Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Arumi dan Satya bekerja sama


"Masuk!" titah Satya dari dalam ketika ada yang mengetuk pintu.


Suara decitan pintu karena dibuka oleh seseorang, mengalihkan perhatian Satya dan Adrian yang sedang fokus menatap layar notebook di atas meja.


Untuk beberapa saat, Satya terpaku melihat sosok wanita cantik bertubuh ramping, berkulit putih dengan rambut hitam legam dan panjang yang sengaja diikat sampai ke atas, hingga memperlihatkan leher jenjangnya. Namun, itu hanya sementara, karena detik berikutnya, pria itu memicingkan matanya karena merasa seperti pernah melihat wanita itu.


"Boleh aku masuk?" tanya wanita itu dengan suara yang terdengar merdu.


"Boleh, ayo masuk saja!" ucap Satya, mempersilakan wanita cantik itu masuk.


Wanita yang tidak lain adalah Arumi itu mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Satya.


"Tuan Satya, kenalkan aku Arumi. Wanita yang tadi menghubungimu!" Arumi mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Satya. Sementara ekor matanya melirik ke arah Adrian.


"Oh iya,aku Satya! silakan duduk!" sahut Satya sembari menunjuk ke arah sofa.


"Aku sudah tahu kalau kamu yang bernama Satya, karena aku pernah melihatmu. Tapi,Maaf, kenapa kamu tidak memberitahukanku kalau di ruangan ini bukan hanya kamu saja? Soalnya yang ingin aku katakan ini merupakan sebuah rahasia,". ucap Arumi dengan nada rendah, tapi tetap memperlihatkan rasa kalau dirinya kesal.


"Kamu tenang saja,Nona Arumi. Dia itu sahabat baik Bara juga. Jadi anda kamu tenang saja!" ucap Satya, yang juga bersikap dingin. "Oh ya, tadi kamu mengatakan kalau kamu sudah mengenalku, dari mana kamu mengenalku? dan aku juga merasa kalau aku sepertinya pernah melihatmu," sudut mata Satya naik ke atas, menatap Arumi dengan tatapan menyelidik.


Arumi kemudian menyunggingkan senyumnya, walaupun tipis tapi tetap bisa membuat orang terpesona.


"Tentu saja. Aku ini saudara sepupunya Tania, dan kita pernah bertemu di kediaman Bara. Saat itu ulang tahun anak Bara yang pertama. Memang saat itu kita tidak saling menyapa karena kita memang tidak saling mengenal. Tapi, aku tahu kalau kamu itu asisten pribadinya Bara," jelas Arumi panjang lebar berusaha mengingatkan pria di depannya itu.


"Oh, iya. Pantas saja aku seperti pernah melihatmu. Tapi tunggu dulu, tadi kamu mengatakan kalau Tania itu saudara sepupumu, tapi sewaktu kamu menghubungiku kamu mengatakan ingin meminta bantuanku, untuk bisa membongkar kebohongan Tania. Kenapa kamu bisa ingin menghianati sepupumu sendiri? Apa kamu bisa dipercaya?" alis Satya bertaut tajam, menatap Arumi dengan penuh selidik.


Arumi lagi-lagi melemparkan senyumnya. Tapi kali ini terlihat sinis.


"Aku pastikan kalau aku dapat dipercaya. Tania memang sepupuku, tapi dari kecil aku dan dia tidak pernah akur," kemudian Arumi mulai menceritakan tentang bagaimana hubungannya dengan Tania selama ini. Bagaimana sikap istrinya Bara itu yang manipulatif yang selalu penuh dengan drama.


"Selain itu, aku juga sahabat dari Clara. Kamu pasti tahu kan siapa Clara dan bagaimana pentingnya wanita itu pada Bara?" ucap Arumi lagi, membuat Satya terkesiap kaget.


"Clara? siapa Clara?" celetuk Adrian yang terlihat semakin bingung.


Arumi mengalihkan tatapannya ke arah Adrian. Mata wanita itu memicing hingga membuat alisnya saling bertaut. "Bukannya tadi, aku dengar kalau kamu sahabatnya Bara juga? bagaimana kamu bisa tidak tahu siapa Clara?" ucap Arumi yang seketika merasa was-was. Tentu saja dia merasa khawatir, karena hal yang ingin dia sampaikan pada Satya, cukup rahasia. Dia takut kalau pria yang mengaku sahabatnya Bara itu akan jadi bumerang nantinya yang membuat rencananya dan Bimo gagal.


