
"Jadi hari ini kamu harus bekerja?" bibir Ayunda dari tadi sudah mencebik, begitu mengetahui Bima suaminya akan langsung bekerja,. padahal usia pernikahan mereka belum ada seminggu.
"Iya, Sayang! ada sesuatu yang harus aku kerjakan dan Radit tidak bisa mengatasinya," sahut Bima sembari memasang arloji di pergelangan tangannya. Sementara Ayunda bergelayut di lengan pria itu.
"Tapi kan __"
"Sayang, tolong mengerti kali ini ya! nanti akan aku usahakan untuk pulang lebih cepat,"bujuk Bima dengan suara yang sangat lembut. Pokoknya sikap Bima yang dingin, Bima yang ketus, benar-benar sudah tidak terlihat lagi sekarang.
"Ya udah deh kalau begitu. Janji ya, akan pulang cepat!" Bima menganggukkan kepalanya dan mendaratkan ciuman singkatnya di kening Ayunda kemudian mengecup bibir istrinya itu.
Bima kemudian melangkah ke arah ranjang dan meraih dasi yang memang sudah dipersiapkan oleh Ayu. Di saat pria itu hendak memasang dasinya sendiri seperti biasa, dia tiba-tiba berhenti dan melirik ke arah Ayunda.
"Ehem, ehem!" Bima berdeham memberikan kode.
"Ada apa, Sayang?" Ayunda mengrenyitkan keningnya.
Alih-alih memberikan jawaban, Bima justru berakting seakan kesulitan untuk memasang dasinya.
Melihat hal itu sontak saja membuat Ayunda berdecih dan mendekati Bima.
"Kalau mau aku bantu pasangin langsung bilang saja, apa susahnya sih. Jangan berakting seperti tadi!" Ayunda meraih dasi yang sudah menggantung di leher Bima dan memasangkannya dengan benar dan rapi, sementara Bima hanya terkekeh mendengar protesan istrinya itu.
Di saat Ayunda baru saja selesai memasangkan dasi Bima, tiba-tiba wanita itu mematung dengan alis bertaut dan ekspresi wajah wanita itu tentu saja membuat Bima bertanya-tanya.
"Ada apa, Sayang? kenapa kamu tiba-tiba terdiam?" tanya Bima.
"Emm, aku hanya tiba-tiba merasa kalau adegan aku memasang dasimu tadi sudah pernah aku alami, tapi aku tidak tahu kapan. Tapi, sumpah ... aku merasa kalau aku sepertinya sudah pernah mengalaminya," tutur Ayunda, membuat Bima tersenyum penuh makna.
"Itu namanya dejavu ,Sayang, yaitu perasaan bahwa kamu pernah melakukan atau melalui hal yang sama sebelumnya. Itu berarti selama ini di pikiranmu hanya ada aku," Bima mengerlingkan matanya, menggoda.
"Cih, kamu terlalu percaya diri! ayo kita turun ke bawah saja!" Ayunda mendorong pelan tubuh Bima dengan wajah memerah membuat Bima tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti biasa Tristan menepikan mobilnya di depan sebuah sekolah elite dengan sangat hati-hati, karena banyak siswa-siswi yang hendak masuk ke dalam gedung sekolah itu.
"Kamu masuk, gih. Nanti kamu tunggu Kakak seperti biasa. Jangan pulang dengan siapapun termasuk Arya, sekalipun aku mengabari kamu kalau aku tidak bisa menjemput. Aku akan usahakan untuk meminta supir pribadi menjemputmu. Kamu paham kan?". sebelum Selena keluar dari dalam mobil, seperti biasa Tristan tidak lupa untuk mengingatkan.
Salena sontak mengerucutkan bibirnya, merasa kesal. Karena setelah pria dewasa di sampingnya itu memutuskan untuk mengantar dan menjemputnya pulang, ruang geraknya jadi terbatas.
"Kenapa cemberut seperti itu?" Tristan menatap tajam ke arah Salena.
"Gimana tidak cemberut? aku merasa ruang gerakku jadi terkekang kak. Benar-benar membosankan, rumah, sekolah, sekolah, rumah, begitu aja terus. Ini masih tiga hari aja aku sudah bosan, apalagi sampai seterusnya!" protes Salena masih dengan bibir yang mengerucut.
Tristan diam untuk beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian pria itu menarik napasnya dan mengembuskannya dengan cukup keras. "Baiklah, nanti Kakak akan usahakan, ketika menjemputmu, kakak tidak akan mengantarkanmu ke rumah. Kalau kakak tidak punya banyak pekerjaan, kakak akan bawa kamu shopping ke mall, tapi kalau kakak ada pekerjaan, kakak akan bawa kamu ke kantor. Kamu bisa ngapain saja nanti di ruangan kakak," ucap Tristan, membuat wajah Salena sontak berbinar.
