Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
AKCA Season 2 ( Apa kamu mampu?)


"Kamu mau kemana?" Ayunda yang nyaris melangkah, sontak menghentikan langkahnya, begitu mendengar suara Bima.


"Kamu membuntutiku ya ke sini?" Bima kembali bersuara.


Mendengar tuduhan Bima, Ayunda akhirnya memutar tubuhnya, menatap ke arah pemuda itu, yang tersenyum miring ke arahnya.


"Emm, sayangnya tidak sama sekali. Aku sama sekali tidak tahu kalau kamu ada di sini. Tujuanku ke sini hanya untuk melihat pemandangan suasana malam dari atas rooftop ini, yang aku yakin pasti akan sangat indah. Tapi, sepertinya kedatanganku, akan menggangumu, jadi aku akan pergi lagi. Sekali lagi, maaf atas ketidaknyamananmu!". Ayunda tersenyum tipis kemudian kembali memutar tubuhnya, hendak berlalu pergi.


Karena merasa kesal, Bima seketika menarik tangan Ayunda dan menarik tubuh wanita itu ke arahnya.


"Apa maksudmu bersikap seperti ini padaku? hah!" ucap Bima tepat di depan wajah Ayunda yang posisinya benar-benar dekat dengan wajahnya.


"Jangan berpura-pura menghindariku, Ayu. Aku tahu, kamu pasti berharap seperti yang ada di drama-drama konyol yang sering kamu tonton itu! kamu berharap aku merasa kehilangan karena perubahanmu dan berbalik mengejarmu, iya kan? jangan harap itu akan terjadi!" Bima berucap dengan sangat berapi-api. Entah apa yang membuat pria itu bisa sekesal itu, begitu mendengar ucapan Ayunda.


Ayunda mengerjap-erjapkan matanya untuk sejenak karena jarak wajah wanita dengan wajah Bima yang terlalu dekat. Apalagi detak jantungnya yang kali ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Kemudian setelah tersadar gadis itu langsung mendorong dada Bima agar menjauh dari tubuhnya.


"Maaf, Bima. Apa yang kamu katakan barusan sama sekali tidak benar. Aku sama sekali tidak pernah merencanakan hal picik seperti yang kamu katakan tadi. Aku tidak berharap untuk kamu cintai lagi, karena aku sudah memutuskan untuk tidak mengejar dan mengganggumu. Aku akan memenuhi keinginan selama ini, yang menginginkan agar aku tidak mengganggumu dan mengharapkan cintamu. Rasa lelahku sudah sampai di titik tertinggi," tutur Ayunda panjang lebar tanpa jeda dan penuh penekanan.


Bima menatap Ayunda dengan raut wajah datar dan tatapan yang sangat sukar untuk dibaca. Sudut bibir pria itu yang sebelah kiri tampak sedikit naik ke atas, seperti sedang tersenyum meremehkan.


"Kenapa aku meragukan ucapanmu ya?" nada bicara Bima terkesan seperti sedang meledek.


Ucapan Bima yang terkesan meremehkannya itu, membuat Ayunda meradang. Gadis itu menggertakan giginya dan mendekat ke arah pemuda itu.


"Bima, tolong buka telingamu dan dengarkan baik-baik sekali lagi. Biar aku perjelas, aku menyesal sudah menyukaimu sebesar itu, sampai aku terlihat seperti orang bodoh yang tidak punya harga diri. Mulai sekarang aku akan berhenti mencintaimu, karena selama ini, kamu mengganggap perhatianku hanyalah sebuah lelucon!" Napas Ayunda terlihat memburu dan mulutnya bergetar saat melontarkan kalimat demi kalimat.


"Lagian kita sebentar lagi juga akan lulus kan?Jadi, aku sudah meniatkan dalam hati untuk tidak seperti dulu, di mana aku selalu mengekori kamu, ke tempat di mana kamu akan melanjutkan pendidikan mu. Aku sudah tekadkan untuk tidak akan menggangumu lagi, dan tidak akan muncul di depanmu!" Ayunda diam sejenak untuk mengambil napas karena memang gadis itu berbicara dibarengi dengan air mata yang menetes membasahi pipinya. Sementara Bima hanya diam, menatap tajam ke arah gadis itu. Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda itu sekarang hanya dialah yang tahu.


