
Tristan berjalan menyusuri taman dan berhenti di sebuah kursi besi.
Pria itu seketika membayangkan wajah wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Seketika pria itu kembali menangis sembari menundukkan kepalanya.
"Ma, apa kabar kamu di sana? aku tahu kamu selama hidupmu dulu, kamu selalu dipenuhi dengan tipu muslihat, selalu egois dan melakukan banyak dosa, tapi aku yakin dengan pertobatanmu di akhir hidupmu, kamu sudah berada di sorga. Aku yakin, kamu juga pasti bahagia melihatku sudah bahagia dibesarkan di keluarga ini. Keluarga yang membuatku mengerti makna adanya keluarga yang penuh dengan kasih sayang. Tapi, memang kadang aku merasa hidupku cukup menyedihkan, Ma. Aku merasa kalau aku hidup hanya karena rasa kasihan, tapi ternyata aku salah, Ma. Mereka mencintaiku dengan tulus," gumam Tristan masih dengan kepala tertunduk.
"Ma, apa aku salah dengan tidak pernah mengunjungi Om Dito yang katanya papa kandungku selama dia di penjara? Aku merasa kalau aku belum bisa menerima semua ini, Ma. Sebentar lagi masa hukumannya akan berakhir, apa yang harus aku lakukan, Ma? apa aku akan membiarkan dia begitu saja di Jalanan atau memberikan dia sebuah tempat tinggal dan membiayai semua hidupnya? aku benar-benar dilema, Ma. Di sisi lain aku tidak terima punya papa kandung seperti dia, tapi di sisi lain aku juga tidak bisa menyangkal kalau darahnya mengalir di dalam darahku. Aku harus bagaimana sekarang? aku takut kalau dia masih membawa dendam nantinya begitu keluar dari penjara," lagi-lagi Tristan berbisik pada hatinya sendiri.
Tristan kemudian menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi lalu mengangkat kepalanya ke atas.
Seketika bayangan di mana ketika dia tahu alasan Bima sebenarnya kembali terngiang diingatannya.
Flashback On.
Bima, kamu benar-benar tidak mau ikut mereka,Nak?" tanya Clara memastikan, setelah tubuh Michelle dan Bimo hilang di balik pintu. Karena dua orang yang baru saja jadian itu, benar-benar ingin memberitahukan pada Ayunda kalau sebenarnya Bima tidak memiliki perasaan cinta pada Michelle.
"Kenapa mama bertanya seperti itu? harusnya mama sudah tahu jawabannya," jawab Bima,santai.
"Sayangnya yang mama lihat antara raut wajah dan ucapanmu itu sama sekali tidak sinkron. Mama bisa lihat kalau kamu sebenarnya ingin ikut mereka kan? tukas Michelle, tersenyum manis.
"Mama jangan asal bicara! yang mama katakan tadi tidak benar," sangkal Bima dengan tegas.
" Nak, kamu tidak boleh bohong pada Mama. Mama yang melahirkanmu, jadi mama bisa membaca yang ada di pikiranmu sekarang. Mama lihat kalau kamu pura-pura bahagia mendengar Ayu membatalkan perjodohan. Jauh di lubuk hatimu kamu sebenarnya tidak terima kan? Sekarang coba jelaskan pada Mama, apa sebenarnya yang memberatkan kamu menerima perjodohan dengan Ayu? dan mama harap kamu mau jujur kali ini, agar mama bisa meredam kekecewaan mama," cecar Clara, membuat Bima terdiam.
"Apa kamu masih belum mau jujur, Bima?"
Bima menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali keluar. "Iya, Mama benar. Mama mau tahu alasannya kenapa aku menolak?" Clara menganggukkan kepalanya.
"Itu karena aku tahu kalau Kak Tristan juga menyukai Ayu, Ma. Aku merasa Kalau kebahagian kak Tristan ada pada Ayu, dan aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, mengambil kebahagiannya yang ke dua kali. Aku tahu, Ma, Kak Tristan selama ini merasa rendah diri dan tidak mau menyuarakan apa yang ada di pikirannya karena dia masih merasa kalau dia belum bagian dari keluarga ini. Selama ini dia hanya pasrah apapun keputusan yang ada di rumah ini, termasuk perjodohanku dengan Ayu. Dia hanya bisa diam, karena dia merasa tidak pantas untuk bicara. Aku hanya ingin merubah mindset kak Tristan, Ma. Aku hanya ingin dia benar-benar merasa kalau dia itu adalah bagian keluarga ini. Aku tidak mau suatu hari nanti dia akan pergi dari keluarga kita. Jadi, aku sudah bertekad, bagaimanapun caranya, aku harus mendekatkan mereka berdua, walaupun aku harus mengorbankan perasaanku," tutur Bima panjang lebar dan tanpa jeda.
Tanpa mereka sadari, Tristan mendengar semua yang dibicarakan oleh Bima dan Clara.
"Hm, sepertinya Bima salah paham, ketika aku mengatakan kalau dia tidak mau memperjuangkan Ayu, biar aku yang memperjuangkannya.Padahal niatku mengatakan itu hanya ingin membuat dia sadar akan perasaannya, bukan berarti aku benar-benar niat ingin memperjuangkan Ayu," bisik Tristan pada dirinya sendiri.
