Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Masalah nasi goreng


Mentari pagi kini mulai mengintip dari ufuk timur, dan terkesan malu-malu. Bima menggeliat dan mulai membuka matanya perlahan-lahan. Dia melihat ke samping dan dia tidak menemukan Ayunda.


"Dimana Ayu?" batin Bima sembari duduk dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar. Namun, dia sama sekali tidak menemukan di mana istrinya itu.


"Sayang! kamu di mana?" Bima mencoba memanggil tapi tidak ada yang menyahut sama sekali.


"Ini sudah jam berapa sih?" Bima melirik ke arah tembok dan melihat jam yang ternyata masih menunjukkan pukul 7 pagi.


"Masih jam segini ternyata. Tapi, kemana dia perginya?" Bima akhirnya memutuskan untuk turun dari atas ranjang dan langsung berjalan menuju kamar mandi.


"Sayang, apa kamu di dalam sana?" Bima mengetuk pintu, tapi tetap juga tidak ada jawaban. Akhirnya pria itu membuka pintu dengan perlahan dan mengintip ke dalam.


"Dia sama sekali tidak ada di kamar mandi. Dia kemana sih?" batin Bima, seraya memutuskan untuk keluar dari kamar.


Bima menuruni anak tangga dan dia pun melangkah menuju dapur. Pria itupun kemudian mengukir senyum di bibirnya begitu melihat wanita yang dia cari dari tadi sedang serius di depan kompor. Sepertinya wanita itu sedang memasak sarapan untuk pertama kalinya di rumah baru mereka..


"Masak apa sih, Sayang?" Bima langsung memeluk pinggang Ayunda dari belakang dan mengecup pundak istrinya itu.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Ayunda di sela-sela rasa kagetnya, mendapatkan pelukan yang tiba-tiba.


"Kalau aku sudah di sini, berarti sudah bangun kan? aku mencarimu kemana-mana, ternyata ada di sini," ucap Bima yang masih setia memeluk pinggang istrinya itu.


"Maaf, aku lihat kamu tidur sangat nyenyak. Aku tidak tega membangunkanmu. Kita kan sudah tidak tinggal di rumah mama lagi, jadi, aku mau membuat sendiri sarapan kita," ujar Ayunda sembari tetap mengiris-iris bawang merah di depannya.


"Kamu mau masak apa?"


"Nasi goreng saja, yang simple," Tiba-tiba, Bima merasakan sesuatu sensasi aneh terjadi di perutnya. Dia merasa perutnya seperti diaduk-aduk, dan ingin muntah, begitu mendengar kata nasi goreng.


Bima pun tanpa berpikir panjang langsung melepaskan pelukannya dan berlari ke arah wastafel untuk menumpahkan apa yang mendesak ingin keluar dari mulut itu. Akan tetapi, tidak ada sama sekali yang keluar dari mulut pria itu, hanya saja keinginan untuk muntah itu, semakin menjadi-jadi


"Kamu kenapa, Sayang?" Ayunda meletakkan pisaunya dan berbalik untuk melihat apa yang terjadi pada Bima suaminya.


"Ya,ampun,ini sepertinya aku masuk angin, karena semalaman tidak pakai baju, Sayang," sahut Bima pria sembari mencuci mulutnya.


"Kamu sih, gak berhenti-berhenti tadi malam. Heran aku," Ayunda mengerucutkan bibirnya, begitu mengingat kebringasan suaminya itu, yang benar-benar berbeda dari biasanya.


Bima kemudian terkekeh, dan


Bima kini sedikit merasa lega, dan berjalan ke kursi. Pria itu pun mendaratkan Tubuhnya duduk di kursi.Sementara itu, Ayunda kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


Baru saja Ayunda memasukkan bawang ke dalam minyak panas, perut Bima kembali merasa mual,hingga ia kembali berlari ke wastafel. Kali ini rasa mualnya lebih hebat dibanding dengan yang pertama tadi. Pria itu bahkan sampai tidak kuat dan terduduk di bawah wastafel.


"Kamu kenapa sih, Sayang? Kenapa wajahmu pucat begini?" Ayunda mengulurkan tangannya menyentuh kening Bima.


"Tidak panas, Kok," gumam wanita itu dengan alis bertaut.


