Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Tristan bukan anakku


"Tapi sayangnya, Tristan sama sekali tidak punya hubungan darah dengan papa! jadi sangat pantas papa meragukannya!" terdengar suara anak laki-laki yang menimpali ucapan Elva. Siapa lagi dia kalau bukan Bima.


Semua mata yang berada di ruangan itu sontak menoleh ke arah datangnya suara dan terkesiap kaget melihat kemunculan Bima.


Di antara empat orang yang ada di ruangan itu, hanya satu orang yang wajahnya berubah pucat, siapa lagi kalau bukan Tania.


"Sial! bagaimana dia bisa berada di sini? bukannya seharusnya dia masih sekolah ya?" Batin Tania dengan jantung yang sekarang berdetak sangat kencang.


"Halo Tante Tania! kaget ya, aku bisa ada di sini? kaget ya, kalau rencana Tante untuk melenyapkanku gagal?" sudut bibir Bima tersenyum miring.


"Brengsek! bagaimana dia bisa tahu dengan rencanaku?" umpat Tania yang semakin gusar.


"Bimo, apa-apaan kamu berkata seperti itu? kamu sadar nggak dengan apa yang kamu katakan barusan!" bentak Elva dengan tatapan yang sangat tajam menghujam jantung.


Melihat Elva mama mertuanya yang bergerak membelanya, membuat Tania membangun kembali keberaniannya.


"Ma, dia benar-benar keterlaluan sekarang kan? inilah alasan kenapa aku menuntut surat warisan itu atas nama Tristan, karena ini semua sudah aku prediksi akan terjadi. Sekarang,dia mencoba membuat fitnah untuk menghalangi, Masa Bara menandatangani surat warisan ini," Tania kembali menampilkan keahliannya dalam drama-drama yang manipulatif.


"Stop dramamu sekarang, Tante! lebih baik Tante mengaku sekarang kalau yang aku katakan benar, daripada aku mengeluarkan bukti-bukti yang aku punya. Dan aku bisa pastikan kalau Tante tidak akan bisa mengelak lagi!" Bima menatap Tania dengan tatapan yang tidak jauh beda dengan tatapan Bara, hingga membuat Elva bergidik ngeri melihat tatapan mata cucu yang belakangan ini mulai dibencinya itu. Elva tiba-tiba merasa seperti pernah melihat sorot mata itu,dan wanita itu pun berusaha untuk mengingatnya.


"Sorot mata itu? itu kenapa bisa sangat mirip dengan sorot mata almarhum Suamiku dan Bara ya?" batin wanita itu, tergugu sampai dia lupa untuk meluapkan amarahnya lagi pada anak itu.


Sementara itu Tania merasa tenggorokannya seperti tercekat, sehingga untuk menelan ludahnya sendiri dia sangat kesulitan. Apalagi begitu melihat mertuanya yang tiba-tiba mematung.


Di saat bersamaan, Tristan turun dari atas dan bingung melihat situasi yang sedang terjadi. Kedatangan Tristan tentu saja, menyadarkan Elva dari diamnya dan dia menggunakan kesempatan untuk melihat anak itu dan Bara bergantian. "Benar juga, kenapa Tristan justru tidak memiliki kemiripan sedikitpun dengan Bara?" Elva mulai terpengaruh dengan ucapan Bima. "Ahh, tapi kan tidak semua anak harus mirip dengan papanya? bisa saja Tristan memang lebih dominan ke mamanya," lanjut Elva lagi, berbisik pada dirinya sendiri, menyangkal asumsi sebelumnya.


"Bimo, kamu benar-benar sudah bertindak kurang ajar,kamu tidak tahu terima kasih. Beraninya kamu menyebarkan fitnah keji seperti itu. Kamu masih kecil tapi hati kamu sudah penuh dengan kelicikan. Sebelum aku marah besar, kamu lebih baik keluar dari rumah ini,dan jangan kembali lagi!" Elva kembali bersuara dengan suara yang sangat dingin dan tegas.


"Iya, Ma. Seharusnya dari dulu dia pergi dari rumah ini. Dia benar-benar sudah melunjak karena Mas Bara menyayanginya!" merasa mendapat dukungan lagi, Tania kembali bersuara berusaha memprovokasi mama mertuanya.


Kemudian wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah Bara yang terlihat meringis seperti sedang menahan rasa sakit.


