Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Bawa temanku saja


Ayunda terngkurap di atas ranjangnya sembari memainkan ponselnya. Namun, karena perasaannya sedang gundah, dia merasa tidak ada yang menarik sama sekali yang bisa dia lihat di ponselnya. Pikirannya kembali melayang ke janjinya untuk membawa pasangan ke acara reuni besok.


"Sial, aku harus bawa siapa ya? Kenapa aku sebodoh itu untuk mengatakan kalau aku punya kekasih. Begini kan jadinya," Ayunda merutuki kebodohannya. "Arghh, dasar bodoh, bodoh!" Ayunda membenamkam wajahnya ke bantal dan dua tangannya memukul-mukul ranjang.


"Woi! ngapain kamu mukul-mukul kasurmu? Kasihan dia terluka!" saking kalutnya, Ayunda tidak menyadari kalau Arya adiknya selalu usil sudah masuk ke kamarnya.


Ayunda sontak duduk dan melemparkan bantal ke adiknya itu yang tentu saja dengan mudah dihindari oleh sang adik. "Mau apa kamu ke sini? Pakai ngga ngetuk pintu lagi. Kamu sudah lupa sopan santun ya?" omel Ayunda dengan bibir mengerucut.


"Enak saja bicara! Aku tadi sudah mengetuk pintu berkali-kali. Dasar kamu aja yang gak dengar. Aku kiraina kamu di dalam kamar kenapa-napa makanya aku masuk saja,eh ternyata lagi berantem sama kasur," tutur Arya dengan nada meledek.


Ayunda tidak memberikan jawabana atas ledekan Arya. Wanita itu hanya berdecih dan menatap sinis ke arah Arya.


"Kamu ada masalah ya, Kak?" Arya mendaratkan tubuhnya duduk di tepi ranjang Ayu. Pria itu terlihat mulai serius.


"Hmm tidak ada. Aku baik-baik saja!" sangkala Ayu, tersenyum tipis.


"Kakak, kira aku akan percaya? Aku bisa lihat jelas kalau kamu ada masalah. Kamu tidak mau ya berbagi masalah dengan adikmu yang tampan ini?"


Ayunda kembali melempar bantal ke wajah adiknya yang memiliki tingkat percaya diri yang sangat tinggi itu.


"Jangan sok ganteng deh!"


"Aku kan memang tampan kan? Kamu tidak bisa menyangkalnya. Asal Kakak tahu, banyak perempuan-perempuan yang ingin mendekatiku, tapi aku belum menemukan yang sesuai dengan kriteriaku," pemuda berusia 22 tahun itu masih tetap membanggakan diri, membuat Ayunda mencibir ke arahnya.


"Sudah,sudah, kita jangan membicarakan ketampananku lagi, kita kembali ke masalah Kakak. Kakak benar ada masalah kan?" ulang Arya,menyelidik.


Ayunda terlihat diam, memikirkan apakah dia berterus terang atau tetap menyangkal.


"Bagaimana,Kak? Kenapa diam? Kamu tidak boleh menyagkal lagi, karena terlukis jelas di wajahmu, kalau kamu punya masalah," desak Arya.


Terdengar helaan napas yang cukup keras dari mulut Ayunda. Kemudian, wanita itu membenarkan posisnya dengan duduk bersila dan meletakkan bantal di atas pahanya.


"Arya, Kakak lagi bingung sekarang mau mengajak siapa ke acara reuni sekolah kakak besok," Ayu mulai bercerita


"Lho, kenapa kakak bingung?ajak saja aku! Lagian kenapa harus pakai ngajak-ngajak orang sih? kan kamu bisa pergi sendiri dan di acara itu kamu pasti punya teman," Ayunda seketika merasa kesal mendengar ocehan adiknya itu.


"Kamu, masih mau mendengarku tidak? Aku belum selesai bicara! Kalau kamu masih berisik, kamu lebih baik keluar saja. Tidak ada guna cerita ke kamu!" Arya sontak terkekeh geli melihat raut wajah kesal sang kakak.


"Maaf, maaf! Baiklah, lanjutkan dan aku akan mendengar baik-baik!" pungkas Arya sembari memasang wajah serius.