Dengan wajah berbinar, Salena pun keluar dari dalam mobil. Setelah melambaikan tangannya, Tristan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ketika berbalik hendak masuk ke dalam area sekolah, wajah binar Salena seketika menguap entah kemana begitu melihat tatapan dingin dan penuh amarah dari Reno, pemuda yang statusnya merupakan pacarnya.
"Siapa dia? apa kamu ada main dengan Om-Om? apa begini caramu untuk mendapatkan uang, dengan mendekati Om-Om kaya?"
Plak
Tangan Salena sudah mendarat dengan mulus di pipi Reno, hingga membuat pemuda itu terbelalak.
"Kamu ! beraninya kamu ...."
"Apa? kamu mau balik memukulku? Jaga bicara kamu kalau bicara ya! dengar, yang tadi belum Om-Om asal kamu tahu! dan dia bukan pacarku atau aku mendekatinya untuk mendapatkan uang. Dia itu __"
"Alahhh, bilang saja kamu punya sugar daddy! kamu tidak perlu berbohong!" belum sempat Salena menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Farah muncul dan memotong ucapan.
Salena sontak menatap Farah dengan tatapan sengit. "Jaga bicaramu! jangan samakan aku denganmu yang sering bermain dengan Om-Om! kamu kira aku tidak tahu, hah?" Salena sontak membalikkan keadaan, membuat wajah Farah memerah.
"Hei, kamu jangan mencoba menyerangku balik ya! aku tidak pernah melakukan hal menjijikan seperti kamu!" Farah berusaha menyangkal, berusaha menutupi keburukannya di depan Reno, pemuda yang dia taksir mulai dari kelas satu.
Salena sontak berdecih dan tersenyum sinis. Kemudian wanita itu mengayunkan kakinya melangkah mendekati Farah.
"Masih saja kamu mengelak. Asal kamu tahu, aku punya bukti video kamu masuk sky hotel kemarin dengan pria perut buncit. Apa kamu mau melihat video itu, atau kamu mau aku memperlihatkannya pada Reno?" bisik Salena, masih dengan senyum sinisnya.
Raut wajah Farah sontak berubah pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali. Tanpa berani menyahut lagi, Farah langsung menarik tangan temannya dan berlalu pergi meninggalkan Salena dan Reno.
Salena menghela napas lega, setelah berhasil mengusir wanita yang selama ini dia sebut ular itu.
Seakan lupa dengan kehadiran Reno di tempat itu, Salena mengayunkan kakinya melangkah masuk, hingga membuat Reno menggeram.
"Salena, kita belum selesai bicara!" panggil Reno, yang saking kesalnya tidak memanggil Salena dengan panggilan sayangnya seperti biasa dan Salena pun terlihat tidak peduli dengan hal itu.
Salena berhenti melangkah dan berbalik menoleh ke arah Reno.
"Lain kali saja kita bicara! kelas sudah mau mulai," tanpa menunggu jawaban dari Reno, Salena pun melangkah kembali meninggalkan pemuda itu.
"Sialan! lagi-lagi aku dikacangin sama perempuan miskin itu!" umpat Reno dengan tangan terkepal keras.
Di sela-sela kegeramannya, tiba-tiba sudut kanan bibir Reno tiba-tiba membentuk senyum licik. "Tidak masalah, Reno! sebaiknya kamu jangan terlalu mempermasalahkan hal itu. Bukannya itu pertanda kalau wanita itu murahan? jadi kamu pasti dengan mudah untuk mengajaknya gituan. Jadi sebaiknya kamu baik-baikin dia dan bersikap kalau kamu merasa bersalah karena menuduhnya yang tidak-tidak tadi. Emm, apa tadi dia bilang? Farah juga suka main dengan Om-Om? kalau begitu, kamu juga bisa melakukannya dengan Farah kalau kamu memintanya, Reno." Reno berbicara dengan dirinya sendiri dan seketika membayangkan kalau dia sedang mencumbu dua wanita itu.
"Arghh, sial! sepertinya aku sudah mulai terpancing! ini nih akibat nonton film biru tadi malam. Sepertinya aku harus mulai mendekati Farah dan mengajaknya nanti sepulang sekolah. Dia pasti langsung mau kalau aku ajak!" Kepala Reno sudah mulai dipenuhi dengan pikiran-pikiran kotor.
tbc