"Oh ya, tunggu aku sampai kuliah, aku pasti akan punya pacar yang lebih tampan dari kamu, dan yang pastinya juga menyayangiku dengan tulus. Sekali lagi aku tekankan, "Aku tidak akan menggangumu lagi dan kamu juga tidak akan melihatku lagi! kamu bebas sekarang, mau dekat dengan gadis manapun, aku tidak peduli!" lanjut Ayunda lagi dengan sengaja meninggikan suaranya, penuh penekanan. Kemudian, setelah selesai meluapkan semua yang ingin dia katakan, Ayunda berbalik kembali dan bersiap untuk beranjak pergi.


Bima tanpa sadar mengepalkan tangannya dengan kencang dan langsung menarik kembali tangan Ayunda ke arahnya sebelum gadis itu benar-benar pergi.


Bima melingkarkan tangannya di pinggang Ayunda dan menarik tubuh gadis itu semakin dekat ke arahnya. Dengan sengaja Bima mencondongkan wajahnya ke wajah Ayunda.


Mata keduanya saling terkunci, Bima dengan mata memerah, Ayunda dengan mata yang berkaca-kaca.


Bima kemudian mengakhiri tatapannya dan beralih menatap bibir tipis Ayunda. Dengan sengaja, Bima mendekatkan bibirnya ke bibir Ayunda sampai jarak sekitar 2 centi saja.


Di lain sisi, melihat Ayu yang sudah menutup matanya, sudut bibir Bima naik sedikit ke atas, tersenyum miring. Bibir yang tadinya sangat dekat dengan bibir Ayunda, kini Bima pindahkan, mendekat ke arah telinga gadis itu.


"Kamu mau berhenti mencintaiku? apa kamu mampu? kalau mampu coba saja! karena aku sama sekali tidak yakin kalau kamu mampu," bisik pemuda itu dengan bibir yang masih tersenyum miring, meremehkan.


Setelah menyelesaikan ucapannya, Bima melepaskan tangannya dari pinggang Ayunda dan berlalu pergi meninggalkan gadis itu.


Ayunda seketika lemas dan terduduk. Gadis itu kembali menangis sesunggukan sembari menatap punggung Bima sampai menghilang dari tatapannya.


"Aku mampu! aku pasti bisa melupakanmu!" ucap Ayunda dengan lirih, sembari menghapus air matanya.


Setelah merasa sudah cukup tenang, Ayunda kembali berdiri dan melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, berniat untuk tidak kembali lagi ke acara pesta, mengingat mata sembabnya, yang pastinya nanti akan mengundang banyak tanya.


"Ayu, kamu kemana saja? aku khawatir dan mencarimu dari tadi!" begitu Ayu keluar dalam lift seorang pemuda yang tidak lain adalah Tristan berlari ke arahnya.


Ayu berusaha mengulas senyumnya ke arah Tristan. "Maaf, Kak. Aku tadi ke rooftop sebentar karena aku tiba-tiba pusing," sahut Ayu.


"Apa kamu baik-baik saja? kamu baru menangis ya?" Tristan dengan lembut menyentuh pipi Ayu. "Apa Bima menyakitimu lagi?" imbuhnya lagi.


"Tidak kok, Kak! aku tadi hanya sendiri di rooftop dan tiba-tiba kelilipan. Kakak tidak perlu khawatir,"


Tristan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali dengan berat. Dia tahu kalau gadis di depannya itu sedang berbohong. Tapi, dia tidak mau memaksa gadis itu untuk berterus terang, karena dia tidak mau gadis yang baru saja memintanya untuk menjadi kakak baginya, menjauh darinya dan menganggap dia terlalu mencampuri urusan gadis itu.


"Baiklah kalau seperti itu! jadi kamu mau kembali ke tempat acara sekarang atau bagaimana?" Tristan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Aku mau pulang saja, Kak. Aku akan telepon supirku untuk menjemputku." Ayu merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya, tapi langsung dicegah oleh Tristan.


"Tidak perlu! biar aku saja yang akan mengantarkanmu!"


"Tapi__"


"Tidak ada tapi-tapi! tadi kamu mengatakan kalau kamu menganggapku kakak kan? jadi, tanggung jawabku sebagai kakak, memastikan adik perempuannya selamat sampai di rumah. Ayo, ikut aku!" Tristan meraih tangan Ayunda, sehingga mau tidak mau gadis itu akhirnya ikut melangkah bersama dengan Tristan.


Dari balik tembok, Bima yang dari tadi mengintip akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya, dan menatap kepergian Tristan dan Ayunda dengan tatapan yang sukar untuk dibaca.


tbc