
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Kuatkan aku untu bisa menahan diri dari godaan setan!" rintih Bima dalam hati.
Ayu, bisa menyingkir dari tubuhku? kamu berat!" ujar Bima setelah tersadar sembari mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Mendengar ucapan Bima, Ayu juga langsung tersadar dan langsung bagun dari atas tubuh Bima. Wajah wanita itu benar-benar sudah memerah sekarang,dan kalau bisa ingin sekali dia membenamkan wajahnya ke kedalaman tanah yang paling dalam.
"Ma-maaf, aku kaget kamu tiba-tiba buka mata. Aku kira kamu sudah tidur," Ayu menundukkan kepalanya.
"Bisa tidak kamu tidak perlu memedulikanku? Aku baik-baik saja. Aku sangat minta tolong agar kamu tidur, hanya itu, tidak lebih. Apa melakukan itu sulit?" suara Bima terdengar meninggi.
Mendengar suara Bima yang sudah meninggi, air mata Ayu tanpa diundang merembes keluar. "Maaf, aku tadi melihatmu gelisah. Aku tahu kalau kamu kedinginan, jadi aku ber__"
"Berinisiatif memberikan aku selimut, begitu? Kalau kamu memberikan selimut itu padaku, jadi kamu pakai apa? Kamu mau tidur dengan pakaian seperti itu? Apa kamu sadar kalau punggungmu terbuka? Kamu mau aku disalahkan orangtuamu nanti?" napas Bima sudah memburu, saking kesalnya.
"Ini lagi, siapa sih orang sialan yang sudah melakukan ini semua? Sofa dipindahkan entah kemana, Ac diatur sedingin ini dan remotnya disembunyikan. Entah apa tujuannya melakukan ini semua. Lihat saja , kalau aku tahu siapa yang sengaja melakukannya aku akan mematahkan tangannya!" Bimo mengoceh dengan wajah frustasi.
"Maaf, karena aku kamu jadi begini," kepala Ayunda semakin tertunduk. Tadinya hanya air mata yang keluar tanpa terisak, kini isak tangis gadis itu sudah terdengar.
Mendengar isak tangis Ayu, Bima memejamkan matanya sekilas dan mengembuskan napas, untuk mengurangi amarahnya.
"Maaf, aku membuatmu takut!" Ayunda sontak mengangkat kepalanya, kaget mendengar pria itu mengucapkan kata maaf untuknya. Mau tahu bagaimana sekarang perasaan Ayu? Tentu saja senang sekaligus bingung. Memang ini bukan pertama kali pria iti mengucapkan kata maaf. Tadi sewaktu menenangkannya ketika dia ketakutan, pria itu sudah mengucapkan kata maaf. Tapi entah kenapa ucapan maaf pria itu seperti sebuah kebahagian buatnya, dan seakan cukup mewakili ribuan maaf akan sikap Bima padanya selama ini.
"Sekarang aku mohon kamu tidurlah! Biarkan aku di lantai ini. Aku laki-laki dan tidak masalah bagiku!" lanjut Bima lagi.
"Bima,tolong jangan sok kuat! Aku tahu kalau kamu kedinginan. Aku tidak keberatan kalau kamu tidur di ranjang dan berbagi selimut. Ranjangnya juga besar dan selimut ini juga lebar. Tenang saja, aku tidak akan menerkammu!" akhirnya Ayunda memberanikan diri untuk bicara lebih berani pada pria dingin itu.
"Takutnya aku yang menerkammu!" ucap Bima yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.
Bima terlihat diam sejenak seperti tengah berpikir apakah mengiyakan tawaran Ayunda atau tetap pada pendirian untuk menolak.
"Kamu tahu apa yang aku pikirkan?" tanya Bima dan Ayu menggelengkan kepalanya.
"Aku merasa kalau yang terjadi pada kita sekarang dilakukan dengan sengaja oleh orang yang ingin menjatuhkanku atau mungkin keluarga Prayoga. Yang melakukan hal ini sepertinya mempunyai niat terselubung seakan aku adalah pria brengsek. Sehingga nantinya akan mempermalukan keluarga besar Prayoga, yang akhirnya berpengaruh ke perusahaan dan parahnya mempengaruhi persahabatan papaku dan papamu juga. Orang yang sengaja melakukan ini, aku yakin ingin melihat perusahaan papa hancur, dan dia tahu benar, kalau perusahaan papa hancur, hanya perusahaan papamu yang mau membantu. Jadi, dia sengaja mengadu domba papaku dan Om Adrian. Kamu paham kan maksudku?" Karena terbiasa bermain dengan pikiran dan ketelitian, akhirnya Bima menjadi berpikir kejauhan.
