Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Aku bukan Bimo tapi Bima


Mendengar ucapan Bima, Bara mengepalkan tangannya dengan sangat kencang, rahangnya mengeras dan demikian juga dengan wajahnya yang sangat memerah karena amarahnya benar-benar sudah berada di puncak yang paling tinggi.


"Brengsek! benar-benar wanita iblis kamu!" Bara mendekat ke arah Tania dan wanita itu langsung beringsut sembunyi di belakang tubuh Dito.


Bughhh


sebuah tinju yang sangat keras langsung mengenai kepala Dito, hingga sampai tersungkur jatuh dan membuat Tania berteriak ketakutan.


Tidak berhenti di situ sama sekali, Bara kembali mencengkram kerah kemeja yang dipakai oleh Dito, menarik pria itu untuk berdiri lagi dan mendorong keras hingga membentur tembok. Lalu Bara memberikan pukulan sekali lagi di kepala pria itu.


Kemudian, Bara mengalihkan tatapannya ke arah Tania dengan tatapan tajam seperti sebilah belati yang siap menghujam jantung.


"Aku mengkonsumsi obat berharap agar aku bisa secepatnya ingat dengan masa laluku karena aku ragu dengan cerita di mana kita saling mencintai, tapi kamu sengaja membuat agar aku tidak ingat sama sekali. Aku akan membunuhmu!" Bara mendorong tubuh Dito lagi dan melangkah menghampiri Tania yang semakin ketakutan.


Tangan Bara terulur hendak mencekik leher Tania, namun langsung berhenti begitu mendengar jerit tangisan Tristan yang sudah berdiri di depannya.


"Jangan apa-apakan mamaku,aku mohon, Pa!" mohon Tristan sembari menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya. Anak laki-laki itu bahkan masih tetap memanggil Bara dengan sebutan Papa.


Melihat hal itu membuat Bara mengurungkan niatnya, karena sebagai manusia yang masih memiliki perasaan, tidak pantas rasanya dia melakukan kekerasan di depan anak kecil, apalagi yang menerima kekerasan adalah ibu anak itu sendiri. Pastinya nanti akan menyisakan trauma yang susah untuk disembuhkan. Karena itu Bara menarik tangannya kembali sembari menggertakan giginya. Setelah tangannya ada di bawah, pria itu hanya bisa mengepalkannya dengan keras.


"Pa, jangan gegabah! seperti yang aku katakan tadi, jangan kotori tangan papa dengan memberikan pelajaran pada dua orang itu. Biarlah semuanya kita serahkan ke polisi!"Bima kembali buka suara, berusaha meredam kemarahan papanya.


Mendengar kata polisi, sontak membuat wajah Tania dan Dito semakin ketakutan.


"Po-polisi? tolong jangan masukkan aku ke polisi! kalau aku diceraikan aku akan terima, yang penting jangan sampai ke polisi!" mohon Tania sembari berlutut, menghiba.


"Ya, sepertinya tidak usah dilaporkan ke polisi. Kesalahannya memang cukup besar, tapi mama rasa cukup diceraikan di usir dari rumah ini!"Elva kembali buka suara. Karena ada rasa tidak tega melihat menantunya itu memohon seperti itu. Wanita itu berpikir bagaimanapun menantunya itu bisa berbuat seperti itu disebabkan sikap Bara putranya yang dari awal bersikap dingin pada menantunya itu.


"Maaf, Nyonya besar!" tiba-tiba Jono buka suara. "Mungkin menurut Nyonya, cukup dengan hukuman seperti itu, tapi aku tidak bisa menjamin kalau Nyonya tahu kejahatan apalagi yang mereka berdua sudah lakukan. Aku yakin, Nyoya pasti akan berubah pikiran," sambungnya kembali, ambigu.


"Diam kamu Jono!" pekik Tania, sembari berdiri. "jangan memperkeruh suasana! lagian apa urusanmu dengan semua ini? ingat posisi kamu di rumah ini ya. Jangan, hanya karena kamu sudah berhasil membantu Bimo,kamu melunjak dan seakan sudah jadi pahlawan!" lanjutnya kembali dengan suara yang meninggi.


"Ibu Tania, anda ___" Jono menggantung ucapannya, karena melihat isyarat tangan Bima yang memintanya untuk menahan diri.


