Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
pulang kampung


Setelah mengantarkan Arumi keluar, Bimo mencoba untuk menghubungi Bima. Untuk memberikan informasi baru yang baru saja dia dapat. Namun, berkali-kali di mencoba, Bima sama sekali tidak menjawab panggilannya. "Bima pergi kemana sih? bukannya seharusnya dia sudah pulang sekolah dan ada di rumah sekarang?" batin Bimo sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


Baru saja dia berniat untuk melangkah ke kamarnya, Clara mamanya tampak keluar dari kamar dengan tas kecil yang sepertinya berisi pakaian. Wanita itu tampak seperti ingin pergi ke suatu tempat dan tidak langsung pulang. Sementara Bimo mengrenyitkan keningnya, bingung melihat mamanya.


"Tante Arumi sudah pulang ya?" tanya Clara sembari meletakkan tasnya di atas meja.


"Iya, Ma, baru saja. Mama bawa tas itu mau pergi kemana?" tanya Bimo yang tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


"Oh, Mama tiba-tiba rindu mau pulang ke kampung, Mama. Mama mau ziarah ke makam neneknya Mama. Kamu juga ikut mama ya?" sahut Clara, yang matanya terlihat sembab. Tampaknya wanita itu habis menangis dari tadi.


"Tapi, Ma, besok kan aku masih sekolah dan besoknya juga," Bimo mencoba mengingatkan dengan sangat hati-hati


" Mama nanti akan kirim pesan ke wali kelasmu untuk izin satu hari saja. Kampung Mama tidak terlalu jauh. Hanya butuh 3 jam perjalanan. Kita berangkat sekarang, kita akan tiba di sana menjelang malam. Besoknya kita ke makam neneknya Mama, setelah itu kita kembali lagi ke sini supaya kamu bisa kembali sekolah, lusa," sahut Clara panjang lebar.


Senyum Bimo seketika terbit dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Ma. Aku ke kamar dulu ya, buat ganti pakaian dan bawa pakaian ganti di sana," pungkas Bimo dengan semangat dan masuk ke dalam kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bima sebenarnya belum puas bermain dengan Bara papanya.Namun, karena Satya sang asisten papanya menghubungi karena ada klien yang sangat penting datang ke kantor dan ingin bertemu Bara,mau tidak mau mereka harus berhenti bermain.


"Maaf,ya, karena kita harus berhenti bermain. Papa janji, kalau ada waktu, kita akan bermain lagi sepuasnya," ucap Bara, di saat mereka dalam perjalanan menuju ke kantor. Ya, untuk menghemat waktu, akhirnya Bara memutuskan untuk membawa Bima ke perusahaannya.


"Tidak apa-apa, kok Pa. Ini kan bukan salahnya Papa. Tapi salahnya Om Satya yang tidak bisa berubah jadi Papa," ucap Bima, dengan menyelipkan sedikit candaan pada ucapannya itu.


Bara sontak tertawa dan sebelah tangannya langsung terulur untuk mengacak-acak rambut putranya itu. "Kamu ini ada-ada saja. Mana mungkin Om Satya bisa berubah menjadi Papa. Emangnya ini film fantasi yang bisa membuat seseorang punya kekuatan super, bisa merubah diri menjadi seseorang? sepertinya kamu ini kebanyakan nonton film seperti itu deh," tutur Bara dengan tatapan yang fokus menatap ke depan.


"Iya sih Pa. Tapi asal Papa tahu,aku bisa menggantikan seseorang untuk berada di suatu tempat, tanpa ada orang yang curiga kalau aku ini bukan orang yang mereka cari. Hebat kan?" Bima dengan sengaja memberikan clue pada papanya.


"Oh ya? hebat sekali kamu!" namun sepertinya Bara tidak terlalu memikirkan ucapan putranya yang dia anggap hanya sebatas, gurauan anak kecil yang terobsesi dengan film-film fantasi yang pernah ditontonnya.


Bima menghela napasnya dengan berat, sadar kalau papanya itu tidak menganggap serius ucapannya. "Aku tidak sedang bercanda ataupun sedang menghayal, Pa. Kamu sendiri tidak menyadari kalau aku bukan Bimo anak yang kamu besarkan, tapi aku ini Bima," ucap Bima yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


Keheningan tercipta untuk beberapa saat di antara dua laki-laki berbeda usia itu. Mereka fokus pada pikiran masing-masing. Walaupun Bara terlihat fokus mengemudi, namun pikirannya melayang mengingat wajah Clara. Sementara Bima fokus memikirkan kekurangan bukti yang sedang dia kumpulkan.


