
Hari kini sudah berganti, saatnya untuk memulai hari baru bagi Tristan untuk melakukan rutinitas seperti biasanya yaitu bekerja.
Pria berusia 25 tahun itu berjalan menuruni tanggga dengan tas kerja di tangannya. Dia tampak terlihat tampan dan gagah dengan balutan kemeja berwarna biru muda yang dipadankan dengan jas berwarna navi.
Ia berjalan menuju ruang makan dimana keluarganya sudah berkumpul, minus Bima yang sepertinya masih betah menginap di hotel.
"Ma, Pa, Bimo, aku tidak sarapan ya. Aku mau langsung pergi saja!" ucap Tristan sembari meraih gelas berisi susu yang memang diperuntukkan untuknya.
Tiga orang yang berada di meja makan itu sontak saling silang pandang dan bertanya melalui sorot tatapan masing-masing.
"Kenapa kamu buru-buru, Tristan? bukannya ini masih terlalu pagi ke kantor?"
"Aku akan mengantar dan menjemput Salena sekolah mulai hari ini,"
Jawaban Tristan sontak membuat Bara terbatuk-batuk, karena kaget.
"Kamu papa minta jadi calon suaminya bukan jadi supirnya," celetuk Bara setelah batuknya mereda.
"Emm, iya sih Pa. Tapi aku hanya ingin memulai pendekatan dari hal kecil seperti ini dulu. Bukannya Papa memintaku untuk mencari cara untuk membuat Om Satya menerima permintaan Papa? ya salah satunya dengan cara ini," sahut Tristan, santai.
"Astaga, kenapa dia jadi se-antusias ini ya? aku kan sebenarnya tidak terlalu memaksakan," batin Bara di sela kebingungannya.
"Ya udah, Pa, Ma, Bimo, aku pergi dulu!"
"Tapi kamu belum sarapan, Nak! kamu makan sedikit saja dulu!" cegah Clara dengan tangan yang bersiap untuk menyendokkan nasi ke dalam piring kosong.
"Tidak usah, Ma! nanti aku akan sarapan di kantor! udah ya Ma, aku berangkat dulu!" sebelum pergi Tristan mencium punggung tangan Clara, kemudian berpindah ke Bara. Setelah itu, pria itupun beranjak pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tristan menepikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah milik Satya. Kemudian dengan langkah tegap dia berjalan menuju pintu masuk.
Dari langkahnya bisa terlihat jelas kalau pria itu tampak percaya diri. Namun, tidak ada yang tahu kalau jantungnya sekarang berdetak begitu kencangnya.
"Selamat pagi, Om, Tante!" sapa Tristan dengan sangat sopan.
Satya dan Arumi, serta putra mereka satu-satunya yang sedang menikmati sarapan sontak menoleh ke arah Tristan. Satya memicingkan matanya, bingung kenapa putra sulung Bara itu tiba-tiba datang sepagi ini.
"Tristan, kenapa kamu sepagi ini sudah datang ke sini? apa ada sesuatu yang sangat penting?" tanya Satya dengan alis bertaut tajam.
"Oh, aku mau mengantarkan Salena sekolah, Om?"
Kening Satya semakin berkerut, bingung. "Ada hal apa kamu ingin mengantarkan Salena sekolah? kamu tahu kan kalau dia ada supir sendiri?" alis Satya sedikit naik ke atas, menyelidik.
"Sial, kenapa tatapan Om Satya seperti itu sih? bisa-bisa aku goyah nih," batin Tristan sedikit gemetar melihat tatapan pria yang dari dulu memang paling dia segani itu. "Semangat, Tristan, kamu pasti bisa mengatasi Om Satya!" batin Tristan lagi, menyemangati dirinya sendiri.
"Emm, mulai dari hari ini aku akan menggantikan supirnya untuk mengantarkan Salena sekolah, Om. Dan kalau ada waktu aku juga akan menjemputnya pulang," sahut Tristan berusaha untuk tetap tenang di depan pria paruh baya itu.
"Om semakin bingung kamu buat. Apa alasanmu untuk mengantar jemput Salena sekolah? boleh kamu jelaskan!"
"Emm, karena sebagai calon suaminya aku ingin memulai tanggung jawabmu dari hal kecil lebih dulu,"
"Sejak sekarang, Om!" sahut Tristan dengan suara bergetar.
"Apa papamu yang memintamu datang ke sini?"
"Tidak, Om! ini murni niatku sendiri,"tegas Tristan.
"Kamu kira aku akan percaya? Om yakin kalau papamu yang memintamu datang ke sini. Ngaku kamu!" desak Satya
"Kalau bersumpah tidak salah, aku berani bersumpah demi apapun kalau papa tidak memintaku datang ke sini, Om!" Tristan sudah terlihat lebih tegas dari sebelumnya. "Memang, aku tahu Papa pernah mendatangi Om untuk melamar Salena untukku Dan aku juga tahunya dari mama. Tapi, aku tahu kalau Om sama sekali belum menerimanya dan Papa juga tidak memaksa. Aku berani menegaskan Om, kalau aku sendiri yang berniat untuk menjadikan Salena sebagai calon istri," sambung Tristan kembali.
