Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Kekagetan Clara


Satya mengetuk pintu rumah kediaman Teguh, dengan tangan kiri yang menggandeng tangan anak kecil yang tidak lain adalah Tristan.


Setelah menunggu beberapa menit terdengar bunyi pintu yang sedang dibuka oleh seseorang dari dalam.


"Kakek!" begitu pintu terbuka dan tampak seorang pria keluar dari dalam,Tristan sontak melepaskan genggaman tangan Satya dan menghambur memeluk pria itu yang tidak lain adalah Teguh.


Tampak kening Teguh berkerut, pertanda kalau sekarang pria itu sudah dipenuhi dengan tanda tanya.


"Tristan, kenapa kamu ada di sini? di mana mama dan papamu? kenapa Om Satya yang mengantarkanmu?" tanya Teguh beruntun sembari berjongkok, agar tinggi sejajar dengan tinggi Tristan.


"Mama tadi dibawa polisi, Kakek! badan mereka besar-besar dan mama ditarik-tarik, lalu didorong masuk ke mobil!" Tristan mulai mengadu sembari menangis kencang.


Mata Teguh sontak membesar, benar-benar kaget mendengar aduan cucunya itu. Sementara itu, tangisan Tristan menarik perhatian Chintya, hingga wanita paruh baya itu keluar dari dalam rumah.


Teguh sontak berdiri dan menatap ke arah Satya dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Bisa kamu jelaskan, maksud ucapan Tristan,Pak Satya?" tanya Teguh dengan mata yang memicing.


Satya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. " Seperti yang dikatakan cucu, Bapak. Ibu Tania memang tadi dibawa polisi ke kantor polisi atas kesalahannya yang memang sudah tidak bisa dimaafkan oleh Bara dan Ibu Elva,"


Penjelasan Satya semakin membuat Teguh kaget, karena yang menjebloskan putrinya itu justru suami dan mertuanya sendiri. Pria itu juga sekaligus masih bingung, karena dia tidak tahu kesalahan apa dan seberat apa kesalahan yang dilakukan olehnya putrinya itu.


"Kenapa putriku dimasukkan mereka ke penjara. Kesalahan apa yang sudah dia perbuat sampai sudah tidak bisa dimaafkan lagi?" kali ini Chintya yang bertanya.


Satya, kemudian menceritakan semua perbuatan Tania dengan detail tanpa ditambahi ataupun dikurangi termasuk Tristan yang ternyata bukan anak kandung Bara melainkan hasil hubungan gelap Tania dengan Dito.


Teguh sedikit tersungkur ke belakang sembari memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. "Pa!" pekik Chintya sembari menahan tubuh Teguh agar tidak terjatuh.


"Jadi, bagaimana kondisi Tan eh Nona Tania sekarang?" bukannya Chintya maupun Teguh yang bertanya seperti itu, tapi justru asisten rumah tangga yang mendengar semua yang terjadi pada Tania. Raut wajah wanita itu terlihat sangat panik.


Namun, kepanikan asisten rumah tangga itu tidak serta-merta membuat Teguh dan Chintya bertanya-tanya. Karena memang mereka tahu kalau asisten rumah tangga itu, sangat menyayangi Tania mulai dari putri mereka itu bayi. Jadi menurut mereka sikap Panik asisten rumah tangga itu menurut mereka sangat wajar.


"Maaf, aku kurang tahu, karena aku tidak mengikutinya ke kantor polisi. Jadi, untuk lebih tahu bagaimana kondisinya sekarang, kalian semua bisa melihat sendiri ke kantor polisi. Aku mau pamit dulu!" Satya baru saja hendak berbalik, tapi dia mengurungkan niatnya ketika Teguh kembali memanggilnya.


"Pak Satya tadi kamu mengatakan kalau semua yang dilakukan oleh Tania dibongkar semua anak angkat Bara yang sekarang diketahui ternyata anak kandungnya. Apa kalian percaya begitu saja pada anak itu? bisa saja itu karena suruhan mama mereka ... siapa namanya tadi? oh iya, Clara. Bisa saja Clara menaruh dendam pada anakku dan memfitnah anakku. Bisa saja kan semua bukti-bukti mereka itu hanya rekayasa saja," ucap Teguh panjang lebar.