"Sebaiknya aku harus membantu menyelesaikan kesalahpahaman mereka. Aku harus menemui Ayu sekarang?" tekad Tristan yang akhirnya pergi dari pintu keluar lain, guna menghindari Clara dan Bima
Sesampainya di kediaman Adrian, Tristan turun dari dalam mobil dan melihat Bimo dan Michelle keluar dari sana dengan raut wajah kusut.
"Kenapa dengan wajah kalian berdua? kenapa muram?" tanya Tristan dengan kening berkerut.
"Ayunda sudah pergi ke luar Negri. Dia pergi tanpa pamit pada kita dan membawa kesalahpahamannya,". Michelle mulai terisak.
Mata Tristan membesar terkesiap kaget mendengar informasi yang terlontar dari mulut Michelle.
"Kamu jangan bercanda!"
"Baiklah, kalian pulang dulu, biar aku masuk dan mencoba menanyakan pada Om Adrian,"pungkas Tristan sembari melangkah.
"Semoga berhasil, Kak!" Tristan berbalik kembali dan menganggukkan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah masuk ke dalam rumah Adrian, Tristan lebih dulu mengucapkan salam. Alangkah kagetnya dia melihat keberadaan Ayu yang masih berada di rumah, tidak seperti yang dikatakan oleh Bimo dan Michelle.
Tristan meminta penjelasan kenapa Adrian berbohong dan Adrian sama sekali tidak mau menjelaskan. Pria itu malah meminta dirinya untuk tidak memberitahukan siapapun, termasuk pada Bara dan Clara.
Sebenarnya tujuanku ke sini selain ingin menanyakan keberadaan Ayu, aku juga ingin menyampaikan sesuatu tentang Bima. Jadi, berhubung ternyata masih ada di sini,aku akan menyampaikan langsung pada Ayu," ucap Tristan dengan lugas dan tegas.
"Kamu katakan saja pada Om! Ayo, kamu ikut Om!" sambar Adrian dengan cepat, mencegah Tristan bicara pada Ayu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apa yang ingin kamu sampaikan tentang Bima?" tanya Adrian, tanpa basa-basi.
"Om, dulu yang kasih tahu apa alasan Om berbohong." Tristan balik bertanya, tidak mau kalau nantinya Adrian tidak jadi memberitahukan alasannya, setelah pria itu memperoleh informasi yang dia mau.
Adrian mengembuskan napasnya, merasa akan buang-buang waktu kalau mereka berdua saling lempar siapa duluan yang akan bicara. Akhirnya pria paruh baya itupun menjelaskan alasannya membuat kebohongan itu.
"Om sudah mengatakan alasan Om. Sekarang giliran kamu, menjelaskan, apa yang ingin kamu sampaikan tentang Bima." ucap Adrian setelah berbicara panjang lebar, tanpa jeda.
Tristan yang kini sudah mengerti dengan kebohongan pria itu, akhirnya juga menyampaikan hal yang ingin dia sampaikan tentang Bima pada pria paruh baya itu.
"Oh, jadi seperti itu?" Adrian tersenyum penuh makna. Ternyata calon menantu saya itu hanya berpura-pura selama ini. Tapi, walaupun seperti itu, Om mau kamu tetap merahasiakan ini pada Ayu,"
"Kenapa harus dirahasiakan, Om? kesalahpahaman mereka harus segera diselesaikan,"
"Tapi dalam kasus ini, Om benar-benar tidak ingin Ayu tahu yang sebenarnya, karena Om ingin Ayu fokus pada tujuan hidupnya dulu. Selama ini dunianya hanya berputar di sekeliling Bima, Bima dan Bima, sampai dia lupa akan tujuan hidupnya, sampai kemanapun Bima pergi dia akan pergi ke tempat yang sama. Om hanya memanfaatkan kesalahpahaman ini, agar dia bisa lepas dulu dari dunia Bima dan menjadi dirinya sendiri. Kalau dia tahu yang sebenarnya, Om takut dia akan menempeli Bima terus, dan itu bisa juga membuat Bima jadi gerah. Mereka berdua masih muda, jadi biarlah mereka untuk beberapa saat saling jauh, karena itu juga merupakan pembelajaran buat mereka agar tahu perasaan masing-masing, apakah perasaan mereka benar-benar cinta hanya perasaan seorang remaja labil," terang Adrian panjang lebar dan tanpa jeda.
"Kamu bisa paham kan, Tristan maksudnya Om?" lanjut Adrian lagi dan Tristan menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Setelah berpikir beberapa saat, Tristan buka suara kembali dan mengajukan sebuah permintaan, di mana dia ingin kuliah di negara yang sama dengan Ayunda
"Apa alasanmu ingin kuliah di tempat yang sama dengan Ayu?" alis Adrian sedikit naik ke atas, menatap Tristan dengan tatapan curiga.
"Tujuanku, hanya agar aku bisa menjaga dia untuk Bima. Itu saja, Om tidak lebih!"
Flashback End