Satya bergeming, menatap ke arah Tristan dengan intense, mempelajari raut wajah pemuda itu untuk mengetahui keseriusan ucapannya.
"Apa kamu melakukannya hanya untuk balas budi makanya kamu berniat untuk memenuhi keinginan Bara? kalau niatmu hanya untuk balas budi, lebih baik kamu hilangkan pikiranmu untuk bisa menikahi putriku! karena aku tidak akan menyerahkan putriku pada pria yang menjadikannya sebagai alat balas budi. Aku akan menyerahkan putriku pada pria yang benar-benar mencintai putriku sama seperti aku mencintainya." Satya berbicara dengan sangat lugas dan tegas.
"Om, memang aku akui kalau aku belum bisa memastikan perasaanku yang sebenarnya pada Salena, tapi kalau boleh jujur, aku menyayanginya dan juga selalu ingin melindunginya. Aku merasa dengan rasa sayang dan keinginan untuk melindunginya, bisa berubah menjadi cinta." Tristan diam sejenak, untuk mengambil jeda.
Sementara itu Satya terdiam tidak membantah ucapan Tristan, karena memang dia akui kalau dia, melihat kasih sayang Tristan pada Salena putrinya. Dia juga melihat kalau pemuda itu selalu mengalah dan sabar menghadapi putrinya dan pria yang selalu didengarkan oleh Salena selain dirinya adalah pemuda di depannya itu. Tapi, entah kenapa pria paruh baya itu masih saja merasakan keraguan di dalam hatinya untuk mengiklaskan putrinya pada putra sulung sahabatnya itu.
"Tapi, jujur Om aku melakukan ini murni dari niat hatiku sendiri bukan karena ingin balas budi. Kalau Om merasa keberatan mengingat Salena masih SMA, aku akan sabar menunggunya sampai dia menyelesaikan pendidikannya. Yang aku perlukan sekarang, hanyalah dukungan Om dan Tante," sambung Tristan lagi.
Satya semakin terdiam mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Tristan. Jauh di dalam lubuk hatinya dia benar-benar kagum dengan sikap berani dan tegas dari pemuda itu.
Setelah terdiam untuk beberapa saat, Satya akhirnya mengembuskan napasnya dengan cukup keras dan tersenyum tipis. "Baiklah, Kali ini Om kasih kamu kesempatan, tapi jangan dulu kasih tahu masalah ini pada Salena. Kamu Om kasih kesempatan untuk melakukan pendekatan pada putri Om, tapi kalau suatu saat dia mengatakan kalau dia hanya menganggapmu sebagai kakak saja, kamu harus bisa terima dengan lapang dada," pungkas Satya akhirnya luluh.
"Baik, Om! terima kasih Om!" Tristan tersenyum, tulus.
Satya menganggukkan kepalanya dan menepuk-nepuk pundak Tristan dengan lembut. "Tapi ingat, Salena masih SMA. Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal yang macam-macam padanya. Aku tidak akan segan-segan mematahkan burungmu!"
Tristan meneguk kembali ludahnya dengan kasar, mendengar ancaman pria paruh baya itu.
"Aaaa, kenapa tidak ada yang membangunkanku sih? aku bisa telat ini!" tiba-tiba terdengar teriakan yang pastinya berasal dari gadis yang jadi bahan pembicaraan antara Tristan dan Satya tadi.
Gadis itu muncul dengan seragam sekolah yang belum tapi dan rambut belum disisir.
"Lho kok ada Kak Tristan?" pipi Salena langsung memerah. Dan wanita itu sontak menyisir rambutnya menggunakan harinya sendiri. Sementara itu, Tristan berusaha menahan tawa melihat penampilan Salena.
"Kamu masih yakin menjadikan gadis yang masih kekanakan itu menjadi istrimu?" bisik Satya, menahan tawa.
"Mama, kenapa aku tidak dibangunkan sih?" Salena mengulangi protesnya.
"Mama sengaja, agar kamu bisa lebih disiplin. Mama sudah tekadkan agar tidak membangunkan kamu lagi. Kalau kamu telat bangun berarti kamu tanggung sendiri resikonya, telat ke sekolah atau bisa jadi tidak sekolah sama sekali," sahut Arumi buka suara pertama kali setelah dari tadi menjadi pendengar setia.
"Ahh, mama jahat! kalau begitu aku langsung berangkat aja sekarang. Aku akan rapi-rapi di dalam mobil saja. Aku berangkat ya Ma, Pa! dan untuk Kak Tristan, kamu hutang penjelasan padaku, kenapa pagi-pagi sudah ada di sini. Sekarang aku tidak sempat bertanya, jadi nanti saja. Bye semua!" Salena memutar tubuhnya dan hendak berlari.
"Kamu tidak perlu menunggu nanti. Sebentar lagi kamu juga bisa tanya, karena aku yang akan mengantarkanmu sekolah!" ucap Tristan, tersenyum.
"Heh?" Salena yang nyaris berlari, langsung mengurungkan niatnya dan menatap Tristan dengan kening berkerut.
Tbc