
Di sebuah apartemen tampak empat orang pria sedang duduk bersantai ria, merasa seperti sedang liburan.
Tiba-tiba ponsel salah satu dari mereka berbunyi sehingga mau tidak mau pria itu bangun berdiri untu mengambil handpone yang tadi dia letakkan begitu saja di atas meja.
"Sttt, kalian semua diam dulu! Bos telepon," pria itu meletakkan jari telunjuknya ke biburnya.
"Halo, Tuan!"
"Di mana kalian semua hah?!" terdengar suara menggelegar dari ujung sana.
"Ka-kami di apartemen, Tuan!" jawab pria bertubuh besar itu ketakutan.
"Apa!beraninya kalian pulang? Siapa yang memerintahkan kalian untuk pulang?" nada suara pria di ujung sana terdengar semakin tinggi.
"Tu-tuan sendiri. Tadi kami ...." belum selesai pria itu bicara, panggilan sudah diputuskan secara sepihak dari ujung sana.
"Gawat! Sepertinya kita dalam bahaya! Sepertinya ada yang sudah memperdaya kita, mengatasnamakan bos kita. Ayo kita kembali ke sana!" ke empat orang itu langsung bergerak dan berlari keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bima berlari ke arah sebuah ruangan di mana pria itu bisa melihat rekaman CCTV. Bagaimana dia bisa dengan mudah bisa masuk ke ruangan khusus itu? Itu karena sky hotel adalah miliknya yang sudah diresmikan 3 tahun yang lalu tanpa kehadirannya. Hanya cukup diwakili oleh direktur yang ditunjuk oleh Radit.
"Buka CCTV dari toilet wanita lantai dua!" titah Bima tanpa basa-basi, begitu masuk ke ruangan itu.
Dua pria yang ada di ruangan itu tentu kaget, karena kedatangan Bima yang tiba-tiba.
"Maaf Tuan, anda siapa?" tanya salah satu dari pria itu, bingung.
"Aku tidak perlu menjelaskan siapa aku? nanti kalian akan tahu sendiri. Sekarang patuhi perintahku, buka rekaman CCTV 10 menit yang lalu di toilet wanita lantai dua, CEPAT!" suara Bima menggelegar, membuat dua pria itu ketakutan.
"Ta-tapi, kami tidak boleh __"
"Arghh, kelamaan!" umpat Bima, menarik tangan salah satu dari pria itu dan melihat sendiri rekaman yang dia mau.
Ke dua pria yang tadinya hendak melakukan pemukulan dari belakang, tiba-tiba menghentikan niat mereka karena mendapatkan panggilan dari manager yang memberitahukan kalau pria yang sedang mengotak-atik komputer di depan mereka adalah pemilik hotel tempat mereka bekerja.
"Brengsek!" Bima menggebrak meja dengan kasar melihat seseorang berpakaian hitam, membekap mulut Ayunda dan membawa Ayunda, memasuki lift dan berhenti di lantai 11. Setelah itu Ayunda dibawa masuk ke dalam sebuah kamar yang dipintunya ditulis angka 203.
Bima yang sama sekali tidak bisa melihat wajah laki-laki itu, menggeram kesal.Tidak menunggu lama, dan tidak ingin terjadi apa-apa pada Ayunda, pria itu langsung berlari keluar untuk menujua lantai 9. Pria itu juga tidak lupa menghubungi resepsionis untuk mengantarkan kunci cadangan ke kamar 203.
Beruntungnya, Bima tidak memerlukan waktu lama untuk menunggu pintu lift terbuka. Pria itu langsung masuk dan menekan angka 11. Ketika pintu lift itu hendak terbuka di lantai yang bukan dia tuju dengan sigap, dia menekan kembali tombol tutup, tidak peduli kalau orang yang hendak menggunakan lift itu, marah-marah di luar sana. Tujuannya cuma satu, bisa tiba tepat waktu sebelum terjadi apa-apa dengan Ayunda.
"Awas kalau sempat terjadi apa-apa! Aku akan mematahkam tangan dan kakinya. Si Farell brengsek itupun akan aku minta pertanggungjawabanya!"Bima sibuk mengumpat, sembari mengepalkan tangan dan mengertakkan giginya.
