
Di lain tempat, tepatnya di kantor Bara, tampak Bara, Satya dan Adrian sedang serius membicarakan sesuatu. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 pagi menjelang siang.
Pembicaraan mereka seketika berhenti ketika ada yang mengetuk pintu.
"Masuk!" titah Bara dengan tegas.
Tugas pintu terlihat berputar pertanda orang di luar sana sedang membuka pintu. Benar saja, pintu akhirnya terbuka dan seseorang pun masuk.
"Tristan, kenapa jam segini kamu baru datang? bukannya kamu sudah pulang dari Bali tadi malam? dan kemana saja kamu? kenapa tidak pulang ke rumah?" cecar Bara dengan beruntun ke arah Tristan.
Tristan tidak bisa menjawab karena sejujurnya dirinya merasa kalau sang papa sedang marah padanya. Dan dirinya juga merasa kalau kegagalannya walaupun memang tidak disengajanya, semakin memperlihatkan kalau dirinya bukan anak kandung Bara. Tristan tidak bertanya lagi dari mana papanya itu bisa tahu kalau dia sudah pulang dari Bali. Ia yakin kalau Om Satya pasti yang sudah menginformasikan pada papanya itu.
"Tristan, kenapa kamu tidak menjawab?" ulang Bara lagi.
"Maaf, Pa!" alih-alih menjawab pertanyaan Bara, Tristan justru meminta maaf.
"Maaf untuk apa?" tanya Bara pura-pura tidak tahu kenapa putranya itu meminta maaf.
"Maaf kalau aku sudah gagal mendapatkan proyek itu. Papa pasti kecewa padaku, dan Papa pasti menyesal sudah mempercayakanku menangani proyek itu," sahut Tristan dengan lirih.
Bara mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan dan berdiri dari kursi kebesarannya, lalu melangkah menghampiri Tristan.
"Kamu duduk dulu!" Bara mengajak putranya itu duduk di sofa, sementara Satya dan Adrian pun ikut menyusul.
"Tristan, siapa bilang papa kecewa? justru papa sangat bangga sama kamu, yang tahu memprioritaskan mana yang lebih penting lebih dulu. Papa tahu, kamu sudah memerintahkan orang untuk menyelamatkan Salena, tapi papa bisa merasakan bagaimana perasaanmu yang tidak akan merasa tenang, kalau bukan kamu sendiri yang melakukannya, makanya kamu memutuskan untuk terjun langsung. Papa tidak menyalahkan kamu, Nak. Jadi kamu jangan merasa kalau kamu sudah membuat papa kecewa. Sekali lagi Papa mau menekankan kalau papa sangat bangga padamu yang sudah bisa menunjukkan rasa tanggung jawabmu," tutur Bara sembari menepuk-nepuk pundak Tristan dengan bangga.
"Om juga mau berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan harga diri putriku. Om semakin yakin kalau kamu mampu melindungi putriku ke depannya," Satya juga buka suara menimpali ucapan Bara.
Kedua sudut bibir Tristan kini melengkung membentuk sebuah senyuman. Namun, bisa dilihat dari senyumannya kalau sebenarnya pria itu belum sepenuhnya merasa lega, karena masih ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya, di mana dia merasa kalau dirinya masih gagal untuk membuktikan kemampuannya pada Bara papanya.
"Tristan, kenapa kamu masih diam saja, Nak? apa kamu masih memikirkan masalah proyek yang gagal kamu dapatkan itu?" tukas Bara memicingkan matanya.
Tristan tidak menyahut sama sekali karena dia sudah tahu tanpa dia jawab pun papanya itu pasti sudah tahu jawabannya.
Tristan sontak menatap Bara dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana dia bisa percaya kalau, dialah yang menang, sementara dia sama sekali belum mempresentasikan proposalnya pada Mr Maxwell.
"Papa bercanda kan?"
"Kenapa? apa kamu tidak percaya? papa sama sekali tidak bercanda,. Tristan!" sahut Bara dengan penuh keyakinan dan mantap. Namun, tetap saja tidak bisa membuat Tristan percaya begitu saja.
