
Ayunda menekan bel pintu apartemen yang ditempati oleh Tristan berulang-ulang dengan wajah sembab karena kebanyakan menangis.
"Buka dong, Kak!" gumam Ayunda sembari mengusap-usap kedua tangannya.
"Ayu kamu sedang apa di sini?" sebuah suara pria tiba-tiba menegurnya.
Ayu sontak menoleh dan melihat Tristan berdiri tidak jauh darinya sembari menenteng makanan yang pasti baru dia beli dari luar.
Bukannya menjawab, Ayunda menghambur berlari ke arah Tristan dan memeluk pria itu dengan erat.
"Hei, kamu kenapa? kenapa menangis? Kamu baik-baik saja kan?" cecar Tristan dengan kening berkerut. Antara, bingung dan khawatir bercampur jadi satu.
"Maaf ya, Kak sudah tidak percaya ke kamu. Kakak benar, kalau ternyata Harold bukan pria baik-baik. Aku menyesal tidak percaya ucapan kakak!" Ayu menangis sesunggukan sembari mengeratkan pelukannya.
"Kamu sudah menyadarinya ya? Syukurlah kalau begitu. Sekarang aku sudah sedikit lega," Tristan tersenyum sembari mengusap-usap lembut rambut Ayunda. Tanpa mereka sadari ada seseorang dari jauh, mengambil photo mereka, ketika sedang berpelukan.
Ayunda kemudian melerai pelukannya dan tersenyum di sela-sela isak tangisnya
"Kak, terima kasih juga ya, karena kakak selalu ada untuk menjagaku. Terima kasih karena sudah memerintahkan orang untuk menyelamatkanku tadi dari Harold dan teman-temannya,"
Tristan diam terpaku, bingung mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Ayunda barusan.
"Ma-maksud kamu apa?" Tristan mengrenyitkan keningnya.
"Kakak tidak perlu berbohong lagi. Kakak kan yang meminta Tuan Alex dan anak-anak buahnya untuk menolongku dari cengkraman Harold dan teman-temannya yang ingin melecehkan dan membunuhku?"
"Apa? pria brengsek itu hampir melecehkanmu!" pekik Tristan dengan mata yang memerah. Rahang pria itu juga terlihat mengeras dan napasnya juga memburu.
"Kak, jangan teriak! nanti tetangga kakak penghuni apartamen lain, merasa terganggu. Lagian kenapa harus terkejut seperti itu sih? Masih saja berpura-pura tidak tahu," protes Ayunda dengan bibir yang mengerucut.
Tristan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya ke luar kembali. Pria itu sama sekali tidak berpura-pura. Dia itu benar-benar bingung sekarang.
"Ayu, ayo kita masuk dulu! benar yang kamu katakan, tidak baik kita berbicara di sini!" pungkas Tristan akhirnya. Pria itu kemudian, mengayunkan kaki, melangkah untuk membukakan pintu apartemennya.
"Ayo masuk, Yu!" Tristan membuka pintu lebar-lebar, mempersilahkan Ayunda untuk masuk.
Ayu menyunggingkan senyum dan melangkah masuk ke dalam apartemen yang sudah setahun lebih tidak dia kunjungi ini.
"Wah, apartemen Kakak masih sama seperti dulu ya," Ayunda tersenyum lebar.
Senyum Ayunda yang biasanya menular, kali ini bagi Tristan tidak sama sekali. Karena pikiran pria itu masih dikuasai dengan kebingungan yang amat sangat.
"Ayu, kamu tadi mengatakan kalau Harold dan teman-temannya hampir melecehkanmu, dan ada yang menolongmu, apa ceritamu itu benar?" ulang Tristan, tidak bisa menyembunyikan lagi rasa penasarannya.
"Kakak, apa-apaan sih? Jangan berusaha untuk berpura-pura tidak tahu lagi. Kakak tidak bisa membohongiku lagi. Aku sudah bertanya pada orang yang menolong aku tadi, kak. Mereka sudah berterus terang kalau kamu yang memerintahkan mereka untuk menyelamatkanku, tapi kakak meminta mereka untuk tidak memberitahukan padaku,kalau itu atas perintahmu. Itu karena kakak tidak ingin aku tahu," tutur Ayunda yang membuat Tristan semakin bingung.
