
Acara resepsi pernikahan Bara dan Clara kini sudah benar-benar usai. Bara dan Clara memutuskan untuk langsung pulang ke rumah utama keluarga Prayoga, karena Clara menolak untuk menginap di hotel.
Sebenarnya Bara sedikit kesal akan penolakan wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu. Namun, pria itu hanya bisa menggerutu dalam hati, takut kalau Clara marah.
Clara keluar dari kamar mandi dan dia sudah terlihat segar.
"Mas, sekarang giliranmu!" ucap Clara, sembari melangkah ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya.
"Apa aku tidak bisa mandi nanti saja? toh nanti juga akan berkeringat dan pasti akan mandi lagi kan?" sahut Bara, tersenyum penuh maksud, dan Clara tentu saja tahu ke arah mana maksud ucapan pria itu.
"Mas, kamu tetap harus mandi. Bagaimanapun badanmu akan lebih ringan dan segar kalau sudah mandi,"
"Aku benar-benar malas untuk mandi sekarang, Sayang. Nanti saja ya! soalnya aku mau buka tabunganku yang bertahun-tahun aku lakukan. Kamu bisa bayangkan kan, seberapa banyaknya tabunganku itu?" ucap Bara ambigu.
Clara sontak berbalik dan mengrenyitkan keningnya. "Tabungan apa? tanpa kamu katakan pun orang lain pasti sudah tahu kalau kamu punya tabungan yang banyak." sahut Clara, yakin kalau yang dimaksud Bara dengan tabungan adalah uang.
"Atau jangan-jangan tabungan yang kamu maksud, kamu memasukkan uang ke dalam celengan selama bertahun-tahun? tapi, masa iya sih, orang kaya kamu, menabung di celengan?" imbuh Clara lagi, merasa ragu.
"Tapi, mungkin juga sih. Dulu, kamu kan juga suka menabung di celengan. Kali aja kamu masih membiasakan kebiasaan itu, iya kan, Mas?Kalau iya, berarti uangnya ia uangnya jumlahnya banyak dong!" Clara bertanya sendiri dan menjawab sendiri dengan sangat antusias dan wajah berbinar.
"Iya, jumlahnya sangat banyak. Mungkin tidak bisa terhitung lagi," Bara, tersenyum misterius.
Mata Clara membola dan berbinar. Mulut wanita itu juga sedikit terbuka, membayangkan jumlah uang yang begitu banyak, sampai seorang Bara mengatakan tidak bisa terhitung.
"Wah, kalau masalah uang, tidak mungkin tidak terhitung. Apa kamu butuh bantuanku?"
"Oh, tentu saja! karena tidak mungkin aku membongkar tabungan itu hanya sendiri. Aku butuh partner dan partner aku itu, tidak boleh orang sembarangan, harus orang yang istimewa. Siapa lagi orang istimewa itu kalau bukan kamu,"
Mendengar ucapan Bara, Clara sontak mengrenyitkan keningnya, dan menatap Bara dengan tatapan curiga.
"Tabungan apa yang sebenarnya kamu maksud? jangan bilang kalau yang kamu maksud itu ...." Clara menggantung ucapannya, tapi matanya mengarah ke bawah, yaitu arah bagian paling sensitif pria.
Bara tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya. "Ternyata kamu peka juga. Iya, yang aku maksud, ya seperti yang kamu pikirkan sekarang. Aku sudah sangat lama tidak menghamburkan milikku. Aku menyimpannya, sampai tiba saatnya orang istimewa itu datang. Sekarang, kamu sudah ada di depanku dan sudah jadi milikku, dan secara tidak langsung,yang aku tabung juga sudah siap untuk dikeluarkan," ucapnya, penuh maksud sembari mengerlingkan matanya.
Clara sontak meneguk ludahnya dan bergidik melihat tatapan Bara yang menggoda.
"Astaga, kenapa aku jadi grogi seperti ini? padahal ini bukan yang pertama lagi buat kami. Dulu, setelah menikah kami bahkan sudah terbiasa melakukannya," bisik Clara pada dirinya sendiri.
"M-Mas, kamu jangan seperti itu ah. Bisa tidak kita malam ini istirahat saja?" suar Clara terdengar bergetar saking groginya.
"Tidak mau! masa kamu tega sih, Sayang. Aku kan sudah__"
"Iya, iya, aku sudah tahu, kalau kamu sudah lama tidak melakukan seperti itu, tapi kan, nggak harus sekarang,Mas. Masih ada hari-hari lainnya," Clara mencoba melakukan penawaran.
Bara yang tadinya tersenyum lebar, langsung berubah muram dan mengembuskan napasnya dengan cukup berat.
"Baiklah. Kalau begitu aku mandi dulu," ucap pria itu lirih dan melangkah menuju kamar mandi.
Melihat perubahan wajah Bara, membuat Clara merasa tidak enak dan merasa bersalah. Wanita itu, sontak menghambur memeluk tubuh Bara dari belakang, sebelum pria itu benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
"Maaf, Mas. Sekarang aku tidak masalah kok, kalau kamu maunya sekarang," ucap Clara dengan sangat pelan, dan terkesan malu-malu.