"Mas, ini semua gara-gara kamu. Lihatlah gara-gara kamu terlalu menyayanginya dia jadi tidak sadar diri dan berusaha melakukan hal licik sampai memfitnahku, gara-gara agar Tristan tidak jadi pewarismu!"


Bara sama sekali tidak memberikan tanggapan, karena kepalanya terasa semakin sakit, tapi tidak ada yang menyadari semua itu.


"Mas, kenapa kamu hanya diam? harusnya kamu marah karena dia sudah lancang mengatakan Tristan bukan anak kandungmu!" pekik Tania, dengan sangat geram, benar-benar kesal melihat tidak ada tanggapan dari suamimya itu.


Tawa kecil yang dibarengi dengan tepuk tangan tiba-tiba terdengar kembali dari mulut Bima.Tawa itu terdengar jelas kalau mengandung ledekan.


"Bimo! jangan banyak bicara lagi! pokoknya kamu sekarang harus pergi dari rumah ini! atau aku sendiri yang akan menyeretmu keluar!" Elva dengan cepat menyela ucapan Bima, sembari beranjak dari tempat dia berdiri dan hendak menghampiri Bima. Tania kali ini benar-benar berharap kalau Elva berhasil mengusir penghalangnya itu jauh-jauh sebelum anak itu kembali berceloteh dan berhasil menunjukkan bukti-bukti seperti yang dia katakan sebelumnya.


"Arghhh!" tiba-tiba terdengar suara Bara berteriak kesakitan, hingga membuat langkah Elva berhenti. Wanita itu sontak panik dan menghambur mendekati Bara. Hal yang sama juga dilakukan oleh Tania dan Tristan.


"Bara kamu kenapa,Nak?" tanya Elva dengan panik.


"Iya,Mas, kamu kenapa?" Tania berpura-pura ikut panik. Namun pertanyaan dua wanita berbeda usia itu tidak satupun mendapat jawaban dari Bara, karena sakit di kepala pria itu semakin menjadi-jadi. Kejadian-kejadian di masa lalunya bergantian berkelebat di kepalanya.


Tania tiba-tiba kembali berdiri tegak dan menatap Bima dengan mata yang berapi-api.


"Ini semua pasti gara-gara kamu. Kamu harus pergi dari sini, sebelum rumah ini semakin kacau. Kamu benar-benar anak yang tidak tahu terim kasih!" pekik Tania yang kembali hendak melangkah menghampiri Bima yang dari tadi terlihat tenang seperti merasa tidak panik melihat kondisi Bara papanya.


"Berhenti wanita ******!" tiba-tiba terdengar gelegar suara dari Bara, hingga membuat Elva dan Tristan yang ada di dekatnya hampir terjungkal karena kaget.


Merasa diteriaki wanita ****** oleh Bara, membuat Tania juga kaget sekaligus takut. Namun dia berusaha untuk menepis rasa takutnya itu dengan kembali pura-pura menangis.


"Kamu keterlaluan,Mas. Otak kamu Sepertinya benar-benar sudah dicuci oleh anak ini. Kamu sangat tega meneriakiku wanita ****** di depan anak kita sendiri, Tania menangis sesunggukan.


"Bara! kamu benar-benar __"


"Ma, jangan bicara lagi!" Bara kembali berteriak, memotong ucapan mamanya.


"Yang aku katakan tadi itu benar. Wanita ini memang wanita ******, karena Tristan memang bukan anakku!"


Ucapan Bara barusan sontak membuat seisi ruangan itu terkesiap kaget. Wajah Tania sekarang benar-benar sangat pucat dan takut.


"Apa maksudmu,Nak? kamu jangan terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Bimo. Dia hanya iri pada Tristan!"


"Mas, tega-teganya kamu berkata seperti itu, setelah aku hamil dan melahirkan tanpa dampinganmu dan tetap setia di sampingmu selama ini. Tuduhanmu kali ini benar-benar sangat menyakitkan, Mas!" Tania masih berusaha untuk menarik simpati Elva.


"Stop bermain drama! aku sudah ingat semuanya. Dan yang aku ingat aku tidak pernah mencintaimu dan kita menikah hanya karena perjodohan. Dan satu lagi, aku benar-benar ingat kalau aku tidak pernah menyentuhmu sama sekali!"


Duarrr


Tbc