Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Mau menjemput calon istriku


Tristan dari tadi terlihat berkali-kali melirik ke arah jam di pergelangan tangannya karena takut telat menjemput Salena dan khawatir kalau gadis itu pergi bersama pria remaja yang masih sempat dilihatnya tadi menghampiri Salena ketika dia baru menjalankan mobilnya.


"Tristan kamu sepertinya tidak fokus, dan gelisah. Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Bara dengan alis bertaut.


"Emm, tidak ada apa-apa, Pa!" Tristan berusaha untuk menyangkal.


"Baiklah kalau begitu. Berarti keputusan yang papa ambil kamu sudah setuju. Rapat kita selesai sampai di sini! ucap Bara dengan lugas dan tegas.


Sementara itu, Tristan terlihat mengrenyitkan keningnya,karena dia benar-benar tidak tahu apa keputusan yang dianggap papanya sudah disetujuinya.


"Pa, maaf kalau mungkin papa akan marah padaku. Sebenarnya aku tidak tahu apa keputusan yang Papa klaim sudah aku setujui," akhirnya Tristan memberanikan diri untuk buka suara.


Bara terlihat tidak marah sama sekali, karena sebenarnya pria paruh baya itu sudah bisa membaca kalau putranya itu tidak konsentrasi sama sekali ketika mereka sedang rapat tadi. Pria itu terlihat tersenyum tipis dan menghela napasnya dengan sekali hentakan.


"Sebenarnya papa sudah tahu kalau kamu tidak konsentrasi. Kalau boleh papa tahu apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan?" tanya Bara dengan suara lembut tapi tetap tidak bisa menyembunyikan ketegasan.


" Emm, aku tidak memikirkan apa-apa, Pa. Aku hanya takut telat menjemput Salena pulang," sahut Tristan dengan sedikit rasa malu.


Bara tersenyum tipis demikian juga dengan Satya yang memang juga berada di ruangan itu, dan juga Bimo.


"Astaga, Ka Tristan ... jam pulang Salena masih ada satu setengah jam lagi, kenapa kamu sudah terburu-buru ingin menjemputnya? kamu sudah kangen ya sama dia?" ledek Bimo disertai dengan kekehan dari mulutnya.


"Emm, bukan seperti itu! aku hanya ...." Tristan menggantung ucapannya, seketika merasa malu kalau mengatakan dia tidak ingin kalah start dengan pria remaja. Tristan benar-benar merasa malu, memiliki saingan seorang remaja.


"Hanya apa? kenapa kamu berhenti bicara?" Kali ini Satya yang buka suara.


"Emm, pokoknya hanya tidak ingin telat saja, Om. Tidak ada hal lain!"


Satya mengrenyitkan keningnya, meragukan pengakuan Tristan.


"Om, jangan menatapku seperti itu! kesannya Om tidak percaya padaku," ucap Tristan yang merasa risih dengan tatapan Satya padanya.


"Memang aku tidak percaya. Sekarang jelaskan apa yang sebenarnya kamu khawatirkan? kamu harus jujur karena aku tahu kalau kamu berbohong!" Satya dengan sengaja memberikan intimidasi.


Melihat tatapan Satya dan merasa kalau dirinya akan sia-sia bagaimanapun caranya untuk menutupi, akhirnya Tristan mengungkapkan apa yang membuatnya takut telat menjemput Salena.


Pengakuan Tristan, akhirnya membuat ruangan itu dipenuhi suara gelak tawa dari tiga pria yakni Bara, Satya dan Bimo. Sementara Tristan hanya bisa menghela napasnya pasrah ditertawakan.


"Sudahlah, kamu jangan khawatir, pria remaja itu tidak akan sanggup bersaing denganmu dan kamu jangan takut kalau Salena menyukai pemuda itu," ucap Satya dengan sangat yakin, seakan dia sudah paham benar dengan perasaaan putrinya.


"Kenapa Om bisa seyakin itu?" tanya Tristan dengan mata memicing.


"Karena dia putriku. Dia sangat terbuka padaku. Kalau dia menyukai seorang pria, dia akan selalu memberitahukan padaku. Jadi, selama ini dia tidak menceritakan pria siapapun itu," tutur Satya dengan lugas. "Selain satu orang," lanjut Satya lagi yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.