Ayunda tercenung, diam seribu bahasa dan membenarkan dugaan Bima.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya.
"Ya, satu-satunya cara, kita jangan sampai membuat rencana mereka berhasil. Kamu tidur di ranjang dan aku tetap di lantai. Entah kenapa, aku merasa orang itu meletakkan kamera tersembunyi di ruangan ini. Tapi, aku tidak bisa menemukannnya," tukas Bima sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, demikian juga dengan Ayunda.
"Tapi, aku merasa tidak akan ada masalah sama sekali kalau kamu tidur di kasur, selama kita tidak melakukan apa-apa. Aku rasa dengan begitu orang itu juga gagal menjebak kita. Kan dia tidak akan punya bukti yang mengatakan kita berbuat asusila,"
"Te-tentu saja tidak! Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya kasiha ke kamu. Lagian, buat apa aku berharap kalau aku ingin seranjang denganmu? Apa kamu kira aku masih Ayu yang dulu, yang masih mengejar-ngejarmu? maaf, tidak sama sekali. Aku sekarang bahkan sudah punya pacar dan kamu sendiri sudah mengenalnya," tutur Ayu panjang lebar untuk menutupi kegugupannya.
Bima seketika tersenyum smirk, senyum yang meremehkan. "Apa yang kamu banggakan dengan pacar palsu kamu itu? Apa kamu kira aku ini bodoh dan tidak tahu kalau dia itu teman adik kamu, yang kamu minta untuk menemanimu?"
Mata Ayunda sontak membesar terkesiap kaget mendengar ucapan Bima. " Heh,dari mana dia bisa tahu? Bukannya hanya aku dan Arya yang tahu?" batin Ayunda.
"Kamu tahu dari mana? Apa itu berarti kamu menguntitku selama ini?" Ayunda memicingkan matanya, curiga.
Kini gantian Bima yang tercekat, bingung mau memberikan jawaban. "Sial, kenapa jadi aku yang terjebak begini?" bisik pria itu pada dirinya sendiri.
"Enak saja jangan asal menuduh! Aku tidak mungkin melakukan pekerjaan bodoh itu!" sangkal Bima.
"Kalau tidak menguntitku,darimana kamu tahu kalai Farell teman Arya bukan pacarku?" desak Ayu lagi, membuat Bima semakin terdesak.
"Sudahlah, kenapa jadi bahas itu! Sekarang kita tidur saja, ayo!" tanpa sadar Bima naik ke atas ranjang dan merebahkan tubunya, lalu menutup matanya.
"Hei, bukannya tadi kamu bilang tidak mau tidur di ranjang?"
Bima sontak membuka matanya kembali.
"Sial, kenapa aku jadi bodoh begini?" umpat pria itu dalam hati.
Kemudian pria itu bangkit duduk dan menatap Ayu. Kali ini pria itu menatap Ayu dengan gaya tatapan yang selalu dia gunakan dulu pada wanita itu, yaitu tatapan mengintimidasi yang membuat wanita itu takut.
"Kamu maunya apa sih? Bukannya tadi kamu yang bilang kalau tidak masalah tidur di ranjang, yang penting tidak melakukan apa-apa? Kenapa sekarang kamu sepertinya keberatan?" Bima pura-pura marah, untuk mengalihkan rasa groginya. "Kalau kamu keberatan tidak masalah, biar aku kembali ke lantai," Bima bergerak hendak turun dari ranjang lagi.
"Eh, eh, tidak masalah sama sekali! Jangan langsung marah digitukan saja! Kamu bisa kok tidur di ranjang!" cegah Ayunda dengan cepat, lupa dengan kecurigaannya tadi.
Tanpa sepengetahuan Ayu,Bima terseyum tipis. "Akhirnya aman!" ujar pria itu, mengembuskan napas lega, dan langsung membaringkan tubuhnya kembali, memunggungi Ayunda.
Sementara itu,Ayunda meraih selimut yang tadinya tergeletak di lantai. Setelah itu, dia lebih dulu mengatur napasnya, dan merengsek naik ke atas ranjang. Wanita itu juga memberanikan diri untuk menyelimuti Bima dan dirinya, lalu berbaring memunggungi Bima. Dia tidak bisa memberikan pembatas antara dia dan pria itu,karena guling di kamar itu juga raib entah kemana.
Suasana kamar kini terasa sunyi. Tidak ada yang buka suara lagi. Yang tersisa hanyalah suara detak jantung keduanya yang beradu dengan denting jam di dinding.
Sementara itu dari kamar lain,dua orang pria yang tidak lain Bimo dan Tristan tertawa sembari melakukan tos,melihat pemandangan dua orang itu dari layar handpone Bimo.
Tbc