Bara tersenyum tipis, bahkan seperti tidak terlihat, trik memasang wajah kesalnya ternyata berhasil.
Clara dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak kok, Mas! aku tidak terpaksa," sahut Clara dengan cepat.
Kali ini Bara tidak lagi tersenyum tipis. Pria itu langsung berbalik dan menatap Clara yang sekarang wajahnya sudah memerah.
"Kamu sungguh-sungguh kan? kamu tidak akan menarik kembali ucapanmu?" tanya Bara memastikan.
Senyum Bara semakin mengembang, melihat anggukan kepala istrinya itu. Tanpa basa-basi lagi, Bara kemudian mengangkat tubuh Clara ala bridal style dan membawa wanita itu ke ranjang.
Karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Bara langsung meluapkan semua kerinduannya pada wanita itu dan Clara juga membalasnya. Malam itu, walaupun bukan yang pertama kalinya lagi buat mereka, tapi rasanya tetap seperti baru.
Sementara itu, di kamar lain, yakni di kamar Bima dan Bimo, tampak si kembar itu sama sekali belum tidur. Mereka berdua terlihat asik di depan sebuah komputer dan sesekali tertawa. Entah apa lagi yang dilakukan oleh dua orang itu, hanya merekalah yang tahu. Yang jelas, kalau sudah seperti itu, berarti ada sesuatu hal yang mereka berdua rencanakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, tepatnya di kediaman Arumi, tampak gadis itu juga belum tidur. Dia hanya berbaring terlentang sembari menatap langit-langit kamarnya.
Mata wanita itu kemudian beralih ke arah meja, di mana dia meletakkan bunga tangan Clara yang terlihat hanya separuh saja, dan separuh lagi diberikan pada Satya.
Ya, karena mereka tadinya sama-sama menolak bunga itu, dan saling melempar bunga itu, Bima tiba-tiba datang dan merampas bunga itu dari tangan keduanya.
"Om sama Tante tidak usah berebut, bunganya. Nih aku bagi dua. Adil kan?" ucap Bima saat itu, sembari meletakkan bunga yang sudah dia bagi dua ke tangan keduanya, dan langsung beranjak pergi. Tindakan Bima, sontak saja membuat Arumi dan Satya mematung, kebingungan.
"Ihh, benar-benar memalukan!" Arumi menutup wajahnya dengan bantal, karena malu membayangkan kejadian di acara resepsi Clara dan Bara tadi.
"Ini pasti sudah direncanakan sama anak-anak nakal itu. Benar-benar menyebalkan!" Arumi kembali menggerutu.
Tiba-tiba wajah wanita itu, memerah begitu mengingat bagaimana dalamnya tatapan Satya ke arahnya saat mereka bersama mendapatkan bunga itu. "Tadi dia menatapku seperti itu, maksudnya apa? dan kenapa jantungku, berdetak kencang saat dia menatapku? dan kenapa aku jadi malu begini ya?" gumam Arumi seraya kembali menutup wajahnya dengan bantal.
Arumi kemudian memejamkan matanya, berusaha untuk tidak memikirkan Satya lagi. Wanita itu berharap dia bisa tidur dengan cepat. Namun, setelah cukup lama, wanita itu mencoba untuk bisa tidur, tetap saja mata wanita itu tidak mau terpejam. Akhirnya, Arumi kembali duduk dan bersandar di sandaran ranjangnya. Tangan wanita itu, terulur ke arah nakas, untuk meraih ponselnya.
Wanita itu, memutuskan untuk membuka media sosialnya, untuk mengalihkan pikirannya dari Satya.
Di saat dia membuka media sosialnya tampak pemberitahuan ada komentar yang datang dari Satya pada photo dirinya saat dia acara resepsi Clara dan Bara tadi. Dengan tidak sabar, Arumi pun membuka isi komentar Satya. Komentar pria itu benar-benar membuat Clara terkesiap kaget.
Bagaimana tidak, isi komentar pria itu, adalah hal yang tidak pernah diduga oleh Arumi akan sanggup dilakukan oleh pria dingin seperti Satya. Apa lagi isi komentar itu kalau bukan sebuah pujian yang mengatakan kalau dia sangat cantik malam ini. Dan yang paling tidak disangka, pujian itu diakhiri dengan emoticon kiss dan love.
Arumi tanpa sadar tersenyum dan langsung membalas komentar itu. "Terima kasih!" Arumi sengaja membalas dengan diakhiri dengan emoticon wajah sinis. Berusaha memperlihatkan kalau dirinya tidak merasa tersanjung dengan pujian pria itu.
"Sama-sama, Cantik!" tiba-tiba komentar balasan kembali datang.
Arumi tiba-tiba sangat gugup dan langsung meletakkan ponselnya kembali. Wanita itu dengan cepat berbaring kembali dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sementara itu,pria yang sedang ada di dalam pikiran Arumi tampak sudah tertidur pulas di kamarnya.
Jadi, siapa yang mengirimkan komentar di media sosial Arumi, kalau yang bersangkutan ternyata sudah tidur?
Tbc
Maaf, ya, adegan ranjang Bara dan Clara terpaksa aku skip, karena sekarang pihak Noveltoon sangat ketat pengawasannya. Hal seperti itu tidak diizinkan.🥰🙏🏻