
Bima melangkah masuk ke dalam kamar, disusul Bimo yang lebih dulu mendorong Rini ikut masuk.
"Viona, di mana kamu! Ayo keluar!" Bima masih berusaha meredam suaranya..
"Viona, aku tahu kamu masih ada di kamar ini, sekarang keluar!" Bima mulai meninggikan suara, karena wanita itu sama sekali tidak memberikan respon.
Bima membungkukkan tubuhnya, melihat ke bawah ranjang, tapi dia tidak menemukan wanit itu. Kemudian dia mulai membuka lemari, tetap saja dia tidak bisa menemukan wanita itu.
Mata Bima kini beralih ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Mata pria itu memicing sembari melangkah ke arah kamar mandi.
Bima mencengkram handle pintu dan mulai memutarnya.
"Pintunya tidak bisa dibuka, berarti dia sembunyi di dalam," bisik pria itu pada dirinya sendiri dengab sangat yakin.
"Viona, aku tahu kamu ada di dalam! Aku hitung satu sampai tiga, kalau kamu tidak mau keluar,jangan salahkan kalau aku akan mendobrak pintu ini. Satu ...." Bima mulai menghitung.
"Dua ...." wanita di dalam sana semakin ketakutan mendengar suara Bima yang semakin menggelegar.
"Ti__" belum sempat Bima mengucapkan kata tiga, pintu sudah terbuka dari dalam.
"Keluar kamu!" titah Bima dengan nada yang sangat dingin.
Dari balik pintu, tampak Viona mulai keluar dengan raut wajah ketakutan dan tubuh gemetar.
"Maafkan aku Bima! Aku janji tidak akan melakukannya lagi!" belum sempat Bima buka suara, Viona sudah lebih dulu, menjatuhkan tubuhnya, berlutut di bawah kaki pria itu.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" Bima refleks mundur ke belakang, menghindari Viona.
"Viona sekarang kamu kasih tahu, di mana Michelle!" Bimo yang dari tadi sudah tidak sabar, langsung buka suara membentak Viona.
Viona yang tadinya,berlutut dengan kepala tertunduk, sontak berani mengangkat kepalanya dan tersenyum sinis, lalu bangkit berdiri.
"Wah, ternyata tidak sepenuhnya rencana kita gagal, Rini! Kita gagal menjebak Bima dan Bimo tapi wanita murahan itu, sepertinya berhasil masuk ke dalam perangkap kita!" seolah tidak takut pada dua pemuda itu, Viona justru tertawa bahagia, sementara Rini hanya bisa meringis melihat sorot mata Bimo dan Bima yang sudah semakin memerah pertanda kalau amarah keduanya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Brengsek! Katakan apa yang kamu lakukan pada Michelle!" tidak peduli kalau Viona adalah seorang perempuan, tangan Bimo sudah berada di leher wanita itu, mencekik dengan hanya satu tangan saja, hingga membuat Viona kesulitan untuk bernapas.
"Ka-kamu tahu pun, sudah tidak ada gunanya! William pasti sudah berhasil menodai kekasih tercintamu itu!" ejek Viona di sela-sela kesulitannya bernapas.
"Brengsek, Dasar wanita ja*lang! Aku bunuh kamu! Katakan di kamar nomor berapa dia!" suara Bimo menggelegar penuh amarah, memenuhi ruangan itu!"
"Aku tidak akan kasih tahu!" Viona tetap keukeh, dengan bibir yang masih tersenyum mengejek.
Bimo yang sudah kalap, benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi! Pria itu kali ini menekan leher Viona dengan semakin kencang, membuat napas wanita itu tinggal satu-satu, dan kesulitan untuk buka suara.
"Bimo, tahan emosimu!" Bima dengan sigap menarik tubuh Bimo, hingga cengkramanya di leher Viona terlepas dan membuat wanita terbatuk-batuk.
