Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Itu bukan utang


"Astaga,itu Kak Theo, Ma!" pekik Karin sembari mengerjap-erjapkan matanya.


Ya,dia adalah Theo. Entah bisikkan dari mana pria itu memutuskan untuk menyusul wanita itu. Pertama dia ke terminal, tapi begitu dia menanyakan bus tujuan ke kampung halaman Karin, penjaga loket itu memberitahukan kalau busnya baru saja berangkat. Makanya, dia buru-buru mengejar bus yang ditumpangi oleh wanita itu.


"Nak Theo? kok bisa?" gumam Munah yang juga kebingungan.


"Hei, ada tidak yang bernama Karin?" ulang sang supir kembali.


"Aku, Pak!" sahut Karin akhirnya.


"Ayo, cepat Mbak turun! kami tidak mau kami terlambat hanya gara-gara nungguin Mbak!" ucap salah seorang penumpang yang tampak sudah mulai kesal.


Karin mengembuskan napasnya dan akhirnya berdiri, disusul oleh Munah. Setelah menurunkan tas mereka dari dalam kabin di atas bus, Karin dan Munah akhirnya turun.


"Kak Theo, kenapa bisa sampai di sini? dan kenapa Kak Theo mengejar bus ini? apa ada sesuatu yang terjadi?" cecar Karin dengan panik begitu wanita itu sudah turun.


Theo tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru menatap Karin dengan tatapan berbinar. Bibir pria itu juga terlihat mengulas sebuah senyuman yang kali ini terlihat tulus.


Tanpa bisa menghindar, Karin tiba-tiba ditarik oleh Theo dan memeluk dirinya dengan sangat erat.


"Akhirnya aku berhasil mengejarmu! aku mohon jangan pulang! aku mau kamu tetap tinggal!" ucap Theo yang semakin mempererat pelukannya.


Karin yang kebingungan, berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan pria itu.


"Kamu kenapa sih Kak? kenapa tiba-tiba begini? Kakak sehat kan?" tanya Karin begitu pelukannya lepas


"Aku mau menikah denganmu, Rin," ucap Theo yang tentu saja membuat Karin terkesiap kaget. "Tunggu, jangan potong dulu! aku belum selesai bicara!" lanjut Theo lagi, ketika dia melihat Karin yang hendak buka suara.


"Aku tahu, mungkin kamu anggap kalau aku gila dan ini sangat tidak masuk akal. Aku juga awalnya berpikir seperti itu. Tapi, asal kamu tahu ketika kamu tadi mengatakan kalau kamu tidak bersedia menikah denganku, dan tetap memilih untuk pulang, aku benar-benar ingin marah dan tidak suka mendengar itu. Ketika kamu tadi berpamitan untuk pergi, Hatiku terasa sakit, dan ingin berteriak, agar kamu tidak pergi. Tapi, entah kenapa aku memilih untuk tetap diam, karena aku masih mendalami, perasaan apa yang aku punya saat itu. Tapi, ketika aku mendengar ada pria yang sangat menginginkanmu di kampung, aku benar-benar tidak rela, Karin. Dari situ, aku menyadari kalau hatiku benar-benar sudah kamu miliki seutuhnya. Aku tidak mau kamu dimiliki oleh orang lain!" tutur Theo panjang lebar, tanpa jeda.


Karin tercenung, mendengar pengakuan Theo, sampai-sampai wanita itu kesulitan untuk buka suara.


"Rin, kamu dengar aku kan? kenapa kamu tidak bersuara?" tanya Theo dengan jantung yang berdetak kencang, was-was mendengar jawaban yang akan diberikan oleh Karin.


"Apa ini termasuk melamar, Kak Theo? apa kamu melamarku dengan cara begini?" tanya Karin. Benar-benar di luar pemikiran Theo.


"Oh, te-tentu saja tidak hanya begini saja. Aku sebenarnya sudah menyiapkan sesuatu, tapi ...." Theo menggantung ucapannya dan mengedarkan pandangannya seperti sedang menunggu sesuatu.


"Kemana sih, adik ipar laknat itu? lama sekali datangnya?" umpat pria itu di dalam hati.


"Kamu cari apa, Kak? apa da yang sedang kamu tunggu?" Karin mengrenyitkan keningnya.


Karin sontak menoleh ke arah mobil yang ditunjuk oleh pria itu. Tampak, dari dalam mobil, keluar Bara dan Clara, tidak ketinggalan Bima, Bimo dan Tristan.


"Kalian Kenapa lama sekali sih?" protes Theo, setelah Bara dan yang lainnya sudah mendekat.


"Hei, dasar tidak tahu terima kasih. Kamu seharusnya bersyukur, aku mau kamu minta tolongin. Baru kali ini aku mau melakukan perintah seseorang. Nih, pesanan kamu!" Bara memberikan sebuah kotak, berbentuk love, yang diyakini berisi cincin.


Senyum Theo seketika merekah, karena yang dia tunggu sudah datang di waktu yang tepat. Ya, setelah Theo memutuskan untuk mengejar Karin, pria itu menyempatkan untuk menghubungi Bara,dan meminta pria untuk membelikan cincin menggunakan ukuran Clara. Karena dia sangat yakin, jari Clara dan Karin sama besarnya.


Theo kemudian kembali menatap ke arah Karin dan berlutut di depan gadis itu.


"Karin,mau kah kamu jadi istriku?" tanya Theo, sama halnya setiap pria yang melamar seorang wanita yang dia cintai.


"Jangan mau Tante. Cincin itu masih utang ke Papa. Belum dibayar!" celetuk Bima, dengan sangat santainya.


"Dasar keponakan laknat!" umpat Theo, kesal.


"Iya juga ya. Aku tidak mau memakai cincin itu kalau masih utang," sahut Karin yang membuat Theo semakin kesal pada Bima.


Mendapat tatapan kesal dari Theo bukannya membuat Bima takut, justru anak kecil itu, berpura-pura menatap ke arah lain.


"Iya,ini aku bayar!" ucap Theo akhirnya sembari mengeluarkan ponselnya.


"Berapa cincin ini,Bara? dan tolong sebutkan nomor rekeningmu!"


Bara kemudian menyebutkan harga cincin yang sangat fantastis, hingga membuat Theo kesulitan untuk meneguk ludahnya sendiri.


"Sial! kenapa bisa semahal ini sih?" bisik Theo pada dirinya sendiri. Tapi, karena tidak mau malu di depan Karin, Theo akhirnya mentransfer sesuai nominal yang disebutkan oleh adik iparnya itu.


"Sudah lunas! sekarang bagaimana? apa kamu sudah bersedia menerimaku?" ulang Theo lagi, bertanya pada Karin.


Dengan tersenyum malu-malu, Karin menganggukkan kepalanya dan mengulurkan tangannya menerima cincin yang dimasukkan Theo ke jari manisnya.


"Yes, sebentar lagi aku tidak sendiri lagi!" sorak Theo yang merasa tidak peduli lagi dengan harga cincin yang sangat fantastis tadi.


Tiba-tiba, ponsel Theo kembali berbunyi, pertanda ada sebuah pesan yang masuk. Theo kemudian melihat pesan itu, yang ternyata, pemberitahuan uang yang ditransfer dia tadi, ditransfer balik oleh Bara.


"Anggap saja itu hadiah dari aku. Kamu tenang saja, itu bukan utang!" bisik Bara yang mengerti dengan raut wajah bingung Theo.


tbc