
"Apa aku tidak boleh datang ke sini lagi? Aku hanya memastikan kalau kamu aman dari ganguan pria itu!" Tristan menunjuk ke arah Harold yang tentu saja bingung, karena dia sama sekali tidak mengerti bahasa yang dipakai dua orang itu. Tapi, yang pasti pria itu tahu kalau ke dua orang itu sedang membicarakannya, karena jari telunjuk Tristan mengarah padanya.
"Dia sama sekali tidak menggangguku. Tapi justru kakak yang mengganggu kenyamananku. Kakak selalu berada di sekitarku, dan itu benar-benar tidak membuatku nyaman,"
Tristan seketika terdiam. Dia merasa kalau wanita di depannya itu sekarang, benar-benar sudah jengah terhadap dirinya.
"Ayu, maaf kalau membuat kamu, tidak nyaman. Tapi, sumpah demi apapun, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Pria ini bukan pria baik-baik. Dia itu suka mempermainkan wanita dan aku tidak ingin kamu menjadi korban. Dia selalu memanfaatkan gelar bangsawannya untuk mendapatkan wanita yang dia inginkan dengan mudah. Kamu tahu kenapa dia dulu sering datang ke sini? Itu karena dia tahu kalau di sini banyak wanita cantik yang dengan gampang dia dapatkan," nada bicara Tristan terdengar sangat lembut.
"Kak, stop curiga pada orang! Dia sama sekali tidak pernah membawa-bawa gelar bangsawannya di depanku. Tolong jangan bersikap sok jadi pahlawan di depanku, karena aku bisa jaga diriku sendiri. Kamu lebih baik fokus pada tujuanmu datang ke sini!" Ayunda terlihat berapi-api.
"Bukannya alasan kamu ke Om Bara, memilih kuliah di negara ini, karena ingin lepas dari bayang-bayang Bima dan Bimo? Kamu bilang kamu ingin membuktikan kalau kamu mampu berprestasi tanpa bantuan mereka kan? Jadi kenapa sekarang kamu malah sibuk mengurusi aku? Bukannya kamu datang dari kampusmu ke kampusku sudah buang- buang waktu? Jadi aku minta,stop! Stop mengurusi aku!" lanjut Ayunda lagi.
Sementara itu, Harold terlihat tersenyum sinis melihat apa yang terjadi di depannya itu. Walaupun dia sama sekali tidak mengerti, tapi yang pasti dia tahu kalau Ayunda sedang marah pada Tristan.
"Ayo,Harold kita pergi dari sini!" Ayunda menarik tangan Harold dan beranjak pergi meninggalkan Tristan yang membeku di tempat dia berdiri.
"Ayu, bagaimana sih caranya , agar kamu bisa percaya kalau Harold bukan itu bukan pria baik-baik?" batin Tristan sembari mengembuskan napas berat.
Sementara itu,di depan sana Harold menoleh ke belakang dan terseyum meledek ke arah Tristan. Setelah itu, dia kembali melihat ke depan, tapi salah satu tangannya di taruh ke belakang tubuhnya, lalu mengacungkan jari tengah ke arah Tristan.
"Brengsek!" umpat Tristan, menggeram sembari mengepalkan tangannya dengan kencang. Seandainya kalau bukan karena pria itu bangsawan, ingin rasanya dia menghajar pria itu. Tapi,kalau dia melakukannya, bisa-bisa dia dideportasi dari negara itu, dan itu berarti dia tidak bisa menjaga Ayu.
"Sepertinya aku harus menahan diri dulu, sampai aku bisa mengumpulkan bukti kalau Harold bukan pria baik," batin Tristan sembari beranjak pergi menyusul Ayu dan Harold. Dia memutuskan akan tetap memantau, dari jauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ayu, bisa berhenti sebentar?" setelah merasa jauh dari Tristan yang dia nggap pengacau, Harold pun menahan tubuh Ayu.
"Ada apa?" Ayu mengrenyitkan keningnya.
"Emm, bagaimana ya bilangnya?" Harold menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, seakan-akan kalau dia baru pertama mendekati seorang wanita.
"Emangnya, kamu mau bilang apa?" sudut kanan alis Ayu,naik sedikit ke atas menatap Harold dengan tatapan menyelidik.
"Emm, aku mau mengatakan terima kasih, karena sudah membelaku di depan pria tadi. Walaupun memang aku tidak mengerti, tapi aku yakin kalau akulah yang kalian perdebatkan. Dan aku yakin kalau dia pasti bercerita hal yang jelek-jelek tentangku. Tapi, ketika kamu mengajakku pergi, aku merasa senang, karena itu berarti kamu tidak percaya apa yang dikatakannya," tutur Harold panjang lebar.
"Oh, itu? tidak masalah sama sekali. Kan sudah seharusnya kita meluruskan hal yang salah? Jadi kamu santai saja, tidak perlu berterima kasih," Ayunda menyunggingkan senyum manisnya ke arah Harold.
"Emm, sepertinya Ayu sudah mulai menyukaiku. Sudah kuduga, kalau dia pasti akan luluh. Siapa sih yang bisa menolakku?" batin Harold, penuh percaya diri.