"Maaf, Pak Teguh. Ini semua bukan rekayasa dan aku bisa menjamin seratus persen kebenarannya dan putri anda juga tidak mengelak. Aku pamit!" pungkas Satya yang kali ini benar-benar berbalik.


Ketika dia berbalik, pria itu dikagetkan dengan kehadiran seorang laki-laki yang dia yakini adalah kekasih Arumi. Wajah pria itu terlihat sangat kusut seperti pakaian yang merindukan sentuhan setrika.Pria itu tidak lain adalah Theo. "Bukannya pria ini kekasihnya Arumi? kenapa dia bisa ada di sini?" batin Satya, menatap Theo dengan cukup intens.


"Ada apa ini?" tanya pria itu dengan aura dingin.


"Akhirnya kamu pulang juga? kamu dari mana saja, sampai tadi malam kamu tidak pulang? kamu menemui janda itu dan menginap di rumahnya ya? dia benar-benar wanita murahan!"bukannya menjawab pertanyaan Theo, Teguh malah mengeluarkan kata-kata yang menghina Clara.


"Janda? siapa yang janda? setahuku Arumi belum pernah menikah, kenapa bisa jadi janda?" batin Satya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Berhenti berbicara buruk tentang Clara, Pa! dia sama sekali tidak pernah memintaku untuk menginap di rumahnya. Kalau aku menyusulnya ke kampung halamannya ... ya, aku akui. Aku menyusulnya tadi malam ke kampung halaman, tapi aku tidur di dalam mobil," jelas Theo, membantah tuduhan papanya.


"Clara? apa yang mereka maksud Clara mantan istrinya Bara?"bisik Satya pada dirinya sendiri. Karena rasa penasarannya,Satya memutuskan untuk tidak jadi beranjak pergi dari tempat itu.


"Kamu punya waktu untuk menemui janda itu, tapi kamu tidak punya waktu untuk adik kamu Tania. Asal kamu tahu,Tania sekarang di kantor polisi. Dia terancam hukuman berat. Jadi, bagaimanapun caranya kamu harus bisa membuat hukumannya ringan,"


Satya sontak kaget, ketika mengetahui kalau ternyata pria itu adalah kakak sepupunya Arumi, karena dia tahu jelas kalau Tania adalah sepupunya.


Untuk sepersekian detik,. Theo kaget mendengar apa yang terjadi pada Tania. Tapi, rasa kagetnya hanya bertanya sebentar saja. Setelah itu ekspresi pria itu ada kembali biasa .


"Siapa yang sudah melaporkannya ke polisi dan perbuatan jahat apa yang sudah dia lakukan?"


"Dia bisa dibawa ke kantor polisi,itu berarti kesalahannya sudah sangat berat.Jadi, Bagaimanapun caranya mungkin dia tidak akan bisa lepas dari jerat hukum," pungkas Theo dengan respon yang terkesan biasa saja , tidak seperti yang ada di kepala Satya. Karena awalnya Satya mengira kalau pria itu pasti akan marah-marah.


Mata Theo membesar dan mulutnya terbuka begitu mendengar kenyataan kalau yang menjebloskan adiknya itu ke penjara justru Bara suaminya sendiri. Bara kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya keluar dengan cukup berat. Pemikiran sekarang justru bukan mengenai Tania, tapi dia merasa kalau jalannya untuk bisa mendapatkan Clara akan semakin berat, mengingat kalau Bara pasti akan menemui Clara kembali dan tidak tertutup kemungkinan kalau Clara akan kembali lagi bersama Bara.


"Theo, bagaimana? kamu bisa kan pergi menemui Bara?" Teguh buka suara kembali, menyadarkan Theo dari balam bawah sadarnya.


"Baiklah, aku akan membantu papa untuk memohon pada Bara. Tapi, lebih dulu, aku ingin tahu, kesalahan apa yang dilakukan oleh Tania sehingga Bara murka dan menjebloskannya ke penjara?" nada bicara Theo terlihat tidak semangat.