Bima meraih tasnya dan mengeluarkan handphonenya dari dalam. Dahinya berkrenyit melihat ada lebih dari 10 panggilan tidak terjawab dari Bimo.


"Bimo meneleponku dari tadi. Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting yang ingin dia sampaikan. Tapi bagaimana aku bisa menghubungi dia balik ya? aku kan sekarang lagi sama Papa," bisik Bima pada dirinya sendiri dengan ekor mata yang melirik ke arah Bara.


"Ada apa? apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" Bara buka suara. Ternyata, walaupun pria itu fokus menatap ke depan,.dia tetap memperhatikan pergerakan Bima.


"Tidak ada kok, Pa!" sahut Bima sembari melemparkan senyum tipisnya.


"Kamu tadi menghubungiku,ada apa? maaf tadi aku sama papa sedang bermain di timezone. Kalau sekarang papa juga ada di sampingku. Kami mau ke kantor papa, karena katanya ada rekan bisnisnya yang hanya mau bertemu dengan Papa. Jadi aku tidak bisa menghubungimu, sekarang." tulis Bima pada pesannya.


Cukup lama, Bima menunggu balasan dari Bimo, hingga membuat anak kecil itu berkali-kali melirik ke arah ponselnya.


Tentu saja kegelisahan Bima menarik perhatian Bara. Pria itu menoleh sekilas ke arah putri itu dan kembali lagi melihat ke depan. "Ada apa? kamu sepertinya gelisah." Bara buka suara tanpa menoleh ke arah Bima.


Bima sedikit tersentak kaget mendengar pertanyaan papanya yang tiba-tiba. "Tidak ada apa-apa kok, Pa. Aku hanya menunggu kabar dari Miss Sinta apa bunga kirimanku tadi sudah diterima atau belum," sahut Bima, berbohong.


"Oh, sabar sajalah. Mungkin sudah sampai, tapi dia lupa mengabari," sahut Bara sembari melemparkan senyum manis ke arah Bima.


Seiring Bara selesai berbicara seperti itu, handphone Bima kembali berbunyi. Dan dia melihat ada pesan balasan dari Bimo.


"Nanti saja aku telepon kamu balik. Yang pasti ini sangat penting. Sekarang aku juga sama mama di bus mau pulang ke kapal halaman,Mama. Katanya dia ingin mengunjungi makam neneknya," Begitulah isi pesan yang baru saja dibaca Bima.


Bima terlihat merengut ketika selesai membaca pesan Bimo. Tangan kecilnya dengan lincah langsung mengirimkan b


pesan balasan lagi. "Enak sekali kamu, dibawa mama pulang kampung. Padahal dari dulu aku minta untuk pulang kampung,mama selalu bilang tidak punya waktu. Sekarang aku benar-benar kesal!"


Tidak perlu menunggu lama, kembali pesan balasan datang dari Bimo.


"Kamu juga enak. Kamu dibawa papa ke kantornya. Asal kamu tahu, selama aku ada bersama Papa,aku sama sekali belum pernah dibawa ke kantornya. Padahal aku sangat ingin," pesan Bimo ini diakhiri dengan emoticon kesal.


Membaca pesan Bimo barusan membuat Bima tanpa sadar terkekeh, hingga membuat Bara menoleh ke arahnya.


"Ada apa? apa ada sesuatu yang lucu?" tanya Bara seraya menepikan mobilnya karena kebetulan tempat yang dituju sudah sampai.


"Tidak ada,Pa. Cuma ini pesan dari Miss Sinta. Dia cuma bilang terima kasih atas kiriman bunganya, dan dia bilang aku cukup romantis. Itu sebabnya aku tertawa," sahut Bima memberikan alasan yang masuk akal.


"Oh, seperti itu? Papa juga merasa seperti itu sih," ucap Bara yang dibarengi dengan Kekehan ringan.


"Ya udah,ayo keluar, Bima!"Bara melepaskan sabuk pengamannya dan bersiap untuk keluar dari mobil.


"Pa, apa aku harus ikut? aku di sini saja ya?"


"Tidak,Bima! kamu harus ikut turun. Papa tidak mau nanti terjadi apa-apa ke kamu karena papa tidak bisa memprediksi berapa lama papa nanti ada di dalam sana," tolak Bara dengan tegas.


tbc