"Lepaskan aku, dan jangan menahanku,Bima!" Bimo berusaha melepaskan diri dari cengkraman kakaknya Bima.
"Tidak akan! Kamu bisa membunuhnya dan kamu akan masuk penjara!"
"Biarkan saja! Aku tidak peduli, aku akan di penjara atau tidak. Yang penting, dia harus mati!" Bima benar-benar sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
Entah kekuatan dari mana, Bimo berhasil lepas dari cengkaraman Bima dan kembali menghambur ke arah Viona yang sudah lemas.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup, Viona! Aku akan mengirimmu ke neraka hari ini juga!"
Bimo sontak menoleh ke arah datangnya suara dan melihat sosok wanita yang benar-benar dikhawatirkannya sedang berdiri di ambang pintu dengan kondisi yang baik-baik saja. Di belakang wanita itu tampak berdiri seorang pria yang memang sering dia lihat di kampus. Karena pria itu, sering berada tidak jauh dari dirinya dan Michelle.
"Michelle!" seru pria itu sembari menghambur ke arah kekasihnya itu. "Kamu tidak apa-apa kan?" Bimo membolak-balikkan tubuh Michelle, untuk memastikan keadaan kekasihnya itu baik-baik saja. Jangan lupakan wajah Viona dan Rini yang kaget melihat kemunculan Michelle. Mereka juga kaget melihat sosok pria yang datang bersama wanita itu.
"Tenang, Sayang, aku baik-baik saja, karena ditolong sama dia!" Michelle menunjuk ke arah pria yang berdiri tegap di belakangnya.
Pria yang ditunjuk oleh Michelle sontak membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah Bimo, dengan wajah datar tanpa senyuman.
"Apa? Dia menolongmu dengan cara apa!" pekik Bimo. Pikiran pria itu kini sudah merambah kemana-mana.
"Jangan berpikir macam-macam! Dia tidak melakukan apapun!" Michelle memukul jidat Bimo, karena dia tahu apa yang ada dipikiran pria yang dicintainya itu, sekarang.
"Siapa dia?" Bimo menatap pria itu dengan tatapan sinis karena rasa cemburu yang datang menghampirinya.
"Kenalkan Tuan, aku Evan, body guard yang diutus Tuan Dimas untuk mengawasi Non Michelle dari jauh." bukan Michelle yang menjawab, melainkan pria yang berdiri di belakang Michelle.
"Apa! Ka-kamu pengawal Michelle!" bukan Bima ataupun Bimo yang berteriak, melainkan Viona. Reaksi wanita itu justru membuat Bima dan Bimo, bingung.
"Tunggu dulu ... Jangan bilang kamu juga yang mengirimkan pesan yang memberikan informasi kalau akan ada yang menjebak kami?" Bima buka suara, dengan alis yang bertaut, curiga.
"Iya, itu aku, Tuan. Maaf kalau membuat anda bingung dan terima kasih sudah tetap waspada, padahal Tuan tidak tahu kebebaran isi pesan itu!" sahut pria bernama Evan itu dengan tegas dan lugas.
"Tapi bagaimana kamu tahu rencana dua wanita sialan itu?" kali ini Bimo yang buka suara.
"Dari awal aku di negara ini, aku sudah bisa menduga kalau dua wanita itu adalah orang yang berbahaya untuk Non Michelle. Jadi, aku tidak ingin melepaskan pengawasanku dari dua wanita itu. Hari itu aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Aku merasa kalau aku hanya sendiri, jadi tidak mungkin aku bisa menjaga kalian bertiga di dalam satu waktu. Jadi, aku memutuskan untuk mengirimkan pesan pada kalian berdua dan fokus melindungi Non Michelle. Untuk masalah dari mana aku bisa mendapatkan nomor Tuan berdua, aku mendapatkannya dari Tuan Dimas." kemudian Evan terlihat fokus menatap ke arah Bima.