"Apa kamu kira aku berbohong. Aku memang sahabatnya Bara.Bagaima aku bisa tidak tahu siapa Clara, itu karena aku baru 7 bulan kembali ke Indonesia dan Bara sama sekali tidak pernah menceritakan tentang wanita bernama Clara yang baru saja kamu sebutkan tadi. Tapi, kamu tenang saja,aku pastikan apa yang hendak kamu sampaikan pada Satya tidak akan bocor kemana-mana," ucap Adrian dengan tegas.


Arumi menatap mata Adrian dengan tatapan seakan sedang menelaah apakah ucapan pria itu hanya dari bibir saja atau memang murni niat tulus dari hati.


Kemudian, Arumi menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan kembali ke udara. "Baiklah, aku percaya kamu!"pungkas Arumi akhirnya.


"Jadi, siapa itu Clara?" ulang Adrian lagi, karena dirinya belum mendapatkan jawaban mengenai siapa wanita bernama Clara itu.


Satya akhirnya menjelaskan dengan detail siapa Clara dan bagaimana cintanya Bara pada wanita itu.


"Jadi, Bara pernah menikah sewaktu dia kehilangan jati dirinya? dan harus bercerai karena dia tahu Bara ternyata memiliki istri dan anak?" ulang Adrian memastikan.


Pria itu berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika melihat Satya menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Dan dari pernikahan mereka, sebenarnya Bara memiliki anak kembar, dan Bara sama sekali tidak tahu," Arumi buka suara kembali menimpali cerita Satya.


Bukan hanya Adrian yang kaget,Satya juga tidak kalah kaget, mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Arumi.


"Anak kembar? maksudmu apa?" tanya Satya, menatap penuh tuntutan.


"Iya, sewaktu Bara dan Clara bercerai, ternyata Clara sudah hamil, tapi Bara sama sekali tidak tahu, karena memang Clara juga tidak tahu pada saat itu. Aku menemukan Clara pingsan di tengah jalan dan membantunya sampai dia melahirkan. Sebenarnya aku juga baru tahu kalau mantan suaminya itu adalah Bara, karena selama ini dia tidak pernah memberitahukanku siapa mantan suaminya. Sewaktu usia si kembar 3 bulan, Clara kehilangan salah satu bayinya di taman, dan ternyata yang menemukannya Bara sendiri. Bara__"


"Tunggu dulu! Bara menemukan bayi usia tiga bulan di taman,apa yang kamu maksud itu Bimo?" pekik Satya.


Satya mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat Arumi menganggukkan kepalanya.


"Tuh kan, benar yang aku bilang tadi, kalau anak tadi Bima. Karena tidak mungkin aku salah. Karena anakku sendiri yang menunjukkan Bima padaku," pekik Adrian dengan penuh semangat.


Satya bergeming tidak bisa berkata-kata lagi. Karena menurutnya apa yang baru saja dia dengar masih belum terlalu dia pahami. Apalagi mengenai tujuan Bima dan Bimo bertukar posisi, dan bagaimana mereka akhirnya tahu kalau Bara adalah ayah kandung mereka.


Melihat Satya yang terlihat kebingungan, Arumi cukup paham, kenapa pria itu bersikap seperti itu. Akhirnya tanpa diminta, Arumi mulai menceritakan alasan awal mereka berniat ingin bertukar posisi, itu hanya karena ingin merasakan kasih sayang dari orang yang belum pernah mereka rasakan. Tapi, karena pertukaran itulah,Bima menemukan fakta kalau Bimo saudara kembarnya, karena gelang bayi yang mirip dengannya, ditambah dengan Bimo yang menemukan photo pernikahan Clara dengan Bara, laki-laki yang selama ini dia tahu adalah papa angkatnya. Dan si kembar itu juga menemukan fakta kalau ternyata Tristan anaknya Tania bukanlah anak kandung Bara melainkan anaknya Tania dengan Dito supir pribadinya.


Mata Satya membesar, terkesiap kaget mendengar cerita Arumi. Pria itu semakin kaget mendengar sepak terjang si kembar yang benar-benar di luar dari pemikiran orang dewasa.


"Tunggu dulu! apa itu berarti postingan Tania yang terhapus tiba-tiba, itu pekerjaan Bimo?" tanya Satya memastikan.


Arumi menganggukkan kepalanya. "Iya,aku tadi menghubunginya dan memberitahukan postingan itu. Dan tidak berselang lama postingan itu langsung hilang. Dia juga yang memintaku untuk segera menemuimu dan meminta bantuan padamu. Awalnya aku ragu, tapi Bimo memastikan kalau kamu itu pasti bisa membantu karena kamu sahabat dekat Bara," jelas Arumi lagi.


"Jadi, sebenarnya apa yang bisa aku bantu? bukannya tadi kamu mengatakan ingin meminta bantuanku?" tanya Satya, mengingatkan tujuan Arumi.