Satya akhirnya menceritakan kembali apa yang sudah diperbudak oleh Tania adik dari pria itu. Entah kenapa pria itu tiba-tiba merasa semangat ketika mengetahui kenyataan kalau ternyata pria yang tidak dia kira kekasih Arumi itu ternyata adalah kakaknya Tania yang berarti kakak sepupunya Arumi.


Theo berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalau begitu masalahnya, maaf sekali, Pa. Aku tak bisa pergi menemui Bara dan memohon kebebasan Tania, karena Tania memang pantas mendapatkan hukuman itu," pungkas Theo, akhirnya menolak permintaan papanya.


"Theo! tidak ada salahnya mencoba dulu! kamu harus tetap__"


"Stop, Pa! aku tetap tidak akan menemui Bara. Karena aku yakin apa yang akan aku lakukan akan sia-sia. Karena apa yang dilakukan Tania itu benar-benar sudah keterlaluan dan tidak bisa dimaafkan. Kecuali Bara mencintai Tania mungkin saja karena rasa cinta itu, bisa membuat Bara mengesampingkan perbuatan jahat Tania, tapi Bara sama sekali tidak pernah mencintai Tania,Pa. Jadi sia-sia saja kalau kira memohon padanya!" pungkas Theo dengan sangat tegas sembari beranjak pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, mobil yang dikemudikan oleh Bara berhenti di depan sebuah rumah yang sangat sederhana, milik Clara.


Jantung pria itu kini sudah berdetak tidak karuan dan bahkan pria itu seperti kesulitan untuk bernapas.


"Ayo, Pa kita turun!" celetuk Bimo yang sudah tidak sabaran.


Bara tidak menanggapi sama sekali. Pria itu masih tetap duduk di tempatnya, sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kenapa Papa tidak juga buka pintu mobilnya?" Bima menautkan kedua alisnya, penuh tanya.


Bukannya menjawab,Bara justru menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Emm, apa menurut kalian berdua, Papa terlihat payah sekarang?" tanya Bara.


Bima dan Bimo tidak menjawab. Mereka berdua justru saling silang pandang, dan kemudian tawa mereka pun pecah. Mereka berdua menyadari kalau papa mereka itu sekarang sedang grogi.


"Kenapa kalian malah tertawa? Papa serius bertanya?" Bara berdecak kesal.Wajah pria itu merengut karena merasa diledek oleh anaknya sendiri.


Tawa Bima dan Bimo pun sontak berhenti, yang terlihat sekarang hanya senyuman penuh makna.


"Papa tenang saja, Papa sama sekali tidak terlihat payah. Papa tetap gagah seperti biasanya," Bima akhirnya buka suara mencoba menenangkan papanya itu.


"Benar kata Bima, Pa. Jadi Papa tidak perlu grogi," Bimo juga buka suara menimpali ucapan Bima.


"Siapa yang grogi? Papa sama sekali tidak grogi!" sangkal Bara yang tidak mau terlihat lemah di depan kedua putranya.


"Cih, masih saja tidak ngaku!" ucap Bima kesal. "Ya udah, Pa. Buka pintu mobilnya dong. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan mama!" imbuhnya lagi.


Bima dan Bimo pun langsung keluar begitu Bara sudah membuka pintu mobil. Tanpa menunggu Bara, kedua anak laki-laki itu langsung berlari menuju pintu.


Dengan tidak sabar, Bima pun mengetuk pintu sementara Bimo hanya menunggu di belakang Bima.


Tidak perlu menunggu lama, Terlihat tugas pintu berputar, pertanda kalau mama mereka akan membuka pintu. Benar saja, pintu langsung terbuka, memunculkan tubuh seorang wanita yang tidak lain adalah Clara mama mereka berdua.


"Bima kamu dari mana sa__" ucapan Clara menggantung di udara, karena sangat kaget melihat ada dua Bima yang berdiri di depan pintu.


Mata wanita itu membesar, mulutnya terbuka dan bahkan kakinya juga bergetar. Karena rasa kagetnya yang sangat besar, wanita itu kemudian limbung dan tidak sadarkan diri.


Tbc