"Oh iya, aku ke kelas dulu ya! maaf sekali lagi,kalau kamu sempat tidak merasa nyaman karena aku dan Tristan berdebat di depanmu!"
"Oh, kamu tidak perlu meminta maaf, karena kamu tidak salah. Justru aku yang merasa tidak enak hati ke kamu,karena gara-gara aku, kamu dan pria tadi bertengkar," Harold memasang wajah sendu, memperlihatkan kalau dia benar-benar merasa bersalah.
Lagi- lagi Ayunda tersenyum. "Bukannya sudah aku bilang kalau kamu santai saja? Jadi, kamu tidak perlu memikirkannya. Sekarang aku mau ke kelas dulu, karena lima menit lagi kelasku akan mulai,bye, Harold!" Ayunda baru saja hendak melangkahkan kakinya, tapi tiba-tiba tangannya ditahan kembali oleh Harold.
"Ada apa lagi, Harold?"
Ayunda tidak langsung menjawab. Wanita itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya lebih dulu.
"Emm, tidak lama kan? Soalnya aku benar-benar tidak ingin tertinggal di kelas dosen yang satu ini."
"Kamu tenang saja, aku janji tidak akan lama," Harold terlihat semangat.
"Ya udah, sekarang kamu katakan saja. Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Ayunda, dengan sedikit memirigkan kepalanya.
"Ayu, aku tahu kalau kamu mungkin mendengar dari orang- orang kalau aku ini pria brengsek yang suka mempermainkan wanita. Tapi, kamu harus percaya kalau aku bukan pria yang seperti mereka katakan. Mereka hanya sakit hati, karena aku menolak cinta mereka, karena aku tahu kalau hati mereka tidak tulus mencintaiku. Mereka hanya ingin harta keluargaku saja. Kamu tahu sendiri kan kalau keluargaku bangsawan? Kan tidak mungkin aku melakukan hal yang seperti mereka tuduhkan, karena itu bisa merusak nama keluarga besarku," Harold diam sejenak,untuk mengambil napas. Setelah merasa oksigen di paru-parunya sudah cukup, Harold kembali buka mulut.
"Tapi, Ayu aku ingin jujur padamu kalau kamu berbeda dari perempuan-perempuan itu. Kamu tidak pernah mengejarku. Karena itu, aku merasa kalau aku sudah jatuh cinta padamu. Maukah kamu menjadi kekasihku? Aku berjanji kalau kamu bersedia, aku akan membuat kamu menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini,"
Mata Ayunda sontak membesar mendengar pengakuan Harold. Wanita itu benar-benar tidak menduga kalau dia akan mendapatkan pernyataan cinta dari Harold.
Ayunda tidak langsung menjawab. Wanita itu justru menatapa Harold dengan tatapan yang sukar untuk dibaca oleh pria Inggris itu.
"Ayu, bagaimana? Kenapa kamu diam?" Harold kembali buka suara. "Jangan sok gengsi di depanku, Ayu. Aku tahu kalau hati k kamu sebenarnya lagi kegirangan sekarang, dan ingin menjawab Iya. Tapi kamu pura-pura bersikap biasa di depanku," ucap Harold lagi, yang tentu saja berani dia ucapkan di dalam hati.
Ayu kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. " Emm, Harold aku minta maaf sekali, karena aku tidak bisa jadi kekasihmu!"
Jawaban Ayunda barusan sontak membuat Harold membatu, tidak percaya dengan penolakan yang diberikan Ayu. Rasa percaya dirinya tadi, seketika runtuh seketika.
"Kenapa tidak bisa?"
"Emm, bagaimana ya mengatakannya?" Ayunda terlihat merasa tidak enak hati.
"Jujur saja, aku tidak memiliki perasaan apapun padamu. Aku hanya menganggapmu, teman saja. Maaf sekali lagi ya, Harold. Sekarang aku mau pergi dulu!" tanpa menunggu jawaban dari Harold, Ayunda langsung beranjak berlalu dengan langkah cepat, berharap dia masuk lebih dulu dari dosen.
Sementara itu, Harold menatap kepergian Ayunda dengan tangan yang terkepal. Untuk pertama kalinya dia ditolak oleh wanita. Padahal biasanya wanita lah yang dengan suka rela melemparkan tubuhnya ke dia.
Dari arah yang tidak terlalu jauh, Tristan tersenyum miring dan melangkah mendekati Harold.
"Turut berduka padamu! Kamu kira akan semudah itu mendapatkan hati Ayu? Hati Ayu sudah dimiliki oleh seseorang, dan tidak mudah menyingkirkan orang itu dari hati, Ayu! Sekali lagi, turut prihati ya," ucap Tristan sembari menepuk pundak Harold dan berlalu pergi.
"Brengsek! Aku tidak mau diperlakukan seperti ini. Kali ini aku mungkin bisa gagal, tapi tidak untuk lain kali. Bagaimana pun aku harus bisa menaklukkan hati Ayu dan menyingkirkan nama pria yang ada di hatinya. Tidak ada yang bisa mengalahkan Harold!" Harold tersenyum licik.
Tbc
Guys, sembari menunggu novel ini Up, kalau berkenan singgah juga ya ke novelku yang satu ini🙏🏻