"Baiklah, masalah Salena selesai. Intinya kamu jangan khawatir masalah pemuda itu. Sekarang kita lanjutkan pembicaraan kita tadi mengenai keputusan yang papa ambil," Bara buka suara kembali berbicara ke topik awal. Sementara Tristan langsung antusias memasang telinganya untuk mendengar ucapan Bara papanya.


Tristan sontak terdiam, merasa kalau ini adalah kesempatan besar baginya untuk menunjukkan kemauannya. Tapi entah kenapa ada rasa berat baginya untuk pergi mengingat tiga hari dia tidak akan bertemu dengan Salena.


"Tristan, bagaimana? kamu sanggup kan?" Bara kembali buka suara, menayadarkan Tristan dari lamunannya.


"Kamu tenang saja, Tris! Pak Sandi akan kembali menjadi supir Salena selama kamu ada di Bali," seakan mengerti dengan apa yang ada di pikiran Tristan, Satya buka suara, menenangkan calon menantunya itu.


"Iya, Kak. Aku juga yakin kalau kamu mau melakukannya. Namun, walaupun tidak berhasil nantinya, Kakak jangan langsung patah semangat. Kalau aku bisa membantu, aku akan membantu tapi aku juga harus ke Singapura untuk bertemu dengan salah satu klien di sana," Bimo yang dari tadi diam saja akhirnya buka suara.


Setelah berpikir beberapa saat, Tristan akhirnya tersenyum dan mengangukkan kepalanya, mengiyakan.


Di saat bersamaan, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar. "Masuk!" titah Bara.


Pintu akhirnya dibuka oleh seseorang dan sosok pria paruh baya yang tidak lain adalah Adrian melangkah masuk menghampiri empat orang yang ada di ruangan itu.


Untuk sementara, mereka semua yang ada di ruangan itu, terlibat pembicaraan basa-basi yang diselingi dengan canda tawa.


"Sat, Salena sebentar lagi lulus SMA kan?" celetuk Adrian tiba-tiba, membuat kening Tristan berkerut, curiga


"Iya, emangnya kenapa?" tanya Satya merasa ambigu dengan pertanyaan sahabatnya itu.


"Emm, begini ... bagaimana kalau suatu saat kita berbesan? sepertinya Arya menyukai Salena,"


Tristan yang kebetulan sedang meneguk air mineral dari sebuah botol sontak menyemburkan air mineral itu sampai mengenal wajah Bimo. "Tidak bisa Om!" sahut Tristan dengan tegas.


"Lho, kenapa tidak bisa?" Adrian mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Karena Salena sudah lebih dulu dilamar Bara untuk Tristan. Kamu kalah start, Ian!" bukan Tristan yang menjawab melainkan Satya.


"Haish, jadi aku kalah nih? kasihan Arya! padahal tadi di kantor dia sudah begitu bahagia mendengar aku akan mengatakan keinginannya ini padamu. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana sedihnya wajah dia nanti mendengar kenyataan ini," Adrian menghela napas kecewa.


Tristan memang sudah sedikit curiga kalau Arya menyukai Salena, tapi tetap saja begitu mendengar ucapan Adrian, dan mendapati kenyataan kalau Arya benar-benar memiliki perasaan pada Salena, membuat hati Tristan tiba-tiba merasa panas.


"Sial, ternyata dugaanku benar. Aku harus tetap waspada nih, takut dia mencuri start," umpat Tristan dalam hati. Sesaat kemudian tiba-tiba Tristan berdiri dari tempat duduknya, dengan raut wajah panik, membuat semua yang berada di ruangan itu tersentak kaget.


"Tristan, ada apa?" tanya Bara dengan alis bertaut.


"Emm, tidak apa-apa, Pa. Aku hanya merasa kalau sudah waktunya aku pergi. Untuk masalah proposal yang akan aku bawa besok, aku akan selesaikan nanti!" ucap Tristan dengan tegas.


"Emangnya kamu mau kemana? Kenapa terlihat terburu-buru?" tanya Adrian, dengan kening berkerut.


"Aku mau menjemput Salena calon istriku!" dengan sengaja Tristan memberikan penekanan pada kata calon istriku sembari berlalu pergi.


tbc