"Apa yang papamu katakan itu, benar, Tristan! Mr. Maxwell sudah mempercayakanmu melakukan proyek besar ini," Satya kembali buka suara menimpali ucapan Bara.
"Ba-bagaimana bisa,? aku memang menyerahkan proposalnya pada beliau, tapi aku tidak sempat untuk mempresentasikan proposalnya, Pa, Om!" Tristan menggeleng-gelengkan kepalanya sulit untuk percaya.
Bara kembali tersenyum dan menghela napasnya dengan sekali hentakan.
"Kata Mr Maxwell, dia melihat kalau kamu itu adalah pria yang bertanggung jawab. Walaupun kamu tidak mempresentasikan proposal kamu, tapi dia yakin kalau kamu layak mendapatkan kesempatan, karena dia melihat dari rasa tanggung jawab dan keberanianmu, yang langsung datang minta maaf dan mengatakan tidak bermaksud mempermainkannya. Dia juga menilai dari alasan yang kamu utarakan, kenapa kamu harus pergi. Dari situ dia menilai kalau kamu itu bisa diberikan sebuah tanggung jawab besar, bukan hanya sekedar omongan. Dia juga tadi mengatakan kalau tidak ada gunanya, proposal yang bagus, presentasi yang bagus, tapi tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dengan kamu mendatanginya sebelum memutuskan untuk pergi, dia merasa kalau kamu menghargainya, dan sikap kamu itu sudah membuat dia yakin kalau kamu adalah orang yang tepat," tutur Bara panjang lebar tanpa jeda.
Tristan tercenung, diam seribu bahasa. Apa yang baru saja dia dengar benar-benar membuat dia kehilangan kata-kata. Pria itu benar-benar masih sulit untuk percaya dengan apa yang dia dengar. "Pa, apa Papa tidak bermain di belakangku?" sudut alis Tristan sedikit naik ke atas menatap Bara dengan tatapan menyelidik. Bukan tanpa alasan kenapa pria itu bisa ragu. Itu karena dia tahu kalau papanya punya pamor dan sangat dihargai.
"Apa kamu mengira kalau Papa selicik itu?" Bara tersenyum smirk.
"Papa sama sekali tidak pernah meloby mr Maxwell di belakangmu dan juga tidak pernah berpikir untuk melakukan hal seperti itu . Kamu tahu Kenapa? Karena itu sudah melangggar prinsip papa. Karena menurut papa hal seperti itu, juga merupakan perbuatan licik, yang dengan sengaja memanfaatkan nama besar Papa untuk memuluskan tercapainya keinginan anak. Dan itu menurut papa bukan termasuk tindakan yang mendidik, justru membuat kalian nantinya semakin ketergantungan pada papa.
Dan kalau Papa melakukan hal itu ... itu sama saja aku meragukan kemampuan anak-anakku, dan secara tidak langsung membuat anak-anakku memiliki kebanggaan yang semu. Mereka bangga pada hal yang bukan pencapaian mereka. Hal seperti itu suatu saat,cepat atau lambat pasti akan kebongkar. Dan bisa dipastikan kalau itu akan lebih menyakitkan nantinya pada kalian bertiga kalau kalian tahu keberhasilan kalian hanya karena campur tangan papa. Papa yakin kalau harga diri kalian akan terluka. Itulah yang tidak papa inginkan terjadi, Nak." sambung Bara lagi, menjelaskan secara tegas dan lugas.
Mendengar penuturan panjang papanya, Tristan akhirnya bisa tersenyum lebar dan Kali ini benar-benar tulus. "Terima kasih, Pa sudah percaya dan bisa mengerti kemauanku. Aku bangga pada papa!"
Bara kembali tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Tristan. "Tidak perlu berterima kasih karena itu memang sudah seharusnya dan lumrah dilakukan seorang ayah. Seorang ibu mengajarkan kelembutan, dan seorang ayah mengajarkan keberanian dan jadi pria yang memiliki prinsip." ucap pria paruh baya itu dengan senyuman yang tidak memudar dari bibirnya.
"Hmm, kalau sudah seperti ini, berarti akan semakin sulit untuk Arya bisa bersaing dengan Tristan untuk mendapatkan Salena," celetuk Adrian yang dari tadi hanya menjadi pendengar sejati.
tbc