Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Selalu terlambat


Reno merebahkan tubuh Salena di atas kasur dan dia menatap tubuh itu dengan tatapan penuh gairah.


Pemuda itu kemudian membuka jasnya dan melemparkan begitu saja ke sofa.


Setelah itu, sebelum memulai aksinya, pemuda itu lebih dulu mengatur posisi kamera yang bagus, guna merekam apa yang dia lakukan selanjutnya pada Salena.


Setelah merasa posisinya sudah pas, Reno tersenyum licik dan melangkah kembali mendekati ranjang, di mana tubuh Salena berada.


Reno mulai merangkak ke atas ranjang untuk mendekati Salena. Pemuda itu membelai lembut pipi Salena, kemudian mendekatkan bibirnya ke atas bibir gadis itu. Namun, belum juga bibirnya berhasil menyentuh bibir Salena, tiba-tiba pintu dibuka oleh seorang pria dengan sangat kasar, membuat Reno tersentak kaget dan menoleh ke arah pintu.


Wajah Reno seketika pucat melihat sosok pria yang baru datang, yaitu pria yang selalu mengantar dan menjemput Salena. Siapa lagi pria itu kalau bukan Tristan. Di belakang pria gagah itu ada juga tiga pria berbadan besar bersamanya.


"Kalian bertiga, bantu Sony dan Dion saja, untuk menolong sahabat Salena, biar curut ini jadi urusanku!" titah Tristan, tanpa menatap ke arah tiga anak buahnya. Justru pria itu menatap tajam, bak ingin membunuh ke arah Reno.


Ya, pria itu adalah Tristan. Inilah yang membuat dia gelisah pada saat jam 6 sore tadi waktu Bali atau jam 5 sore waktu Jakarta, karena Bali memang satu jam lebih cepat dari waktu Jakarta.


Sebelum pergi ke Bali, pria itu meminta bantuan pada Bima untuk menyadap nomor Salena dan juga nomor pria bernama Reno yang dia ambil dari handpone Salena.


Tristan akhirnya bisa tahu, apa yang sudah direncanakan oleh Reno,Farah dan dua temannya.


Di tengah dilemanya antara memilih untuk tetap stay di Bali dan menyerahkan urusan penyelamatan Salena pada anak buahnya atau pulang ke Jakarta untuk terjun langsung menolong Salena, Tristan akhirnya memilih untuk terjun langsung.


Tristan akhirnya memberanikan diri untuk menemui Maxwell dengan segala keberaniannya, untuk meminta maaf kalau dia tidak bisa mempresentasikan proposalnya. Pria itu cukup menyerahkan proposalnya pada pengusaha sukses dari luar negeri itu dan mengatakan akan terima apapun keputusan pria itu nantinya.


"Maaf, Tuan Maxwell, aku tahu kalau aku terkesan tidak profesional, tapi kondisinya sekarang, calon istriku sedang dalam bahaya. Aku akan lebih menyesal lagi nantinya kalau aku tetap memilih di sini hanya demi tender ini, tapi calon istriku hancur. Bukannya aku menganggap sepele kerja sama ini, aku jauh-jauh ke sini Justru karena aku sangat menginginkannya. Tapi, kerja sama ini tidak lebih penting dari harga diri calon istriku. Jadi, sekali lagi aku meminta maaf, Tuan Maxwell. Apapun keputusan anda besok, dan siapapun yang memenangkan tender ini, aku akan terima dengan lapang dada," begitulah apa yang dikatakan Tristan pada Maxwell, pemilik perusahaan besar dari London itu.


Setelah selesai dengan apa yang ingin dibicarakannya, pria itu langsung ke Bandara dan langsung terbang ke Jakarta. Beruntungnya dia mendapatkan ticket yang langsung berangkat walaupun memang lebih mahal dari biasanya.


Berhubung Sky hotel adalah milik Bima, Tristan dengan mudah bisa mendapat akses masuk tanpa harus melalui banyak pertanyaan dari resepsionis, karena memang sebelumnya sudah konfirmasi lebih dulu dengan Bima.


Memang Tristan bisa saja meminta bantuan Bima untuk melakukan penyelamatan Salena, tapi, entah kenapa Tristan ingin menyelesaikan sendiri, karena dia menganggap keselamatan Salena adalah tanggung jawabnya.


"Kamu apakan calon istriku?" tanya Tristan dengan nada yang sangat dingin dan wajah datar, saking dinginnya mampu membuat pria remaja yang baru saja menginjak usia ke 19 tahun itu bergidik, ngeri.


"Calon istri? bagaimana bisa kamu mengatakan dia itu calon istrimu? dia itu pacarku Dan kamu itu hanya selingkuhannya. Sudahlah, bro kalau kamu mau, kita berdua bisa menikmatinya bersama-sama. Tapi aku tetap yang lebih dulu, baru kamu," Reno berbicara dengan sangat angkuhnya.


