Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Game misterius


Kabar mengenai Viona dan Rini, sampai juga di pada Ayunda. Alangkah kagetnya dia begitu melihat video di mana dua wanita yang dulu pernah menjadi temas sekelas di SMA itu,disorakin saat di bandara, di mana dua wanita itu dideportasi dari negara itu.


"Aku ingin kasihan, tapi mereka berdua benar-benar keterlaluan sih,"


Di saat sedang serius menatap ke layar ponselnya, tanpa sengaja, ada wajah Bima, Bimo dan Michelle yang terekam. Di dalam Video itu tampak Bima yang berdiri dengan kaki sedikit terbuka, tangan bersedekap di dada dan raut wajah datar. Sementara tidak jauh dari pria itu tampak Michelle dan Bimo yang berdiri sembari bergandengan tangan.


Bagaimana dia bisa mengenal yang mana Bima dan yang mana Bimo, mungkin karena sudah kenal dari kecil, jadi bukan hal yang sulit bagi wanita itu untuk membedakan keduanya.


Saat melihat wajah Bima pertama kali setelah dua tahun tidak bertemu, ternyata perasaaan Ayu, masih sama seperti dulu. Wanita itu tetap merasa perasaannya bergetar. Bahkan sekarang mata wanita itu sudah berkaca-kaca, hampir menangis.


"Kenapa sih aku harus melihatmu lagi hari ini? Kan aku belum sepenuhnya bisa melupakanmu. Harusnya kamu itu jangan muncul sampai aku benar-benar lupa. Kamu kok jahat sih, muncul sekarang. Kamu sengaja ya, berdiri di depan kamera, biar aku bisa lihat!" Ayu berbicara ke arah handphonenya, seakan Bima ada di depannya sekarang.


Kemudian wanita itu melihat ke arah Bimo dan Michelle dengan kening berkerut.


"Kenapa mereka yang bergandengan tangan? Harusnya kan Bima dan Michele. Atau jangan-jangan aku salah orang?" Ayu semakin mendekatkan matanya ke arah ponsel.


"Iya, ini Bimo bukan Bima. Aku gak salah lihat. Tapi, kenapa bisa mereka ...." Ayu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Hei, apa yang kamu lihat? Kenapa serius sekali?" seseorang tiba-tiba menepuk pundak Ayu dengan lembut, hingga membuat gadis itu terjengkit kaget.


"Harold! Kamu kenapa selalu membuatku kaget?" protes Ayu pada seorang pria tampan berambut pirang dan memiliki mata biru yang baru saja menyapanya.


Pria bernama Harold itu tidak menjawab, dia hanya terkekeh, mendengar protes yang dilontarkan oleh Ayu.


"Lagian, kamu ngapain datang ke kampusku? Apa kampusmu tutup atau libur?" lanjut Ayunda lagi sembari mengrenyitkan keningnya.


"Aku lagi malas, karena dosennya killer. Karena bosan,akhirnya aku ke sini untuk menemuimu. Di pikiranku hanya kamu soalnya yang bisa mengusir kebosananku," Harold mulai melontarkan kata rayuan, yang kebenarannya masih dipertanyakan kejujurannya.


Ayu sama sekali tidak terlihat merasa dengan pujian yang dilontarkan oleh pria yang dia tahu merupakan bangsawan Inggris itu. Sebenarnya pria itu tidak berkuliah di universitas yang sama dengan Ayu, tapi entah kenapa pria itu sering datang menemui Ayu ke kampusnya..


"Oh ya, tadi kamu serius sekali melihat handphone, kalau boleh tahu kamu lagi melihat apa?" Harold kembali ke topik semula.


"Oh, tidak terlalu penting. Aku hanya main game saja." sahut Ayu, asal.


Harold mengangguk-anggukan kepalanya, walaupun pria itu sedikit ragu. "Boleh aku tahu kamu main game apa? Apa yang kamu maksud game yang lagi trend sekarang?" tanyanya kembali.


Ayu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Wah, kalau begitu kita bisa main bersama. Kamu bisa masuk ke dalam timku," Harold begitu bersemangat. Pria itu bahkan sampai menyebut nama timnya di aplikasi game itu.


"Aduh, maaf ya,Harold. Aku bukan pemain aktif. Aku bermain hanya kalau lagi bosan saja. Karena selain game ini aku lebih sering bermain di game lain," tolak Ayu secara halus.


"Oh, begitu? kalau boleh tahu, game apa itu? Boleh aku gabung?"


