Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
bersitegang


Pagi kini kembali menjelang. Meja makan sudah kini sudah dipenuhi oleh semua anggota keluarga Prayoga, tidak terkecuali Bara.


Bara terlihat tidak bersuara sama sekali. Pria itu hanya fokus ke makanannya saja, demikian juga dengan Bima.


Walaupun terlihat sedang fokus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tapi pikiran dan perasaan Bima tetap tidak tenang, karena dia tahu kalau Oma Elva tadi malam sudah memerintahkan pengacara keluarga untuk membuatkan surat warisan atas nama Tristan dan meminta untuk datang siang ini ke rumah, sementara Bimo adik kembarnya masih berada di kampung halaman Mama mereka.


Bima sangat pesimis kalau Bimo akan bisa tiba di Jakarta siang nanti untuk bersama-sama membongkar kebohongan Tania, dan mencegah Bara papa mereka menandatangani surat warisan itu.


"Bara, tadi malam Mama sudah memerintahkan pengacara keluarga kita untuk membuatkan suara warisan semua harta kekayaan kita atas nama Tristan. Nanti siang dia akan datang ke rumah. Mama harap, siang nanti kamu datang ke rumah, untuk menandatanganinya," Elva buka suara memecah keheningan yang sempat tercipta.


Ting


Bara meletakkan sendok dan garpunya ke piring dengan gerakan yang keras pertanda kalau pria itu tidak senang dengan keputusan sepihak yang dibuat oleh wanita yang sangat dihormatinya itu. Sementara itu, sudut bibir Tania, melengkung membentuk senyum tipis hampir tidak terlihat.


"Ma, kenapa Mama berbuat seperti itu tanpa membicarakannya lebih dulu denganku?" tanya Bara dengan nada yang sangat dingin.


"Karena mama berpikir, kalau kamu pasti akan setuju dengan keputusan Mama," sahut Elva dengan santai.


"Kalau itu baik, aku pasti setuju, tapi untuk yang satu ini aku sama sekali tidak setuju," suara Bara terdengar sangat tegas membuat senyum di bibir Tania, seketika memudar.


Tania sontak menatap ke arah mama mertuanya, berharap mama mertuanya itu tidak merubah keputusannya.


"Tapi, keputusan Mama kali ini sudah Mama pikiran benar-benar,Bara. Karena Mama tidak ingin setelah mama meninggal nanti, ada perebutan harta antara Bimo dan Tristan. Mama tidak mau, kekayaan keluarga Prayoga jatuh ke tangan yang bukan keturunan keluarga ini," tutur Elva dengan ekor mata yang melirik sinis ke arah Bima.


"Ma, Bimo itu anakku juga. Di belakang namanya aku sudah menyematkan nama Prayoga dan mama sendiri juga dulu tidak keberatan dan malah mendukung. Jadi, kalaupun ada pembagian harta, Bimo tetap punya hak,"


Ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Bara, membuat Tania kaget sekaligus geram. "Enak saja! kekayaan Prayoga tidak bisa dimiliki oleh anak itu. Hanya Tristan yang berhak mendapatkannya, seutuhnya," ucap Tania yang tentu saja dia ucapkan dalam hati.


"Bara, walaupun ada nama Prayoga di belakang nama Bimo tapi dia tetap bukan keturunan Prayoga. Kalau dia nanti sudah besar bekerja di perusahaan, tidak masalah. Tapi ingat hanya sebagai pekerja saja, tidak lebih. Bukannya itu lebih baik. Dia tidak perlu susah-susah untuk mencari pekerjaan di luar sana. Aku rasa itu sudah lebih dari cukup,"


"Tidak akan! untuk bekerja di perusahaan juga dia tidak akan aku izinkan. Enak saja!" tolak Tania yang lagi-lagi hanya berani di dalam hati saja. " Lagian, kalau keinginanku yan satu ini sudah tercapai, aku juga akan mencari cara untuk menyingkirkan anak pungut itu dari rumah ini," lanjut Tania lagi, dalam hati.


"Aku tetap tidak setuju. Kalaupun hari ini tetap harus dibuat surat warisan, nama Bimo harus tetap ada. Kalai tidak, tidak ada surat warisan sama sekali. Aku tidak akan pernah menandatanganinya!" tegas Bara tidak terbantahkan.


"Bara! mama tidak setuju dan tidak akan pernah setuju!" pekik Elva tidak kalah tegas.


Tania sontak mulai mengeluarkan air matanya. Berpura-pura seakan-akan dia merasa terharu mendengar ucapan sang mertua.


"Akhirnya Mama menyadarinya. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Mama akhirnya menyadari itu semua. Selama ini aku hanya menyimpan di dalam hati karena aku tahu, kalau tidak akan ada yang percaya padaku kalau aku mengatakan pendapatku, karena semuanya sudah bisa dipengaruhi oleh anak itu!" Tania menunjuk ke arah Bima dan suaranya juga terputus-putus karena air mata yang masih menetes membasahi pipinya.


