Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Dalang penculikan


"Apa memang tidak masalah kalau kita mengunci mereka di dalam sana?" tanya Michelle dengan raut wajah khawatir.


Tidak apa-apa, Sayang. Kamu tenang saja! Hanya ini satu-satunya jalan membuat dua orang itu bersatu," Bimo berusaha menenangkan wanita yang dicintainya itu.


"Tapi, apa cara ini tidak keterlaluan?" Michelle sama sekali belum tenang.


"Sudah aku katakan, kamu tenang saja! Tidak akan terjadi apa-apa nanti, karena aku percaya kalau Bima tidak akan berbuat macam-macam. Kita hanya memberikan kesempatan pada mereka berdua untuk berduaan semalaman,"


Michelle menganggukkan kepalanya dan menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya kembali untuk menenangkan hatinya sendiri.


"Bimo benar. Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa nanti pada Ayunda," Tristan buka suara menimpali ucapan Bimo.


Kemudian pria itu menoleh ke arah Salena yang kebetulan juga tengah menatapnya dengan tatapan polosnya.


"Hei, anak kecil, ingat, kamu harus tutup mulut! Jangan kasih tahu Kak Bima masalah ini!" ujar Tristan dengan tatapan mengintimidasi.


"Aman, Kak. Tapi aku mau tanya, kenapa mereka harus dikunci berdua di dalam? Mereka kan belum menikah, jadi kan tidak boleh se kamar? Kalau tidak,nanti mereka khilaf. Dosanya kan jadi kita yang nanggung? Dosaku sudah banyak soalnya, masa mau ditambahin lagi?" oceh gadis itu, membuat Tristan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kamu tenang saja ya, Alena Sayang. Kalau mereka khilaf, biarlah dosa yang harusnya me kamu, Kakak yang ambil. Jadi, kamu bebas dari dosa," ujar Tristan berusaha menekan suaranya.


"Bisa ya, dosa dilimpahkan ke orang lain?" Salena mengrenyitkan keningnya.


"Kalau dalam kasus ini, bisa." tegas Bimo, membantu Tristan memberikan jawaban.


"Kalian semua ya, benar-benar membawaku ke jurang. Kapan kalian merencanakan hal ini? Kenapa setelah kejadian kalian kasih tahu aku?" Radit yang dari tadi diam saja akhirnya buka suara.


"Maaf! Kami merencanakannya tadi malam," ucap Bimo sembari cengengesan.


Ya, semuanya memang sudah direncanakan oleh Bimo, Michelle dan Tristan. Bahkan tadi dia pura-pura meminjam handpone Bima dengan alasan handphonenya kehabisan daya dan dia hendak mengirimkan pesan. Ternyata Bimo mengirimkan pesan pada anak buah Bima dan memerintahkan mereka untuk pulang. Setelah terkirim, dia pun menghapus permanen. Jangan lupa, kalau dia dulu juga adalah ahli dalam IT. Bahkan dulu dia yang mengajari Bima dalam hal IT. Hanya saja, Bima langsug menekuni sampai dia dewasa.


"Tapi, aku suka cara kalian, Sob!" Radit bersorak tiba-tiba.


"Sttt, jangan teriak! Nanti mereka dengar daei dalam," Bimo memberikan peringatan.


"Ups, maaf!" Radit refleks menutup mulutnya.


"Ponselmu sudah kamu matikan kan?" tanya Bimo lagi memastikan.


"Beres!" Radit mengacungkan jari jempolnya.


Kemudian mereka semua menoleh ke arah Farell, yang akhirnya mereka tahu, pacar bohongan Ayunda.


"Nama kamu Farell kan, tadi?" tanya Bimo seraya mendekat ke arah pria itu.


"Aku minta kamu untuk merahasiakan ini semua dan sesuai janji kami, perusahaan papamu akan mendapatkan investasi dari perusahaan kami. Kamu tenang saja, kamu tidak perlu merasa bersalah pada Arya dan merasa sudah menghianati sahabatmu sendiri, karena Ayunda bukan di tangan orang jahat," tutur Bimo dengan tegas dan lugas.


