
Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa ujian Nasional sudah selesai, sekarang tinggal menunggu pengumuman kelulusan saja dan semua anak kelas 3 SMA sudah diliburkan.
Di sebuah rumah mewah, milik Bara tepatnya di taman belakang, tampak seorang pemuda yang tidak lain adalah Bima, sedang asyik memetik gitar yang ada di pelukannya. Pemuda itu, memperdengarkan dentingan musik yang sangat indah melalui petikannya pada senar-senar di gitar itu.
"Ternyata kamu ada di sini, Nak. Mama cari kamu dari tadi," Clara sang mama tiba-tiba muncul dan duduk di samping sang anak.
Melihat kedatangan mamanya, Bima sontak menghentikan permainannya dan langsung meletakkan gitar miliknya.
"Ada apa Mama mencariku? apa ada sesuatu yang penting?" tanya Bima, dengan alis yang bertaut.
"Tadi, mama ditelepon sama Ayu. Dia menanyakan kamu,Nak. Katanya dia sudah menghubungi kamu berkali-kali, tapi kamu tidak menjawab teleponnya. Karena itulah dia menghubungi Mama," tutur Clara dengan senyum yang tidak pernah memudar dari bibirnya.
"Handphoneku aku silent, jadi aku tidak tahu kalau ada yang menghubungiku," sahut Bima, yang sebenarnya sedang berbohong. Pemuda itu tahu kalau Ayunda dari tadi menghubunginya, tapi pemuda itu memilih untuk tidak menjawab.
"Lagian, ada urusan apa dia menghubungiku pagi-pagi begini?" lanjut Bima kembali.
"Katanya dia bosan di rumah, jadi dia mau mengajak kamu jalan-jalan. Sekarang dia lagi dalam perjalanan ke sini, kamu siap-siap gih!" Clara berdiri dari tempat dia duduk dan menarik tangan putranya itu untuk berdiri.
Bima sudah berhasil ditarik oleh sama mama untuk berdiri, tapi begitu mamanya itu melelahkan tangannya, pemuda itu malah kembali duduk dengan memasang raut wajah malas.
"Lagian buat apa dia datang ke sini,Ma? siapa yang mengatakan kalau aku akan setuju pergi dengannya?" ucap Bima, ketus.
Clara mengembuskan napasnya dan kembali duduk di samping putranya itu.
"Kenapa sih kamu bersikap seperti itu pada Ayunda? ingat dia itu putri dari Om Adrian yang__"
"Yang apa? yang membantu perusahaan papa yang sempat goyang hingga bisa bangkit kembali, begitu Ma?" belum selesai Clara berbicara,Bima sudah memotong lebih dulu, ucapan mamanya itu. "Kalau iya, apa aku harus membalas Budi Om itu dengan memaksakan hatiku untuk menerima putrinya,apa itu adil?" imbuh Bima lagi dengan nada berapi-api.
Clara terdiam untuk beberapa saat mendengar kalimat demi kalimat protes yang diutarakan oleh putranya itu. Namun,di detik berikutnya, wanita paruh baya itu mengembuskan napas beratnya .
"Kenap sih,Bim, kamu tidak bisa membuka hatimu untuk Ayu? padahal Ayu itu gadis baik, ceria dan juga cantik. Kamu beruntung lho dicintai dengan begitu besarnya oleh gadis secantik Ayu. Di luaran sana, Mama bisa jamin, banyak pria yang dengan mudah jatuh cinta dengan Ayu. Mama sangat menyukainya Ayu, dan benar-benar ingin dia jadi menantu Mama," ucap Clara panjang lebar tanpa jeda.
"Tapi aku benar-benar tidak suka sikapnya yang sangat berlebihan Ma. Hidupku menjadi seperti neraka setiap kali aku bertemu dengannya. Dia terlalu barbar untuk aku yang menyukai tipe wanita seperti Mama. Yang lembut, yang__"
"Yang seperti Michelle. Iya kan?" Clara menyela ucapan Bima.
Bima terdiam begitu mendengar tebakan mamanya.
"Kenapa kamu diam? apa tebakan Mama benar?" tanya Clara dengan tatapan menuntut.
"Bima, bagaimana kamu bisa menyukai Michelle, padahal kamu tahu sendiri kalau dia adalah gadis yang disukai adik kamu Bimo sejak lama? apa kamu berniat untuk mendekati Michelle juga? apa kamu tidak memikirkan akibatnya, kalau kamu sampai memiliki niat itu? yang ada hubungan kamu dan adik kamu Bimo bisa hancur, Nak. Mama tidak menginginkan hal itu terjadi." tutur Clara panjang lebar, berusaha membuat Bima mengurungkan niatnya.