Arumi tidak langsung menyahut. Wanita itu lebih dulu mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan. Kemudian, Arumi mengungkapkan apa yang ingin Satya lakukan dan pria itu menganggukkan kepala mengerti.


"Kalau begitu, aku harus membangunkan Bima dan mengantarkannya pulang ke rumah Bara sekarang."


"Tu-tunggu dulu! Bima ada di sini?" tanya Arumi dengan wajah pucat.


"Iya, dia sedang tidur di ruangan itu. Emangnya kenapa?" Satya mengrenyitkan keningnya.


"Tidak apa-apa sih. Cuma aku yakin kalau dia pasti kaget kalau melihatku ada di sini," sahut Arumi setelah rasa kagetnya mereda.


"Baiklah. Jadi begitu saja. Nanti setelah aku mengantarkan Bima pulan, baru aku akan melakukan seperti yang kamu minta. Tapi, pertanyaannya kapan aku harus menyerahkannya padamu?" tanya Satya lagi.


"Sepertinya sekarang juga kamu bisa mendapatkan yang kamu inginkan, Nona Arumi. Bima ada di sini dan kalau milik Bara kamu bisa mengambil ini," Adrian buka suara sembari memberikan sebuah tissue yang memiliki noda bercak darah. "Ini adalah darah Bara tadi dan itu juga masih ada, di lantai kalau kamu mau. Ambil saja sebelum kering," imbuh Adrian lagi sembari menunjukkan ke arah lantai.


Mata Arumi berbinar bahagia, melihat bercak darah itu, seakan-akan dia melihat harta Karun. "Tuhan sepertinya mendukung apa apa yang akan aku lakukan. Dia mempermudah semuanya!" seru Arumi dengan senyum yang kali ini mengembang sempurna.


"Sekarang yang aku butuhkan, tinggal milik Bima. Karena Bimo sekarang sedang tidak ada di kota ini. Dia lagi pulang kampung bersama Clara. Bagaimana ya, caranya mengambil milik Bima?" tanya Arumi, menatap Satya meminta pendapat.


"Emm untuk urusan itu, serahkan padaku!" Satya melangkah masuk ke dalam kamar dengan tangan yang meraih sebuah gelas berisi air putih.


Satya melangkah mendekati Bima yang masih tertidur dengan pulas. Kemudian dia dengan sengaja meletakkan gelas yang dia bawa tadi di atas meja.


"Bim, Bimo! ayo bangun! kita harus pulang sekarang!" Satya menepuk pipi Bima dengan lembut.


Bima seketika menggeliat pertanda dia merespon Satya.


"Eh, iya Om. Astaga aku ternyata ketiduran ya?" Bima langsung duduk dan di saat yang bersamaan, Satya yang tadinya jongkok dengan sengaja berdiri sembari tangan yang terayun menyentuh gelas tadi hingga terjatuh ke lantai dan pecah.


"Astaga, maaf! Om tidak sengaja!" Satya berniat mengumpulkan pecahan gelas itu dan dia dengan sengaja mengambil pecahan yang kecil dan runcing.


"Bimo, kamu geser dulu ke sana, biar Om bisa mengambil semua pecahan ini!" Satya dengan sengaja memegang tangan Bima dengan tangannya yang memegang pecahan kaca.


"Aduh, Om! di tangan Om ada pecahan kacanya. Lihat tanganku jadi berdarah kan!" pekik Bima mengaduh.


"Aduh, maaf! Om tidak sengaja!" Satya meraih tangan Bima dan membersihkan darah anak kecil itu dengan tissue.


"Kamu cuci tangan kamu dulu ke kamar mandi, supaya tidak infeksi nanti. Om akan membersihkan semuanya ini dulu!" titah Satya dan Bima pun melangkah ke kamar mandi.


Kesempatan itu langsung digunakan oleh Satya untuk keluar dari kamar pribadi Bara, dan memberikan sample darah yang dia peroleh.


"Sekarang kamu bisa pergi. Mudah-mudahan sukses!" Arumi menganggukkan kepalanya dan melangkah keluar dari ruangan itu.


Ya,Bimo memang meminta Arumi untuk melakukan test DNA antara Bara dengan dirinya maupun Bima untuk menambahkan barang bukti, kalau mereka memang anak kandungnya. Itu karena dia sama sekali tidak memiliki cukup uang untuk melakukan test itu.Dan kalau membobol kartu kredit Tania lagi bisa-bisa menimbulkan kecurigaan wanita itu. Itu, Bimo lakukan karena dia yakin kalau Bima pasti melupakan hal yang satu ini mengingat banyaknya hal yang dilakukan kakak kembarnya itu.


Tbc