Setelah memastikan Jono berhenti bicara,Bima menoleh kembali ke arah Elva.


"Oma,aku paham bagaimana perasaan Oma. Tapi dalam hal ini, kita tidak bisa mencampur adukkan dengan perasaan. Kalau semua harus dengan perasaan, akan banyak penjahat yang akan berkeliaran. Seperti itulah Ibu Tania dengan Om Dito,"


Elva mengreyitkan keningnya, bingung dengan maksud perkataan Bima. "Maksudmu?" tanyanya.


"Kalau hukuman mereka seperti yang Oma katakan tadi, itu berarti Oma memberikan kesempatan pada mereka untuk melakukan hal-hal jahat yang bisa mencelakai keluarga Prayoga. Karena menurutku, Tante Tania punya sifat yang tidak pernah terima dengan kegagalan. Kalau tentang Pak Jono tadi yang buka suara, bukan dia bermaksud bersikap lancang. Tapi, itu karena kejahatan yang mereka lakukan berdua ada kaitannya dengan orang terdekat Pak Jono dan kecelakaan yang terjadi pada Papa hingga membuat Papa amnesia," tutur Bima panjang lebar tanpa jeda.


Kebingungan semakin melanda Elva demikian juga dengan Bara. Hal itu tergambar jelas dari raut wajah ibu dan anak itu. Reaksi lain justru terjadi pada dua orang yang seperti terdakwa sekarang. Wajah kedua orang itu, tampak pucat seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali.


Bara kemudian menoleh ke arah Jono yang kondisinya sekarang sedang menatap tajam penuh dendam ke arah Dito dan Tania.


"Jono,bisa kamu jelaskan kenapa bisa ada hubungannya denganmu!" titah Bara dengan raut wajah datar.


"Jamal!" Jono dengan tegas menyebut nama kakak laki-lakinya itu. "Tuan Bara dan Nyonya Elva pasti sudah ingat dengan nama itu. Dia adalah kakak laki-lakiku, yang merupakan korban fitnah dari dua manusia licik itu!" Jono menunjuk ke arah Tania dan Dito yang semakin pucat. "Dan alasan aku datang ke sini ya untuk mencari keadilan buat Kakakku," imbuhnya kembali.


"Astaga, ada apa lagi ini? apa mereka sudah tahu kalau penyebab Tuan Bara celaka adalah perbuatan kami berdua?" batin Dito dengan rasa takut yang semakin besar.


"Korban fitnah? apa maksudmu? bukannya ia yang sudah menyebabkan putraku celaka?" tanya Elva dengan alis bertaut.


"Tidak Oma. Tapi dua orang itulah yang merencanakan kecelakaan Papa. Tapi dengan liciknya mereka memfitnah Pak Jamal. Sebenarnya mereka berharap Papa mati tapi ternyata Tuhan masih baik, Papa bisa selamat," kali ini Bima yang menjawab.


"Ma, itu tidak benar! itu fitnah! Mama tahu sendiri kan, kalau aku tidak mungkin melakukannya. Ma kali ini, percaya padaku. Anak pungut itu, benar-benar berbohong!" pekik Tania, mencoba mempengaruhi mama mertuanya itu.


Bima tersenyum miring dan misterius. sembari merogoh sebuah ponsel dari saku celananya.


Tania dan Dito sontak gemetar, karena mereka berdua mengenali ponsel yang ada di tangan Bima.


"Ibu Tania,Om Dito,kalian berdua pasti kenal kan handphone ini milik siapa? kalian berdua pasti belum lupa dong,"Bima mengerlingkan matanya ke arah Tania dan Dito. Bagi orang lain, mungkin apa yang dilakukan oleh Bima barusan sangat menggemaskan, tapi tidak untuk dua orang itu. Bagi mereka kerlingan mata Bima justru sangat mengerikan.


"Kenapa sekarang dia terlihat seperti psikopat ya?" bisik Tania pada dirinya sendiri.


"Kalian berdua pasti bingung, kenapa bisa handphone ini ada di tanganku? itu karena lagi-lagi karena kebodohan kalian berdua yang terlalu percaya pada Pak Jono. Dengan alasan meminjam Charger, Pak Jono berhasil masuk ke kamar Om Dito dan menemukan ponsel ini. Kalian berdua mau tahu, Kenapa kami ingin sekali mengambil handphone ini?" Bima mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Tania dan Dito, hingga membuat dua orang itu memundurkan kepala mereka.