Tanpa mereka sadari percakapan antara ibu dan anak itu didengar oleh Ayunda yang kebetulan datang bersama dengan Michelle. Ayunda memang sengaja mengajak Michelle karena dia tahu kalau dia sendiri yang mengajak Bima untuk keluar jalan-jalan, pemuda yang dicintainya itu akan menolak. Jadi dengan adanya Michelle, Ayunda yakin Bima akan mau. Di lain sisi pembicaraan Clara dan Bima juga didengar oleh Bimo sang adik.
Mata Ayunda sontak berkaca-kaca dan langsung berbalik, melangkah pergi. Sementara itu, Michelle yang merasa tidak enak hati langsung mengejar Ayunda.
"Yu, apa kamu marah padaku? maaf, aku tidak tahu kalau__"
"Tidak apa-apa, Chell. Ini bukan salahmu. Aku yang salah, yang tidak tahu diri dan masih memaksakan diri," Ayunda tersenyum getir ke arah Michelle, yang membuat gadis itu semakin merasa tidak enak hati.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Bimo. Pemuda itu seketika langsung beranjak pergi dengan amarah, merasa saudara kembarnya itu sudah menjadi musuh dalam selimut baginya
Karena mereka langsung pergi, mereka tidak mendengar lanjutan pembicaraan Bima dengan sang mama.
"Ma, aku hanya mengatakan kalau aku menyukai sikap wanita seperti Michelle. Hanya sikap, Ma bukan dengan orangnya. Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk bersaing dengan Bimo untuk mendapatkan Michelle. Di samping karena dia adalah perempuan yang sangat disukai Bimo, aku juga tidak memiliki perasaan untuk Michelle," ucap Bima dengan mantap dan tegas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayunda, masuk ke dalam rumahnya dengan raut wajah ditekuk dan perasaan yang sangat sakit. Saat dia hendak naik ke atas menuju kamarnya, gadis itu berpapasan dengan adik laki-lakinya yang kebetulan hendak turun.
"Lho Kakak kenapa sudah pulang? bukannya tadi katanya mau ngajak Kak Bima jalan-jalan? ditolak lagi ya?" tanya pria remaja berusia 16 tahun itu dengan tatapan menyelidik.
Ayunda tidak menjawab sama sekali. Wanita itu tetap melanjutkan langkahnya naik ke atas.
"Haish, sudah bisa aku tebak kalau kakak pasti ditolak lagi. Udahlah Kak menyerah saja! Kalau Kakak tidak berharga buatnya, Kakak masih sangat berharga bagi mama, papa dan aku."
Ucapan Arya adiknya, membuat Ayunda menghentikan langkahnya dan kembali balik badan. "Bukannya kamu sedang sakit makanya kamu tidak sekolah hari ini? tapi kenapa kamu tidak berbaring saja di kamar? atau kamu hanya beralasan sakit saja agar tidak perlu pergi ke sekolah hari ini?" Ayunda dengan sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Kak. Kita lagi berbicara tentang kamu dan Kak Bima. Mencintai orang itu tidak salah, tapi jangan jadi bodoh hanya karena cinta. Hargai diri kamu!" Arya diam sejenak untuk mengambil napas. Sementara Ayunda hanya terdiam mendengar ucapan adik laki-lakinya itu.
"Sikap Kak Bima selama ini, sudah jelas-jelas menunjukkan kalau dia sama sekali tidak memiliki perasaan ke Kakak, tapi Kakak tetap saja mencoba untuk menutup mata melihat itu semua. Kakak masih berharap kalau dengan perjuangan Kakak, Kak Bima akhirnya akan bisa mencintai Kakak. Tapi ini sudah cukup lama Kak, dan hasilnya tetap nihil. Aku merasa sudah saatnya Kakak menyerah. Aku memang terlihat baik-baik saja selama ini di depan Kakak, tapi asal Kakak tahu, hatiku sebagai seorang adik sangat sakit melihat Kakak tidak dihargai sama sekali. Cobalah Kakak melihat ke sekeliling Kakak. Banyak pria yang menyukai Kakak, tapi selalu Kakak abaikan karena dunia Kakak hanya berada di seputaran Kak Bima. Aku sangat berharap, kali ini agar Kakak bisa berpikir rasional dan sekali lagi, aku memohon, tolong hargai diri kamu, Kak!" lanjut Arya lagi, dengan panjang lebar tanpa jeda.
Mendengar penuturan panjang adiknya itu, membuat Ayunda semakin terdiam tidak memiliki stok kata lagi, untuk membalas ucapan Arya.
"Apa memang sudah saatnya aku menyerah seperti kata Arya?" bisik gadis itu pada dirinya sendiri.
tbc