Bima juga suka muntah-muntahkan sekarang? kenapa aku tidak menyadarinya sih?" Michelle mulai menggerutu, merutuki kebodohannya.


"Kamu bicara apa sih, Sayang? apa kaitannya Bima yang muntah-muntah, dengan Ayunda yang hamil? kamu ini aneh-aneh saja!" Bimo berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tidak aneh. Tapi memang kenyataannya ada yang seperti itu. Mungkin karena sibuk mengurusi pernikahan kita, aku jadi tidak sampai berpikir ke arah situ," kemudian Michelle mulai menjelaskan apa yang dimaksud dengan Sindrom couvade atau kehamilan simpatik.


"Oh, seperti itu? kalau begitu kita di sini saja. Kita tunggu kabar dari mereka saja, Sayang. Ini kan malam pertama kita, jadi sebaiknya menghabiskan waktu di kamar ini," Bimo mengerlingkan matanya,mulai menggoda.


"Aku nggak mau! nanti kamu macam-macam lagi." sahut Michelle.


Bimo beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Michelle. "Emangnya kenapa, hum? aku kan udah sah jadi suamimu, jadi gak salah dong berbuat macam-macam," ucap Bimo sambil mengecup pundak Michelle membuat tubuh wanita itu seketika menggelinjang dan meremang.


"Tidak salah, Sayang! Tapi masalahnya nanti kepalamu jadi sakit karena aku lagi datang bulan," sahut Michelle sembari nyengir.


Bimo sontak melepaskan tangannya dari pundak Michelle dengan mata yang membulat sempurna.


"Apa?datang bulan! kamu becandanya gak lucu, sayang." Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.


"Siapa yang bercanda? aku serius, Bimo. Dan baru tadi pagi mulainya, jadi setidaknya selama seminggu kamu puasa dulu,"


"Apa? seminggu?" Bimo mengusap wajahnya kasar dan mendaratkan tubuhnya duduk kembali di atas ranjang.


"Jadi selama seminggu ini aku akan tidur seranjang sama dia,tanpa ngapa-ngapain? aku pasti benar-benar tersiksa!" batin Bimo,nelangsa.


"Kalau tahu begini, mending kita tunda pernikahan dulu, Sayang sampai minggu depan," celetuk Bimo, mengembuskan napas berar.


Melihat wajah kesal pria yang baru saja saja menjadi suaminya itu, bukannya merasa kasihan, justru membuat tawa Michelle pecah.


"Kalau begitu, kita ke rumah sakit saja sekarang! aku ganti baju dulu!" pungkas Bimo, akhirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana keadaan istriku, Dok?" Bima langsung menghambur mendekati dokter,begitu pintu ruangan tempat istrinya diperiksa terbuka.


"Tenang, Tuan! istri anda tidak apa-apa.Dia__"


"Tidak apa-apa bagaimana? Istri saya pingsan, tapi anda bilang tidak apa-apa?!" Ingin sekali Bima memaki dokter itu, karena mengatakan istrinya tidak apa-apa.


"Sabar dulu, Tuan! aku belum selesai bicara." Dokter itu terlihat menahan rasa kesalnya,melihat Bima yang tidak sabaran.


" Sabar dulu,Bima, tunggu sampai dokter selesai bicara." Tiara mamanya Ayunda menimpali pembicaraan dokter dan menantunya itu.


"Bagaimana aku bisa sabar, Ma? istriku pingsan itu!"


"Tuan Bima, istri anda pingsan karena tekanan fluktuasi tekanan darah istri anda sangat rendah, dan itu sudah biasa karena hormon awal kehamilan."


"Oh, seperti itu?" ucap Bima yang sama sekali belum sepenuhnya sadar dengan penjelasan sang dokter.


"Iya,Tuan. Karena hormon kehamilan, membuat pembuluh darah istri anda melebar,sehingga tekanan darahnya jadi rendah." terang dokter itu lagi dengan lugas.


"Ja-jadi istriku sekarang lagi hamil Dok? Bima memastikan, karena masih antara percaya dan tidak percaya.


"Prediksiku seperti itu, Tuan! tapi untuk memastikannya, nanti kalau Nona Ayunda udah siuman, baiknya bawa ke dokter kandungan untuk diperiksa kembali lewat USG." ujar dokter itu tersenyum.


"Terima Kasih, Dok!" Bima mengukir senyuman yang mengembang dengan sempurna di bibirnya.


"Kalau begitu saya pamit dulu Tuan, Bu," Dokter itu melangkah pergi, setelah Bima,Tiara dan Adrian mengiyakan.


Bima dan kedua mertuanya kemudian masuk ke ruangan di mana Ayunda masih terbaring. Bima menatap intens wajah istrinya yang masih terlihat sangat pucat.


"Ma, Pa, sebentar lagi aku akan jadi seorang ayah," ucap Bimo dengan manik mata yang sudah dilapisi dengan cairan bening siap untuk ditumpahkan.