"Terima kasih banyak, Tuan Bimo. Aku tenang sekarang. Kalian semua tenang saja, masalh ini tidak akan pernah bocor!" tegas Farell, dengan sangat meyakinkan.


"Terima kasih!" Bimo menepuk-nepuk lembut pundak Farell. "Sekarang kamu boleh pulang. Sekali lagi, terima kasih banyak!"


Setelah berpamitan, Farell pun berbalik dan melangkah pergi.


"Bagaimana dengan CCTV? Apa sudah aman?" Tristan kembali buka suara. "Kamu tahu sendiri kalau Bima pasti tidak akan tinggal diam dan pasti akan menyelidiki siapa yang melakukan ini semua," imbuh Tristan lagi.


"Tentu saja belum!" Sekarang aku mau ke sana, berakting jadi Bima, dan menghapus rekaman CCTV dengan permanen. Kali ini dan untuk pertama kalinya kita buat Bima terkecoh," Bimo terkekeh kecil.


"Sekarang kamu antar Salena pulang, sebelum kamu disate sama om Satya. Setelah itu, kamu kembali ke sini lagi, seperti rencana semula, kita menginap di hotel ini."Tristan menganggukkan kepalanya dan mengajak Salena pulang. Disusul oleh Radit yang memang tidak berniat untuk menginap.


Kemudian,Bimo menoleh ke arah Michelle.


"Sayang, kamu sekarang masuk ke kamar kamu ya. Bawa tas Ayunda juga!" Michelle mengganggukkan kepala dan melangkah pergi.


Setelah semuanya pergi, Bimo akhirnya melangkah untuk melanjutkan misi terakhirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana,Bima, apa sudah bisa dibuka?" tanya Ayunda dengan wajah panik.


Bima tidak menjawab sama sekali. Pria itu melangkah menuju telepon, untuk menghubungi meja resepsionis. Namun ternyata telepon itu tidak berfungsi sama sekali.


"Brengsek! telepon ini kenapa bisa tidak berfungsi. Sepertinya sudah dirusak dengan sengaja!" umpat Bima, melemparkan telepon itu ke tembok, hingga membuat Ayunda tersentak kaget.Tubuhnya seketika gemetaran ketakutan,melihat ekspresi Bima yang sepertinya sudah sangat marah.


Bima kemudian mencoba menghubungi nomor Radit tapi yang menjawab adalah suara operator wanita. Bima tidak menyerah, dia mencoba menghubungi Bimo, hasilnya juga sama. Ia menghubungi Tristan dan Michelle, tapi lagi-lagi nihil.


"Arghhh! Kenapa semua nomor kompak tidak bisa dihubungi? Benar-benar sial!" suara Bima menggelegar begitu marah, hingga membuat Ayunda semakin ketakutan. Tubuhnya bahkan sudah terlihat gemetaran.


Melihat hal itu, Bima sontak tersadar dan langsung menarik tubuh Ayu ke pelukannya.


"Maaf, maaf! Aku tidak sengaja berteriak! Kamu tenang saja kita pasti akan bisa keluar dari sini!" ucap Bima yang suaranya kali ini benar-benar lembut, dan se umur-umur baru pertama kali didengar oleh Ayunda.


Tubuh Ayunda yang tadinya gemetaran, kini berangsur-angsur tenang, tiba-tiba merasakan kenyamanan.


Setelah Bima merasa tubuh Ayunda tidak gemetaran lagi, Bima merogoh kembali ponselnya, berniat untuk melakukan panggilan lagi pada anak buahnya.Namun, sialnya ponselnya tiba-tiba kehabisan daya. Dia hampir saja ingin melemparkan ponselnya tapi, dia urungkan karena tidak ingin membuat Ayu kembali ketakutan.


Tbc