"Oh,seperti itu ya?" wajah Harold terlihat kecewa. "Tapi nggak pa-pa sih. Coba kamu tunjukkan ke aku, nama gamenya, mana tahu nanti aku jadi suka," Harold sepertinya tidak mau menyerah.


Ayunda sebenarnya merasa enggan untuk menunjukkan game yang sering dia mainkan, tapi karena tidak enak hati wanita itu mau tidak mau memperlihatkan juga.


"Ayu makeover? Kenapa gamenya, seperti namamu? Ini game buatanmu?" Harold mengrenyitkan keningnya.


"Eh, sama sekali bukan. Kebetulan saja nama gamenya ada kata Ayu-nya. Ayu itu di Indonesia artinya cantik. Mungkin yang menciptakan game ini orang Indonesia. Dan berhubung gamenya tentang fashion dan kecantikan,makanya pakai kata 'Ayu'," tutur Ayunda panjang lebar dan Harold kembali mengangguk-anggukan kepalanya.


Harold kemudian merogoh sakunya dan berniat untuk menginstal game yang sama seperti Ayu, walaupu sebenarnya dia tidak terlalu suka. Di saat dirinya hendak menginstal matanya membesar melihat nama pemilik game itu. 'BEP.Com'.


"Wah, pemiliknya sama dengan game online yang ratingnya lagi tinggi itu. Apa itu berarti pencipta gamenya sama dan orang Indonesi. Wah, kalau iya, berarti dia hebat." Harold berdecak kagum.


Sementara itu, Ayunda tidak terlalu fokus dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Harold. Wanita itu justru tengah bingung melihat pointnya yang tadi malam sudah hampir habis kini banyak kembali. Bahkan sangat banyak. Dan yang lebih membuat aneh lagi, wanita itu selalu gagal melakukan top-up atau pengisian kembali, berupa uang yang bisa dia gunakan untuk melakukan pembelian hadiah, bonus jika dia butuh.


"Kenapa bisa aneh begini ya?aku kan belum memainkanya dari tadi. Kenapa sudah banyak begini. Apa aplikasinya error ya?" bisik Ayunda pada dirinya sendiri.


"Ayu ... Ayunda!" suara Harold yang sedikit meninggi, membuat Ayunda terjengkit kaget.


"Harold, aku tidak tuli. Jadi, tidak perlu teriak!" protes Ayunda sambil mengusap-usap telinganya.


"Maaf! Aku tadi sudah memanggilmu berulang kali, tapi tidak kamu dengar. Kamu melamunkan apa?" sudut alis Harold naik ke atas penuh selidik. Jujur wanita di sampingnya itu benar-benar membuat pria itu sangat penasaran. Di samping susah didekati, dia merasa kalau wanita itu misterius dan semangat ingin menaklukkan wanita itu semakin membara. Bagaimana tidak, banyak wanita yang dengan mudah jatuh ke pelukannya tapi tidak dengan Ayunda.


"Aku tidak melamunkan apa-apa. Oh ya aku ingin masuk ke kelas dulu. Karena kelasku sebentar lagi akan mulai. Kamu juga sebaiknya kembali ke kampusmu, tidak baik memelihara malas," Ayunda mencoba mengusir Harold dengan cara yang halus.


Wanita itu kemudian berdiri dari tempat dia duduk dan hendak melangkah pergi. Namun, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Harold.


"Tidak bisakah kamu menemaniku di sini? sesekali bolos kan tidak apa-apa. Aku benar-benar butuh teman." Harold memasang wajah memelas, berharap Ayunda merasa tidak enak untuk menolak.


"Tapi aku__"


"Harold lepaskan tanganmu dari Ayu!" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang ternyata sudah berdiri di dekat Ayu dan Harold.


Harold dan Ayu sontak menatap ke arah datangnya suara. Setelah melihat dan mengetahui siapa sosok pemilik suara itu, Harold seketika memasang wajah tidak suka.


"Dia lagi,dia lagi. Kapan sih dia ini berhenti menggangguku mendekati, Ayu?" Harold menggerutu, dan tentu saja hanya berani di dalam hati. Dia tidak mau menunjukkan kemarahannya di depan Ayunda karena dia tidak mau wanita itu melihat sisi buruknya.


"Kak Tristan,ngapain juga ke sini?" tegur Ayunda dengan tatapan tidak senang.


Ya, pria itu tentu saja Tristan. Pria yang membuat Ayunda kesal karena merasa diawasi terus oleh pria itu dan merasa kalau Tristas selalu mencampuri masalahnya.