Sesampainya di tempat yang dituju, Bima langsung berlari keluar setelah pintu lift terbuka. Tidak membutuhkan waktu lama, pria itu kini sudah tiba di depan pintu kamar tempat dimana Ayunda dibawa.
"Kalau aku ketuk pintunya, aku takut kalau pria itu panik dan langsung mencelakai Ayunda. Lebih baik aku, menunggu kuncinya datang," bisik Bima pada dirinya sendiri.
"Brengsek! Kenapa lelet sekali sih!" Bima mondar-mandir di depan pintu dan sesekali melihat ke arah pintu lift yang masih tertutup.
"Kenapa kalian lelet bekerja. Awas kalau terjadi apa- apa dengan Ayunda, kalian akan aku pecat!" bentak Bima sembari merampas kartu yang merupakan card akses masuk ke dalam kamar.
Bima dengan hati-hati, menempelkan kartu itu dan pintu pun terbuka. Dengan sangat hati-hati, Bima melangkah masuk ke dalam ruangan yang ruangannya gelap.
Brakk
Bima tersentak kaget dan langsung memasang kuda-kuda karena tiba-tiba pintu terkunci dari luar.
Namun, tidak terjadi apa-apa. Justru dia mendengar ada suara tangisan dari arah ranjang.
Bima langsung meraba tembok untuk mencari saklar lampu. Ketika dia sudah menemukannya, dengan sigap dia langsung menekan tombol itu. Seketika kamar itu langsung terang benderang.
Mata Bima membesar melihat sosok gadis yang tangannya terikat, mulut tersumpal dan matanya tertutup kain hitam.
"Ayu!" pekik Bima menghambur dan melompat ke arah ranjang. Pria itu dengan cepat membuka ikatan tangan Ayunda, membuka sumpalan di mulut dan terakhir membuka kain penutup mata wanita itu.
"Bima!" tangis Ayunda semakin pecah, dan refleks memeluk pria itu.
"Kenapa kamu ada di sini? Siapa yang sudah membawamu ke sini!" tanya Bima yang tanpa sadar membentak Ayu.
"A-aku tidak tahu, Bim. Aku tiba-tiba dibekap dan dibawa ke sini. Aku berusaha melepaskan diri tapi dia sangat kuat," sahut Ayunda dengan wajah yang masih ketakutan.
"Apa yang dia lakukan setelah itu?" cecar Bima dengan napas memburu.
Ayunda terisak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak ada!" desisnya lirih.
"Tidak ada?" Bima mengrenyitkan keningnya,curiga.
Lagi-lagi Ayunda menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Kalau dia tidak berbuat sesuatu, jadi apa tujuannya menculikmu? Benar-benar tidak masuk akal!" Kening Bima semakin berkerut, berusaha berpikir keras.
Mata pria itu seketika memicing menatap Ayu dengan curiga. "Apa mungkin ini akal-akalannya untuk membuat aku bisa berada di dalam satu kamar dengannya?" Bima mulai berasumsi sendiri.
"Tapi, tidak mungkin. Dia tidak mungkin senekad itu. Jelas sekali kalau dia sangat ketakutan dan dia bukan tipe wanita yang mau melakuka cara licik untuk mendapatkan sesuatu," Bima menyangkal asumsinya sendiri.
"Sudahlah,nanti aku akan cari tahu siapa yang sudah bermain-main denganmu. Ayo kita keluar sekarang! Aku tidak mau ada yang berpikir kalau kita berbuat macam-macam di kamar ini!" Bima meraih tangan Ayunda dan mengajak wanita itu untuk berjalan menuju pintu. Untuk beberapa saat merek tidak sadar kalau mereka sudah sangat begitu dekat dan bahkan bergandengan tangan menuju pintu.
Sesampainya di pintu, Bima mencoba membuka pintu, tapi ternyata tidak bisa sama sekali. Bima mulai panik dan mencoba lagi, tapi lagi-lagi tidak bisa.
"Sialan! Kita terjebak di sini! Sepertinya ada yang sengaja melakukannya!" Bima mengumpat dan tanpa sada meninju tembok.
Sementara itu di luar kamar, tampak sekumpulan orang yang tidak lain, Michelle, Bimo, Tristan, Selena, Radit serta Farell berdiri di depan pintu.
"Apa memang tidak masalah kalau kita mengunci mereka di dalam sana?" tanya Michelle dengan raut wajah khawatir.
Tbc