Tristan mengepalkan tangannya dengan kencang. Wajah pria itu juga tampak sudah sangat memerah. Sepertinya amarah pria itu sudah sampai ke puncaknya.


Bugh


Akhirnya Tristan melayangkan tendanganya ke tubuh Reno, hingga remaja pria itu sedikit terpental ke belakang.


Pria itu kemudian mencengkram merah kemeja yang dipakai Reno dan menarik pria itu untuk berdiri dan membenturkan ke tembok.


"Apa kamu mau perusahaan papa kamu hancur karena perbuatanmu?" ucap Tristan dengan wajah bengis.


"Cih, emangnya kamu siapa, bisa mengatakan seperti itu? kamu kira kamu akan sanggup menghancurkan perusahaan Papaku?" Reno tersenyum meremehkankan. " Seharusnya yang takut itu kamu. Kamu pasti akan kaget kalau tahu siapa papaku. Jadi, sebaiknya kamu pergi dari sini, San jangan ganggu kesenanganku!" Reno justru balik mengancam.


Tristan semangat mengencangkan cengkaramannya dan menatap Reno dengan tatapan yang semakin tajam dan tersenyum smirk.


"Kamu yakin papamu bisa menghancurkan perusahaan keluarga Prayoga? aku sudah menyelidiki perusahaan papamu, dan sekali gerak saja, aku bisa membuat perusahaan papamu hancur, tanpa membuat papaku harus turun tangan."


Wajah Reno seketika berubah pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali. "Ka-kamu putra keluarga Prayoga?" Reno menatap wajah Tristan dengan intense. Wajah pemuda itu seketika semakin pucat begitu mengingat wajah itu, pernah mendampingi Bara dan dikenalkan sebagai putra sulungnya.


"Astaga, ampun Tuan, aku sempat tidak mengenalmu. Tolong jangan kasih tahu masalah ini pada papaku!" mohon Reno dengan raut wajah panik dan ketakutan.


"Aku mungkin bisa menahan diri untuk tidak melaporkan perbuatanmu ini ke orang tuamu, tapi aku tidak yakin dengan Om Satya, papanya Salena. Kamu hampir saja membuat putri kesayangannya hancur, apa kamu pikir Om Satya bisa mentolerir perbuatanmu ini. Aku rasa kamu pasti pernah mendengar bagaimana dinginnya papa Salena itu. Jangankan papaku atau aku, papanya Salena juga bisa membuat perusahaan papamu itu hancur. Apa itu yang kamu inginkan anak manja?"


Reno terlihat semakin pucat. "Ja-jadi Salena itu putri Tuan Satya? bu-bukan ya dia gadis miskin sama seperti sahabatnya itu?" tubuh Reno terlihat gemetar, membayangkan murka Satya ketika tahu apa yang hampir terjadi pada putrinya.


"Sekarang kamu sudah tahu kan? jadi kamu terima saja konsekuensinya!" Tristan menyentakkan tangannya untuk melepaskan cengkaramannya dari kerah kemeja Reno, hingga membuat Reno yang memang tidak kuat lagi menopang tubuhnya, langsung tersungkur jatuh ke lantai.


Tristan kemudian memutar tubuhnya dan melangkah menghampiri Salena yang masih belum sadarkan diri. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Salena ala bridal style, dan membawanya keluar.


Belum sampai di pintu tiba-tiba Arya muncul di ambang pintu dengan napas yang tersengal-sengal.


"Salena sudah aman denganku sekarang! kamu bisa pergi!" Titah Tristan dengan aura yang sangat dingin.


Ya, untuk mengantisipasi kalau-kalau dia terlambat datang, dengan menahan rasa sesak di hatinya, Tristan sempat menghubungi Arya agar pria itu bisa lebih dulu ke hotel untuk menyelamatkan Salena. Namun, entah apa yang terjadi, membuat Arya baru saja tiba..


Sementara itu, Arya mengepalkan tangannya, benar-benar merasa kesal. Kesal pada Tristan atau pada diri sendiri, hanya dialah yang tahu.


"Sial, kalau saja Jalanan tidak macet dan ban mobilku tiba-tiba bocor, aku tidak akan terlambat begini. Salena mungkin sekarang ada dalam gendonganku," Arya merutuki kesialannya sendiri.


Tristan baru saja melewati tubuh Arya , tapi dia kembali berbalik.


"Oh ya, sahabat Salena ada di kamar itu, tolong kamu bawa dia dan antar pulang! Di dalam sana juga ada anak buahku, tapi aku lebih percaya kamu, untuk bisa mengantarkan dia pulang, malam ini. Aku pergi dulu ya!" tanpa menunggu jawaban dari Arya, Tristan langsung berlalu pergi.


"Sial, kenapa sih aku selalu sial. Kenapa aku selalu kebagian mengantarkan wanita galak itu, untuk pulang?" umpat Arya yang dibarengi dengan gerutuan kesal.


tbc