"Iya, selamat ya, Bima!Aku harap kamu bisa menjaga putriku dengan baik. Mungkin itulah alasan kenapa kamu bisa muntah-muntah belakangan ini dan sensitive pada aroma makanan tertentu. Karena papa dulu juga merasakannya," terang Adrian, yang terasa ambigu di telinga Bima.


"Maksudnya, Pa?" tanya Bima, dengan alis yang bertaut.


Adrian kemudian menjelaskan apa yang namanya istilah kehamilan simpatik dengan jelas dan detail, seperti yang dijelaskan oleh dokter dulu ketika dia mengalami sewaktu Tiara istrinya hamil Arya.


"Mungkin, calon anakmu, tahu kalau kamu dulu selalu bersikap dingin dan kasar pada mamanya, makanya sekarang dia berniat menghukummu," lanjut Adrian lagi setelah dia menyelesaikan penjelasannya.


"Haish, kenapa diingatkan lagi si, Pa?" Bima menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Adrian ingin sekali menghubungi Bara dan mengabari kalau sebentar lagi mereka berdua akan punya cucu, tapi dia mengurungkannya karena dia tahu ada hal penting yang hendak diurus sahabat sekaligus besannya itu.


Kelopak mata Ayunda terlihat bergerak, pertanda kalau dia sudah mulai siuman. Benar saja, kelopak mata itu, perlahan-lahan terbuka dan mengedar, menatap seluruh ruangan.


"Sayang,kamu sudah bangun?" Senyum Bima semakin mengembang dan meraih tangan Ayunda dan menggenggamnya dengan erat lalu membawa ke bibirnya. Sedangkan Adrian langsung keluar untuk memanggil dokter.


"Aku kenapa, Sayang" tanya Ayunda dengan sura lirih.


"Kamu gak kenapa-napa,Sayang. Hanya saja tadi kamu pingsan, dan kata dokter itu karena hormon kehamilan di usia muda," senyuman manis sama sekali tidak pernah memudar dari bibir Bima.


"Maksud kamu apa? siapa yang hamil?"


"Si sweety, kucing tetangga! ya kamulah, Sayang, yang pingsan kan kamu," ucap Bima, sedikit kesal dengan pikiran istrinya yang lamban.


Michelle menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Tunggu! apa maksudmu, aku lagi hamil sekarang?" pekik Ayunda dengan manik mata yang berbinar dan penuh harap.


"Kata dokter seperti itu, tapi dia menyuruh kita untuk USG setelah kamu siuman." sahut Bima dengan menyematkan seulas senyuman di bibirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayunda sekarang sudah berada di ruangan dokter kandungan tentu saja ditemani oleh Bima.


Setelah dokter mengajukan beberapa pertanyaan, dokter itu menyuruh Ayunda untuk berbaring di atas ranjang pasien untuk mempermudah dokter itu melakukan USG.


Dokter menutup tubuh Ayunda dari pinggang sampai ke kaki dengan selimut, karena gaunnya harus disingkap ke atas hingga perutnya terlihat.


Dokter itu, kini meletakan probe ke bagian bawah perut Ayunda yang sudah diolesi krim terlebih dulu.Terlihat jelas di wajah wanita itu rasa Khawatir, takut kalau dugaan dokter tadi tidak benar, yang akhirnya membuat Bima nantinya merasa kecewa, karena sudah berharap di awal.


Bima yang menyadari ke khawatiran istrinya, menggenggam tangan Ayunda, hingga membuat hati wanita itu menghangat seketika.


Kedua mata Bima kini fokus menatap ke layar monitor, ketika dokter mulai menggerakkan probe di bawah perut Ayunda.


"Selamat Tuan anda benar-benar akan menjadi seorang ayah. Di sini jelas terlihat ada dua kantong bayi yang terlihat dan usianya sudah 8 minggu. Jadi anda akan punya anak kembar seperti anda," jelas dokter itu, dengan tangan yang tak berhenti menggerakan alat yang disebut probe itu.


"Ke-kembar Dok?" Dokter itu menganggukkan kepalanya, membuat binar di manik mata Bima semakin bercahaya, demikian juga dengan Ayunda.


"Dok, apa benar ada yang namanya kehamilan simpatik?" tanya Bima yang merasa belum puas kalau tidak mendengar sendiri dari mulut seorang dokter.


"Iya, Tuan. Apa anda merasakannya?"


Bima kemudian menceritakan apa yang dia rasakan selama ini dengan detail.


"Ya, itu adalah ciri-ciri kehamilan simpatik. Selamat ya, Nona Ayu! anda tidak perlu merasakan mual-mual, karena suamimu sudah mewakilinya," Dokter itu mengulurkan tangannya ke arah Ayunda, sementara Bima hanya bisa memasang wajah masam.


"Oh ya, kalau boleh kehamilannya dijaga benar, jangan sampai kelelahan karena masih terlalu muda dan rentan pada keguguran. Tolong jaga mood istri anda juga selama kehamilannya." Jelas dokter itu.


"Siap Dok!


Tbc