"Maaf, Tuan Bima, bukannya aku menyepelekan anda. Aku tahu, anda adalah ahli bela diri, mungkin lebih hebat dariku, tapi masalahnya, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan adu otot," tutur Evan sembari membungkuk, minta maaf.
Bima tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Evan. "Tidak perlu minta maaf, karena kamu tidak salah sedikitpun. Justru kami berdua ingin berterima kasih padamu. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi, jika seandainya kamu tidak mengingatkan kami. Terima kasih ya!" ucap Bima dengan tulus.
"Arghhh dasar penipu kamu! Beraninya kamu berbohong pada kami, brengsek!" tiba-tiba Viona berteriak dengan penuh amarah ke arah Evan.
Evan kemudian tersenyum miring ke arah Viona dan Rini.
"Aku ingin minta maaf karena mengecewakan kalian berdua. Tapi aku rasa aku tidak punya kesalahan apapun, sehingga aku tidak ada kewajiban untuk meminta maaf," ucap Evan, yang terdengar ambigu bagi Bima dan Bimo.
"Tunggu dulu! Apa kamu mengenal baik mereka?" tanya Bimo dengan mata memicing curiga.
"Aku tidak mengenal baik mereka Tuan. Tapi kemarin aku berpura-pura mau bekerja sama dengan mereka. Aku ditugaskan mereka untuk membius Non Michelle dan membawanya ke sebuah kamar yang sudah mereka pesan sebelumnya. Setelah itu, mereka melakukan hal yang sama pada Tuan William seperti yang dilakukan pada Tuan Bima dan Bimo, karena sebelumnyatuan William menolak ikut dengan rencana mereka berdua. Tujuan mereka, setelah tuan William berada di bawah pengaruh obat, aku diminta untuk menuntunnya ke kamar tempat Non Michelle berada. Aku memang tidak bisa mencegah Tuan William untuk tidak meminum minumannya yang sudah dicampur dengan obat itu,karena aku tidak memiliki nomornya, untuk mengatasinya aku sudah menyiapkan obat yang aku dapat dari dokter untuk mengurangi reaksi obat itu, dan membantu Tuan William untuk lepas dari efek obat. Sekarang Tuan William baik-baik saja," tutur Evan kembali dengan panjang lebar, membuat Bima berdecak kagum dengan sikap sigap dan cerdik dari pengawal utusan Dimas papanya Michelle.
"Kamu hebat. Pantas saja Om Dimas mengirimmu ke sini. Itu karena kamu cerdan dan bisa berpikir dengan cepat," puji Bima, jujur.
"Terima kasih, Tuan Bima!"kemudian Evan mengalihkan pandangannya ke arah Bimo yang wajahnya tampak kusut.
"Maaf, Tuan Bimo. Anda jangan tersinggung karena Tuan Dimas, mengirimku ke sini untuk mengawasi Non Michelle. Itu bukan berarti Tuan Dimas tidak percaya, kalau Tuan tidak bisa menjaga dan melindungi Non Michelle." tutur Evan yang sepertinya tahu apa yang ada dipikiran kekasih dari nona mudanya itu.
"Tuan Dimas hanya berpikir kalau Tuan tidak mungkin 24 jam ada bersama dengan Non Michelle dan ada kalanya juga kalian sibuk dengan kuliah masing-masing karena kalian berdua beda jurusan. Sedangkan aku, satu ruangan dengan Non Michelle karena menjadi seorang dokter adalah cita-citaku dari kecil. Aku bersyukur kalau Tuan Dimas memberikan aku peluang untuk berkuliah di sini," lanjut Evan lagi, berusaha meluruskan agar tidak terjadi salah paham.
Mendengar penuturan Evan yang panjang lebar, Bibir Bimo seketika melengkung ke atas, tersenyum tulus seraya menepuk-nepuk pundak Evan.
"Tidak masalah! Terima kasih sekali lagi!" ucap Bimo, yang kali ini terlihat lebih tenang.
Tbc