"Kak, kenapa jadi bengong sih? Kakak mau cari-cari alasan lagi ya?" Ayunda buka suara kembali,membuat Tristan tersentak kaget.
"Oh, ti-tidak, Yu!" sahut Tristan gugup.
"Oh ya, Kak. Aku pulang dulu ya! Ini sudah sangat malam," Ayunda bagkit dari duduknya.
"Tunggu, apa kamu berani sendiri?" tanya Tristan memastikan.
"Kakak bagaimana sih? Kakak juga kan sudah meminta body guard wanita untuk menjagaku. Mereka ada di bawah menungguku, Kak. Aku balik dulu ya. Bye Kak Tristan. Terima kasih sekali lagi!"
Tristan benar-benar speechless,tidak tahu mau mengucapkan apapun. Semua yang terjadi sekarang benar-benar mendadak baginya.
Tristan tersadar kebali begitu mendengar suara pintu tertutup. Ternyata Ayunda sudah benar-benar pergi. "Kenapa sih,Om Adrian tidak diskusi dulu denganku?" bisik Tristan pada dirinya sendiri.
Tristan baru saja hendak melangkah menyusul Ayunda, karena dia benar-benar penasaran apakah benar Ayunda memiliki bodyguard wanita. Namun, tiba-tiba dia mengurungkan niatnya, karena tiba-tiba ponselnya berbunyi, pertanda ada yang menghubunginya.
"Om Adrian? Om Adrian menghubungiku, pasti ingin membicarakan tentang yang tadi," dengan cepat Tristan menekan tombol untuk menjawab panggilan papanya Ayunda itu.
"Hallo,Om! Kenapa Om sudah bangun jam segini? Bukannya di Indonesia masih pukul 4 subuh?" ucap Tristan sembari melihat ke arah arloji di tangannya, yang sudah menunjukkan jam 10 malam. Ya, perbedaan waktu antara Indonesia bagian barat dan London itu,6 jam lebih maju Indonesia.
"Om, tiba-tiba merasa tidak tenang, Tristan, karena kepikiran Ayu. Apa dia baik-baik saja?" tanya Adrian dari ujung sana.
"Oh, dia baik-baik saja, Om. Dan ini semua berkat Om yang meminta beberapa bodyguard untuk menjaga dan mengawasi Ayu. Hari ini rencana Harold untuk melecehkan Ayu, benar-benar gagal," terang Tristan, bersemagat.
"Apa? Maksudmu apa? Ayunda tadi hampir dicelakai pria bernama Harold itu?" terdengar suara Adrian yang memekik dari ujung sana.
"Kenapa, Om kaget? bukannya Om sudah tahu?" Tristan mengrenyitkan keningnya, bingung. "Oh ya,Om aku juga mau berterima kasih ya, karena Om sudah membuat hubunganku membaik lagi dengan Ayunda? Om sudah memerintahkan orang-orang suruhan Om untuk mengakui pada Ayunda kalau aku yang memerintahkan mereka untuk menyelamatkan Ayunda. Bahkan Om juga membayar bodyguard wanita mengatasnamakan namaku, untuk selalu melindungi Ayunda," sambung Tristan lagi panjang lebar tanpa jeda.
"Tristan ... Tristan tolong kamu diam dulu. Lelucon apa yang sedang kamu katakan barusan? sumpah demi apapun, Om sama sekali tidak pernah memerintahkan orang untuk mengawasi Ayu, karena aku yakin kamu bisa menjaganya,"
Mata Tristan membesar, terkesiap kaget mendengar pengakuan Adrian barusan.
"Om jangan bercanda!" serunya.
"Om sama sekali tidak bercanda. Bukannya tadi kamu sudah mendengar kalau Om sudah berani bersumpah demi apapun?" tegas Adrian.
"Jadi,kalau bukan Om siapa lagi?" alis Tristan bertaut tajam.
"Atau jangan-jangan ...." Adrian dan Tristan sama-sama menggantung ucapan mereka. Sepertinya pemikiran mereka berdua sama.
Tbc