"Dengar sini! Jangan potong, sebelum aku selesai bicara!" Arya menganggukkan kepalanya, menyanggupi titah kakak perempuan satu-satunya itu.


"Baru tahu ya? Dari dulu padahal kakak itu udah goblok," ledek Arya membuat Ayunda berang.


"Kamu ke sini mau mengejekku atau mau membantuku, sih. Kalau mau mengejek, mending kamu keluar aja deh, daripada kepalaku semakin pusing!" Arya kembali tertawa,melihat kekesalan sang kakak.


"Iya, iya,maaf deh. Kamu tidak goblok kok, hanya situasi yang tidak mendukung, membuat kakak jadi terlihat goblok. Jadi sekarang kakak bingung mau membawa siapa untuk dijadikan pasangan ke acara itu,begitu?" Ayunda menganggukkan kepa mengiyakan.


Arya kemudian terdiam untuk beberapa saat,berpikir keras. "Begini saja, Kak ... bagaimana kalau kakak meminta temanku saja untuk menemanimu ke acara itu?"


"Hah? Temanmu? Apa kata mereka nanti kalau kakak berpacaran dengan pria di bawah usiaku, nggak deh!" Ayunda bergidik membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi, hingga membuat Arya geram. Saking geramnya, pemuda itu menyentil jidat sang kakak, membuat Ayunda meringis.


"Kak, kalau dia umur 17 tahun ataupun 18 tahun,baru kakak bisa berkomentar seperti itu. Aku sudah usia 22 tahun dan sudah lulus kuliah. Temanku ada yang usia 23, bahkan yang 24 tahun seusia kakak juga ada. Kakak pikir aku masih remaja, Hah?"


Ayunda sontak terkekeh dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya, ya," Ayunda cengengesan, memamerkan deretan giginya.


"Lagian, kalaupun teman saya itu nanti berusia 22 tahun atau 23 tahun, kan bisa dibrifieng dulu, untuk mengaku kalau dia umur 24 atau 25 tahun," sambung Arya lagi, membuat Ayunda mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ih, kamu pintar juga! Akhirnya masalahku selesai juga. Tinggal mikirin bagaimana caranya agar aku tidak gemetaran besok kalau ketemu Bima,"


Arya berdecak menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa heran melihat kakaknya yang sama sekali tidak bisa melupakan perasaannya pada pria bernama Bima itu.


"Kak,aku mau tanya, kamu benar-benar niat untuk melupakan Bima nggak sih?"


Ayunda mengrenyitkan keningnya, bingung ke arah mana maksud pertanyaan adiknya itu.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kalau tidak niat untuk apa aku menjauh darinya selama ini?"


"Tapi tetap gagal kan, kak? Kamu sama sekali tidak mampu melupakannnya. Kalau kamu memang niat, kamu bisa mendatangi psikolog, dan melakukan hipnoterapi, untuk membuat kakak bisa melupakan Bima dengan cepat. Kakak pasti tahu hipnoterapi kan?"


Ayunda bergeming. Dia memang tahu kalau cara hipnoterapi bisa membuat melupakan rasa cinta kita pada seseorang dengan cepat. Tapi, entah kenapa ada rasa tidak rela di hatinya untuk melupakan pria itu.


"Kenapa Kakak diam? Apa kakak mengira kalau kakak melakukan hipnoterapi kakak akhirnya akan lupa nama, lupa wajah Bima, lupa tempat-tempat dimana pernah dikunjungi, lupa semua kejadian selama ini dengannya? tidak, kak! hipnoterapi itu bukan brainwash atau cuci otak. Jadi hipnoterapi tidak bisa membuat kakak lupa seperti layaknya orang amnesia, tapi setidaknya kakak bisa bersikap biasa saja kalau bertemu dengannya. Tapi, aku rasa tidak mungkin kakak tidak tahu tentang itu, cuma kakak saja yang tidak rela untuk melupakannya, iya kan kak?"


Ayunda lagi-lagi terdiam, tidak membantah ucapan panjang lebar adiknya itu, karena memang benar adanya.


"Ah, sudahlah! Aku mau kembali ke kamarku. Nanti aku akan hubungi temanku yang bisa membantu kakak besok. Nanti aku kabari Kakak!" Arya beranjak keluar setelah melihat kakaknya itu mengangukkan kepala.


Tbc