"Oh tidak tahu ya? baiklah aku jelaskan. Itu karena Pak Jamal sendiri yang mengatakan kalau di hari kalian menuduhnya,saat itu PaK Jamal menyempatkan diri untuk mengambil rekaman CCTV yang ada di luar, tapi sayangnya Pak Jamal tertangkap basah, oleh Om Dito,dan ponselnya dirampas. Setelah itu, kalian berdua dengan sengaja merusak CCTV." lanjut Bima lagi.


Ya, beberapa hari yang lalu,Bima mengajak Jono untuk ke penjara, menjenguk Jamal, sekaligus ingin melakukan penyelidikan. Dan hari itu, Jamal menyampaikan kalau ada bukti CCTV di mana Dito dan Tania sedang memutuskan rem mobil yang akan membawa Bara ke luar kota.


"Kalian memang sudah menghapusnya, tapi ya ... kalau bodoh dari sananya ya tetap aja bodoh. Kalian hanya menghapus dari galeri saja, kalian lupa kalau video itu bisa dikembalikan. Mau lihat videonya?" Bima lagi-lagi mengerlingkan matanya dengan sudut bibir yang tersenyum meledek.


"Jangan!" Tania mencoba untuk merampas ponsel itu dari tangan Bima. Namun Bima yang sudah mengantisipasi dari awal dengan mudah menepisnya.


Bima kemudian berbalik dan berjalan mendekat ke arah papa dan Omanya.


"Nih buktinya yang mereka adalah dalang dari kecelakaan Papa,bukan Pak Jamal seperti yang mereka tuduhkan dulu," Bima memutar video rekaman CCTV di depan Bara dan Elva.


"TANIA!" teriak Elva sembari menghambur dan menarik rambut Tania dengan kencang.


"Ma, sakit Ma!" pekik Tania kesakitan.


"Jangan panggil aku Mama! kamu memang pantas dimasukkan ke penjara!" Elva semakin mengencangkan cengkraman tangannya di rambut Tania. Tidak berhenti di situ saja, Elva bahkan menampar pipi Tania berulang kali dan juga Dito mendapat perlakuan yang sama.


Melihat mamanya diperlakukan seperti itu, membuat Tristan histeris.


"Oma, berhenti Oma! kasihan Mama!" teriak Tristan sembari menangis kencang.


Sementara itu, Bara hanya bisa menggertakan giginya, sembari mengepalkan tangan. Kalau bukan karena adanya Tristan di tempat itu, bisa dipastikan wajah Dito tidak berbentuk lagi.


"Jono, telepon polisi sekarang juga!" titah Bara dengan mata yang memerah.


"Sudah dari tadi,Pa. Mungkin polisi sudah dalam perjalanan ke sini!" sahut Bima.


"Mas, tolong jangan masukkan aku ke penjara. Maafkan aku kali ini, kasihan Tristan! dia masih kecil dan dia butuh aku!" mohon. Tania, memelas.


"Tidak akan! kamu akan tetap harus masuk ke penjara!" tegas Bara.


Mendengar ucapan Bara, membuat Tania semakin histeris. Wanita itu justru menarik-narik rambut Dito, hingga pria itu meringis kesakitan.


"Ini semua gara-gara kamu! kamu yang sudah memberikan ide seperti itu!" teriak Tania tanpa melepaskan tangannya.


"Tapi kamu juga setuju, Tania! kalau bukan dengan cara itu, pernikahanmu juga pasti akan langsung berakhir kan, kalau kamu ketahuan hamil?" Dito juga berteriak tidak mau disalahkan.


"DIAM!"


Situasi langsung hening begitu mendengar suara Bara yang menggelegar.


"Pa, Oma. Ada hal lagi yang ingin aku sampaikan dan ini mungkin akan membuat kalian kaget dan sulit untuk percaya," ucap Bima, ambigu.


"Apa itu,Bimo?" tanya Bara penasaran.


"Sebenarnya yang berdiri di depan kalian sekarang ini bukan Bimo, tapi namaku Bima!"


Tbc


Segini dulu ya, Guys. Maaf menggantung lagi.😁 ini juga sudah panjang Babnya. Bisa dua bab sebenarnya.