"Aku tidak tahu Sayang. Tiba-tiba aja tadi pagi aku merasa perutku, seperti diaduk-aduk dan ingin muntah, tapi anehnya, kamu lihat sendiri, aku tidak memuntahkan apapun, yang ada hanya rasa asam yang kurasakan," jelas Bima sembari duduk di kursi.


"Oh, mungkin kamu memang benar-benar masuk angin. Nanti aku akan coba oleskan minyak angin ke perutmu," ucap Ayunda dengan lembut sembari membantu suaminya itu untuk berdiri.


" Kamu duduk saja dulu ya! aku mau lanjut buat nasi gorengnya biar kamu cepat sarapan,"


Lagi-lagi Bima merasa mual begitu mendengar kata nasi goreng kembali keluar dari mulut Ayunda. Namun, Bima berusaha untuk menahan diri agar tidak kembali berlari ke wastafel. Namun begitu membayangkan nasi goreng, perutnya semakin terasa diaduk-aduk, hingga pria itu sudah tidak bisa menahan diri lagi.Bima pun kembali berlari menuju wastafel.


"Kamu kenapa sih, Sayang?" Ayunda mulai terlihat panik.


"Aku benar-benar tidak tahu, Sayang. Aku merasa mual membayangkan nasi goreng ," sahut Bima dengan peluh yang menetes di pelipisnya..


"Kok bisa? bukannya itu makanan kesukaanmu?" sudut mata Ayunda naik ke atas, menatap Bima dengan tatapan menyelidik. "Aku sengaja memasaknya karena aku tahu kamu sangat menyukainya. Kamu tahu sendiri kan kalau aku sama sekali tidak suka nasi goreng, tapi demi menyenangkanmu aku tetap memasaknya untukmu," sambung Ayunda lagi.


"Aku benar-benar tidak tahu, Sayang. Yang jelas tolong jangan masak nasi goreng lagi!" ucap Bima dengan raut wajah yang semakin pucat.


"Jadi kamu mau dimasakin apa?" tanya Ayunda


"Aku mau makan roti saja. Aku rasa itu sudah cukup!" Ayunda mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan, tiba-tiba merasa kesal.


"Kamu pasti berpura-pura, agar aku tidak jadi memasak. Bilang saja jujur kalau kamu meragukan masakanku!" omel Ayunda kembali mengerucutkan bibirnya. Wanita itu kini tiba-tiba merasa sensitif dan mulai membuat asumsi sendiri.


"Astaga, bukan seperti itu, Sayang. Aku benar-benar merasa mual hanya membayangkan nasi goreng saja," Bima berusaha meyakinkan istrinya itu.


"Hmm, kamu kira aku sebodoh itu langsung percaya? tidak mungkin hanya membayangkan saja bisa mual. Kamu jujur saja, Bima, kalau kamu enggan makan karena bukan mama yang masak, iya kan? belum coba masakanku saja kamu sudah meragukannya. Aku bisa masak kok, Bima, walaupun hanya masakan sederhana. Kalau hanya sekedar masak nasi goreng saja, aku sudah terbiasa melakukannya," Ayunda mulai berceloteh, dengan raut wajah tidak bersahabat, membuat Bima menggaruk-garuk yang tidak gatal sama sekali. Kalau wanita di depannya itu sudah memanggil namanya begitu saja, bisa dipastikan kalau dia benar-benar sedang kesal.


"Sayang, sumpah demi apapun aku tidak bermaksud seperti itu," Bima mengusap wajahnya dengan kasar, bingung untuk menjelaskan, karena dia memang tidak tahu apa alasannya.


Weleh tidak perlu bersumpah segala. Bilang saja kalau yang aku katakan tadi benar. Padahal, aku sudah berusaha untuk ikut menikmati makanan kesukaanmu, walaupun aku tidak suka," Ayunda mengerucutkan bibirnya, tapi tetap meraih roti dan mengoleskan selai ke roti itu.


"Ya, Tuhan. Bagaimana sih caranya aku menjelaskannya? dan ini lagi ... kenapa aku tiba-tiba tidak suka nasi goreng? tapi mungkin ini hanya hari ini saja. Mungkin besok aku akan kembali suka nasi goreng," bisik Bima pada dirinya sendiri.


Tbc