Elva sontak berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menghampiri Tania. Kemudian wanita itu menarik kepala Tania ke dekapannya dan mengelus lembut kepala menantunya itu.


"Maafkan Mama ya, yang sempat memarahi kamu dan tidak menyadari kalau Bimo sudah mencoba mengadu domba kita," ucap Elva dengan sangat lembut.


"Tidak, Ma.Mama tidak salah sama sekali. Ini semua karena anak itu pintar memutar kata dan dia selalu bisa bersikap manis, sehingga semua orang di rumah ini menyukainya. Padahal dia menyembunyikan sifat jeleknya dibalik perlakuan dan tutur katanya yang manis," ucap Tania yang membuat Elva semakin merasa bersalah.


"Lihatlah,Bara! inilah istri yang kamu abaikan. Istri yang sanggup bertahan tetap di sisimu selama bertahun-tahun dengan sikap dingin dan apatis yang selalu kamu tunjukkan padanya. Seharusnya kamu bisa menghargai kesabarannya dan bersyukur mendapatkan cinta yang begitu besar dari seorang wanita cantik, lembut dan sabar seperti ini. Bukan seperti wanita yang meninggalkanmu, hanya karena lebih memilih uang dari pada kamu!" ucap Elva dengan berapi-api.


Sementara itu Bima, menggertakan giginya dengan tangan yang terkepal kencang di bawah meja. Anak kecil itu benar-benar marah, karena Omanya itu seakan-akan menjelekkan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini, padahal Omanya itu tahu benar kalau itu hanya kebohongan mamanya, agar papanya mau menceraikan Clara mamanya. Namun Bima masih berusaha untuk menahan dirinya untuk tidak mengungkapkan kebenarannya hari itu juga, karena menurutnya Bimo masih belum ada kabar, apakah sudah menemukan alasan pada mamanya, untuk cepat pulang ke Jakarta atau masih belum menemukan sama sekali.


"Oma, dari tadi aku hanya diam, walaupun Oma mengatakan hal yang sama sekali tidak benar tentangku. Sumpah demi apapun aku sama sekali tidak berniat untuk memiliki harta ini. Karena aku yakin kalau suatu saat aku punya kemampuan untuk membuat diriku sendiri sukses tanpa harus mengharapkan warisan." Celetuk Bima yang akhirnya buka suara.


"Tapi, sekarang aku sedang memperjuangkan sesuatu, yang merupakan hakku. Tolong digaris bawahi, Oma, hak yang aku maksud di sini bukan hak atas harta kekayaan keluarga ini, tapi hak dalam hal lain, dan aku pastikan sebentar lagi Oma akan tahu hak apa yang aku maksud," lanjut Bima lagi, ambigu.


Elva tiba-tiba terdiam. Dia tidak menyangka kalau anak sekecil itu bisa mengucapkan kata-kata setegas itu. Anak usia 6 menuju 7 tahun, yang bisa berbicara mengenai hak.


Bima kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Bara yang sempat terdiam karena ucapan Oma Elva.


"Papa, aku rasa Papa tidak perlu memerintahkan untuk memasukkan namaku di surat warisan itu, karena aku bisa pastikan kalau perusahaan dan semua kekayaan Prayoga akan tetap jatuh ke tangan orang yang seharusnya berhak bukan pada orang yang hanya mengaku-ngaku berhak padahal tidak sama sekali," lanjut Bima lagi dengan lirikan dan senyum misterius ke arah Tania.


Ucapan Bima sontak membuat raut wajah Tania berubah pucat seperti tidak dialiri oleh dari sama sekali. Apalagi begitu melihat mertuanya yang terdiam tidak menjawab ucapan Bima. "Sial, apa maksud ucapan anak sialan ini? apa dia sudah mengetahui sesuatu yang selama ini aku rahasiakan? Tidak bisa dibiarkan ini. Aku harus membuat rencana untuk mencegahnya, bisa pulang siang ini, sampai Mas Bara selesai tanda tangan surat warisan," bisik Tania dalam hati penuh muslihat.


Bara yang dari tadi sempat terdiam, tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.


"Keputusanku tidak bisa dirubah. Walaupun hari ini harus ada penandatanganan surat warisan, nama Bimo harus tetap ada sebagai pewaris dari setengah harta kekayaan keluarga Prayoga. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mencoret namaku sendiri dari keluarga Prayoga, dan pergi membawa Bimo dari rumah ini! ayo Bimo, Papa antar kamu ke sekolah!" titah Bara sembari beranjak pergi, tidak mau mendengar teriakan mamanya yang berulang kali memanggilnya.


Sementara itu, Tania mengepalkan tangannya dengan sangat kencang. Keinginannya untuk melenyapkan Bimo secepatnya semakin membara.


"Kali ini, anak itu harus benar-benar bisa lenyap. Aku pastikan kalau kali ini tidak akan gagal!" tekad Tania dalam hati